Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Menjauh-2


__ADS_3

Leo mengenakan jaket Nike warna hitam dengan helm berwarna senada. Parfum khasnya sejak dulu tercium amat segar dan membuat cewek manapun akan memeluknya hanya untuk mencium keharumannya.


Jujur saja, aku agak nyesal memilih membelikan nasi uduk untuk Leo. Kalau tau Leo akan sewangi dan sesegar ini di pagi hari pasti aku akan memilih untuk memeluknya saja.


Ah Maya bodoh!


Bisa diulang enggak sih pilihannya?


Sedang asyik sendiri tiba-tiba Leo mengajakku bicara.


"Tuh! Aku enggak bohong kan? Angga udah nungguin kamu!" tunjuk Leo ke arah mobil Angga yang terparkir di depan gang kontrakanku.


Ada untungnya juga tinggal di kontrakkan dalam gang. Aku melihat ke arah mobil dan Angga yang sedang duduk manis menungguku.


Aku yang berpikir kalau akan turun di warung Nasi Uduk Mpok Uum sengaja tidak memakai helm dulu. Angga yang dalam mode on langsung melihat kehadiranku saat sedang diboncengi Leo.


Angga membunyikan klakson tapi Leo terus saja berjalan sampai akhirnya berhenti di depan warung Nasi Uduk Mpok Uum. Aku turun dari motor dan ikut mengantri.


Aku pikir Leo akan duduk diam di atas motor menunggu aku membelikan nasi uduk untuknya, namun termyata Leo ikut turun dan melihat apa saja yang Mpok Uum jual.


Leo mencomot sebuah bakwan dan memakannya. "Aku ambil bakwan satu May. Jangan lupa dibayar!"


"Lah ini kan suaminya Neng Maya ya? Kalian balikan lagi?" tanya Mpok Uum yang memang mengenalku dan Leo sejak kami tinggal di kontrakkan dulu.


"Em-" belum sempat menjawab eh Leo sudah jawab duluan.


"Iya, Bu. Maya udah bukan janda lagi. Sekaranh udah jadi bini saya. Kalau ada yang godain bilang saya aja ya." sahut Leo sambil menikmati bakwan dan tidak memikirkan efek perkataannya barusan.


Aku memelototi Leo tapi diacuhkan oleh Leo. Apa sih tujuannya ngomong kayak gitu?


"Wah bagus toh kalau begitu. Jangan dibiarin Maya jadi janda lama-lama, Mas. Maya tuh cantik, banyak yang naksir. Itu contohnya!" Mpok Uum menunjuk ke arah Angga yang baru saja turun dari mobilnya.


"Nasi uduknya dua ya Mpok. Pakai telor sama orek tempe." aku menyebutkan pesananku setelah Mpok Uum selesai melayani ibu-ibu sebelum aku.


Leo sudah duduk di motor sambil menikmati bakwan miliknya. Matanya tetap mengawasi ke arahku yang sedang didekati oleh Angga.


"May." panggil Angga.


"Hmm." jawabku singkat.


"Kok bareng sama Dia sih?" Angga menunjuk ke arah Leo.


"Enggak apa-apa." aku mengeluarkan uang tiga lembar sepuluh ribuan dan menyerahkan pada Mpok Uum yang masih membungkuskan pesananku.


"Bareng sama aku aja ya?" ajak Angga dengan suaranya terdengar berusaha membujukku.


"Enggak usah, makasih. Leo udah jemput aku duluan." tolakku. Aku berharap Angga akan langsung menyerah dan pergi meninggalkanku.


Tukang nasi uduk enggak beda jauh dari tukang sayur, tempat berkumpulnya ibu-ibu tukang gosip. Jangan sampai timbul gosip baru karena ulah Angga.


"Wah Neng Maya banyak yang rebutin ya? Untung aja udah balikkan sama Masnya." ujar Mpok Uum seraya memberikan pesananku dan sedang mencari uang kembalian di dalam kaleng kerupuk Khong Guan.


Mpok Uum menyerahkan selembar uang lima ribuan. "Nasi uduk pake telor satunya 12 ribu, kalau dua jadi 24 ribu sama Masnya tadi bakwan seribu totalnya 25 ribu ya. Makasih ya May."


"Iya sama-sama, Bu."


Aku menghampiri motor Leo dan memberikan nasi uduk pesanannya. Angga masih setia mengekori di belakangku.


"Ayo Sayang kita berangkat sekarang!" ujar Leo sambil mengu lum senyumnya.


"May." Angga masih memanggilku, membujuk tanpa kata agar aku mau bareng dengannya. Angga memegang lenganku, mencoba untuk menahan kepergianku.


"Maaf ya Ga. Aku bareng sama Leo aja. Makasih." aku melepaskan pegangan tangannya lalu naik ke atas motor Leo.


Aku langsung memakai helm. Leo pun menyalakan mesin motornya.


Entah punya dendam apa Leo dengan Angga yang jelas menjemputku saja tidak membuat Leo puas. Leo lalu menarik tanganku agar aku memeluk tubuhnya.


Angga agak terkejut dengan tindakan spontan yang Leo lakukan. Leo tak menggubris lalu menjalankan motornya meninggalkan Angga yang diam tak bisa berbuat apapun.


"Kamu harus berterima-kasih padaku May! Kalau aku enggak jemput pasti kamu akan kena bujuk rayu Angga lagi." ujar Leo setelah kami sudah sampai di jalan raya.


Lalu lintas di depan stasiun kereta api Lenteng Agung seperti biasa selalu padat, banyak angkot yang ngetem seenaknya membuat makin semrawut.


Belum lagi banyak anak sekolah yang masing-masing diantar oleh orang tuanya menambah jumlah volume kendaraan di jalan yang sempit tersebut. Hectic pokoknya.

__ADS_1


Leo yang sejak tadi tak membiarkan aku melepas pelukan sekarang mulai melepas tangannya. Karena agak repot mengendarai motor ditengaj kemacetan yang harus meliuk kesana-sini.


Aku yang sedang berada di comfort zone yakni memeluk Leo sambil hidungku mencium perpaduan aroma tubuh dan parfum miliknya enggak melepaskan pelukanku.


Bahkan aku terbuai dan masuk ke alam mimpi. Senyaman itu ternyata. Tanpa kusadari aku sudah sampai di parkiran motor kantor.


"May! Bangun! Kita udah sampai!" kata Leo pelan tak mau mengagetkanku.


Aku mengucek mataku dan sepertu baru tersadar kalau aku sudah sampai di kantor.


"Loh kita udah sampai ya? Kok cepet sih?" aku turun dari motor dan melepas helmku. Leo juga turun dan melepas helmnya.


Rambutku yang berantakan setelah helm dibuka berbeda dengan rambut Leo yang tetap rapi. Itulah enggak enaknya berambut panjang.


"Udah. Kamu tidur pulas banget sampai beberapa kali mau jatuh." aku dan Leo berjalan beriringan menuju ruangan.


"Iya. Beberapa hari ini aku enggak bisa tidur. Tadi ngantuk ngeliat kemacetan eh malah bikin aku ketiduran di jalan. Maaf ya." aku merasa tak enak hati pada Leo. Udah dijemput eh malah kayak nyonya besar yang tidur seenaknya.


"Enggak apa-apa. Aku suka kok kalau kamu nyaman di pelukanku." ujar Leo sambil menyunggingkan seulas senyum di wajahnya.


"Ih siapa yang nyaman?" ucapanku berbohong namun wajahku yang memerah tidak bisa berbohong.


Leo malah makin tersenyum melihat kebohonganku yang semakin kentara. "Kamu enggak jago bohong, May. Dan aku suka itu."


Aku menekan tombol lift dan menunggu sampai pintu lift terbuka. Masih sepi ternyata. Baru jam 7 pagi. Cepet banget ternyata aku sudah sampai kantor.


"Kita kepagian banget enggak sih?" aku dan Leo masuk ke dalam lift dan menekan tombol sesuai lantai kami berhenti.


"Aku biasa datang jam segini. Kerjaanku banyak. Kalau aku enggak kerjain sekarang bisa molor nantinya."


Ting! Lift berhenti di lantai kami. Kami langsung masuk ke dalam ruangan.


Setelah menaruh tas aku langsung ke pantry untuk mengambil dua buah piring dan sendok lalu kembali lagi ke ruangan.


Leo sudah berkutat dengan pekerjaannya. Entah pekerjaan apa.


"Sarapan dulu. Nanti keburu dingin enggak enak." aku menaruh piring dan sendok di meja Leo namun Leo tak beranjak dari pekerjaannya.


"Nanti aja. Makasih. Aku harus ngebut sebelum yang lain datang." jawab Leo.


"Jangan kebanyakan ngeliatin aku! Nanti ngiler lagi!" sindir Leo tanpa mengalihkan pandangannya.


"Uhuk!" aku tersedak dan langsung meminum air putih di mejaku. "Siapa yang ngeliatin sih?"


"Jangan bohong. Kamu enggak jago bohong May. Kangen ya sama aku? Nanti kapan-kapan kita pacaran ya. Jalan kemana gitu."


Pacaran? Hmm... Kok hatiku jadi berbunga-bunga ya? Hush! Sadar May!


"Siapa yang pacaran? Jangan ngarang!"


Walau tanpa menatapku sambil berbicara namun Leo bisa loh multitasking sambil bekerja Ia juga meledekku. "Yaudah kalau enggak mau pacaran dulu dan maunya langsung rujuk aku sih oke aja!"


"Mulai deh...." aku menyuap nasi uduk yang rasanya enak ini. Nasi uduk Betawi buatan Mpok Uum memang terenak di daerahku. Makanya suka ngantri kalau mau beli.


"Loh memang aku mau memulai sesuatu yang baru kok sama kamu. Kamu aja yang enggak peka."


Aku terdiam. Tak membalas omongan Leo lagi.


"Kenapa ya aku curiga kamu ngerjain sesuatu yang bertentangan dengan perusahaan? Ngerjain apaan sih? Bisnis sambilan apa?" aku mengalihkan pertanyaan ke hal lain agar tidak tentangku saja yang dibahas terus.


"Aku disuruh Papa menjalankan perusahaannya sebelum Richard benar-benar siap memimpinnya nanti. Entah sampai kapan aku ngerjain ini. Richard malah makin kayak anak bocah dan sibuk bermain-main terus. Kasihan sama Papa kalau aku enggak kerjain. Tapi kamu jangan bilang-bilang sama yang lain ya!"


"Segitu rahasianya?"


Leo mengangguk. Iya. Jangan bilang-bilang kalau aku suka ke tangga darurat ya. Kamu pura-pura enggak tau aja."


"Iya. Pasti kamu dapat gaji double dong? Uangnya buat apa? Kamu masih aja pakai motor bukannya membeli mobil yang kayak di parkiran mobil rumah kamu."


Leo menumpul berkas yang sudah Ia periksa lalu mengambil berkas lain dan mulai memeriksanya lagi.


"Aku lagi nabung buat beli rumah dan membuat perusahaan sendiri. Aku enggak mau nanti istri dan anakku seperti kehidupan kita dulu. Aku ngerasa gagal enggak bisa menghidupi kamu dan Adam dengan layak. Karena itu aku menebusnya sekarang."


Oh... Istri dan anak kamu ya? Apakah tidak ada namaku disana? Kenapa perkataan Leo barusan seperti mencubit hatiku. Meninggalkan kesan tidak rela kalau ada wanita lain yang Leo agungkan seperti itu.


"Kenapa diam saja? Tadi nanya terus?" tanya Leo yang sepertinya sudah selesai dengan pekerjaannya dan bersiap ke tangga darurat.

__ADS_1


"Enggak apa-apa."


"Yaudah aku ke tangga darurat dulu ya?"


Aku mengganguk dan hanya mengacak-acak nasi uduk di depan mataku. Tak lagi nafsu makan seperti sebelumnya.


Kenapa bayangan Leo akan memiliki istri wanita lain dan anak dari wanita tersebut membuat hatiku kesal setengah mati. Apa ini yang Leo rasakan kala aku bersedia untuk main ke rumah Angga?


Kenapa rasanya sesakit ini ya? Seperti ada semacam rasa tidak rela dalam diriku kalau sampai ada wanita lain yang menggantikan posisiku.


Dan apa yang tadi Leo katakan? Ia menabung untuk membelikan istrinya rumah. Oh God! Leo setiap hari kerja double job hanya untuk membelikan istrinya rumah? Siapa sih yang enggak melting mendengarnya?


Semakin kesal hatiku semakin tidak nafsu makan juga diriku. Aku membungkus kertas nasi uduk ke dalam plastik dan melemparkannya ke tempat sampah.


Andai perasaan kesalku bisa aku lemparkan juga ke tempat sampah. Arrrggghhh....


"Ngapain sih kesini terus?" tanya Leo yang sedang masuk ke dalam ruangan dengan Richard yangikut mengekor di belakangnya.


"Aku mau ketemu adik iparku yang cantik! Enggak boleh?" Richard langsung duduk di kursi depan mejaku.


"Hi Maya!" sapa Richard sambil menyunggingkan senyumnya.


"Iya." jawabku singkat.


"Jangan kebanyakan tebar pesona! Enggak akan mempan sama Maya. Maya tuh cuma terpesona sama Leo seorang ha..ha...ha..." ledek Leo sambil membuka bungkus nasi uduk.


"Hmm... Rasanya masih enak kayak dulu, May." puji Leo setelah memakan sesendok Nasi Uduk Mpok Uum.


"Makan apaan sih? Kok aku enggak dibagi?" tanya Richard yang berdiri melihat apa yang Leo makan.


"Nasi uduk dekat rumah kontrakkan kami dulu." jawab Leo dengan mulutnya yang penuh makanan.


"Aku enggak dibeliin May?" tanya Richard padaku.


"Tadi aku dijemput Leo jadi aku bayar upah jemputnya dengan nasi uduk." jawabku.


"Seharusnya kamu beliin aku juga. Besok aku aja deh yang jemput kamu!" kata Richard tak mau kalah.


"Enggak usah! Aku aja yang jemput. Nanti aku beliin kamu nasi uduk." cegah Leo.


Mulai deh kakak beradik in rebutan sesuatu. Bener-bener ya mereka berdua. Gimana Papanya enggak mukulin kalau anaknya berantem dan rebutan sesuatu terus?


"Ini aja buat kamu." Aku mengeluarkan sebuah cokelat rasa matcha dan memberikannya pada Richard namun Richard menolaknya.


"Enggak usah May makasih. Aku enggak suka matcha."


"Yaudah kalau enggak mau." aku memasukkan lagi cokelat ke dalam tasku.


"Oh iya aku lupa. Papa bilang katanya perusahaan akan kerja sama dengan salah satu restoran Korea. Mereka akan buat makanan Korea kemasan tentunya menyesuaikan rasa Indonesia asli. Kamu udah tau belum, Leo?" tanya Richard.


Aku menyimak saja percakapan mereka. Bagaimana masalah penting di perusahaan bisa mereka ketahui lebih cepat dibanding yang lain. Apa Papa mereka pemegang saham terbesar di perusahaan ini?


"Iya udah tau. Udah aku Acc." jawab Leo santai sambil memakan nasi uduknya.


"Kok bisa kamu yang Acc?" tanyaku bingung.


Richard terlihat tertawa melihat kebingunganku. "Kamu enggak tau siapa Leo, May?"


Aku menggeleng?


"Memangnya Leo siapa?" tanyaku bingung.


"Ck...ck....ck.... Kalau Mr. So kenal?" tanya Richard lagi.


"Ya kenal lah. Mr.So kan atasan kita. Yang suka kasih keputusan tapi sampai sekarang enggak ada yang tau kayak gimana wajah Mr. So." jawabku jujur.


"Kamu belum kasih tau Maya?" kali ini Richard bertanya pada Leo.


"Belum. Kasih tau aja. Paling Maya enggak bakal percaya." jawab Leo santai sambil tetap memakan nasi uduknya dengan lahap.


"Jangan kasih tau yang lain ya?" pinta Richard.


"Iya."


"Leo itu adalah Mr. So." kata Richard sambil berbisik.

__ADS_1


Aku terdiam. Mencerna perkataan Richard lalu tertawa terbahak-bahak.


__ADS_2