Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Mama Angga-1


__ADS_3

Suasana makan siang mendadak berubah dengan kehadiran Richard diantara kami. Ana dan Aldi mungkin bertanya-tanya siapa cowok sok akrab yang tiba-tiba hadir.


"Dia siapa sih May?" Ana tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


"Aku kakak angkatnya Maya. Iya kan Maya Sayang?"


Penyebutan kata 'Sayang' membuat Leo yang awalnya cuek dan tak peduli langsung mengangkat wajahnya dan berkomentar pedas.


"Apaan sih sayang-sayangan segala? Lebay tau gak!"


"Biasa aja sih. Aku kan kangen sama Maya!" ujar Richard enggak mau kalah.


"Pacar kamu ya May?" sekarang Aldi yang penasaran.


"Bukan!" jawabku singkat.


"Iya. Jawab aja iya May. Biar aku seneng." sahut Richard.


"Udah makan cepetan Cat. Nanti jam istirahat keburu habis!" omel Leo.


"Loh Leo kenal juga?" tanya Ana dan Aldi bersamaan.


"Kenal banget malah." sahutku.


"Siapa sih May?" Aldi sekarang yang sangat penasaran.


"Kenalin, nama aku Richard." Richard menyalami Ana dan Aldi satu persatu. "Aku kakaknya Leo."


"Hah?!" Aldi dan Ana terperangah kaget.


Aku mengu lum senyum melihat kekagetan mereka. Pasti mereka tak pernah menyangka kalau Richard adalah Kakaknya Leo.


"Yang bener May?" tanya Aldi.


"Kok enggak mirip?" tanya Ana kemudian.


"Kenapa? Gantengan aku ya dibanding Leo?" tanya Richard dengan penuh percaya diri.


"Gantengan Leo lah!" jawab Ana dan Aldi kompak.


Aku tak bisa menahan tawaku. Tawa pertama di hari yang menyebalkan ini. Tawa yang akhirnya membuat penatku karena ulah Angga hilang dan menguap entah kemana.


Richard memanyunkan bibirnya karena tak ada yang mengakui kalau dirinya ganteng melebihi Leo.


"Richard ganteng kok." kataku membesarkan hati Richard.


"Tuh kan? Maya tuh matanya yang paling bener. Ah kamu memang adik terbaik May!" baru saja Richard sesumbar aku langsung membuatnya down lagi.


"Tapi bohong.... ha...ha...ha..."


Semuanya tertawa melihat ulahku yang menjahili Richard.


"May! Kakak ipar kamu kalau marah bisa serem loh! Kamu beneran enggak ada takut apa sama aku?" Richard memasang wajah sok menakutkan yang malah membuatku malah mau tertawa ngakak.


"Enggak takut!" ledekku lagi.


"Beneran ya?" Richard mencubit pipiku dengan gemas.


"Awww! Rese banget ih!"


"Ehem!" Leo mendehem menyuruh Richard berhenti mencubitku. "Cat! Ini di kantor! Jaga sikap!"


Richard melepaskan cubitannya di pipiku. Takut juga Ia dengan Leo.


"Kok kalian seakrab itu sih? Pakai bilang kakak ipar segala?" tanya Ana.


"Nanya melulu nih anak! Kayak wartawan aja!" celetuk Richard seenaknya. "Maya tuh adik ipar aku. Udah jangan kebanyakan nanya! Bukannya makin pinter malah makin bodoh nanti!"


Aku menahan senyum mendengar Ana kena semprot Richard. Kali ini aku dukung Richard. Memang ya sekali-kali Ana tuh harus dikasih pelajaran!


"Ih kamu kan anak baru! Enggak sopan banget sih!" Ana mulai kesal diomelin Richard.


"Apa bedanya sama kamu? Kita sama-sama anak baru disini. Cuma beda 3 minggu aja udah sombong!" Richard membalikkan perkataan Ana.


"Udah....Udah. Waktu istirahat udah mau habis! Bubar deh." Leo mengangkat nampannya dan menaruhnya di tempat nampan kotor.


Ana yang sebal dengan kehadiran Richard pun mengikuti Ana, sementara Aldi mengikuti langkah Ana di belakangnya.


"May, Si Ana suka sama Leo ya?" tanya Richard ketika kami menaruh nampan bekas makan.

__ADS_1


"Iya. Kayaknya. Kalau dilihat dari centilnya sih iya."


"Nyebelin banget anaknya! Aku enggak mau anak kayak gitu yang jadi adik iparku May. Enakkan kamu. Udah cantik, enggak baperan lagi!"


Aku tersenyum mendengar perkataan Richard. Adik ipar? Apa masih mungkin?


Aku dan Richard berpisah di depan ruanganku, sementara Richard kembali ke ruangan marketing.


*****


Keesokan harinya aku pulang kerja sudah dijemput dengan Angga. Aku ijin ke kontrakkan dulu untuk mandi dan ganti baju sebelum pergi ke rumah Angga.


Angga mengiyakan dan dengan setia menunggu di mobilnya. Aku melarang Angga ke kontrakkanku karena tak mau menimbulkan fitnah karena mengajak laki-laki ke rumah.


Aku sengaja mengambil dress hitam polkadot putih kecil dengan panjang dress selutut. Model dress jadul yang terlihat manis saat kupakai. Tak lupa aku padu padankan dengan sepatu flat warna putih dengan aksen pita.


Aku menyapukan sedikit blouse on ke wajahku agar terlihat lebih segar dan berwarna. Lipstick warna nude membuat wajahku terlihat make up natural.


Kusemprotkan minyak wangi ke tubuhku, tentunya tidak terlalu banyak agar tidak membuat orang mual jika mencium parfumku.


Dandanan rapi, aku siap ke rumah Angga.


Angga sedang mendengarkan suara musik di mobilnya ketika aku datang dari kejauhan sambil berjalan kaki.


Angga keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untukku. "Loh kamu kok udah ganti baju sih?"


"Iya. Tadi aku pulang dulu untuk mandi dan balik lagi buat jemput kamu. Enggak enak kalau kamu udah wangi tapi aku bau. Kalau sekarang kan enak kita sama-sama udah mandi." jawab Angga.


"Yaudah ayo kita berangkat sekarang." ajakku.


"Cie yang enggak sabar mau ketemu mertua..." ledek Angga.


"Apaan sih. Udah ah cepetan!"


Angga terlihat mengu lum senyumnya. Wajahnya terlihat amat bahagia karena keinginannya untuk mengenalkanku dengan kedua orang tuanya akan terwujud sebentar lagi.


Angga pun mengemudikan mobilnya memasuki rumahnya yang terletak tak jauh dari taman. Sebuah rumah besar dengan basement yang dibuat khusus untuk menaruh mobil.


Angga memarkirkan mobilnya di basement rumahnya. Sementara aku duduk diam sambil memperhatikan keadaan sekitar.


Rumah Angga berbeda dengan Leo. Rumahnya memang besar namun tidak semewah rumah Leo. Ukuran rumahnya juga kalah jauh dibanding rumah Leo.


Aku memang agak norak. Maklum saja, anak petani dari kampung sepertiku punya mantan suami yang ternyata anak orang kaya dan kini punya sahabat yang juga orang kaya. Mungkin di masa lalu aku pernah menyelamatkan bangsa dan negara makanya hidupku bisa seberuntung ini.


"Ayo, May!" Angga menarik tanganku, membuatku yang awalnya ragu akhirnya memberanikan diri memasuki rumah Angga.


"Ma!" panggil Angga setelah kami sudah sampai di ruang tamu yang terlihat mewah tersebut.


Ruang tamu rumah Angga bergaya klasik. Hiasan dindingnya ada beberapa hewan yang diberi air keras seperti kepala rusa. Membuatku merasa agak ngeri melihatnya.


Di sudut ruangan ada beberapa senjata khas daerah yang tergantung di dindingnya. Benar-benar berbeda dekor rumahnya dengan rumah Leo.


"Iya sayang." seorang wanita berumur sebaya dengan Ibu keluar.


Mungkin beliau adalah Mamanya Angga. Penampilannya anggun dan terlihat high class. Baju yang Ia kenakan pun dari brand terkenal yang tokonya di Senayan City Mall ada di lantai dasar berjejer dengan toko branded mahal lainnya.


Mama Angga melihat ke arahku. Ia melihatku dari ujung kepala sampai ke kaki. Mungkin karena dandananku terlihat amat sederhana untuk datang ke rumah calon mertua. Ups... Aku kan belum menerima lamaran Angga.


"Ma, kenalin. Ini Maya." Angga memperkenalkanku dengan bangganya pada sang Mama.


"Maya." aku mengulurkan tangan hendak berjabat tangan dengan Mama Angga namun Mama Angga masih sibuk menilaiku sebelum akhirnya menjabat tanganku namun hanya sebentar dan langsung menariknya kembali.


"Kayaknya Mama pernah ngeliat deh. Dimana ya?" Mama Angga seperti mengingat dimana Ia pernah melihatku.


"Cuma perasaan Mama aja kali." Angga berusaha mengalihkan perhatian.


"Ah! Mama ingat. Mama yakin pernah ngeliat. Kamu temennya si Julid kan? Bu Sri dan Bu Jojo?" tebakan Mama Angga benar. Tapi apa maksudnya ya?


"I... Iya, Tante." jawabku jujur.


"Ma, kita duduk dulu ya. Ngobrolnya biar lebih enak dan santai." Angga melepas tanganku dan mengajak Mamanya duduk di kursi yang terbuat dari kayu jati asli dengan banyak ukirannya.


Aku mengikuti Angga dan duduk di seberang Mamanya Angga yang masih melihatku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tak ada yang bisa terlewat dari pandangan mata Mamanya Angga, bahkan kalau ada kutu di rambutku pun akan kena sensor Mamanya.


"Bi, Bibi!" Angga berteriak memanggil asisten rumah tangganya yang tak lama datang ke ruang tamu.


"Iya, Den." jawab asisten rumah tangga Angga yang mungkin berumur dibawahku. Masih terlalu muda. Tidak seperti asisten rumah tangga Leo yang sudah berumur 50-an dan sudah lama mengabdi di rumah Leo.


Ah kenapa aku terus membandingkan Angga dan Leo terus ya? Inget May, ini lagi di rumah Angga! Setiap orang berbeda. Jangan disamaratakan!

__ADS_1


"Tolong buatkan minum buat Maya dan bawa cemilan juga ya." suruh Angga.


"Baik, Den."


Asisten rumah tangga Angga pun pergi meninggalkan ruang tamu.


Mama Angga masih saja terus memperhatikanku. Sejujurnya aku merasa risih diperlakukan seperti itu. Seingatku sejak datang dan berkenalan tadi tak pernah ada senyum yang tersungging di wajahnya.


"Kamu berteman akrab dengan Bu Sri dan Bu Jojo?" Mama Angga mengungkit lagi kedua sahabatku. Sepertinya Ia kurang suka aku bergaul dengan mereka.


"Iya. Bu Sri dan Bu Jojo sudah menjadi teman saya sejak dulu." jawabku jujur.


"Sejak dulu? Kamu dulu pernah tinggal disini sebelumnya?"


"Pernah, Tante. Tapi cuma beberapa bulan sebelum melanjutkan kuliah di Bandung."


Percakapan kami berhenti sejenak kala asisten rumah tangga Angga membawakan minuman dan menyuguhkannya di meja.


"Silahkan, Non." kata asisten rumah tangga tersebut.


"Terima kasih." ucapku saat Ia selesai menyuguhkan minuman dan cemilan untukku.


"Diminum May." Hanya Angga yang menawariku sementara Mamanya masih saja terus menelajangiku dari atas ke bawah.


"Iya." Aku mengambil gelas berisi sirup warna merah dan meminumnya. Kemanisan. Mungkin asal tuang saja yang penting berwarna merah padahal rasanya kemanisan. Sungguh asisten rumah tangga yang belum pengalaman.


Aku menaruh kembali minumanku dan siap ditanya-tanya lagi. Kenapa aku jadi kayak di interview ya?


"Kamu disini tinggal dimana? Sama siapa?" Mama Angga menyenderkan tubuhnya di kursi jati lalu melipat kedua tangannya di dada.


"Aku tinggal di RW 03, Tante. Ngontrak disana sendirian. Ibu dan Bapak di kampung."


"RW 03 dekat apa? Soalnya saya juga punya kontrakkan di daerah sana."


Angga hanya diam saja menyimak aku diinterogasi Mamanya.


"Dekat Kober (Kuburan). Kontrakkannya Haji Harun."


Terlihat Mama Angga mengernyitkan keningnya. "Setau saya kontrakkan Haji Harun hanya orang lama yang tinggal dan baru diisi sama janda muda. Tunggu, jangan bilang kalau kamu si janda muda itu?"


"Iya, Tante. Itu saya." aku tak malu mengakui statusku. Memangnya kenapa? Enggak ada yang salah kan dengan status janda?


Namun sepertinya Mama Angga agak keberatan dengan statusku. Ia yang awalnya menyandarkan diri di kursi kini mulai duduk tegak.


"Kamu seorang janda? Kok Angga enggak pernah cerita ya sama saya?" Mama Angga kini menatap anaknya meminta penjelasan kenapa Ia tidak menceritakan tentang statusku terlebih dahulu.


Disinilah aku merasa didiskriminasi tentang statusku yang seorang janda. Stigma negatif tentang janda yang melekat di masyarakat sepertinya masih dianut oleh mamanya Angga.


Sorot mata Mama Angga yang sekarang bukan lagi menatapku dengan penuh selidik melainkan dengan tatapan merendahkan. Aku nggak suka seperti itu.


Sejak tadi dipandang menyelidik saja aku merasa nggak nyaman, apalagi sekarang aku ditatap seperti seseorang yang benar-benar berada dalam kasta yang paling rendah dalam masyarakat? Aku makin tidak merasa nyaman saja.


"Emangnya Angga harus cerita ya sama Mama? Bagi Angga status itu nggak penting Ma. Yang penting Angga yakin kalau Maya adalah wanita yang baik buat Angga." jawab Angga.


"Baik kan menurut kamu, belum tentu menurut Mama dan Papa? Belum tentu juga menurut orang lain?" jawab Mama Angga dengan tegas.


Angga menghela nafas mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Mamanya. Ia akhirnya hanya diam tanpa perlawanan.


"Kamu kenapa jadi janda? Cerai hidup atau cerai mati?" pertanyaan Mama Angga kembali ditujukan padaku.


"Cerai hidup, Tante." aku hanya bisa menjawab jujur.


"Setau saya kalau cerai hidup rumah tangganya gagal dong? Kalau rumah tangga sebelumnya saja gagal, nanti kalau berumah tangga lagi bakalan gagal juga nggak?" kali ini bukan pertanyaan melainkan suatu pernyataan.


Mama Angga jelas-jelas menyindirku kalau aku tidak bisa mempertahankan rumah tangga alias aku tidak becus. Kentara sekali di wajah Mamanya Angga kalau Ia bukan hanya memandangku dengan sebelah mata, kali ini bahkan Ia menunjukkan dengan sangat jelas kalau Ia tidak menyukaiku.


Inilah yang membuatku makin takut untuk memulai rumah tangga kembali. Aku tuh udah di pandang jelek di mata orang lain akibat kegagalanku.


Apakah mereka tahu kenapa rumah tanggaku gagal? Kalau bisa, aku pasti akan mempertahankan rumah tangga sebelumnya dan tidak akan memilih jalan perceraian.


Tetapi banyak yang tidak tahu dan seenaknya aja berpikir jelek tentangku. Contohnya Mama Angga ini.


"Aku enggak pernah menginginkan rumah tangga yang gagal, Tante. Maka dari itu, kegagalan rumah tangga aku sebelumnya menjadi suatu pelajaran agar aku tidak mengulangi kesalahan yang sama." aku berusaha menjawab dengan bijak.


Angga sepertinya puas dengan jawaban yang kuberikan. Kulihat Ia mengu lum senyum dan mengacungkan jempol ke arahku. Tingkahnya tersebut malah membuat Mamanya makin keaal dan terus menyudutkanku.


"Iyalah harus belajar. Kalau enggak belajar masa sih harus sering kawin cere? Ih amit-amit deh punya keluarga kayak gitu!"


****

__ADS_1


Hi semua! Walaupun enggak masuk 10 besar tapi aku mau double up ya hari ini. Keep reading! Jangan lupa like dan vote ya... Maacih...-


__ADS_2