
"Bu, tadi mau ngapain berhenti disini?" aku teringat permintaan Bu Sri untuk berhenti di taman padahal kami belum sampai rumahnya.
Bu Sri tersenyum jahil. "Ya mau ngajak Mamanya Angga silat lidah May. Udah gemes banget saya sama dia. Gosipnya nih, dia sering datang ke taman. Mukanya juga kusut banget. Kalau ibu-ibu aerobic nyapa boro-boro senyum. Ya gitu deh kalau ngerasa dirinya paling hebat."
"Cuma mau ngajak ribut Mamanya Angga aja?" tanyaku memastikan.
"Iyalah. Kesempatan ini May. Kapan lagi si sombong diserang kayak gini? Biasanya tuh ya May, ibu-ibu lain yang dia serang. Dikatain norak, kampungan, enggak berkelas. Terus maunya temenan sama yang kaya juga lagi."
"Kok masih ada yang mau temenan sama dia? Terus banyak temennya?" aku mulai larut dengan gunjingan yang Ibu Sri mulai. Maklum, perempuan kalau udah ngegosip bakalan lupa sama keadaan sekitar.
"Hmm... Bukan karena mau temenan sama dia sih May. Tapi karena butuh."
"Butuh?" aku makin bingung dengan jawaban Bu Sri. Dan Bu Jojo-lah yang menjelaskannya padaku.
"Jadi tuh May, Mamanya Angga itu suka minjemin duit sama orang-orang disini." kata Bu Jojo.
"Baik bener, Bu." jawabanku membuat Leo menyunggingkan senyum.
"Baik dari mana May? Minjeminnya enggak cuma-cuma tau. Tapi pakai bunga." sahut Bu Sri.
"Hah? Rentenir dong?"
"Iyalah. Nah banyak yang pernah jadi korbannya. Termasuk si julid di sebelah kamu." Bu Jojo menunjuk Bu Sri dengan memonyongkan bibirnya.
"He...he...he... Itu kan dulu, Jo. Waktu kepepet buat bayar sekolah anak. Namanya orang tua, apa aja dilakuin demi anaknya. Termasuk minjem ke rentenir gila kayak Mamanya Angga itu!" jawab Bu Sri.
"Hah? Yang bener Bu? Terus gimana akhirnya Ibu bisa bebas dari utangnya? Setahu Maya kalau minjem sama rentenir kan bunganya enggak masuk akal. Belum lagi tukang tagihnya serem banget." aku bergidik membayangkannya.
"Ya ada sahabatku tersayang, May." Bu Sri menyentuh bahu Bu Jojo. "Jojo yang bantuin saya. Dia melunasi utang saya yang semula cuma dua juta eh berbunga jadi empat juta. Lebih baik saya nyicil di Jojo tanpa bunga daripada utang saya makin nambah."
"Ya ampun segitunya ya. Kok diperbolehin sih sama aparat sekitar? RT, RW sama Lurahnya kok diam saja?" Leo tersenyum mendengar pertanyaanku. Ia mengusap lembut rambutku lalu merangkul pundakku.
"Pasti ngijinin lah, May. Wong mereka juga ikutan minjem. Selain itu juga mereka pasti kecipretan upeti juga lah." kata Bu Jojo menerangkan.
"Pantas saja dulu Mamanya Angga kenal sama Ibu, secara Ibu mantan customernya he...he...he..." aku meledek Bu Sri. Jarang ada momen bisa ngeledekkin Bu Sri kayak gini nih.
Bu Sri memanyunkan bibirnya. "Tobat saya May! Enggak lagi-lagi deh berurusan sama rentenir kayak gitu. Nagihnya aja ngalahin orang bank. Bunganya lebih njelimet daripada bunga bank. Tobat... tobat...."
Kami semua menertawai Bu Sri. Nih ibu-ibu satu ada aja ulahnya. Makanya pengalamannya banyak. Dari pengalaman yang bener sampai yang akhirnya nyusahin orang kayak gini.
"Udah sore nih! Kita pulang dulu ya. Makasih loh atas hari ini. Jangan kapok ngajak kita berdua lagi ya." pamit Bu Sri.
"Iya. Jangan lupain kita. Eh iya sampai lupa! Lali aku. Itu kontrakkan kamu udah hampir dua bulan kosong May. Mau di oper kontrakkan atau gimana?" Bu Jojo mengingatkan kontrakkanku yang kutinggalkan sejak tinggal di rumah Leo.
"Enggak usah, Bu. Nanti teman Maya yang akan ngontrak disana. Sayang soalnya Bapak udah bayarin kontrakkan setahun. Masih ada sisa beberapa bulan."
"Temen kamu? Siapa?" tanya Leo.
Aku menepuk keningku. Lupa memberitahu Leo hal ini. "Adel, Sayang. Kemarin pas aku teleponan sama Adel katanya dia mau pindah kost-kostan. Aku menawari untuk tinggal di kontrakkanku daripada enggak ada yang tinggalin. Kasihan dia enggak ada barang-barang. Pas banget kan barang-barang aku lengkap disini. Yaudah aku suruh dia pakai saja."
"Memangnya Adel mau? Bukannya kost-kostannya dekat kantor? Kenapa malah nyari yang agak jauh dari kantor?" tanya Leo.
"Mahal katanya. Kost-kostan dekat kantornya sebulan hampir dua juta. Komplit pakai AC. Dia mau nabung katanya. Setidaknya disini enggak usah bayar kontrakkan dulu. Lumayan." Leo menganggukkan kepalanya mendengar penjelasanku.
"Kamu atur aja lah. Aku ikut aja."
"Bu, nanti titip teman Maya ya. Anaknya baik kok. Jagain ya Bu." pesanku pada Duo Julid.
"Siap, May! Teman kamu kan teman kita juga! Iya gak Jo?" Bu Sri meminta pendapat sahabatnya tersebut.
"Yoi!"
"Yaudah kita pisah disini aja. Makasih ya May...Leo..."
"Iya sama-sama Bu. Makasih udah jagain istri saya selama ini." kata Leo dengan tulus.
Setelah berpisah dengan Duo Julid, aku memutuskan mampir dulu di rumah kontrakkanku. Mau mengambil beberapa barang sebelum pulang.
"Sayang, kita langsung pulang nih habis dari sini?" tanya Leo yang sedang menonton siaran bola di TV.
__ADS_1
Aku merapihkan beberapa baju yang ingin kubawa. Aku beda ukuran dengan Adel, kalau aku tinggal disini nanti tidak terpakai. Berbeda kalau TV, tempat tidur dan kompor yang aku tinggalkan, pasti akan sangat bermanfaat untuknya.
"Memangnya kamu mau kemana? Mau main dulu?" sahutku.
"Kamu capek enggak? Kalau kamu enggak capek aku mau jalan-jalan." jawab Leo.
"Ish! Justru aku yang seharusnya nanya sama kamu. Kan kamu yang habis dari Bandung terus tadi habis bertempur lagi. Kamu capek enggak?" tanyaku balik.
"Enggak. Tadi ke Bandung pakai supir. Aku, Papa dan Richard tinggal duduk doang. Kita kemana ya enaknya May? Kamu enggak ada ngidam apa gitu biar aku bisa wujudin!"
"Kamu nih! Memangnya ngidam bisa di request apa? Aku tuh kayaknya hamil kali ini sama kayak hamilnya Adam. Hamil kebo. Alias enggak ada mual dan ngidam."
"Yaudah hmm.... Kita ke Puncak aja." usul Leo.
"Puncak? Ngapain? Makan jagung terus pulang gitu?" tanyaku asal. Teman-temanku suka kayak gitu soalnya. Ke Puncak mau makan jagung terus pulang.
"Boleh juga. Tapi karena kamu lagi hamil, kayaknya kalau kamu kecapean lebih baik kita nginep aja, gimana?"
"Nginep dimana?"
"Hotel lah. Atau villa gitu?"
Aku mengernyitkan keningku. "Villa yang suka abang-abang nawarin gitu?"
Leo tersenyum mendengar perkataanku. "Enggak dong Sayang. Aku maunya kita ke Hotel dulu kalau enggak ada baru ke villa. Gimana?"
"Yaudah deh. Aku siapin baju dulu. Eh kamu bajunya gimana? Mau ngambil dulu di rumah?"
"Enggak usah. Nanti baliknya macet lagi kayak tadi. Ada baju ganti Richard di mobil. Dia selalu sedia baju kok takut enggak pulang ke rumah. "
"Yaudah kalau gitu. Aku mau mandi dulu deh. Enggak enak rasanya lengket."
"Iya. Jangan lama-lama. Nanti aku ikutan mandi loh kalau kamu kelamaan." ancaman yang sangat menyeramkan.
Setelah mengunci pintu, aku dan Leo menuju mobil yang di parkirkan di taman. Malas rasanya mindahin ke depan rumah Pak Husin.
Leo memberikan tips parkir pada security taman. Selembar uang lima puluh ribu rupiah untuk parkir hanya sejam saja. Benar-benar loyal ya Leo jadi orang.
Sesekali Ia bernyanyi sambil mencolek daguku. Kadang mengambil tangaku dan menciumnya. Senang sekali rasanya dipuja dan dicinta seperti itu.
Jalanan puncak kala sabtu malam minggu tidak perlu diragukan kemacetannya. Kebetulan saat kami lewat sedang dibuka jalur menuju puncaknya.
"Sayang, makan dulu ya. Aku lapar nih. Belum makan sejak tadi." pinta Leo.
"Ya ampun aku lupa. Saking sibuknya sama Bu Sri dan Bu Jojo sampai lupa nyediain kamu makan." aku menepuk keningku. Kenapa bisa lupa sama kewajibanku ya? Pasti Leo lapar. Kapan terakhir Ia makan ya?
"Tenang aja, Sayang. Aku ngerti kok. Kamu juga jarang ketemu teman-teman kamu yang ajaib itu he...he...he.... Tuh ada rumah makan. Aku mau makan masakan Padang ah. Laper berat." Leo lalu memarkirkan mobilnya di depan rumah makan Padang yang lumayan besar tersebut.
Memang sih kalau lagi laper berat lalu makan nasi padang paling ajib deh. Leo memesan nasi Padang dengan lauk ayam bakar dan rendang. Kalau aku lebih suka ayam sayur dan paru goreng kering.
Kenapa tidak minta dihidangkan saja seperti pengunjung lain? Leo bilang tidak perlu. Lebih enak langsung memesan lauknya saja.
Makan nasi Padang tuh enaknya minum dengan air teh hangat. Bukan karena ini minuman yang biasanya gratis, tapi untuk meluruhkan lemak. Makanan bersantan ini banyak mengandung lemak.
"Sayang, itu Si Bu Sri memang biasa ajaib gitu ya?" Leo memulai pembicaraan.
"Emm... Bisa dibilang gitu. Ajaib dan unpredictable. Tindakannya spontan, walau kadang suka malu-maluin tapi hatinya baik." aku memuji sahabat ajaibku itu.
"Masa sih baik? Bukannya julid ha...ha...ha..."
"Eh enggak boleh kayak gitu loh! Bu Sri punya peranan besar loh dalam rujuknya aku dan kamu."
"Masa sih?" tanya Leo tak percaya.
"Bener lah. Bu Sri tuh meyakinkanku kalau kamu lebih baik dibanding Angga. Kalau Bu Sri memihak kamu, Bu Jojo memihak Angga."
"Wah Bu Jojo berarti yang harus aku musuhin dong?" ledek Leo. Ia memanggil pelayan dan meminta dibawakan sepiring nasi lagi. Lahap sekali makannya sampai nambah segala.
"Ya enggak juga. Pada akhirnya Bu Jojo juga dukung kamu kok. Bu Jojo lebih dekat dengan Angga saat itu. Tapi saat tau kelakuan Mamanya Angga yang merendahkanku, Ia berubah haluan dan bersatu dengan Bu Sri mendukung kamu."
__ADS_1
"Seru ternyata ya temenan sama emak-emak kayak gitu. Enggak nyangka tiba-tiba buang bom nuklir di dalam mobil ha...ha...ha... Lalu berhenti cuma buat beli bakpao. Eh yang terakhir berhenti di taman cuma mau ngajak ribut orang doang. Awas ya kalau kamu ketularan sama kelakuan ajaib mereka!"
"Memangnya kenapa kalau aku ketularan sama mereka? Kamu enggak cinta lagi gitu?" aku menyudahi makanku lalu mencuci tanganku di wastafel dan kembali untuk mendengar jawaban Leo.
"Tetap cinta lah Sayang. Apalagi ada buah cinta kita di dalam perut kamu. Kira-kira itu buah cinta percintaan kita yang mana ya? Hmmm....." Leo terlihat sedang berpikir keras.
"Enggak usah dipikirin. Enggak akan tau yang mana karena hampir tiap hari juga kita selalu menghasilkan buah cinta. Sudah belum? Kita kan masih mau lanjut lagi nih perjalanannya." aku mengajak Leo karena piring makannya juga sudah bersih, habis tak bersisa.
"Udah. Aku cuci tangan dulu ya."
Setelah cuci tangan dan membayar makanan di kasir kami pun melanjutkan perjalanan kami.
🎶 Minum susunya mamamama..
Minum susunya mamamama...
Minum susunya mamamama...🎶
Aku mengernyitkan keningku. "Kamu ganti ringtone aku lagi?" tanyaku sambil melihat wajah Leo yang tersenyum jahil.
"Minum susunya Mama Maya.... Minum susunya Mama Maya...." Leo malah menyenandungkan lagu dengan lirik yang Ia karang sendiri.
"Ih apaan sih!" aku menepuk bahunya pelan sambil tertawa. Heran aku sama Leo. Kok bisa ya dapet lagu yang aneh-aneh.
Aku mengambil handphone di dalam sling bag milikku. Agak susah karena letaknya di dalam dan banyak barang yang kubawa dari kontrakkan. Lagu ringtone itu terus berbunyi.
🎶Minum susunya mamamama...
Minum susunya mamamama....🎶
Sebelum nih anak nyanyi lagu ini lebih lama lagi aku berhasil menemukan handphoneku dan melihat siapa yang menelepon. Richard.
"Hallo Kakanda." jawabku setelah menggeser tombol hijau.
"Kalian kemana sih? Kok rumah kosong?"
Rupanya Kakanda keluar sarang juga dan menyadari aku dan Leo yang tak ada di rumah.
"Habis nganterin temanku, Ka."
"Kapan pulang? Bawain makanan ya!"
"Emm... Kita lanjut ke Puncak, Kak. Mau makan jagung bakar lalu lanjut nginep kayaknya."
"Hah? Kalian juga ninggalin aku kayak Mama dan Papa? Wah bener-bener enggak jaga perasaan orang jomblo. Enak banget berduaan ya. Enggak mikirin yang jomblo kesepian sendirian di rumah. Tega... Tega...."
Aku menahan tawa mendengar Kakanda berkeluh kesah di ujung telepon sana. Kasihan sih, tapi lucu gimana dong?
"Yaudah Kakanda nyusul aja, gimana?" ajakku.
"Nyusul kalian? Cuma jadi obat nyamuk aja gitu disana? Wah beneran nih. Udah tega, pamer pula."
"Bu-Bukan gitu maksud Maya. Daripada Kakanda di rumah sendirian kan lebih baik ikut kita. Ngopi, makan jagung rebus dan minum susu jahe. Mau enggak?"
"Enggak usah. Aku main PS aja lah kalau gitu. Nasib.... nasib.... Nasib jomblo begini amat ya? Udah sana kalian bersenang-senang. Check in nya nanti minta di hotel ya jangan mau di vila ecek-ecek, nanti kalian diintipin loh!"
Pake nakutin segala lagi nih Kakanda. Kayak aku dan Leo anak kecil aja.
"Iya. Iya. Kakanda selamat menikmati Pop Mie ya. Bye..."
Kututup telepon Kakanda dengan senyum di wajah. "Itu PS kayak barang turun temurun ya. Kemarin saat Papa jomblo, tiap hari Papa yang mainin. Eh sekarang saat Richard jomblo dia yang mainin. Sedih banget kalian para jomblo."
"Ih aku mah enggak jomblo keles. Aku udah double eh triple dah sama baby utun ini." Leo mengelus perutku yang masih rata dengan penuh cinta. Ah... Bahagianya....
****
Jangan lupa!
Like, komen dan vote ya....
__ADS_1
Votenya mana nih? Kok dikit bener hehehe...