
Tidak ada kebahagiaan yang lebih besar bagi seorang ibu selain kedatangan anak-anaknya. Apalagi kalau anak-anak yang sudah besar dan asyik dengan dunianya sendiri-sendiri, kehadirannya merupakan suatu pelepas Rindu.
Terlihatnya sekali di wajah Mama kalau Ia sangat senang aku dan Richard datang mengunjunginya. Meskipun Richard terlihat cuek, namun sebenarnya Ia juga kangen dengan Mama.
Seperti sudah hal yang lumrah, orang tua yang didatangi oleh anaknya pasti akan menyuguhkan hidangan sebanyak mungkin. Meskipun anaknya sudah kekenyangan tetap saja akan disuguhi berbagai makanan.
Hal ini juga yang Mama lakukan. Ia sudah menyuguhkan kami jus tapi Ia juga menyuguhkan sirup dan juga puding untuk cemila. Belum lagi ada gorengan seperti combro dan bakwan yang semuanya Ia buat sendiri.
Meja ruang tamu dibuat penuh oleh makanan dan minuman hasil prakarya Mama. Aku saja sampai bingung Mama bangun jam berapa untuk menyiapkan semua hidangan ini.
"Asyik ada combro! Mama buat sendiri nih?" comblo adalah salah satu makanan kesukaanku. Dibandingkan dengan misro yang rasanya manis, aku lebih suka dengan rasa combro apalagi kalau isi oncom didalamnya pedas dan ada potongan cabe rawitnya. Kalau udah kemakan cabe rawitnya uuuhhh....rasanya mantap!
"Iya dong. Mama kan tahu kamu tuh suka banget sama combro, makanya Mama bikinin. Mama bikin yang pedas sesuai dengan selera kamu." Mama terlihat senang karena aku begitu antusias memakan combro buatannya.
Mama melirik kearah Richard yang masih asyik dengan handphonenya. "Cat, makan dong pudingnya. Mama kan udah buatin puding buat kamu. Kamu kan suka makan puding coklat dengan vla putih di atasnya. Kalau Leo suka makanan yang asin, kamu lebih suka makanan yang manis. Buat kalian berdua Mama bikinin satu-satu."
Aku menyenggol lengan Richard agar membuatnya mengalihkan perhatian dari handphone miliknya dan menghargai usaha Mama. Kasihan Mama, Ia benar-benar mengharapkan perhatian dari kami anak-anaknya. Memasak untuk kami juga salah satu bentuk perhatian yang Ia lakukan.
"Richard masih kenyang, Ma. Tadi sebelum jalan udah sarapan. Nanti juga Richard makan."
Aku tidak jadi mengomeli Richard karena menolak tawaran Mama. Setidaknya Ia sudah basa-basi terlebih dahulu tidak langsung menolak dengan kata-kata yang kasar.
"Ya udah tapi nanti kamu makan ya. Soalnya Mama udah buatin khusus buat kamu. Nanti kamu bawa pulang juga. Mama bikin banyak."
"Iya, Ma."
"Oh iya Mama dengar katanya Leo udah bekerja ya di perusahaan Papa? Jadi apa?" tanya Mama.
"Iya Ma. Leo cuma jadi staff biasa aja kok di bagian audit. Mama tahu dari mana?" tanyaku sambil menyomot combro kedua dan langsung memakannya. Mumpung masih hangat jadi enak dimakan. Kalau sudah dingin kurang enak lagi.
"Banyaklah mata-mata Mama di kantor. Kayak kamu nggak tahu aja. Tapi kenapa sih kamu harus menempati posisi staff biasa, bukan sebagai pimpinan saja?" Mama melirik ke arah Richard takut perkataannya menyinggung Richard. Selama ini kan Richard digadang-gadang akan menjadi penerus perusahaan.
Kekhawatiran Mama sepertinya tidak beralasan karena Richard terlihat cuek dan masih asyik bermain games di Hpnya.
"Leo masih belajar, Ma. Leo lebih suka di posisi Leo sekarang. Banyak teman dan banyak ilmu yang bisa didapat, Ma." Mama tak tahu kalau selama ini aku-lah yang menjalankan perusahaan. Biarlah hanya sedikit yang tahu, agar rahasia Papa dan aku tak bocor.
"Apa kamu mau kerja di perusahaan Mama? Nanti kamu boleh kok jadi CEOnya tanpa kamu harus mulai dari bawah dulu. Kelamaan naik ke atasnya. Kamu kan punya koneksi dan kemampuan, jadi langsung saja mengemban posisi yang bagus."
Aku tersenyum mendengar perkataan Mama. Kenapa juga Mama terlalu menginginkan aku untuk menjadi CEO di perusahaannya? Apa mungkin Mama tetap berharap kalau Richard yang akan memimpin perusahaan nantinya sedangkan aku hanya cukup untuk memimpin perusahaan kecil milik Mama. Entahlah, aku tak peduli.
"Ya Leo betah-lah kerja di sana. Soalnya ketemu lagi sama mantan." celetuk Richard.
"Ketemu mantan gimana maksudnya, Cat? Leo ketemu mantan pacarnya atau mantan is....tri?" Mama agak ragu menanyakannya padaku. Mantan istri tuh kayak suatu predikat buruk yang orang buat untuk menegaskan kalau diri kita menyandang status duda.
"Mantan istri lah, Ma. Mana pernah Leo suka sama cewek lain selain Maya?" celetuk Richard tanpa mengalihkan pandangannya dari layar Hp.
Anak jaman sekarang memang suka enggak sopan ya, ngomong sama orang tua tapi matanya tetap liat Hp. Kalau anak jaman dulu mana berani? Yang ada langsung kepalanya dijitak atau pahanya di empos alias dicubit sampai kadang meninggalkan bekas biru. Kecil sih cubitannya tapi bekas birunya bisa tahan lebih dari seharian.
"Loh kamu ketemu sama Maya lagi? Di perusahaan Papa? Beneran?" tanya Mama seakan tak percaya dengan pusaran takdir yang selalu berputar-putar di sekeliling anaknya tersebut.
"Iya, Ma. Leo juga enggak tau kalau Maya akan bekerja satu kantor sama Leo, satu bagian malah." combro udah next puding.
Aku mengambil sebuah cup puding dengan fla diatasnya. Semua masakan Mama memang enak, karena dibuat dengan cinta. "Hmm... Enak. Kalau Richard enggak mau nanti aku yang habisin Ma di rumah."
"Yeh enak aja. Jangan. Aku juga mau!" Richard menaruh Hp miliknya dan langsung mengambil cup pudding dan memakannya. Kena juga dia aku kerjain, ha...ha....ha... Baru dipancing begitu aja langsung takut keabisan huh!
"Nanti Mama buatkan lagi yang banyak. Mama senang kalau kalian menyukai masakan Mama." ujar Mama sambil tersenyum bahagia.
__ADS_1
See? Hanya dengan memakan masakan buatan Mama sudah memberi kebahagiaan untuknya. Karena bahagia itu enggak harus mahal. Bahagia kalau kita melakukannya dengan tulus.
"Melihat kamu dan Maya yang masih ketemu padahal sudah lama berpisah seperti sebuah pertanda Leo." Mama mulai membuat asumsi deh.
"Pertanda apaan? Mau hujan?" celetuk Richard lagi yang sudah menghabiskan cup puding pertama dan siap mengambil cup puding berikutnya.
"Hush! Bukan itu! Ini tuh kayak pertanda kalau jodoh kamu dan Maya belum selesai. Lalu kabarnya anak kamu dan Maya gimana? Bawa kesini dong! Mama kan mau lihat cucu Mama. Ganteng apa cantik nih?" mata Mama berbinar membayangkan akan segera melihat cucu pertamanya.
Sorot mata Mama langsung berubah kala kukatakan: "Anakku dan Maya udah meninggal, Ma. Maya keguguran saat kami bertengkar bertepatan dengan Papa ditahan. Karena alasan itu pula Maya menggugat cerai aku."
Mama dan Richard memandangku seakan tak percaya dengan apa yang kukatakan.
"Ya Tuhan! Pantas saja Maya langsung menggugat cerai kamu! Kita udah salah paham selama ini sama Maya!"
Aku mengangguk lesu.
"Lalu sekarang gimana? Maya masih membenci kamu?" pertanyaan Mama memang beda. Ia langsung menanyakan bagaimana perasaan Maya. Pertanyaan dari sudut pandang seorang wanita.
"Masih. Karena itu aku berusaha menyembuhkan luka hati Maya. Perlu waktu tapi aku yakin perlahan namun pasti aku akan menyembuhkan luka hati Maya." jawabku yakin.
"Nah gitu dong! Baru laki-laki sejati. Menyembuhkan luka yang Ia buat."
"Mama lagi nyindir Papa?" tebakku kemudian.
"Eng... Enggak kok." jawab Mama sambil tergagap.
"Ngaku aja sih Ma. Terus Mama kenapa belum nikah sama Om Hans?" Richard ikut bergabung dalam percakapan kami. Nada suaranya masih terdengar sinis karena itu aku menyikutnya lagi untuk memperingatkannya sebelum Ia lebih menyakiti hati Mama lebih dalam lagi.
"Mama... Mama ragu untuk berumah tangga dengan Hans. Kamu tau enggak rasanya selingkuh itu seperti apa?" tanya Mama kemudian.
"Mana Richard tau! Richard enggak pernah selingkuh!" jawab Richard sinis.
"Enggak apa-apa Leo. Kakak kamu wajar kok masih membenci Mama. Perbuatan Mama memang enggak mencerminkan orang tua yang baik," Mama lalu membuang pandangannya dan menatap tanaman di depan rumahnya yang tumbuh subur.
"Saat Mama selingkuh dulu, Mama merasakan sensasi deg-degan dan benar-benar memacu adrenalin. Bagaimana rasa takut Mama terhadap Papa berubah menjadi pemberontakan yang frontal. Mama pikir semua karena Mama mencintai Om Hans,"
"Namun saat surat cerai sudah Mama pegang, dan Mama bisa dengan bebas melegalkan hubungan Mama dengan Om Hans seperti yang Mama idam-idamkan selama puluhan tahun lamanya rasanya kok kosong ya? Lalu Mama mulai terkenang saat pertama kali melihat wajah kalian di dunia ini, saat kalian bertengkar karena mencari perhatian Mama dan saat kalian makan dengan lahap masakan Mama. Rasanya hidup Mama lebih hidup,"
"Saat Mama muda dulu Mama berkhayal dapat kawin lari dengan Om Hans dan sekarang saat semuanya Mama bisa dapatkan kenapa Mama malah tidak menginginkannya lagi? Mama malah kangen melihat kalian berdua bertengkar hanya karena masalah sepele, bukan saat kalian dipukuli Papa ya. Mama kangen melihat kalian tidur di malam hari dan memanti jika kalian belum pulang sampai subuh,"
"Bagi Mama kebahagaian yang ingin Mama raih sudah tidak sama lagi. Mama malah melepas kebahagiaan masa kini hanya demi mengejar kebahagiaan masa lalu yang bisa dibilang sudah expired. Bodoh ya Mama kalian ini?"
Richard baru mau menjawab sudah aku sikut lagi. Pasti jawaban ngaco deh yang malah akan membuat Mama makin sedih.
"Mama tau enggak, apa yang Mama rasakan sekarang sama persis dengan apa yang Papa rasakan. Kalian berdua sibuk mengejar Oase sementara kalian memegang sebotol minuman di tangan. Saat mendapatkan Oase kalian justru tetap akan meminum air dalam botol minum kalian yang sudah jelas kalian bawa dari rumah kebersihannya. Kalian melepaskan apa yang ada ditangan hanya demi masa depan yang kalian enggak tau bagaimana akhirnya." kataku dengan bijak.
"Intinya Mama udah melakukan sesuatu yang sia-sia kan?" kata Mama dengan pesimis.
"Mama salah. Enggak ada yang sia-sia dalam hidup ini. Apa yang Mama alami selamanya akan menjadi pengalaman dan ilmu yang amat mahal harganya karena sampai mengorbankan anak dan perasaan Mama yang sesungguhnya."
"Mama balikkan aja sama Papa. Kasihan Papa tiap hari cuma main PS aja. Perusahaan juga udah enak diurusin sama Leo." celetuk Richard yang kini mulai mengambil misro dan memakannya.
Mama menggelengkan kepalanya. "Mama malu. Mama udah menghianati Papa. Walau Papa suka kasar sama Mama tapi setelah Mama pikir-pikir Papa selalu sabar dan nerima Mama yang selama ini sudah mengkhianatinya. Papa tahu tapi malah menerima Mama. Ya dibalik sikap kasarnya ada Mama yang memantik api amarah dalam diri Papa."
"Udah kalau masalah balikan urusan Leo. Leo dan Richard akan mengurusnya. Iya kan Cat?" aku kembali menyikut Richard.
"Iya. Iya. Sikut-sikut melulu nih anak! Sakit tau!" keluh Richard.
__ADS_1
"Lebay banget begitu aja sakit! Makanya rajin olahraga. Badan jadi lemes kebanyakan tiduran sih!" omelku.
"Olahraga kok. Main bola sama Papa di PS!"
"Ah alesan. Main bola di PS mah enggak keringetan!"
Aku masih beradu argumen dengan Richard. Mama justru tersenyum melihat suasana rumahnya kembali ramai. Ah... Kebahagiaan itu kadang berasal dari hal yang receh.
-POV Leo End-
****
Pagi hari Angga sudah menjemputku di depan gang. Mobil mewahnya terlihat mengkilap dan bersih sehabis dicuci.
"Pagi Maya!" sapa Angga dengan senyum yang mengembang lebar.
"Pagi juga Angga!" balasku.
Angga membukakan pintu mobil untukku. Aku masuk dan langsung memakai seat belt. Sementara Angga berlari ke sisi pengemudi dan duduk di sampingku.
"Mau beli sarapan dulu enggak?" aku enggak enak kalau cuma nebeng tanpa ikut menyumbang. Mau nyumbang bensin jelas Angga akan nolak. Paling traktir hal-hal receh aja yang aku mampu. Aku kan belum dapat uang gaji. Seminggu lagi baru aku gajian.
"Boleh. Aku belum sarapan nih." jawab Angga sambil mulai menjalankan mobilnya.
"Beli nasi uduk dekat warung Pak Husin aja ya. Sekalian jalan."
"Oke."
Sesuai requestku Angga memberhentikan mobil di depan warung Nasi Uduk Mpok Uum. Ternyata ada Bu Sri dan Bu Jojo yang sedang antri membeli nasi uduk disana.
"Eh Maya mau beli juga?" sapa Bu Sri saat melihatku.
"Iya. Buat sarapan di kantor, Bu."
"Leo enggak turun?"
"Angga, Bu. Bukan Leo!" aku memperingatkan Bu Sri.
"Oh iya! Saya lupa." Bu Sri menepuk keningnya.
"Bu saya duluan ya habis ini. Anak saya mau berangkat ke sekolah." ujar salah satu ibu-ibu yang datang setelahku dan langsung menyerobot antrian.
"Ya sabar, Bu. Habis Bu Jojo terus saya , habis itu Maya. Anak saya juga mau ke sekolah, si Maya juga mau kerja." sahut Bu Sri.
"Tapi saya cuma beli satu, Bu." balas ibu-ibu itu tak mau kalah.
"Tetap aja antri, Bu. Kalau enggak mau antri bikin sendiri sana!" sahut Bu Jojo membela sahabatnya.
Ibu-ibu yang tak mau antri tersebut akhirnya diam dan sabar menunggu gilirannya tiba. Duo Julid dilawan!
Setelah membayar pesanan nasi uduk aku masuk ke dalam mobil Angga dan melambaikan tangan pada Duo Julid.
"Ada apaan tadi kok rame?" tanya Angga.
"Biasa, ada ibu-ibu yang kalah ngelawan Duo Julid. Bu Sri dan Bu Jojo mah sing ada lawan."
Angga tertawa mendengar ceritaku. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju kantorku.
__ADS_1
****
Hi semua! Hari senin nih. Jangan lupa Vote dan like yang banyak ya. Awal bulan mau ada Giveaway lagi enggak? Komen ya jangan lupa nanti aku baca. Maacih 🥰🥰🥰