Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Jones Bersaudara


__ADS_3

Aku bukannya sok tahu. Aku juga bukan sok menggurui orang yang lebih tua. Hanya saling mengingatkan sebagai sesama manusia. Mungkin pengalaman hidup Papa lebih banyak dibanding aku, tapi Papa belum tentu belajar dari pengalaman pahit dalam hidupnya.


Menurutku suatu nasehat itu bukan hanya didapat dari orang yang lebih tua saja atau orang yang berilmu tinggi. Kadang nasehat kecil bisa berasal dari orang yang kita pikir tidak akan mungkin bisa mengajarkan sesuatu.


Orang pintar belum tentu bijak, tapi orang bijak dia akan pintar mengambil keputusan.


Memberi masukan kepada Papa bukan berarti aku menggurui Papa selaku orang tuaku. Aku hanya sharing mengenai langkah yang aku ambil.


Kami dalam posisi yang sama, sama-sama kehilangan orang yang kami cintai. Cuma aku ini berusaha untuk mendapatkan kembali cintaku yang hilang tentunya dengan cara-cara yang menurutku masuk akal, bukan pemaksaan atau pamer kekuasaan sehingga dia luluh.


Sebagai seorang anak pasti ingin kedua orang tuanya bersatu. Begitu juga dengan aku yang ingin melihat Papa dan Mama kembali bersama meskipun Mama sudah menghianati Papa tapi buktinya sampai sekarang setelah 2 tahun mereka bercerai Mama masih belum menikah dengan Om Hans.


Mungkin sudah feeling, tahu saja Mama sedang diomongin olehku dan Papa. Ia tiba-tiba menelpon. Untung kemana-mana aku selalu bawa handphone jadi aku tahu kalau ada telepon masuk.


Mama: Leo kamu ke rumah Mama ya. Sekalian ajak Richard. Mama masak banyak nih!


Aku: Masak apa Ma?


Mama: Masak pepes ikan mas. Ada pepes telur ikan mas juga lagi. Kesukaan kamu dan Richard.


Aku: Kesukaan Papa juga kali, Ma.


(Aku melirik ke arah Papa yang diam-diam mendengarkan percakapanku dan Mama sambil senyum-senyum sendiri)


Mama: Udah pokoknya cepetan ke rumah Mama ya.


Aku: Iya. Nanti aku kesana ajak Richard.


Mama: Mama tunggu ya.


Mama lalu memutuskan sambungan telepon kami. Dan aku menangkap basah Papa sedang senyum-senyum terus dari tadi.


"Cie.... yang dimasakin pepes ayam eh pepes ikan sama Mama. Senang bener kayaknya nih." ledekku.


"Bisa aja kamu. Udah cepetan sana makannya terus ambil pepes ikannya. Papa udah lama nggak makan pepes ikan buatan Mama."


"Kangen sama pepes ikan buatan Mama atau sama Mamanya nih?" ledekku lagi.


"Dua-duanya boleh? Ha...ha...ha..."


"Boleh aja." Aku dan Papa kembali tertawa bersama.


Richard yang baru bangun dan hendak sarapan lagi-lagi masih belum terbiasa melihat keakrabanku dan Papa yang kalau sudah tertawa bisa sangat terbahak-bahak.


"Ketawain apaan sih pagi-pagi?" tanya Richard seraya mengambil piring dan menyedot nasi goreng. Richard memang lebih suka makan nasi dibanding roti.


"Wah pas banget ya kamu datang. Habis sarapan langsung mandi. Kita ke rumah Mama." ajakku.


"Ngapain?" tanya Richard bingung.


"Mama masak pepes ikan. Khusus buat Papa. Bilangnya sih buat aku sama kamu. Padahal mah modus tuh mau ngirimin Papa makanan." Papa kembali senyum-senyum aku ledekin seperti itu.


"Kamu ajalah. Aku males!" tolak Richard. Sejak Mama mengajukan gugatan cerai pada Papa, sejak itu pula Richard menjauh dari Mama. Dia seperti agak membenci tindakan yang Mama lakukan karena meninggalkan Papa di saat Papa terpuruk.


"Mama nyuruhnya kita berdua. Udah sih santai aja. Lagian Mama juga kangen sama kamu. Jangan kayak gitu ah. Kayak anak bocah tau gak!"


Satu lagi PR yang harus aku lakukan adalah mendamaikan hubungan Mama dengan semua orang. Contohnya dengan Richard. Mama sudah mendapat penilaian yang jelek dimata Richard karena mengajukan gugatan cerai.


Yang pasti mendamaikan beberapa kepala itu nggak mudah. Dan ini tugasku. Aku enggak mau ngelihat keluargaku terpecah-belah seperti ini dan hidup dengan menderita. Aku mau kita kumpul lagi kayak dulu dan hidup bahagia bersama.

__ADS_1


Richard langsung terdiam dan tetap menikmati sarapannya seolah-olah aku tidak pernah mengajaknya ke rumah Mama. Ini salah satu cara Ia menghindar, pura-pura nggak usah membahas tapi aku enggak bisa kayak gitu.


"Naik mobil kamu aja ya Cat. Kamu yang bawa. Nanti kalau aku yang bawa bisa lecet lagi." Aku berusaha menarik lagi rica dalam pembahasan tentang ke rumah Mama.


Papa yang sejak tadi hanya diam dan menikmati sarapannya sambil membaca koran akhirnya ikut bergabung dengan pembicaraanku.


"Udah anterin adik kamu, Cat. Sebentar doang kok. Daripada kamu kebanyakan tidur. Sekalian pulangnya mampir ke barber shop. Potong rambut. Besok kan kamu mulai kerja. Enggak mungkin kan kerja rambutnya gondrong gitu. Bisa langsung diomongin sama yang lain!"


Ucapan Papa ibarat titah yang tak bisa Richard bantah. Ia pun akhirnya menuruti keinginan Papa.


"Iya. Richard mandi dulu."


"Nah gitu dong!"


****


Aku duduk manis di kursi penumpang mobil sport Richard yang berwarna orange. Aku memilih lagu yang ingin aku dengarkan seperti aku adalah pemilik mobil yang sebenarnya.


"Setel radio aja sih!" protes Richard.


"Enggak usah. Aku mau denger lagu tanpa diatur-atur sama penyiarnya. Biar aku yang jadi DJ-nya." tolakku.


"Kegayaan! Minta beliin mobil sih sama Papa. Pasti Papa akan beliin. Aku aja dikasih dua yang kayak gini, apalagi kamu yang sekarang udah bantuin Papa ngurusin perusahaannya. Papa tuh enak tau sekarang tinggal uncang-uncang kaki dapet duit. Kamu yang capek. Aku sih ogah!"


Aku tak pernah menyangka kalau aku dan Richard bisa sedekat ini dan bisa mengobrol dengan bebas seperti ini. Memang ya musibah itu pasti ada hikmahnya.


Sebelum Richard tertangkap dan harus rehabiltasi, kami bagai Tom and Jerry yang selalu bertengkar mengenai masalah apapun. Namun saat dunia Richard runtuh dan semua teman-teman meninggalkannya hanya aku yang menemani.


Aku yang selalu datang membesuknya di pusat rehabilitasi sambil membawakan semua makanan yang Ia inginkan. Mungkin bukan hal yang spesial, tapi di tengah semua orang yang meninggalkannya hanya ada aku yang selalu Ia andalkan dan Ia tunggu kedatangannya.


Perlahan semua rasa benci dan permusuhan yang pernah ada di antara kami menjadi sirna. Sesekali berbeda pendapat wajar, tapi nggak seperti dulu yang bahkan sampai jontok-jontokkan hanya karena seorang Lidya.


Kami perlahan menjadi kakak dan adik yang sebenarnya. Lebih mirip seperti sahabat sih eh nggak deh kami masih dalam tahap teman belum sahabat, karena Richard seperti masih menjaga jarak denganku.


🎶Now my baby's dancing


But she's dancing with another man


My pride, my ego, my needs, and my selfish ways


Caused a good strong woman like you to walk out my life


Now I never, never get to clean up the mess I made, oh


And that haunts me every time I close my eyes🎶


Richard tertawa saat aku menyanyikan lirik lagu terakhir dari Bruno Mars yang berjudul When I Was Your Man.


"Belum move on nih ceritanya? Kirain mau nyetel lagu apaan, eh ternyata lagu galau. Makin semangat aku pengen ngegodain Maya!" ledek Richard yang langsung aku pelototi.


Bukannya takut Ia malah tertawa makin kencang. "Ha...ha...ha.... Pantesan kamu sama Papa sekarang deket ya. Satu Jiwa. 1 Sikon. Sama-sama duda yang gak bisa move on."


"Kayak kamu bisa move on aja dari Lidya? Kita tuh sama. Sama-sama keturunan dari Kusumadewa yang cuma bisa mencintai satu wanita dan nggak bisa tergoda dengan yang lain. Ha....ha.....ha...." Aku tertawa melihat kesamaan kami bertiga.


"Sial an! Jangan sebut-sebut Lidya lagi lah! Males banget!" protes Richard.


"Makanya kamu kejar tuh Lidya. Dia juga masih single tuh, cobalah dapatin hatinya dia. Siapa tahu dia akan luluh dan mau membuka hatinya sama kamu."


"Kalau dia mau sama aku mah udah dari dulu. Kamu tahu sendiri gimana aku ngejar-ngejar dia tapi dia malah makin menjauh. Eh ternyata naksir sama kamu. Masa orang nggak suka mau aku paksa-paksa?" Richard mengganti musik dengan radio karena aku sudah malas memilih-milih musik lagi.

__ADS_1


"Ya udah cari aja cewek lain. Masih banyak kok yang lebih cantik dan lebih baik dari Lidya. Tapi jangan sama Maya. Maya punya aku seorang!" aku memberikan peringatan dini kepada Richard sebelum Ia bertindak gila karena mulai besok Ia kan sudah kerja di kantor.


"Masa sih seorang Leo Prakoso Kusumadewa takut sama aku? Takut kalah saing ya?" ledek Richard.


"Bukan takut. Cuma, jumlah saingan udah banyak. Belum lagi, ada satu cowok yang udah nguber-nguber Maya sejak kita nikah. Sampai sekarang tuh cowok masih ngintilin Maya aja setiap hari untuk antar jemput."


"Ya ajak ribut dong! Masa takut sih? Kalau bisa pakai baku hantam, kenapa pakai cara baik-baik? Jelas-jelas udah ngegodain Maya dari zaman nikah dulu. Kalau aku sih udah aku sikat tuh! Butuh orang nggak? Aku bisa nih bawain temen-temennya bodyguard Papa yang suka ngintilin aku."


Aku tersenyum kecut. "Hari gini masih zaman pakai cara barbar? Enggak beda jauh kamu sama Papa, selama ini pakai kekuatan buat mengekang Mama. Buktinya saat kekuatan Papa lemah, Mama langsung kabur. Aku nggak mau kayak gitu. Untuk apa? Mencintai itu bukan mengekang atau bertindak sok hebat."


"Dih sok puitis banget! Udah puitis kayak gitu tetep aja ditinggalin!" ledek Richard.


"Ya sama kayak kamu dan Papa. Kita kan tiga serangkai, sama-sama Jones alias jomblo ngenes ha....ha....ha...."


Aku dan Richard tertawa terbahak-bahak bersama. Lihatlah bagaimana kami bisa sesantai ini sekarang. Dulu mana pernah? Sehari-hari kerjaannya cuma ribut, ribut dan ribut.


"Sebenarnya bukan kita bertiga aja sih yang jones, Mama juga. Aku pikir setelah bercerai dengan Papa, Mama akan menikah dengan Om Hans eh ternyata nggak." Richard memberhentikan mobilnya di belakang lampu merah. Sedikit merenggangkan ototnya karena perjalanan kami lumayan macet.


Beberapa pengendara sepeda motor yang berhenti di depan dan sisi mobil reflek melihat ke arah kami. Untunglah kaca mobil Richard gelap jadi tak ada yang bisa melihat siapa penumpang di dalamnya. Ini salah satu yang membuat aku males naik mobil sport. Terlalu banyak menarik perhatian orang.


"Aku rasa Mama dan Om Hans cuma penasaran aja karena cinta mereka tidak bersatu. Setelah bersama ternyata baru sadar kalau Mama tuh akan membanding-bandingkan sikap Om Hans dan Papa. Pasti beda lah. Mungkin Om Hans terlalu lebay atau terlalu over romantis dan gak ada cool-coolnya gitu kayak papa. Perempuan kan biasanya suka sama cowok-cowok yang kelihatan cool kayak di drama drama Korea." aku mengganti saluran radio yang berisi campuran antara lagu barat dan lagu lokal.


"Apa menurut kamu Mama dan Papa akan balikan lagi?" tanya Richard.


"Who knows?" aku mengangkat kedua bahuku. Masalah Papa tuh sama kayak aku, rumit. Enggak ada yang tahu ending kisah cinta kami akan seperti apa.


Richard menjalankan lagi mobilnya setelah lampu merah berganti menjadi lampu hijau. Jalanan masih saja macet padahal ini weekend. Mungkin banyak orang-orang yang ingin nongkrong di mall.


"Kemarin Papa bilang katanya Maya keguguran?"


Aku sudah menduga kalau Richard pasti akan bertanya tentang masalah Adam.


"Iya. Ini juga jadi alasan kenapa Maya menggugat cerai aku."


Mobil Richard akhirnya memasuki komplek perumahan Mama. Bukan perumahan mewah seperti tempat tinggal Papa, tapi lumayanlah perumahannya.


"Rumit ya? Pasti susah deh buat balikan lagi sama Maya." tebak Richard.


"Belum tahu. Maya belum ada gelagat buat balikan. Kayaknya masih trauma. Kalau masalah di depan pasti bakalan banyak banget. Belum lagi keluarganya Maya yang udah pasti mau mencincang aku hidup-hidup."


"Makin mikir aku buat nikah. Lebih baik single aja deh. Enggak ribet." kata Richard seenaknya.


"Yakin enggak mau nikah? Kalau Lidya yang ngajakin nikah gimana?" ledekku.


"Itu mah enggak usah mikir dua kali. Langsung dihalalin ha...ha...ha...." ujar Richard sambil tertawa lebar.


"Ah dasar labil! Ngomong kayak ken tut! Baru diucapin udah berubah lagi huh!"


Kami akhirnya sampai di depan gerbang rumah Mama. Mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya, Mama langsung menyambut dengan berlari keluar dan membukakan pintu gerbang agar mobil Richard segera masuk.


"Kalian lama banget sih? Mama kan udah nungguin dari tadi! Mama udah masakkin nih buat kalian." ujar Mama seraya memeluk kami satu persatu setelah keluar dari mobil.


"Macet, Ma." jawabku menimpali karena Richard hanya diam saja.


"Kamu sekarang gemukkan, Cat. Keliatan lebih manly lagi dengan rambut gondrong dan brewok kayak gitu." Mama mengomentari penampilan Richard sekarang.


Richard tidak mengatakan apa-apa malah mengeluarkan Hp dan asyik dengan dunianya sendiri.


"Ayo masuk! Mama buatkan jus buat kalian ya."

__ADS_1


Aku dan Richard mengikuti Mama masuk ke dalam rumahnya dimana terdapat sebuah figura besar bergambar kami berempat.


"Tuh liat!" kataku sambil menunjuk figura besar di depan kami. "Mama juga jones kan?"


__ADS_2