
Obrolan Trio Musketer pun berlanjut. Aku, Leo dan Richard hanya menyimak percakapan mereka yang semakin absurd aja.
"Jangan lupa, Bem. Nanti saat acara akad nikah, kamu lempar kolor ke atas genteng! Bisa misbar alias gerimis bubar layar tancepnya kalau sampai hujan deras!" Papa Dibyo masih saja membicarakan tentang layar tancep.
"Gimana sih Yo, Jangan kolor aki-aki kayak saya atuh. Yang ada malah hujan badai. Nanti saya minta kolor perawan desa deh buat dilempar ke atas genteng. Biasanya lebih manjur!"
Aku dan saling memandang lalu kompak geleng-geleng kepala.
"Kita nanti undang berapa orang ya Yo?" tanya Ibu. Mengembalikan percakapan dari masalah kolor ke acara hajatan yang seharusnya.
"Dua ribu orang gimana?" usul Papa Dibyo.
"Ya kalau dua ribu sih pas lah. Cukup halaman rumah saya menampung dua ribu orang mah." jawab Bapak.
"Maksud saya tuh dari pihak saya dua ribu. Dari kamu mah terserah atuh, Bem."
"Yaudah samain atuh. Aku juga dua ribu. Biar petani dari kampung sebelah juga aku undang. Biar mereka tau kalau besan aku tuh pengusaha besar di Jakarta yang udah beliin sepeda Berotot." kata Bapak tak mau kalah.
Hah? Dua ribu dari pihak Papa Dibyo, lalu Bapak juga dua ribu. Belum kalau bawa pasangan atau keluarga. Mau berapa lama aku dan Leo berdiri menyalami mereka semua.
Aku dan Leo kembali saling pandang. Ngeri. Ngebayangin salaman sama orang banyak tanpa henti. "Harus kita cegah, May!"
"He eh. Aku setuju!"
"Ehem! Pa, Bapak. Kayaknya kebanyakan deh kalau Papa mengundang dua ribu, dan Bapak juga dua ribu. Nanti malah terlalu banyak orang, kita enggak menikmati acara pestanya. Gimana kalau Papa lima ratus dan Bapak juga lima ratus." Leo melakukan teknik negosiasinya.
"Dikit banget Leo. Masa cuma lima ratus doang? Bapak kan pamernya jadi kurang banyak." Terdengar Ibu melakukan sesuatu sehingga Bapak mengeluh kesakitan. Kayaknya dicubit deh.
"Ibu setuju, Leo. Jangan kebanyakan orang. Malah sumpek. Ibu juga kan jadi bisa bercengkerama dengan tamu kalau tamunya tidak terlalu penuh." perkataan Ibu sangat masuk akal. Dan pasti Bapak akan mengikuti perkatan Ibu deh.
"Saya juga setuju, Sih. Perkataan Esih benar adanya. Kalau terlalu banyak undangan bisa sumpek. Engap. Belum lagi nanti antrian untuk ambil makanannya bisa makin panjang. Lebih baik undang orang dekat saja." Mama Lena mendukung penuh rencana Ibu.
"Lumayan. Ada Mama dan Ibu. Enggak usah terlalu banyak narik urat." bisikku di telinga Leo.
"Iya. Narik uratnya nanti malam saja saat kekepan sama aku ya." bisik Leo balik.
"Ehem! Lanjutin aja ngobrolnya. Anggep aja enggak ada siapa-siapa disini." sindir Richard yang sejak tadi ternyata mendengar percakapanku dengan Leo.
Aku dan Leo hanya mengacuhkan Richard. Kembali fokus ke percakapan Papa dan Bapak.
"Nanti mau pakai adat apa? Atau mau nasional aja biar enggak ribet?" kini wakunya ngomong yang serius. Ibu yang bertanya pada Mama Lena. Duo laki-laki yang agak gesrek minggir dulu.
"Kayaknya nasional aja deh. Kalau pakai adat kan harus ada upacara adatnya juga. Kita udah terlalu ribet kayaknya." ingin rasanya aku memeluk Mama Lena. Mengucap terima kasih karena gak perlu pakai baju adat dan mengikuti ritual adat segala.
"Iya. Saya setuju, Len. Lalu mau makai salon mana untuk hias pengantinnya?"
"Masalah make up urusan saya. Kita nanti jahit baju saja dengan motif samaan. Besok saya ke Majestyk deh buat beli bahan baju. Pokoknya kita harus tampil beda di hari bahagia anak-anak kita ya Sih?"
"Iya dong. Tentu saja." lalu terdengar Ibu dan Bapak saling berebut Hp, karena Bapak mau bicara lagi dengan Papa.
"Yo, jadinya layar tancep pakai film apa nih? Terlalu jadul enggak sih kalau pakai film horor jaman dulu? Kataku sih klasik ya. Horornya masih dapet, enggak kayak film horor sekarang yang seremnya cuma di musiknya doang."
Yah... balik lagi ke Bapak dan Papa nih Hp. Mulai ngaco lagi deh bahasnya.
"Memangnya ada film apa aja sih, Bem?"
"Ada Saur Sepuh, Siluman Kera, Makelar Kodok. Kebanyakan ya kaset Barry Prima. Eh ada film I dia juga deh."
"Filmnya Benyamin Sueb ada enggak? Jangan yang horor ah. Masa nikahan nonton film horor? Yang judulnya Biang Kerok aja. Setuju enggak?"
"Boleh juga. Terus dangdutannya tetap koplo kan? Saya suka tuh ada gendangnya. Bikin enak kalau goyang. Jangan cuma organ tunggal aja. Enggak seru!"
Aku hanya bisa menarik nafas dalam melihat kelakuan Bapak dan Papa mertuaku yang tak jauh beda. Rekan sejawat, teman sepermainan, dan gila bareng ini mah mereka.
"Iya. Jangan lupa cari penyanyi dangdutnya yang cantik. Jangan yang terlalu menor. Apa mau saya sewain Trio Macan?"
Ide apalagi ini? Trio Macan? Kenapa enggak sewa Kahitna aja gitu. Musiknya adem dan lebih pas untuk nikahan.
"Wah boleh juga tuh Yo. Aku mau lihat Trio Macan langsung." Ibu ternyata ikut bergabung dengan percakapan Bapak dan Papa yang makin aneh saja.
"Ih jangan ikutan! Dangdut urusan orang laki-laki!" omel Bapak.
"Kalau nyewa musik gambus enggak bisa ya? Kan cocok tuh untuk acara hajatan?" Mama Lena berusaha memberi masukan.
"Enggak!" jawab Bapak dan Papa kompak.
__ADS_1
"Tetep harus ada dangdutan."
"Iya bener. Biar rame. Dangdutannya mulai dari pagi sampai maghrib. Lalu jeda sebentar dengan layar tancep habis itu dangdutan lagi deh. Kita nyawer nanti sampai puas."
"Ehem!" Mama Lena dan Ibu kompak berdehem. Menghentikan rencana gila yang dibuat suami mereka masing-masing.
Baik Bapak maupun Papa tidak ada yang membahas lagi tentang dangdutan. Mereka fokus membahas rencana pernikahan kami. Termasuk masalah biaya yang keduanya merasa akan menanggungnya. Namun Papa Dibyo keukeuh mau membiayai semuanya dan Bapak nyerah setelah Papa mengancam tidak akan membelikan lagi sepeda Brompton kalau tidak membiarkan Papa membiayai semuanya.
****
Makan malam keluarga Leo kali ini amat spesial. Ada kehadiran Mama Lena diantara kami semua. Papa yang tersenyum bahagia. Leo yang bermanja ria. Dan Richard yang bermuram durja ha...ha....ha...
Sarapan pun sama. Papa dan Mama yang rambutnya selalu basah. Aku dan Leo menatap penuh cinta. Dan Kakanda yang berwajah senep ha...ha...ha...
Kasihan sih. Mau bagaimana lagi. Jodohnya belum tiba. Kakanda tak mau mengejar Lidya. Udah enggak cinta katanya. Aku tawarin Ana eh dia malah geuleuh. Terserah dia lah.
Aku berangkat kerja dengan dibonceng motor oleh Leo. Papa Dibyo sudah mengomeli Leo untuk segera membeli mobil. Leo bilang masih belum sempat. Saat senggang Ia akan mengajakku ke dealer mobil.
Pagi yang indah dan cerah berubah menjadi laksana mimpi buruk saat kami berdua sampai di ruangan.
Pak Johan menatap kami dengan tatapan tak suka.
"Pagi, Pak." sapaku dan Leo bersamaan.
"Pagi! Kalian bareng lagi?" selidik Pak Johan.
Aku dan Leo yang tadinya hendak duduk langsung diam mematung di tempat.
"Iya, Pak." jawab kami bersamaan.
"Hmm... Apa kalian tinggal bareng ya? Kenapa selalu bareng? Pacaran juga jarang ada yang bareng tiap pagi. Apalagi rumah kamu dan Maya kan beda arah. Duluan rumah kamu baru Maya." Pak Johan kembali menatap kami penuh selidik.
Baik aku maupun Leo tak ada yang menjawab. Kami kompak diam. Aku melirik ke arah Leo, dan Leo menggeleng pelan. Memintaku mengikuti apa yang Ia lakukan. Hanya diam.
"Saya panggil seseorang dulu ya. Kayaknya orang ini tau apa hubungan kalian deh." Pak Johan lalu mengangkat teleponnya dan memencet ext yang dituju. "Kamu kesini sekarang!"
Aku dan Leo diam seperti hendak disidang. Namun yang datang bukannya orang yang Pak Johan telepon melainkan Kak Anggi dan Kak Fahri.
"Pagi, Pak!" sapa Kak Anggi dan Kak Fahri bersamaan.
"Ini Maya dan Leo kenapa Pak? Lagi disetrap?" Kak Anggi benar-benar berani. Tak peduli muka Pak Johan udah nyeremin begitu masih aja ditanya ada apa. Salut aku jadinya.
"Mereka selalu bareng. Pulang dan pergi kerja." jawab Pak Johan yang sedang melipat tangannya di dada seraya menatap kami dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Loh memangnya kenapa? Saya dan Fahri tiap hari pulang dan pergi kerja selalu bareng Pak." Kak Anggi bingung dengan perkataan Pak Johan. Sama sepertiku. Kenapa kami disetrap kayak gini.
Aku melirik ke arah Leo yang terlihat sedang mengetik pesan dengan satu tangannya. Pak Johan tau apa yang dilakukan Leo. Itu yang membuat Pak Johan makin emosi. Lagi di setrap eh malah main Hp.
Aku menyikut lengan Leo. Memberitahunya kalau Pak Johan tidak menyukai apa yang Ia lakukan.
"Saya tau kalau kalian bareng karena kalian berpacaran. Dan tempat tinggal kalian searah jadi Fahri bisa jemput kamu. Tidak seperti Leo dan Maya. Masa sih Leo rela putar balik hanya demi menjemput Maya ke kantor?" Pak Johan melanjutkan menjawab Kak Anggi setelah Leo memasukkan Hp ke dalam kantongnya.
Kak Anggi kini diam. Tak berani menyangga ataupun berkata apa-apa lagi. Hubungan yang selama ini Ia dan Kak Fahri sembunyikan sudah ketahuan sama Pak Johan. Mungkin target berikutnya Pak Johan adalah dirinya dan Kak Fahri.
🎶 Idih papa genit
Suka ciumin mama
Idih papa genit
Suka ciumin mama🎶
Terdengar suara ring tone Hp berbunyi. Aku sih santai saja. Hanya menahan tawa mengapa ada nada dering seperti itu.
Tapi saat Leo menyikut tanganku dan bicara dengan bahasa bibirnya, senyumku pun hilang.
"Hp kamu bunyi!" begitu pesan Leo tanpa suara.
"Hah?" aku gelagapan dan segera mencari Hp milikku di dalam tas.
Aku sadar kalau saat ini aku sedang dilihat oleh orang satu ruangan, termasuk Pak Johan. Pasti ini ulah Leo deh yang mengubah dering Hpku saat aku tertidur. Dasar jahil!
🎶 Idih papa genit
Suka ciumin Mama🎶
__ADS_1
Terus berulang. Ha... Akhirnya ketemu. Adel? Telepon sekarang? Bisa gawat nih! Aku memutuskan untuk mereject panggilan telepon Adel lalu memasang wajah tanpa dosa menatap Pak Johan yang menatapku sebal.
🎶 Idih papa genit
Suka ciumin mama🎶
Kembali nada dering menyebalkan itu berulang lagi. Aduh betapa malunya aku. Aku kembali mereject panggilan Adel. Nih anak kenapa ngotot banget sih mau telepon.
Oh iya, kan aku yang minta Adel mengabari senin pagi. Bodoh!
Karena aku satu server dengan Adel. Pasti Adel sadar kalau aku tak bisa mengangkat telepon saat ini. Ia pun mengirimiku pesan.
"Ada May transaksinya. Besar dan sering. Laporan selesai."
Pesan yang aku terima langsung aku tunjukkan pada Leo. Tanpa memperdulikan tatapan Pak Johan yang semakin emosi melihatku seolah tak menghargainya.
"Oke." jawab Leo yang kemudian mengirim pesan di Hpnya. Pasti ke Papa.
Ulah aku dan Leo makin membuat Pak Johan marah.
"Berani sekali ya kalian anak baru sudah tidak menghargai keberadaan saya? Informan saya punya bukti yang akan membuat kalian tidak akan bisa bekerja satu ruangan lagi seperti sekarang!" ancam Pak Johan.
Tak lama terdengar pintu diketuk. Lalu masuklah orang yang tak pernah kusangka. Orang yang selama ini kupikir hanya mengancam sebatas kata. Namun ternyata Ia wujudkan dalam bentuk perbuatan juga.
"Masuklah Ana!" Pak Johan mempersilahkan Ana untuk masuk.
Ya, Ana yang kupikir anak baik. Teman satu angkatan sejak melamar kerja sampai diterima bekerja. Teman nongkrong dan makan siang bareng. Ternyata Ana adalah informannya Pak Johan. Aku merasa amat dikhianati.
"Kasih tunjuk bukti kalau mereka sebenarnya tinggal satu rumah, Na!" perintah Pak Johan.
Bukti? Bukti apa? Apa Ana mengikutiku dan Leo sampai depan rumah Papa Dibyo?
"Siap, Pak!" Ana menyunggingkan senyum liciknya. Ia pun membuka Hp miliknya dan memutar video.
Aku memicingkan mataku. Melihat lebih jelas dimanakah Ia mengambil video ini.
Terlihat aku sedang mengendap-endap hendak mengagetkan Duo Julid yang sedang makan bakso. "Enak nih kayaknya? Makan nggak bagi-bagi!"
"Eh ada penganten baru." ledek Duo Julid.
Ana lalu menyunggingkan senyum puas. Ia ternyata merekam saat aku sedang menghampiri Duo Julid makan bakso.
Video lalu Ia percepat sampai ke doa Ibu Jojo.
"Wah asinan. Mantep banget nih habis makan bakso cemilannya asinan. Baek bener deh nih pasangan suami istri ini. Semoga cepet dikasih momongan ya." doa Bu Jojo.
Aku melirik Leo dengan pandangan panik, tapi Leo santai saja. Apakah Leo sudah menyiapkan rencana? Ini semua dadakan loh!
"Liat aja mukanya Maya, Pak. Panik. Berarti benar dong kalau mereka sudah menikah? Apa jangan-jangan Maya hamil di luar nikah, Pak?" Ana mengompori Pak Johan.
Aku menatap Ana dengan pandangan tidak suka. Senekat itukah Ia membalas sakit hatinya?
"Benar kalian sudah menikah?" Pak Johan memastikan lagi info yang Ana berikan.
"Benar, Pak." jawab Leo. Kini semua orang menatapnya.
"Saya dan Maya sudah menikah 2 tahun yang lalu. Kami lalu bercerai setelah empat bulan menikah. Dan bulan lalu saya dan Maya sudah rujuk dan menikah kembali." Leo berkata penuh percaya diri.
"Ck...ck...ck.... Berani sekali kamu, Leo. Kamu tau kan kalau saya enggak suka kalau ada pasangan yang menikah bekerja satu ruangan, apalagi sebagai anak buah saya?" Pak Johan terlihat amat marah karena perkataan Leo.
"Tentu, Pak. Saya juga enggak suka punya atasan kayak Bapak." Leo menantang balik. Bener-bener deh Leo ini. Enggak ada takut-takutnya jadi orang.
*****
Hi semua!
Ini kenapa jumlah viewersnya nambah tapi like nya dikit ya? Ayo like yang banyak! Aku semangat nulis, kalian juga makin semangat baca kan?
Jangan lupa follow my Ig : Mizzly_
Kemarin ada yang nanya Trio Musketer itu apa? Aku ambil dari salah satu buku judulnya The Three Musketeers tentang petualangan tiga orang sahabat. Karena pake bahasa Indonesia jadi aku ganti jadi Trio Musketer.
Hmm satu lagi.
Ada yang bilang kalau ceritanya muter-muter. Hm... Bukan muter-muter sih. Kan memang diceritain dari segala tokoh. Biar nyambung gitu. So nikmatin aja ya. 🥰-
__ADS_1