Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Kunjungan Duo Julid-3


__ADS_3

Seperti layaknya anak-anak, sehabis berenang Bu Sri dan Bu Jojo merasa lapar.


"May!"


"Kenapa Bu?" Bu Jojo terlihat sibuk mengeringkan rambutnya.


"Ada Pop Mie enggak?" tanya Bu Sri tanpa malu-malu seperti biasanya.


"Ibu mau makan Pop Mie?"


"Iya, May. Kalau habis berenang paling enak makan Pop Mie. Kalau enggak ada juga enggak apa-apa May. Tapi saya pengen banget. Kita beli dulu di Indomar*t aja."


Lah gimana? Tadi katanya kalau enggak ada enggak apa-apa tapi ngajak ke Indomar*t buat beli. Bukannya ini namanya harus ada ya?


"Maya tanya sama Bibi dulu ya Bu." Aku berdiri dan hendak masuk ke dalam dapur tapi Bu Sri kembali memanggilku.


"May! Kalau ada pake bakso juga ya!"


Bu Sri yang selalu apa adanya. Aku menyunggingkan seulas senyum.


"Iya tenang aja. Nanti Maya tambahin bakso sama sosis didalamnya."


Aku masuk ke dalam dapur dan mencari Bibi. Ternyata di rumah ini selalu sedia mie instan dan Pop Mie tentunya. Tapi Pop Mie adalah punya Kakanda.


Aku lalu ke lantai atas dan mengetuk pintu kamar Kakanda. Tadi kata Leo Ia pulang duluan bersama Kakanda, meninggalkan Papa yang janjian ketemuan sama Mama.


"Siapa?" tanya suara Kakanda dari dalam kamar.


"Maya, Ka."


"Masuk May! Enggak dikunci. Memangnya kamar kamu yang dikunci melulu!" Kakanda memang lucu, mempersilahkan ku masuk tapi sambil menggerutu.


"Kak, lagi ngapain sih? Di kamar melulu! Enggak main ke luar?"


Richard terlihat sedang asyik di depan laptopnya. "Sibuk. Males main ke luar. Pergaulannya enggak bagus. Enakkan di rumah."


"Ya nyari pergaulannya yang bagus lah. Kakak ikut pengajian gitu atau ikut club main sepeda. Papa kan punya koleksi sepeda mahal, kenapa enggak dimanfaatkan?"


"Bukan enggak mau memanfaatkan May. Kalau gabung sama club sepeda mahal, pergaulan mereka high class."


"Loh memangnya kenapa? Kakanda kan mampu untuk gaya hidup high class? Mobil Kakanda aja mehong semua."


Richard pun duduk dan menatap ke arahku. Sejak tadi Ia tengkurap memainkan laptopnya di atas kasur.


"Bosan aku May. Giliran aku susah, teman-teman aku yang high class mana ada yang peduli sama aku?"


"Seperti kata Sahabat Rasulullah, Ali bin Abi Thalib saat ditanya berapa temanmu? Dan Beliau menjawab tunggu sampai aku susah. Jadi Kakanda enggak mau main lagi ke luar karena teman-teman Kakanda yang ternyata bukan seorang teman yang sebenarnya?" tebakku.


"Betul itu! Makin pintar kamu May. Ada kamu mencari Kakanda? Kangen sama wajah tampan Kakandamu ini?" Richard memainkan kedua alisnya menggodaku.


Kakanda memang tak pernah gagal membuatku tersenyum. "Maya mau minta Pop Mie. 2 ya."


"Buat apa? Bukannya ibu hamil enggak boleh makan mie instan ya karena banyak mecinnya?"


"Bukan buat Maya. Tapi buat teman Maya. Mereka habis berenang di bawah dan laper. Makanya Maya mau minta Pop Mie sama Kakanda. Bibi bilang ada stok Pop Mie tapi punya Kakanda kalau lapar tengah malam. Boleh minta enggak? Nanti Maya gantiin."


"Ada teman kamu May dibawah? Cakep enggak?" Mata Kakanda langsung berbinar-binar.


Aku menghela nafas melihat kelakukan Kakanda. "Pop Mienya boleh minta dulu apa enggak?" aku kembalikan pertanyaan ke jalur yang semestinya.


"Boleh. Jawab dulu cakep enggak teman kamu?"


Aku balik badan dan hendak keluar dari kamar Kakanda setelah mendapat ijin. "Makasih."


"Eh tunggu dulu! Cakep enggak teman kamu?" Kakanda terburu-buru bangun dan menahan tanganku.


Sebuah ide jahil melintas di otakku. Sekali-kali boleh lah ngerjain Kakanda. Biar dia mau keluar kamar.


"Semok Kak. Mau?"


"Mau lah. Kakandamu kan suka sama yang bohay. Enggak cungkring kayak kamu May." ledek Richard.


"Yeh nanti juga Maya habis lahiran semok semuanya. Bohay." kataku tak mau kalah.


"Bodo ah. Ayo kenalin Kakanda sama teman kamu!"

__ADS_1


Kakanda menggandeng tanganku menuruni tangga rumahnya.


"Aku mau buat Pop Mie dulu."


"Udah suruh Bibi aja." Kakanda tak sabar ingin segera kukenalkan dengan 'temanku yang semok'.


"Sebentar doang kok." Aku mengambil panci dan merebus bakso sampai matang. Lalu menuangkan air panas dari dispenser ke dalam pop mie.


"Pantesan semok ya May. Makan Pop Mienya pakai bakso." sindir Richard.


Aku menahan tawa mendengar penuturan Richard. Bagaimana kalau Ia tahu jika temanku adalah Duo Julid si emak-emak rempong ha...ha...ha...


"Itu namanya selera Kak. Ya... mungkin teman aku sukanya makan Pop Mie pakai bakso. Eh iya aku jadi lupa belum pakai sosis." aku mengambil 4 buah sosis dari dalam kulkas lalu merebusnya bersamaan dengan bakso.


"Pakai sosis juga May? Kenyang banget dong? Mereka abis ngapain sih? Habis berenang atau habis nguli? makannya banyak bener."


Tenang May. Tenang... Aku harus kuat menahan tawaku demi hal yang lebih lucu lagi nantinya. Tahan...


"Kan aku bilang Kak. Ini cuma masalah selera. Teman-teman aku sukanya makan Pop Mie pakai sosis dan bakso. Biarin aja sih. Lagi juga di rumah ada semua bahannya. Mereka tuh habis renang ya bukan habis nguli tapi mungkin berenangnya sambil tawuran jadi agak lapar."


"Masih lama May? Enggak usah pakai gitu-gituan deh, bikin makin lama aja. Aku tuh enggak sabar mau kenal sama temen-temen kamu."


"Iya...iya. Ini tuh udah selesai tahu. Sebentar...." Aku lalu mematikan kompor dan menuangkan bakso dan sosis ke atas Pop Mie yang sudah mulai matang setelah disiram air panas.


Aku membawa dua buah Pop Mie dengan nampan lalu mengajak Kakanda untuk mengikuti langkahku menuju kolam renang.


Suara tawa Duo Julid terdengar dari kejauhan. Kakanda makin penasaran melihat teman-temanku. Namun saat dari kejauhan Ia melihat Bu Jojo yang sedang berdiri Ia menghentikan langkahnya.


"Itu siapa May?"


Reflek aku pun berhenti melangkah ketika Kakaknya juga berhenti.


"Teman Maya."


"Ibu-ibu?" tanya Kakanda lagi.


Aku mengangguk sambil menahan tawa. Terlihat Kakanda menarik nafas dan membuang nafasnya dengan kesal.


"Satu lagi teman kamu juga ibu-ibu?" tanya Kakanda lagi.


Kakanda langsung berbalik badan dan memasang wajah cemberut. Kesal karena sudah aku bohongi dan aku kerjain.


"Pantes saja semok! Pantes makannya banyak! Emak-emak toh ternyata. Awas ya May nanti aku bales!" gerutuan Kakanda membuat aku tak kuasa lagi menahan tawa.


Aku pun tertawa terbahak-bahak melihat Kakanda yang terus menggerutu sambil berjalan naik ke atas kamarnya. Kakanda.... Oh... Kakanda... Kamu tuh lucu banget. Beneran deh.


"Hush... Kamu kenapa toh May dari tadi saya liatin kamu ketawa sendirian. Ada apa?" tanya Bu Jojo.


"Kata siapa Maya ketawa sendirian Bu? Maya habis ngerjain Kakaknya Leo. Nih, demi dapat Pop Mie ini." aku mengangkat nampan yang kubawa tinggi-tinggi. Menunjukkan keberhasilanku.


"Ah saya jadi enggak enak May." kata Bu Sri, lagi-lagi perkataan enggak sesuai dengan perbuatan. Karena Ia langsung mengambil Pop Mie rasa kari ayam dan matanya langsung berbinar melihat ada bakso dan juga sosis didalamnya.


Aku memberikan satu Pop Mie lagi pada Bu Jojo. "Ini buat Ibu. Nih sausnya kalau mau pedas." aku menaruh saus diatas gazebo.


"Sosisnya kecil-kecil May. Enggak ada sosis yang gede kayak punya Leo apa?" lagi-lagi seenaknya Bu Sri kalau ngomong.


"Kayak tau aja sosisnya Leo gede apa enggak, Bu. Ini sosisnya mehong. Coba aja. Lebih enak daripada sosis warna merah yang Ibu jual dengan harga seribu."


"Ah masa sih? Udah naik May sekarang saya jualnya seribu lima ratus. Saya coba ya sosis mini ini." Bu Sri mencoba sosis dan langsung memuji keenakannya.


"Beneran May. Enak. Berapaan nih harganya?"


"Enggak tau Bu. Kan Mama yang tugasnya belanja."


"Oh iya, Mama mertua kamu belum pulang May?" tanya Bu Jojo sambil menikmati Pop Mie miliknya dalam diam. Keenakan mungkin.


"Belum, Bu. Kata Leo sih tadi Mama sama Papa janjian mau ketemuan. Mau staycation kali. Maklum, pengantin baru."


"Kamu enggak ikut satekesion May?" sambil asyik makan Pop Mie, Bu Sri ikut nimbrung dong.


"Staycation, Bu. Bukan satekesion." kataku membenarkan.


"Nah iya itu maksud saya." tak mau kalah emak-emak satu ini. Mungkin Ia penganut sen kiri belok kanan?


"Maya mah enggak perlu setaykesion, udah kayak di hotel tinggal di rumah kayak gini mah. Siang-siang aja habis main dia. Iya gak May?" tembak Bu Jojo.

__ADS_1


"Ih dibahas melulu deh. Itu pahala Bu. Besar pahalanya nyenengin suami. Ibu juga nih, bukan setaykesion tapi staycation."


"Ah elah May. Ibu-ibu udah kebanyakan ngulek. Belibet ngomong kayak gituan. Yang penting saya tau artinya emang noh si norak kagak tau kayak gituan." Bu Jojo memamerkan kemampuannya yang selangkah diatas Bu Sri.


"Enggak penting ah. Yang penting nih Pop Mie kenapa enak banget ya dimakan kalau habis berenang. Pantesan aja kalau jualan Pop Mie di pantai laku. Belinya cuma goceng jualnya bisa lima belas ribu." Bu Sri menghabiskan kuah Pop Mie sampai habis tak bersisa lalu Ia bersendawa. Nikmat bener dah...


"Mau nambah lagi?" aku berbasa-basi. Pasti kalau minta Pop Mie lagi sama Kakanda akan kena dikerjain nih soalnya aku udah ngerjain dia duluan. Dalam hati aku berdoa semoga nih emak-emak enggak minta nambah lagi.


"Enggak usah May. Udah kenyang."


Jawaban yang membuatku bahagia dalam hatu. Yess...


"Udah kenyang nih, Jo. Pulang yuk." ajak Bu Sri.


Hmm... Tuman ini mah. SMP sudah kenyang pulang.


"Ayo. Udah mau sore. Cucian saya belum diangkatin. Kalau ngandelin anak saya mah sampai tuh cucian basah kena hujan terus kering lagi juga enggak bakalan diangkat." kata Bu Jojo menyetujui.


"Kalau naik kopaja jauh enggak jalannya ke jalan raya May?" tanya Bu Sri.


"Mesti keluar komplek dulu, Bu. Enggak ada kopaja, adanya angkot dari depan komplek. Udah Maya anterin aja."


"Beneran? Kamu kecapean enggak nanti?" tanya Bu Sri tak enak hati.


"Enggak. Santai aja. Maya ijin sama Leo dulu ya." aku pun pergi ke kamar dan mendapati Leo masih tertidur pulas. Kelelahan.


Aku menepuk bahunya pelan. "Sayang!"


Leo sedikit menggerakkan badannya. "Hmm... Kamu mau lagi? Ayo..."


Leo menarikku ke dalam pelukannya. Wah gawat nih. Bisa makin diomelin sama Duo Julid kalau aku main lagi.


"Bukan Sayang... Bukan mau lagi. Aku mau pamit sama kamu."


Mendengar kata 'pamit' reflek membuat mata Leo melotot. "Pamit? Mau kemana? Kamu enggak boleh ninggalin aku."


Aku menghela nafas kasar. Belum sadar bener nih orang. Tapi kenapa malah langsung mikir jorok ya tadi?


"Aku mau nganterin Bu Sri sama Bu Jojo pulang. Kasihan kalau mereka naik angkot."


Nampaknya kesadaran Leo sudah pulih. Ia pun duduk di tempat tidur sambil mengucek matanya.


"Aku aja yang nganterin. Biar aku yang nyetir. Kamu jangan kecapean. Temenin aku aja. Puyeng denger ocehan dua emak-emak kalau aku sendirian."


"Kamu enggak capek memangnya?" aku merasa kasihan karena Leo kan baru saja dari Bandung tadi. Richard aja capek dan tidur-tiduran di kamarnya. Apalagi Leo yang tadi habis menggempurku juga?


"Buat kamu mah enggak. Aku mandi dulu. Tunggu sebentar." tanpa sehelai benang di tubuhnya, Leo berjalan dengan santai ke kamar mandi.


Sambil menunggu Leo mandi, aku merapihkan tempat tidur dan menyiapkan pakaian untuknya. Kaos dan celana jeans. Aku lengkapi dengan jaket jeans dan tak lupa kaca mata sunglass miliknya.


Aku juga berganti baju. Memakai dress bunga-bunga tanpa lengan yang kututupi dengan cardigan warna kuning, senada dengan salah satu warna bunga di dressku. Aku pakai sedikit lipstik agar wajahku terlihat segar.


Tak lama Leo keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah. Memakai pakaian yang kusiapkan dan mengantar Bu Jojo dan Bu Sri pulang.


Mobil Jazz milik Kakanda sudah menjadi bak mobil pribadi kami. Leo bilang minggu besok mobil miliknya datang beserta plat nomor sementara jadi bisa dipakai ke kantor. Yah... say good bye deh sama mobil ini.


"Mm... May." panggil Bu Sri.


"Kenapa Bu?" aku berbalik badan dan melihat Bi Sri yang duduk di kursi belakang. Sementara Leo melirik dari kaca spion.


"Anu... Habis makan Pop Mie perut saya kembung-" belum menyelesaikan perkataannya tiba-tiba suara kencang terdengar. Ddduuuuuttt..


"Yah keceplosan!" Bu Sri tersenyum malu-malu.


Seiring dengan bom atom yang keceplosan maka tak lama di dalam mobil pun tercium aroma tak sedap. Leo dengan sigap membuka kaca mobil. Mengeluarkan udara tak segar dari dalam mobil.


"Ueeeekkk... Sri! Malu-malu aja! Mana baunya ya ampun.... Kamu makan jengkol ya tadi pagi?" omel Bu Jojo.


Aku menutup hidungku. Kalau Bu Jojo saja mual apalagi aku yang sedang hamil?


Aku melirik ke arah Leo yang sedang tertawa cekikikan tak berhenti. "Ada... aja." gumam Leo pelan sambil geleng-geleng kepala.


"Maaf ya semuanya Gaes... Ada aroma jengkinya. Tadi pagi saya sarapan nasi uduk pake semur jengkol. Maaf rada-rada syedep baunya...."


Kami yang di mobil pun tertawa melihat ulah Bu Sri. Bu Sri.... Bu Sri... Apalah novel ini tanpa kehadiran Bu Sri....

__ADS_1


__ADS_2