Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Kunjungan Duo Julid-2


__ADS_3

"Di atas rumahnya Leo ada tempat buat parkir helikopter May?" tanya Bu Sri yang masih saja celingukan di dalam rumah Leo.


"Enggak ada, Bu." aku duduk di meja makan yang sudah disediakan makanannya oleh Bibi. Aku sudah request tadi untuk menyediakan makan siang yang enak karena temanku akan datang.


"Tapi Leo punya helikopter kan May?" tanya Bu Sri seraya ikut duduk di meja makan bersamaku dan Bu Jojo.


"Enggak ada Bu."


"Pesawat pribadi mah punya kan May?" masih saja Bu Sri usaha. "Kayak artis yang di TV tuh. Pergi kemana-mana pake pesawat pribadi terus yang difoto tasnya yang mahal sambil pake kacamata hitam."


"Kebanyakan nonton TV nih Bu Sri. Memangnya harga pesawat pribadi tuh murah? Biaya perawatan dan hanggarnya murah? Pajaknya murah? Enggak semua orang kaya tuh harus punya pesawat pribadi Bu." aku menyendok nasi ke dalam piringku agak banyak. Laper berat. Menu makan siang kali ini membuat nafsu makanku langsung keluar.


"Biasanya kan gitu May. Kaya raya, punya perusahaan, punya pulau pribadi dan punya pesawat pribadi baru disebut kaya raya." Bu Sri ikut mengambil nasi dan lauk yang tersedia di meja. Belum puas juga dia bertanya masalah pesawat pribadi padaku.


"Lebih baik punya pesawat pribadi atau uangnya dipakai untuk membantu sesama? Justru orang kaya yang sebenarnya itu yang mau membawa harta kekayaannya sampai Ia meninggal kelak. Contohnya banyak sedekah dan juga membangun masjid. Nanti saat Ia meninggal harta kekayaan di akhirat nanti akan kekal."


"Wiiiih ceramah kamu beneran mantap May! Kayak ustadzah." Bu Sri mengacungi dua jempol padaku.


Aku tersenyum dibilang ustadzah. Ustadzah macam apa aku yang pernah tekdung duluan, kawin lari dan durhaka sama orang tua?


Pandanganku teralih pada Bu Jojo yang sejak tadi memperhatikan dinner set milik Mama Lena yang menghidangkan masakan bibi.


"Kenapa Bu? Dari tadi Maya liatin Ibu ngeliatin dinner set punya Mama aja."


"Oh ini May. Mahal ya pasti. Soalnya keramiknya beda sama yang punya saya di rumah. Saya punya merk Vicenza aja udah kayak paling mahal banget. Itu juga belinya nyicil setahun. Lah ini malah jauh lebih bagus dari punya saya." Bu Jojo masih memandang kagum dengan dinner set milik Mama.


"Maya enggak tau, Bu. Maya kan enggak ngerti masalah harga kayak gitu. Urusan Mama. Tapi kalau Mama sih pasti yang mahal. Seleranya beda. Udah ah ayo dimakan. Habis ini kita berenang gimana? Enak nih ngadem di kolam renang."


"Oke siap May." Bu Sri dan Bu Jojo menikmati makan siang tanpa banyak bertanya lagi. Masakan Bibi memang enak, tapi tak lebih enak dari masakan Ibu. Ibu paling the best deh.


Selesai makan aku mengajak Duo Julid untuk duduk-duduk di gazebo dekat kolam renang sambil menikmati buah-buahan dan cemilan yang disediakan bibi.


"Kenapa sih kamu enggak jadi ibu rumah tangga aja May? Masih mau kerja aja. Padahal kalau kamu jadi ibu rumah tangga kan enak. Tinggal di rumah mewah. Mau berenang tinggal nyebur aja. Mau jajan tinggal pesan. Apalagi yang kamu cari May?" tanya Bu Sri seraya memasukkan sebuah anggur ke dalam mulutnya.


"Maya juga berpikiran seperti itu, Bu. Tapi Maya kan baru ngerasain bekerja beberapa bulan ini. Maya merasa ilmu yang Maya dapatkan di bangku kuliah bisa Maya aplikasikan. Mungkin nanti saat Maya harus memilih antara bekerja atau menjadi ibu rumah tangga sejati, Maya akan menjadi ibu rumah tangga sejati, Bu." aku menatap kosong kolam renang yang terlihat bersih karena rajin dibersihkan tersebut.


Bu Jojo merenggangkan tubuhnya lalu tidur-tiduran di gazebo yang adem dan sejuk ini. Udara sepoy-sepoy membuat mata terasa berat. Rasanya kedua bulu mata atas dan bawah ingin silaturahmi saja.


"Kata siapa ilmu di bangku kuliah kamu tidak akan terpakai saat kamu jadi ibu rumah tangga May? Justru ibu yang pintar bisa menghasilkan anak yang pintar juga." Bu Jojo ikut berkomentar setelah sebelumnya hanya menyimak obrolanku dan Bu Sri.


"Saya malah nyesel May udah nyia-nyiain kesempatan yang orang tua saya berikan. Dulu disuruh sekolah malah milih kawin. Masih muda udah nimang anak. Yang dipikirin cuma nyari duit aja. Ya habis mau gimana lagi, mau ngajarin anak belajar ilmunya enggak nyampe. Emaknya bodoh begini. Saya tuh iri sama kamu May. Hidup kamu terlalu diberkahi. Terlepas dari masalah di masa lalu kamu, sekarang lihat hidup kamu. Enak. Enggak perlu nyolong sosis punya bocah lagi-" ucapan Bu Jojo terhenti manakala ada yang menginterupsi perkataannya.


"Nyolong sosis?!" sontak aku dan Duo Julid menatap ke asal suara.


"Sayang? Kok kamu udah pulang?!" agak kaget dengan kehadiran Leo. Tadi Leo kan lagi di Bandung, kenapa sudah ada disini lagi?


Aku jadi kepikiran dengan ucapan Bu Sri, apa mungkin Leo punya helikopter pribadi dan cepat sampai kesini karena pakai helikopter?


"Aku hanya sebentar di Bandung dan langsung pulang untuk menemani kamu periksa namun ternyata enggak keburu. Sudah itu tidak penting. Tadi Bu Jojo bilang kamu nyolong sosis? Kapan? Kenapa aku enggak tau? Kenapa bisa sampai nyolong sosis?"


Rentetan pertanyaan dari Leo sampai membuatku bingung mau menjawab yang mana. Belum sempat aku menjawab sudah ada Bu Sri yang mewakilkanku jawab.


"Itu Leo, kita lagi cerita tentang masa lalu kalian. Waktu masih tinggal di kontrakkan. Saya pernah mergokin Maya nyolong sosis punya anak kecil sampai tuh anak nangis. Mungkin Maya waktu itu mau jajan tapi lagi enggak punya uang." semakin di jelaskan semakin kesal wajah Leo.


Ah salah ini. Muka Leo makin terlihat emosian. Gawat nih.


Benar saja, Leo berbalik badan dan masuk ke dalam rumah. Panik enggak? Panik dong! Aku buru-buru mengejar Leo. Kali ini enggak pake lari kayak dulu, karena aku tahu aku sedang berbadan dua.


"Ibu berenang duluan ya. Tuh kamar mandinya disana. Nanti Maya nyusul." aku menunjuk kamar mandi yang terletak di dekat kolam renang.


"Iya, May." jawab Bu Sri yang masih asyik tengkurap menikmati anggur dan jus yang disediakan tanpa sadar kalau Leo emosi.


Aku lihat Leo naik tangga, pasti mau ke kamar. Aku menyusul Leo dan mendapatinya sedang duduk di tepi tempat tidur.


"Sayang....." Leo diam saja tak menjawab panggilanku.

__ADS_1


"Kamu marah?"


Leo menghela nafas kesal. Matanya terlihat menggenang. Ada air mata yang Ia tahan untuk jatuh.


"Maaf ya aku-" Leo tak membiarkanku menyelesaikan perkataanku.


"Aku yang harusnya minta maaf, May. Maaf.... " akhirnya air mata yang susah payah Leo tahan menetes juga.


"Sayang... Enggak, kamu enggak salah. Jangan minta maaf..." Aku menghampiri Leo dan memeluknya.


"Maaf.... Aku enggak tahu bagaimana penderitaan kamu dulu... Maaf aku enggak bisa bahagiain kamu dulu.... Maaf aku sampai membuat kamu.... nyolong sosis.... Ya Tuhan..." Leo terisak dalam pelukanku.


Bagai anak kecil yang memeluk mencari kedamaian. Kubiarkan Leo menangis sambil kuusap lembut rambutnya.


Apakah ada yang akan percaya, pria berjas yang terlihat gagah dan ditakuti ribuan karyawannya kini menangis di pelukanku hanya karena aku nyolong sosis dari anak kecil? Enggak akan ada yang percaya.


"Sstt... Enggak usah kamu pikirin. Itu di masa lalu. Sekarang kamu sangata bahagiain aku. Dan waktu itu aku beneran ngidam banget. Enak banget rasanya liat anak kecil itu makan sosis. Tanpa pikir panjang aku ambil aja pas dia meleng. Bukan salah kamu, Sayang. Waktu itu aku masih ada uang kok, hanya saja aku lagi hemat dan super pelit. Udah ya jangan dipikirin."


"Aku tuh merasa malu, May. Masa enggak bisa menafkahi kamu dengan baik. Sampai kamu melakukan hal itu. Maaf... Maafin aku..."


Sudah beberapa kali Leo meminta maaf. Penyesalannya sangat besar hanya karena aku nyolong sosis saja. Aku yang salah eh dia yang minta maaf.


"Ada juga aku yang minta maaf, Sayang. Aku yang udah buat kamu malu."


"Pokoknya kamu enggak boleh kayak gitu lagi. Kalau kamu mau minta sesuatu, kamu harus bilang sama aku. Akan aku belikan apapun itu. Bahkan kamu mau pesawat pribadi akan aku usahakan."


Hmm... Kenapa semua orang membahas pesawat pribadi sih? Heran... Keren itu kan enggak mesti harus naik pesawat pribadi?


"Iya.... iya.. aku akan bilang." lebih cepat diiyakan saja daripada makin lama acara maaf maafannya. Bisa ngalahin idul fitri kalau gini caranya. "Kamu mau makan dulu enggak? Nanti aku siapin."


Leo melepaskan pelukanku lalu menggelengkan kepalanya. "Enggak usah. Tadi udah makan. Mana print USG? Aku mau pajang di dompet aku. Biar kemana-mana aku bisa melihat Leo Junior."


"Ada kok." Aku mengambil tas yang tadi aku pakai dan memberikan print hasil USG. "Nih."


Leo memandangi buah cintanya denganku. "Jenis kelaminnya apa ya kira-kira? Lalu mirip denganku atau sama kamu?"


"Lalu kalau perempuan?"


"Kalau perempuan, hmm.... Jadi anak yang sayang sama kamu. Jadi anak yang sangat mengidolakan kamu. Jadi anak yang pintar dan hebatnya mirip kamu tentunya."


"Lalu yang mirip kamu apanya?"


Pertanyaan yang bikin aku mikir. Hmm.... Apa ya?


"Yang mirip aku baik laki-laki maupun perempuan adalah jadi anak yang dicintai semua orang. Aku kan kayak gitu. Iya kan?"


Leo tersenyum lebar. "Iya. Papanya aja cinta banget sama Mamanya. Saingan Papa aja banyak untuk dapetin cinta Mama. Perjuangannya juga berat, sama kayak perjuangan mendapatkan kemerdekaan."


"Nah itu kamu tau. Sudah ya aku mau menemui Duo Julid lagi. Mereka pasti lagi ngobak di kolam renang. Kasihan takut tenggelam kalau enggak dilihatin." aku mencubit pelan hidung Leo.


"Boleh. Tapi cium dulu!"


Belum apa-apa udah ada bayi gede. Apalagi kalau ada bayi nanti? Huft...


"Iya." aku mencium pelan bibir Leo.


Namun bukan Leo namanya kalau terima hanya dicium pelan dan sebentar. Leo menarikku hingga aku duduk di pangkuannya dan mulai memagutku.


Ciumannya makin panas dan menuntut. Aku galau. Ini masih siang. Dan di luar ada Duo Julid, masa sih aku harus meninggalkan mereka dulu demi melayani suamiku?


Bimbang antara kewajiban dan keadaan. Leo tersenyum jahil saat menghentikan ciumannya. Sadar apa yang sedang aku pikirin.


"Mereka pasti akan mengerti kok." dan Leo melanjutkan lagi menciumku.


Akhirnya aku memilih menjalankan kewajibanku. Kewajiban di siang hari. Belum nanti kalau Ia minta kewajiban di malam hari. Beneran Leo balas dendam karena dulu saat menikah tak pernah menyentuhku.

__ADS_1


Leo mencium pelan perutku. "Maaf ya Sayang, Papa mau sayang-sayangan dulu sama Mama. Sekalian nengokin kamu."


Dan kami pun membuat penyatuan di siang bolong. Untunglah AC kamar Leo cukup kencang jadi peluh kami tak terlalu banyak.


Seakan tak mau melepaskanku pergi, Leo terus saja mencumbuku. Sampai akhirnya kami melakukan pelepasan bersama-sama.


Leo terlihat kelelahan tapi wajahnya tersenyum puas. "Bobo siang bareng dulu yuk."


Lagi-lagi ajakan untuk menghindari Duo Julid. Itu emak-emak kalau berenang dari tadi bisa kisut Kasihan kalau tidak ditemani.


Maka aku pun memberanikan diri menolak ajakannya walau aku juga lelah dan ingin memejamkan kedua mataku.


"Aku menemani Duo Julid dulu ya. Kasihan. Mereka kan tamu."


Leo mengangguk dan memberi ijin. Matanya tinggal 5 watt. Sudah kelelahan menempuh perjalanan Jakarta Bandung bolak-balik lalu harus bertempur di siang bolong.


Aku turun dari tempat tidur dan tak lupa menyelimuti Leo yang sudah tertidur tanpa sehelai benang pun di tubuhnya.


Pakaian kami berserakan di lantai. Aku membawa baju kotor kami ke keranjang baju lalu masuk ke kamar mandi. Membersihkan tubuhku yang penuh peluh.


Ternyata Duo Julid masih saja asyik bermain di kolam renang. Bu Sri terlihat jago menyelam. Dan Bu Jojo asyik berenang dengan gaya kupu-kupu. Hebat mereka bisa berenang.


"Nah tuh dia datang, Bu!" Bu Jojo memberitahu kedatanganku pada Bu Sri.


Bu Sri keluar dari kolam renang dan langsung menyindirku.


"Liat tuh Bu. Enggak berenang tapi rambutnya basah." sindir Bu Sri.


"Iya. Kita mah nungguin lama eh dia indehoy berduaan diatas." Bu Jojo juga ikut menyindir.


Aku tersenyum pasrah. Udah ketahuan mana bisa berbohong lagi. Emak-emak mah enggak bisa dibohongin. Level pendeteksi kebohongannya sudah expert.


"Ya elah kayak enggak pernah muda aja. Kalau ayang beb minta sun dan ne n mah enggak bisa ditolak."


Jawabanku membuat keduanya tertawa terbahak-bahak. "Udah bisa dia jawabnya, Jo. Udah jago sekarang." ledek Bu Sri.


"Iyalah jago. Udah kawin dua kali. Ya walau sama orang yang sama sih." Bu Jojo ikut menambahkan.


Aku pun ikut tertawa dengan obrolan ringan ini. "Jago bener berenangnya?"


"Yoi dong. Biasa berenang di kali yang dilewatin ocoy. Begini doang mah kecil. Airnya tenang. Kalo di kali ocoynya suka tiba-tiba lewat." jawab Bu Sri.


"Ocoy?" tanyaku bingung.


"Ah masih aja oon. Kirain udah pinteran gara-gara bisa jawab pertanyaan kita berdua. Ternyata masih sama aja." dan mereka berdua pun puas menertawaiku.


Ocoy? Ocoy apaan sih?


******


Morning....


Ayo nungguin ya?


Aku juga nungguin vote dan like kalian yang enggak nambah-nambah 🤣🤣🤣... #justkidding


Kenapa enggak Up Thor?


Hmm....


Kenapa ya?


Lagi enggak ada ide. Maunya ditamatin aja buru-buru tapi nanti aku kena omel kalian 🤣🤣🤣


Jangan nunggu double up ya. Aku sibuk akhir bulan. Dan enggak ada ide juga sih 🤣🤣🤣.

__ADS_1


Tapi... Aku nunggu like dan vote kalian ya, gratis kok. Maacih 😘😘😘


__ADS_2