Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Mengurai Benang Kusut-2


__ADS_3

Saat hati sedang tersakiti dengan begitu dalamnya, maka kebenaran pun akan terasa seperti semut. Terlihat begitu kecil, hanya seperti sebuah bayangan. Terlalu berat untuk diterima.


Begitu pun yang terjadi padaku, saat Leo mengatakan kalau dirinya tidak mau menyentuhku karena Ia terlalu takut untuk menyakitiku dan janin dalam kandungan kami waktu dulu, jujur saja aku nggak percaya.


Aku kaget dengan alasan yang berikan, rasanya kok tidak masuk di akal ya? Sepengetahuanku, melakukan hubungan suami istri di saat sang istri sedang mengandung itu diperbolehkan tapi tentunya setelah konsultasi dengan dokter.


Saat trimester pertama misalnya, sebaiknya tidak melakukan pene trasi di dalam mengingat sper ma bisa menjadi salah satu penyebab kontraksi. Boleh melakukan hubungan suami istri tetapi diatur volumenya agar tidak terlalu hot dan jangan sampai membahayakan sang janin dan ibunya tentu saja.


Ada juga informasi yang mengatakan kalau saat kandungan memasuki trimester ketiga, saat kandungan semakin besar harus lebih sering lagi melakukan hubungan suami istri karena dapat membantu janin untuk menemukan jalan keluar yang memudahkan saat proses melahirkan nanti.


Jawaban yang Leo berikan kalau Ia melakukan hubungan suami istri denganku maka Ia takut menyakitiku dan anakku sangat tidak masuk di akal. Aku malah merasa kalau itu hanyalah alasan yang dibuat-buat oleh Leo semata.


"Kamu pikir aku langsung percaya dengan alasan kamu gitu?" tanyaku dengan nada sinis.


"Aku sih nggak maksa kamu untuk percaya sama aku atau enggak tapi yang pasti aku terlalu takut untuk menyakiti kamu saat itu."


"Oh ya? Aku nggak tahu ya? Setahu aku kamu bahkan enggak peduli sama aku. Hanya tau melarang tanpa memperdulikan apa alasan aku yang sebenarnya!"


"Itu kan menurut kamu May. Kalau kamu ada di posisi aku, kamu akan mengerti dengan apa yang aku lakukan. Betapa aku sangat menyayangi kamu dan Adam."


Belum sempat menjawab pertanyaan Rio pintu ruangan terbuka. Rio cepat-cepat kembali ke mejanya agar yang lain tidak menaruh curiga.


"Pak, kalau menurut saya sih laporan dari outlet yang di Gatot Subroto patut dicurigai. Aneh banget, masa sih pengeluaran segitu banyak tapi laporannya cuma sedikit?" ujar Kak Fahri yang sedang berdiskusi dengan Pak Johan. Sepertinya diskusi dari luar ruangan masih berlanjut sampai ke dalam ruangan juga.


"Ya memang agak mencurigakan sih, tapi dia mainnya halus. Alasan dia tuh selalu masuk akal, yang membuat kita mau menuduh juga susah." ujar Kak Anggi ikut bergabung dengan topik pembicaraan.


"Ingat ya, kalian jangan langsung menuduh tanpa adanya bukti yang jelas. Bagaimanapun, kita juga menentukan nasib mereka ke depannya. Kalau mereka sampai curang dan ketahuan harus dihukum. Tapi kita juga jangan sampai salah menangkap dan ujung-ujungnya kita malah membuat diri kita sendiri malu dan orang lain dirugikan." pesan Pak Johan.


"Iya Pak." jawab Kak Fahri dan Kak Anggi kompak. Kalau sudah begini, aku dan Leo yang hanya anak baru belum pengalaman mah enggak bakalan dianggap. Hanya sebongkah upil yang nempel dibawah keyboard iyuuuuhh....


Mereka bertiga lalu duduk di kursinya masing-masing. Tiba-tiba Kak Anggi ingat dengan tugas yang Ia berikan kepadaku tadi.


"May, tadi file presentasinya yang kamu kirim udah bagus dan kamu ngirimnya juga tepat waktu, jadi kita bisa presentasi langsung ke klien. Makasih ya May." ujar Kak Anggi padaku.


"Iya Kak." jawabku singkat.


"Leo, coba kamu tolong carikan berkas cabang yang di Gatot Subroto. Kita bertiga tadi nemuin kayaknya ada kejanggalan di tempat tersebut. Kamu dan Maya tolong carikan dulu dan kirimkan laporannya hari ini juga."


"Hari ini juga Pak?" tanya Leo menegaskan.


"Iya. Kalian kan sudah seminggu, sudah mulai ikut lembur ya. Berhubung kalian tadi di kantor saja dan kami bertiga yang ke lapangan jadi kalian berdua yang lembur. Nanti kirimkan saja laporannya ke email kami bertiga. Akan kami kerjakan di rumah. Kalian setuju kan?" pertanyaan yang sebenarnya bukan pertanyaan, melainkan perintah dari Pak Johan yang tidak bisa mendengar kata tidak.


"Baik, Pak." jawabku dan Leo kompak.


Tak lama Pak Johan, Kak Anggi dan Kak Fahri pun pulang, meninggalkanku dan Leo mengerjakan laporan yang entah akan selesai jam berapa.


Aku melirik jam di dinding, sudah jam 5.30 sore. Sementara itu, Leo sedang menarik laporan dari laptop miliknya. Proses penarikannya saja lumayan lama karena data yang terdapat di file tersebut lumayan berat.


"Mau pulang jam berapa nih? Kenapa sih harus ngasih kerjaan udah sore, udah mau jam pulang kantor?" keluhku sambil menopang kepalaku dengan kedua tangan di meja.


"Udah enggak usah khawatir. Nanti aku anterin kamu pulang. Kita kerjain aja dulu apa yang mereka suruh. Itu biasa, mereka tuh senior dan kita junior. Wajar saja kalau kita dikerjain kayak gini. Terima aja. Kalau kamu masih mau kerja di perusahaan ini ya harus tahan banting." bijak sekali apa yang Leo katakan.


"Pokoknya nanti kalau aku udah jadi atasan, aku enggak akan berlaku semena-mena seperti ini." tekadku dalam hati.


Leo mengu lum senyum mendengar perkataanku barusan. "Kalau punya cita-cita itu sekalian yang tinggi, jangan nanggung. Jangan cuma jadi atasan aja. Berkhayal jadi istri owner gitu misalnya?"

__ADS_1


Aku mencibirkan bibirku mendengar perkataan Leo barusan. "Ya nggak mungkinlah. Masa sih aku jadi istrinya Bapak Dibyo Kusumadewa? Ya...Walaupun aku dengar kalau Beliau udah bercerai sama istrinya tapi aku nggak se-matre itu-lah sampai mau menikah dengan orang yang usianya jauh lebih tua dariku."


Mendengar perkataanku barusan Leo lalu mengangkat kepalanya dari laptop yang sejak tadi menyita perhatiannya. Keningnya berkerut lalu tak lama kemudian Leo pun mulai tertawa terbahak-bahak, bahkan sampai meneteskan air mata segala.


"Ih apaan sih yang lucu? Perasaan aku ngomong biasa aja deh. Ketawanya biasa aja dong, nggak ada lucu-lucunya tau. Selera humor kamu receh banget, begitu aja sampai ketawa terbahak-bahak." gerutuku.


"Ya maksud aku bukannya.... bukannya Bapak Dibyo juga kali May. Kan Owner tuh banyak, enggak cuma Bapak Dibyo doang. Lagian kamu juga enggak bakalan mungkin menikah dengan Pak Dibyo. Aku yang bakal maju dan gagalin pernikahan kalian kalau sampai terjadi."


Leo sudah mulai berhenti tertawa dan perhatiannya kembali fokus dengan pekerjaannya di laptop.


"Dih....Emangnya kamu siapanya Pak Dibyo sampai bisa melarang segala? Cuma kacung kampret aja belagu. Kamu juga jangan sok akrab jadi orang, nyadar woy...nyadar!"


Leo hanya mengu lum senyum mendengar perkataanku barusan. Entahlah... Aku enggak tahu apa yang ada dipikirannya dia.


"Kalau kamu sama Angga kan kamu juga akan menjadi istrinya owner? Kamu jadi nggak usah repot-repot kerja kayak gini."


"Mulai deh nyindir lagi" gerutuku sambil berjalan ke lemari arsip dan mengambil folder-folder tentang cabang yang di Gatot Subroto.


"Bukan nyindir. Kamu kan senang kalau sama Angga. Bisa jajan enak, dibeliin coklat, es krim dan terakhir ditraktir makan pizza. Kamu nggak usah capek-capek kerja kayak gini May. Hidup kamu sudah terjamin sama Angga." ucap Leo tanpa mengangkat wajahnya dari laptop.


Aku membawa 2 buah bantex dan meletakkannya dengan kasar di atas meja. Itu adalah wujud kekesalanku atas ucapan Leo barusan. Namun, Leo tidak menggubris. Ia tetap saja fokus dengan laptopnya.


"Kamu pikir aku se-matre itu apa?" Hatiku sudah mulai panas nih. Leo bilang enggak nyindir, tapi ucapannya makin lama makin tajam dan menyakitkan.


"Ya... aku nggak tahu. Menurut kamu gimana?"


See? Makin nyebelin kan?


"Ya kalau aku matre, aku nggak bakalan mintanya pizza. Aku bakal minta rumah mewah, mobil mewah dan barang-barang branded yang harganya miliaran rupiah. Buktinyaaku enggak minta kayak gitu." ujarku sambil bersungut kesal.


"Nggak ada maksud apa-apa. Itu udah janji Angga aja. Angga bilang, kalau aku mau berteman dengannya, dia akan membelikan aku es krim lalu coklat dan terakhir pizza. Menurut aku enggak ada yang salah kok berteman dengan lawan lain?"


"Iya kalau kamu masih single dan bukan istri orang sih enggak salah. Waktu itu kan status kamu masih istri aku May. Kalau kamu di posisi aku, lalu kamu ngeliat istri kamu sedang pergi sama laki-laki gimana perasaan kamu?"


Leo melipat kedua tangannya di dada. Tak Ia pedulikan lagi tugas yang diberikan oleh Pak Johan.


Aku pun demikian. Sudah tidak konsen dengan bantex yang sedang kuperiksa sejak tadi. Aku tidak terima saja dengan perkataan Leo. Kesannya tuh aku tukang selingkuh. Enak aja! Aku enggak pernah selingkuh!


"Ya kalau aku melihat istri aku pergi sama laki-laki lain dan bukan pergi berduaan ya tapi beramai-ramai dengan teman-temannya yang artinya 'bukan selingkuh' melainkan jarang bareng bersama teman-teman maka aku akan meminta penjelasan dari istriku lalu mencoba memahami bukan hanya meninggalkan sang istri sampai mengalami pendarahan hebat dan mengakibatkan keguguran! Puas?"


Leo terdiam. Ia sepertinya langsung mencerna perkataanku dan merasa bersalah atas perbuatannya dulu.


"Maaf.... "


"Maaf.... "


Lalu aku mendengar isak tangisnya.


Kemudian rasa bersalah dalam diriku mulai berkecamuk. Mulai merasa kalau aku juga ada andil atas kejadian naas waktu itu.


Andai aku tidak pergi dengan Angga....


Andai aku menjadi istri yang penurut dengan perkataan suami....


Andai aku menjaga kehormatan suamiku dan tidak pergi dengan laki-laki lain meskipun dengan dalih mengajak teman....

__ADS_1


Andai aku saat itu langsung bersimpuh memohon ampun pada Leo....


Andai.... andai.... dan berjuta andai lain....


Mungkin saat ini Leo merasakan hal yang sama denganku, yakni penyesalan. Penyesalan yang datangnya selalu terlambat. Karena yang datang duluan biasanya penjaga gedung.....


Leo menutup wajahnya dengan kedua tangan besarnya tersebut. Tangan yang dulu terasa amat hangat dan membuatku merasa aman dan terlindungi.


Tangan kokoh yang meskipun tidak banyak tapo selalu berusaha memberikan apa pun keinginanku.


Tak mau terlalu larut dalam keadaan sedih aku pun beranjak dari dudukku dan meninggalkan Leo sendirian di ruangan. Aku pergi keluar gedung kantor dan membeli dua porsi mie ayam dan air mineral dingin. Tak lupa kerupuk putih bulat kesukaan Leo saat makan mie ayam juga aku belikan.


Aku lalu kembali dan mendapati Leo sedang melamun dan tidak konsentrasi melanjutkan pekerjaannya.


"Nih. Makan dulu." Aku menyerahkan sebungkus mie ayam, air mineral dan kerupuk kesukaan Leo diatas mejanya.


Aku lalu duduk di kursiku dan menyingkirkan bantex agar lebih leluasa menikmati mie ayam. Leo bukannya makan mie yang kuberikan tapi malah terus menatapku.


"Jangan terlalu larut dalam kesedihan dan penyesalan. Sama seperti kamu, dulu waktu awal-awal kehilangan Adam aku juga merasa seperti itu, bahkan ingin bunuh diri rasanya,"


Aku membuka segel kemasan air mineral dan mulai meneguknya. Rasa dingin membuatku terasa segar dan melupakan segala emosiku tadi.


"Kamu salah dan aku pun salah. Kita sama-sama salah. Kita berdua ada andil atas apa yang terjadi pada Adam. Kamu benar, seharusnya waktu itu aku ijin sama kamu sebelum pergi dan akan menurut kalau kamu melarang. Aku enggak akan membela diri. Akan aku jadikan pengalaman karena dulu aku masih terlalu labil. Sudahlah lupakan saja. Cepat makan lalu lanjutkan kerjaan lagi. Nanti keburu malam, kapan istirahatnya?"


Leo tidak berkata apapun, tapi dari sudut mataku kulihat Ia juga mengikutiku memakan mie ayam yang kubelikan. Kami berdua makan dalam diam lalu melanjutkan lagi pekerjaan kami yang tertunda.


Suasana berubah menjadi sangat canggung. Aku lebih suka kalau Leo marah-marah ketimbang dia hanya diam saja seperti orang yang sangat menyesali nasib.


Aku melirik jam di dinding, sudah 9.30 malam dan kami baru saja menyelesaikan pekerjaan kami. Aku meregangkan otot-ototku yang terasa pegal dan amat lelah. Kangen sekali aku dengan kasur. Andai saja kantorku berada tepat di samping rumah, pasti enak langsung pulang dan tidur.


"Kamu udah selesai?" tanya Leo.


"Udah." jawabku sambil merapihkan meja dan bersiap pulang.


"Ayo aku antar pulang. Udah kemaleman. Kamu jangan naik angkutan umum, bahaya sudah terlalu malam."


"Tapi aku pakai helm siapa?"


"Udah ikut aja dulu. Nanti di jalan ketemu tukang helm aku beli yang baru."


Aku baru saja hendak mengajukan protes tapi mata Leo terlihat tidak bisa dibantah. Aku mengikuti langkah Leo menuju parkiran motor di lantai basement.


Leo membawa motornya yang sejak dulu selalu menemani, yakni motor Vixion kesayangannya. Untung saja hari ini aku pakai celana panjang. Sudah pengalaman, kalau naik Kopaja aku tidak mau lagi pakai rok mini.


Leo melepas jaket yang Ia pakai lalu memberikannya padaku. "Pakai jaket ini."


"Tapi kamu-"


"Udah pakai aja."


Aku pun menurut memakai jaket milik Leo sementara Leo memakai helm miliknya. Leo mengeluarkan motor dan melihatku sudah memakai jaket miliknya yang terlalu kebesaran di tubuhku.


Leo turun dari motor dan berjalan mendekatiku. Ia menarik resleting jaket sampi menutupi dadaku dan dipasanginya kupluk di kepalaku.


"Biar enggak dingin." Ia lalu naik ke atas motor dan mengantarku pulang.

__ADS_1


__ADS_2