Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Bertanggung Jawab


__ADS_3

Maya hamil? itu adalah suatu berita yang bagaikan petir di siang bolong bagiku. Satu masalah belum selesai, timbul masalah lain.


Maya menangis. Ia menuntut pertanggungjawaban ku. Aku hanya bisa diam. Tidak percaya dengan apa yang terjadi. Namun beberapa buah hasil dari testpack yang Maya tunjukan adalah bukti nyata hasil dari perbuatan kami berdua.


Maya terlihat ketakutan dan amat bingung. Aku hanya bisa menggaruk-garuk kepalaku meskipun tidak ada yang terasa gatal. Mumet. Pusing. Itu yang kurasakan.


Kami pun bertengkar hebat. Aku bahkan tega menyarankan untuk menggugurkan kandungannya. Maya amat marah dan menangis histeris.


Aku pun mendekati Maya dan memeluknya. Ya, Ia adalah wanita yang rapuh. Wanita lugu yang sudah kurenggut kesuciannya hanya karena aku terlalu takut kehilangan dirinya.


Sekarang Maya akan menjadi milikku. Milikku satu-satunya. Mungkin ini sudah jalanku untuk memiliki Maya. Kami pun memutuskan untuk menemui kedua orang tua Maya dan meminta restu mereka.


Sudah bisa diduga orang tua Maya tidak akan memberi Restu semudah itu kepada kami. Lagi-lagi aku mendapatkan penolakan dan penghinaan karena aku bukanlah siapa-siapa. Aku masih mahasiswa yang bergantung hidup pada orang tuaku tapi aku bahkan dengan sombongnya mengatakan kalau aku akan bertanggungjawab.


Usahaku sia-sia. Aku malah akan dilaporkan ke kantor polisi. Untunglah Maya membelaku mati-matian sehingga rencana Bapaknya gagal.


Kami pun pulang tanpa mendapatkan restu dari orang tua Maya. Tak habis akal, aku pun akan meminta restu kepada orang tuaku.


Aku meminta Maya menunggu di kostan-nya. Aku tidak berani membawa Maya ke rumah bukan karena aku pengecut melainkan aku mementingkan keselamatan Maya dan anak dalam kandungannya.


Sifat Papa yang suka menggunakan kekerasanlah yang membuat aku berpikir panjang membawa Maya kehadapannya. Aku sudah siap menerima segala konsekuensi dari perbuatanku.


Perkiraanku pun benar. Papa amat murka mendengar perkataanku. Ia lalu memukuliku habis-habisan.


Mama yang biasanya tidak peduli kali ini tidak tinggal diam. Ia pun membelaku. Bahkan kulihat Ia juga kena pukul dan beberapa tubuhnya luka memar.


Papa bagai orang yang kesetanan terus memukuliku. Tanpa ampun.


"Dasar anak tidak tahu diri! Kamu sudah tidak sepintar Richard malah berani menghamili anak gadis orang! Anak sundal kamu! Dasar anak tidak berguna! Bikin malu keluarga Kusumadewa saja! Apa yang kamu punya? Cuma wajah saja sudah sombong! Richard yang pintar saja tidak sesombong kamu! Pergi kamu! Jangan pernah menginjakkan kaki kamu lagi di rumah ini!" Papa lalu melempar kan tongkat Golf yang sejak tadi dipakai untuk memukuliku. Ia pun masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu kamarnya.


Aku berbalik badan dan melihat Mama sedang meringis kesakitan di pojok sana.


"Kenapa sih Mama pake belain aku segala? Seharusnya Mama tuh diam aja kayak biasanya. Seharusnya Mama tuh nggak usah peduli sama aku. Mama kan nggak perlu terluka kayak gini gara-gara aku." omel ku pada Mama sambil sesekali air mata berhasil lolos dari mataku.


"Mama nggak bisa cuman diem aja melihat kamu dipukuli sama papa, Sayang. Mama sudah biasa dipukuli Papa tapi kamu tidak. Biarlah Mama yang menanggung kekesalan Papa. Mama melakukan ini bukan karena kamu telah melepaskan Mama waktu itu. Mama cuma mau menebus sebagian dosa Mama sama kamu." kata Mama sambil terisak tangis.


"Enggak perlu Ma. Biar Leo yang tanggung semuanya. Ini memang salah Leo. Leo pantas mendapat hukuman dari Papa."


Mama pun mengelap air matanya. Ia lalu berpikir jernih. Bahkan aku pun tidak memikirkan hal tersebut.


"Kemaslah barang-barang kamu. Bawa barang berharga yang bisa kamu bawa. Pergilah secepatnya dari rumah ini. Suatu hari nanti, Mama akan menjemput kamu. Ingat, jangan kembali ke rumah ini sebelum mama yang menghampiri kamu." begitu Pesan mama padaku. Ia lalu mendorongku untuk bergerak secepatnya sebelum Papa keluar dari kamar.


Aku berlari menuju kamarku sambil menahan perih atas luka di tubuhku. Secepat kilat ku kemasi barang-barang yang bisa aku bawa. Tidak banyak barang berharga di kamarku karena Papa sangat membedakan uang jajanku dengan Richard. Hanya beberapa barang berharga yang aku punya.


Aku mengambil sebuah tas besar dan memasukkan beberapa buah baju. Aku berpikir cepat, aku ambil beberapa kemeja dan celana bahan untuk kupakai melamar kerja nanti. Tak lupa ijazah SMA ku dan transkip nilai selama kuliah aku bawa juga.


Aku membawa juga sebuah laptop yang ku beli dari hasil menabung uang jajan. Laptop yang lumayan mahal tersebut amat aku sayang karena berisi hasil konsep yang bisa kupakai untuk mendapatkan uang.

__ADS_1


Kupandangi lagi sekeliling kamarku dan mencari benda berharga apa yang bisa aku bawa. Namun nihil. Sebagai anak yang tidak di anggap, aku hanya punya beberapa barang berharga. Itu pun aku harus menabung mati-matian untuk membelinya.


Secepatnya aku kemasi semua barang-barang dan aku pun langsung bergegas meninggalkan rumah. Mama menyuruhku untuk secepatnya pergi karena dia takut papa akan melarangku membawa semuanya.


Aku lalu kembali ke kosan Maya. Tempat tujuanku satu-satunya. Maya begitu kaget saat membuka pintu dan mendapatiku sudah babak belur setelah dihajar oleh Papa.


Maya mengobati lukaku sambil terisak tangis. Ia tidak tega melihatku mengalami nasib yang mengenaskan seperti ini.


"Sudahlah. Aku baik-baik saja. Buktinya aku bisa kan membawa motor dan bawa barang-barang kesini dengan selamat?" kataku berusaha menghibur Maya agar tidak terlalu sedih.


"Tapi kamu... kamu pasti amat kesakitan. Aku tidak tega melihat kamu seperti ini." kata Maya sambil terus menangis tanpa henti. Matanya mulai bengkak. Ia terus menerus menangis, itu tidak bagus untuk kandungannya.


"Jangan terlalu banyak menangis May. Ingat, ada anak kita di dalam kandungan kamu. Aku nggak mau Ia ikutan sedih." kata-kataku berhasil membuat Maya menghentikan tangisannya. Rupanya ia peduli dengan tumbuh kembang anak kami.


Kami pun mulai merencanakan masa depan yang akan kami ambil selanjutnya. Hal yang kami lakukan pertama kali adalah menikah. Setidaknya kami sudah menebus dosa kami dihadapan Tuhan.


Kami lalu menikah dan pindah ke rumah kontrakan yang baru. Rumah kontrakan 3 petak sebagai awal mula kami memulai hidup baru sebagai pasangan suami istri.


Uang pemberian dari Ibu Maya kami jadikan sebagai modal hidup sebelum aku memperoleh pekerjaan. Aku sudah mencoba melamar pekerjaan di sana-sini namun sulit untuk kudapatkan.


Dengan bermodalkan ijazah SMA dan transkrip nilai dari kampus padahal aku belum lulus, sangat sulit mendapatkan pekerjaan yang cocok dan layak untuk aku membiayai Maya. Beberapa kali aku ditolak oleh perusahaan.


Lambat laun uang yang Ibu Maya berikan mulai menipis. Maya mulai merengek kepadaku agar aku segera mendapatkan pekerjaan. Semua teman-temanku sudah aku datangi dan aku minta tolong mereka untuk memberikan pekerjaan.


Melamar kerja melalui web dan koran juga sudah Aku datangi. Antrian panjang para pencari kerja namun hanya beberapa orang yang diterima. Aku tidak termasuk di dalamnya. Gagal lagi.


Pulang dari tempat Toni tidak sengaja aku bertemu dengan Lidya. Lidya adalah gebetan Richard yang kebetulan menyukaiku dan selalu mendekatiku.


"Leo? Hai apa kabar? Sudah lama ya kita nggak ketemu." sapa Lidya dengan ramah. Senyum manisnya mengembang. Lidya memang cantik, tapi dia bukan tipeku. Ia terlalu agresif dan aku nggak suka dengan cewek yang seperti itu.


"Hai Lidya! Kabar Aku baik. Kamu gimana?" kataku sekedar berbasa-basi. Tidak enak rasanya kalau orang sudah ramah tapi aku bersikap sombong.


"Kabar aku baik. Tumben kamu kesini? Bukannya kamu nggak suka ya dengan dunia malam?" tanya Lidya. Ternyata ia begitu mengenal sifatku.


"Aku habis janjian sama temen aku. Cuma sebentar, enggak lama kok. Kamu sendiri mau senang-senang di dalam sana?" tanya aku lagi.


"Sama kayak kamu. Aku juga mau janjian sama kolega aku. Mau ngomongin tentang bisnis." jawab Lidya.


"Bisnis? Kamu punya bisnis?" aku mulai tertarik dengan percakapan ini.


"Iya. Aku punya bisnis sebuah restoran Korea. Kamu mau join?" tanya Lidia menawarkan.


"Aku nggak bisa join dalam bentuk modal. Tapi, kamu butuh karyawan nggak? Siapa tahu aku bisa kerja ditempat kamu." kataku menawarkan diri.


"Kamu mau kerja di tempat aku? Enggak salah? Bukannya kamu sama Richard masih saudara ya? Kalian kan anak orang kaya. Masa sih kamu butuh uang sampai harus kerja di tempat aku?" tanya Lidya bertubi-tubi. Dia begitu heran kenapa aku sampai mau bekerja di restoran miliknya.


"Jujur aja, aku butuh uang. Aku ada masalah sama keluarga aku. Aku sekarang butuh uang untuk membiayai hidup aku." kataku setengah jujur. Aku sengaja tidak bercerita tentang Maya dan anak dalam kandungannya.

__ADS_1


"Beneran?" tanya Lidya lagi. Ia masih tidak percaya dengan perkataanku.


Aku mengangguk yakin. Bagiku ini adalah interview kerja yang sebenarnya. Aku harus menyakinkan pemilik perusahaan kalau aku layak untuk bekerja di perusahaannya.


Melihat keyakinanku Lidya pun akhirnya luluh. Ia pun menerimaku untuk bekerja di restoran miliknya. Ia memintaku datang esok hari untuk memulai kerja.


Aku pulang membawa kabar berita gembira untuk Maya. Namun ternyata Maya sudah tertidur pulas. Tak ingin membangunkan Maya aku berencana akan mengatakannya nanti sebagai kejutan.


Keesokan harinya aku pamit kepada Maya, bilangnya mau melamar pekerjaan. Pokoknya ini surprise buat Maya. Maya membekaliku menu makan siang hanya nasi dengan tempe dan tahu goreng.


Hari pertama bekerja bagaikan neraka buatku. Restoran milik Lidya ternyata cukup banyak peminatnya karena di daerah tersebut masih jarang Restaurant Korea.


Menu-menu di restaurant yang namanya terasa asing di telingaku membuatku kesulitan untuk menghapalkannya. Tidak ada training, aku langsung terjun bekerja.


Pertama-tama salah seorang staff senior mengajarkanku caranya bekerja. Aku ditempatkan di bagian yang memisahkan menu dari bagian dapur ke customer. Tapi karena aku tidak hapal menu akhirnya banyak menu yang keliru.


Lidya yang sejak tadi memperhatikanku kerja hanya bisa mengelus dada menahan sabar. Ia maklum, anak orang kaya yang bahkan tidak pernah mencuci piring sama sekali sepertiku mana mungkin langsung bisa terjun ke lapangan.


Tak habis akal Lidya lalu mengubah posisiku. Aku di tempatkan sebagai pelayan yang melayani pembeli. Aku hanya perlu mencatat menu yang pembeli pesan di layar tab. Aku lumayan jago dengan komputer.


Tingkat kesalahan dalam bekerjaku mulai berkurang. Aku mulai terbiasa melayani pelanggan.


Aku berjalan menuju meja kasir untuk meminta bon atas meja no.3. Aku berpapasan dengan Lidya yang mengacungiku dengan dua jempol. Ia tersenyum memuji kemampuan bekerjaku.


Tanpa terasa waktu istirahat pun tiba. Aku menuju ke ruangan karyawan dan memakan bekal yang Maya buatkan untukku. Tanpa malu aku memakannya. Memang kami mampunya hanya makan dengan tempe dan tahu saja.


Lidya mendatangiku dan mengajakku makan bersama. Ia membeli makan siang yang lumayan banyak dan memintaku ikut serta karena terlalu banyak untuk Ia makan sendiri.


Awalnya aku menolak karena bagiku bekal yang Maya bawakan sudah cukup tapi Lidya memaksa dan menaruh sebagian lauknya ke dalam tempat makanku. Kami pun mengobrol dan Ia banyak bertanya tentangku.


Aku beralasan kalau aku kabur dari rumah karena perbedaan pendapat dengan keluargaku. Aku mau membuktikan pada keluargaku kalau aku mampu hidup mandiri.


Lidya salut dengan kemandirianku. "Kamu beneran beda banget ya sama Richard? Oh iya kenapa sih kamu sampai pindah kuliah segala?"


Lidya tidak tahu alasan aku pindah adalah karena Richard cemburu aku dekat dengannya. "Aku enggak suka dengan kampusnya. Teman-temannya juga aku kurang suka. Karena itu aku minta pindah." kataku beralasan.


"Sayang banget ya. Padahal kita lumayan dekat loh di kampus. Kamu tuh baik banget Leo. Aku lebih suka berteman dengan kamu dibanding kakak kamu Richard. Walaupun Richard pintar dan sedang melanjutkan kuliah pasca sarjananya tetep aja aku lebih nyambung kalau ngobrol sama kamu. Ups... Kamu jangan ngadu lagi ya sama Richard." pesan Lidya.


"Tenang aja. Aku juga enggak begitu akrab kok sama Richard walaupun kami adik kakak. Mungkin karena aku tidak sepintar Richard kali ya jadi agak kurang nyambung he... he... he... " kataku mengakui.


Selesai istirahat aku melanjutkan lagi bekerja. Kalau customer sedang sepi aku mulai mempelajari nama menu yang lumayan sulit dihapal tersebut. Lidya terus mengawasiku yang tak mudah menyerah dan terus belajar mengejar ketertinggalan.


Akhirnya hari pertamaku bekerja selesai dengan nilai yang lumayanlah ya. Aku juga langsung akrab dengan karyawan yang lain.


Aku pamit pada Lidya sebelum pulang namun Lidya menahanku sebentar. Ia memberikan kantong plastik berisi ayam goreng yang Ia bilang kalau hari ini ada lebihan produksi.


Aku berusaha menolak pemberian Lidya namun lagi-lagi Ia memaksa. Aku pun menerima pemberiannya dan langsung pulang ke kontrakkanku.

__ADS_1


Maya sudah menyambut kepulanganku. Ia amat bahagia karena aku membawakannya ayam goreng, makanan yang sudah lama tidak kami makan. Aku lalu memberikan upah kerja harianku pada Maya. Kulihat ada sinar harapan akan masa depan kami di matanya. Aku jadi semangat untuk terus bekerja demi Maya dan calon anak kami kelak.


__ADS_2