
Banyak orang berkata jika berjalan lihatlah ke depan, jalan melihat ke belakang.
Bagiku itu salah.
Yang benar adalah sebelum berjalan maju ke depan kita harus belajar saat masih di belakang. Belajar dari kesalahan di masa lalu. Belajar dari kegagalan. Bangkit dan tidak mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.
Pernikahan yang gagal, yang selama ini selalu aku rutuki. Status janda muda yang melabeliku. Pandangan sinis tetanggaku saat melihat aku lewat di depan mereka. Tak jarang mereka langsung menggandeng suaminya karena takut kepincut denganku.
Apa aku salah? Apa aku dosa sudah menjadi janda di usia muda?
Itu juga bukan mauku. Aku maunya terus mempertahankan rumah tanggaku, memiliki anak-anak yang lucu dan menggemaskan.
Aku juga tak mau hidup dengan status yang dianggap remeh oleh sebagian orang. Dan dianggap aji mumpung bagi laki-laki hidung belang.
Janda bukan harga mati. Janda masih bisa bangkit. Aku buktikan kalau aku tidak akan terpuruk dengan statusku.
Saat aku memutuskan untuk kuliah di Bandung jujur dikarenakan aku malu selalu dipandang sebelah mata oleh tetanggaku dan juga karyawan Bapak.
Sudah membangkang dengan orang tua, aku juga membuat malu keluargaku dengan hadir sebagai janda muda. Di kampung berbeda dengan di kota yang menganggap status janda biasa saja.
Di kampung hampir setiap hari ada saja laki-laki yang datang untuk melamarku. Banyak yang sudah Bapak tolak namun banyak pula yang tidak gentar.
Sebelum menikah aku dianggap bunga desa, setelah jadi janda namaku makin jadi incaran saja karena dianggapnya aku akan jual murah, siapapun bisa punya kesempatan mendapatkanku.
Miris memang, status janda yang terlalu dianggap rendah. Padahal banyak kok janda di luar sana yang bisa menyekolahkan anaknya sampai sukses.
Tak mau terus menambah aib keluarga aku pun memilih tinggal di Bandung. Lulus kuliah pun aku tidak kembali ke rumah Bapak melainkan langsung tinggal di Jakarta.
Jangan lagi aku menjadi beban malu bagi Bapak. Cukuplah hanya prestasiku yang membanggakan yang Bapak tau.
Ternyata nasib getirku tak jauh berbeda dengan Leo. Hidup bergelimangan harta namun hanya sebagai pajangan, tak bisa disentuh karena bukan miliknya. Semua milik kakaknya yang super hebat.
Ibaratnya hidup di istana cokelat namun hanya boleh numpang tinggal dan tak boleh mencicipi rasa cokelat sedikit pun. Hanya terus menahan diri selama tinggal di istana cokelat tersebut.
Tersiksa. Aku dan Leo sama-sama tersiksa oleh keadaan. Perpisahan bukan berarti pintu menuju kebahagiaan. Malah kami makin tersiksa.
Saat menikah dulu, aku selalu mikir yang jelek-jelek tentang Leo. Mikir kalau Leo tak mau berusaha mencari uang, mikir kalau Leo menyesal punya anak denganku sampai tak mau menyentuhku sama sekali dan bahkan mikir kalau Leo laki-laki yang kasar.
Semua ternyata salah. Leo sendiri takut dengan dirinya. Takut menjadi copy paste Papanya yang killer. Leo menjauhiku karena takut Ia akan seperti Papanya yang berbuat kasar terhadap Mamanya disaat marah.
"Kamu tau Leo, kesalahan kita berdua adalah kita terlalu muda untuk menikah. Kita yang memang hidup manja selama ini dibawah ketiak orang tua tiba-tiba harus mandiri. Kita dipaksa dewasa sebelum waktunya,"
"Ibarat buah, kita tuh kayak buah karbitan. Dipaksa matang sebelum waktunya. Jangan samakan dengan banyak anak muda di desa yang menikah dibawah umur, lihat juga kalau angka perceraian di desa cukup tinggi. Bisa dibilang menikah muda saat ini tidak direkomendasikan. Sama dengan keadaan kita waktu itu,"
Aku membaringkan tubuhku diatas kasur Leo yang terasa amat nyaman. Mataku memandang langit-langit kamar Leo dengan pandangan menerawang.
Leo mengikuti apa yang kulakukan. Ia pun berbaring dan ikut memandang langit-langit kamar sepertiku.
"Aku dulu mikirnya kamu sangat benci karena aku sampai hamil dan tidak menginginkan Adam."
"Padahal aku tidak berpikir seperti itu." sanggah Leo.
"Iya. Dan aku baru mengetahuinya hari ini. Waktu itu mana pernah sih aku berpikir positif tentang kamu? Kamu sibuk sepanjang hari mencari uang, meninggalkan aku sendiri hidup dengan pikiran jelek tentang kamu."
Leo lalu menopang kepalanya dengan sebelah tangannya lalu menatapku secara intens. Aku bukannya tidak tahu, aku hanya tidak mau balik menatapnya dan membuat wajahku memerah dan jantungku kembali berdegup kencang.
"Karena aku mau membahagiakan kamu, May. Aku sudah merebut kamu dari keluarga kamu dan aku merasa malu karena tidak bisa menafkahi kamu dengan layak. Kalau saja waktu itu kita menikah disaat aku sudah memiliki pekerjaan tetap seperti sekarang, maka mungkin perceraian diantara kita tidak akan terjadi."
Tuh kan jantungku berdegup kencang lagi. Nyebelin nih Leo. Baru bilang mau membahagiakanku aja aku udah melayang terbang ke awan.
"Sebenarnya kalau kamu berpikir seperti itu, kamu salah Leo. Jika kita tidak diuji karena materi, kita akan diuji dengan jalan lain misalnya salah satu pasangan kita selingkuh, diuji dengan anak atau diuji dengan kesehatan dan masih banyak ujian lainnya. Karena pernikahan sejatinya adalah ibadah yang terlama dan tak berkesudahan,"
__ADS_1
Aku sekarang yang menopang kepalaku dengan sebelah tangan. Gantian menatap laki-laki tampan yang terus membuat degup jantungku berdetak tak karuan.
"Kita masih terlalu muda saat itu. Tak siap menghadapi cobaan sekecil apapun. Aku salah dan kamu juga salah. Kita berdua sama-sama salah."
Leo mengulurkan sebelah tangannya dan membelai wajahku dengan lembut. Hatiku rasanya mencelos. Bisa kurasakan sentuhan Leo yang penuh dengan kasih sayang.
"Apa kita masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya May? Apa masih ada nama aku di hati kamu?"
Masih. Jawab hatiku dengan yakin. Tapi mulutku hanya bisa terdiam. Takut. Aku takut memberikan jawaban yang nantinya akan membuat kami semakin sakit.
"Eh jam berapa sekarang? Kita bukannya ada janji mau ketemu sama Ana dan Aldi?" aku langsung bangun. Lagi-lagi melarikan diri dari kewajiban menjawab pertanyaan yang Leo ajukan.
Dengan wajah sebal Leo langsung duduk di sebelahku. "Masih lama, May. Dari sini ke Blok S paling enggak sampai setengah jam. Lagian janjian sama anak jaman sekarang itu always ngaret. Bilangnya otw padahal masih di rumah ngemil kerupuk. Santai aja sih. Kamu tuh ya kebiasaan banget kalau aku nanya tentang perasaan kamu selalu aja kabur. Pokoknya kamu mau kabur kemana tetap aja bakalan aku kejar!"
Aku tersenyum, lucu melihat ekspresi Leo kalau lagi ngedumel kayak gitu. "Kejar? Emangnya aku maling?"
"Iya. Kamu tuh maling hati aku tau!" gombalan receh namun begitu mengena di hatiku.
"Preetttt! Udah ah ayo kita keluar kamar. Gak baik dua orang satu ruangan. Bisa ada setan nantinya." aku hendak berdiri namun tanganku ditahan oleh Leo.
"Kalau setan bisa nyatuin kita kayak dulu lagi kenapa kita enggak bersekutu aja sama setan sekalian?"
"Ih gila ya kamu! Sadar! Setan kok diajak bersekutu? Kayak enggak punya Tuhan aja!"
Leo makin tertawa mendengar perkataanku. "Begitu aja langsung ngomel May. Tapi enggak apa-apa. Aku suka. Aku suka denger kamu ngomel-ngomel. Merdu banget di telinga aku."
"Beneran makin aneh ya kamu Leo. Udah ayo kita keluar kamar. Enggak enak sama Bibi kamu di bawah. Nanti mikirnya macem-macem lagi!"
Namun Leo tak kunjung berdiri dan masih asyik duduk menatapku. "Rumah ini tuh udah sering jadi tempat maksiat May. Bibi sampe bosen kali. Udah sering dipake Richard jadi tempat pesta narkoba. Bahkan aku pernah ngeliat Mama selingkuh sama Om Hans di kamar Papa. Gila kan?"
"Kamu beneran? Masa sih? Pasti kamu bohong deh! Raut muka kamu kayak cengengesan gitu!"
"Beneran, May. Another sad story from my life. Aku ngeliat Mama dan Om Hans lagi melakukan hubungan terlarang di kamar yang Ia tempati sama Papa," Leo tersenyum kecut lalu Ia melanjutkan lagi perkataannya. "Betapa berbedanya rumah ini ya, terlihat megah tapi dalamnya bobrok!"
Leo lalu mendekatiku. Aku pikir Ia akan benar-benar meminjam bahuku untuk menangis, namun Ia mendekat dan mencium bibirku dengan lembut.
Entah kenapa aku hanya bisa diam. Mungkin diamnya aku Leo anggap sebagai ijin, Leo lalu mencium lagi. Pelan dan lembut.
Awalnya aku mau mendorong Leo menjauh namun entah mengapa tubuh dan otakku tak singkron. Aku malah memegang lembut wajahnya, wajah yang dulu selalu aku cium dengan penuh kasih sayang.
Leo menciumku makin dalam. Dan Maya Si Oon ini malah membalasnya. Leo, laki-laki pertama yang pernah menciumku sekaligus laki-laki satu-satunya yang pernah kucium.
Aku mulai terbuai dengan ciuman Leo yang bagaikan candu yang membuatku ketagihan. Dari yang awalnya lembut mulai memanas sampai akhirnya Leo melepaskan ciumannya dan aku merasa kehilangan.
"Maaf aku harus berhenti, May. Aku.... Aku enggak mau mengulang masa lalu buruk kita lagi."
Aku kesal dengan perkataan Leo. "Maksud kamu apa? Aku masa lalu yang buruk buat kamu?"
Leo lalu menarik tanganku dan menggenggamnya. "Bukan. Kamu masa lalu terindah bagiku. Aku mau memiliki kamu dengan layak. Bukan dengan cara hina seperti dulu."
Air mataku mulai menetes. Ah lagi-lagi aku memutuskan sesuatu tanpa berpikir lebih jauh. Aku bahkan lupa dengan nasehat yang Bu Sri berikan. Ternyata proses menjadi dewasa tidak semudah teori, praktek lebih sulit.
"Sst... Jangan nangis dong. Aku minta maaf, oke? Aku salah... Aku salah.... Jangan nangis ya. Aku enggak mau buat kamu nangis lagi karena aku..."
Leo menarikku ke dalam pelukannya. Justru malah membuat tangisku makin kencang. Kenapa takdir kita begitu jahat ya Leo?
Harum maskulin Leo membuatku makin nyaman menenggelamkan kepalaku dalam pelukannya. Aku tak mau terlalu lama terhanyut dalam buaian yang akan membuatku semakin hanyut.
Aku melepaskan pelukan Leo dan menghapus air mata yang membasahi wajahku.
"Kamu enggak salah kok. Aku yang salah. Lagi-lagi aku semudah itu menyimpulkan sesuatu. Tenyata waktu tak serta merta membuat aku makin dewasa. Bu Sri benar, aku masih terlalu bocah." kataku mengakui kesalahanku.
__ADS_1
"Aku juga. Harus lebih bisa menahan diriku kalau dekat kamu. Bawaannya mau nyosor terus he..he..he... Kamu masih semenarik itu May di mata aku." Leo lalu berdiri dan mengusap pucuk rambutku dengan lembut.
"Ayo aku ajak keliling rumah Papa. Mumpung Papa enggak ada di rumah. Nanti kalau ada kamu kaget lagi!" Leo mengulurkan tangannya menunggu tanganku menyambutnya.
"Aku kaget kenapa? Papa kamu semenyeramkan itu memangnya?" aku menyambut uluran tangan Leo dan mengikutinya keluar kamar. Tak lupa mengambil tas kecil yang tadi kutaruh diatas tempat tidur.
"Dibilangin sekarang udah jinak. Dulu sih iya killer tapi sekarang taringnya udah dicabut. Udah jadi macan ompong he...he...he..."
"Ih jahatnya!" kataku seraya memukul pelan bahu Leo dengan tanganku yang lain. Maklum saja Leo masih menggenggam tanganku yang satu.
Leo mengajakku menuruni anak tangga ke lantai dasar. Ia lalu mengajakku ke bagian belakang rumahnya.
Seperti gambaran rumah keluarga kaya, ada kolam renang yang lumayan besar. Airnya jernih pertanda sering dibersihkan. Rasanya aku pengin langsung menceburkan diri melihat kolam renang yang kosong ini.
"Mau berenang?" tanya Leo setelah melihat mataku yang berbinar melihat kolam renang, seperti mata anak kecil yang melihat mainan baru.
Aku menggelengkan kepalaku. "Enggak bawa baju renang juga."
"Nanti aku belikan. Eh ada baju renang Mama deh. Kalau mau aku ambilkan."
"Enggak usah." tolakku. "Malu lah aku berenang disini."
"Ngapain mesti malu? Aku temenin kok!"
"Iyuuuh... Makin ogah deh." Aku lalu menuju gazebo yang terletak tak jauh dari kolam renang.
"Dulu, Mama dan Papa duduk di gazebo ini sambil memperhatikan aku dan Richard berenang. Kami biasa adu lomba, ya walau aku selalu kalah sih. Tapi kehidupan kami saat itu amat bahagia." kenang Leo.
"Aku bisa membayangkannya kok. Setidaknya kamu masih punya kenangan manis untuk kamu kenang. Ya meskipun hanya sedikit." kataku berusaha menabahkan Leo.
Sedang asyik bercerita tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil-manggil nama Leo.
"Leo! Leo!"
Aku menengok ke arah Leo. "Ada yang nyariin kamu tuh! Siapa? Papa kamu?" tanyaku dengan nada khawatir. Ternyata aku belum siap bertemu mantan Papa mertuaku tersebut.
"Iya aku disini!" teriak Leo.
"Tenang aja. Itu bukan Papa. Itu Richard, kakakku."
"Richard? Bukannya kata kamu sedang direhabilitasi?" tanyaku bingung.
"Kata Papa hari ini Richard boleh pulang."
"Berarti Papa kamu juga ada di rumah dong?" tanyaku mulai panik.
"Tenang aja, oke? Ada aku."
Tak lama terdengar langkah kaki mendekat lalu seorang pria bertubuh tinggi kurus berjalan mendekat. Rambutnya dibiarkan panjang sampai sebahu. Sama sekali tidak mirip dengan Leo.
"Dia siapa?" tanya Richard langsung tertuju padaku.
"Maya." Leo yang menjawab. Aku hanya diam saja sambil menggenggam tangan Leo makin erat.
"Kayak pernah denger namanya. Cantik. Kenalin, aku Richard." Richard mengulurkan tangannya padaku.
Dengan takut-takut aku membalas uluran tangannya dan Richard lalu tersenyum penuh arti.
"Papa mana?" tanya Leo kemudian.
"Pergi. Cuma ngedrop aku doang."
__ADS_1
"Kok aku kayak pernah ngeliat Maya ya. Dimana ya?" Richard terus memperhatikanku. Membuatku makin tak nyaman dibuatnya.
****