
Leo melepas helm miliknya. Matanya menunjukkan kemarahan.
"Leo? Kamu udah pulang?" aku langsung menaruh pisau pengiris bawang dan melepas sarung tanganku. Aku berjalan menghampiri Leo dan ingin mencium tangannya.
Tanpa berkata-kata dan tidak membalas uluran tanganku Leo melepas sepatunya dan masuk ke dalam rumah. Wah alamat marah besar nih Leo sama aku.
"Bu, bubar dulu ya. Nanti kita lanjutin lagi." kataku agak ketakutan.
"Iya, May. Kayaknya suami kamu marah tuh." bisik Bu Sri.
"Saya taruh di rumah Bu Sri aja ya punya kamu. Kalau suami kamu nanya bilang aja kamu cuma bantuin kita berdua aja." bela Bu Jojo.
"Iya, Bu. Maaf ya. Maya jadi enggak enak nih." kataku dengan penuh penyesalan.
"Enggak apa-apa, May. Sudah kamu masuk sana. Biar bawang urusan kita berdua." kata Ibu Sri.
Aku lalu masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Aku tak ingin rahasia rumah tanggaku terdengar dengan yang lain.
Leo sudah membuka jaketnya dan menggantungnya di tempat biasa Ia taruh. Ia sedang mencuci tangan dan kakinya lalu duduk di karpet depan TV.
"Leo, kok kamu udah pulang sih jam segini?" tanyaku memulai percakapan.
"Kenapa? Kamu jadi ketahuan ya lagi ngupasin bawang tapi sepengetahuanku?" tanya Leo dengan tajam.
"Hmm... Aku lagi bantuin ibu-ibu aja kok. Kamu kenapa pulang cepet? Kamu sakit?" tanyaku penuh kekhawatiran.
"Enggak usah bohong kamu. Aku tau kok kalau kamu diem-diem kerja tanpa seijin aku."
"Kan tadi aku bilang itu punya ibu-ibu. Aku cuma bantuin aja." kataku masih berusaha berbohong.
"Lalu dari mana uang yang ada di toples tabungan kamu? Uangnya lebih banyak dari uang yang kamu sisihin dari gaji aku? Kalau bukan dari uang ngupasin bawang lantas dari mana lagi?" tebakan Leo benar adanya. Aku tidak bisa berbohong lagi.
"Maaf..... " hanya kata itu yang bisa aku ucapkan.
"Kenapa sih kamu harus berbohong?"
"Ya karena aku takut kamu bakalan marah." jawabku jujur.
"Lalu dengan kamu bohong permasalahan akan selesai, begitu?" tanya Leo meyudutkanku.
Aku menggelengkan kepalaku. "Enggak."
"Nah itu kamu tau. Lagi juga kenapa sih kamu enggak mau nurutin perintahku. Aku kan udah bilang sama kamu, jangan kerja. Biar aku yang nyari uang. Kenapa masih aja ngeyel sih?" terdengar nada suara Leo mulai naik. Aku tahu benar Ia sangat marah sekarang.
"Maaf.... " lagi-lagi aku cuma bisa bilang maaf.
"Jadi istri tuh nurut sedikit kek sama suami. Kamu tuh kayak nggak pernah merasa bersyukur tau nggak atas apa yang udah aku kasih. Aku tuh susah payah nyari uang demi kamu. Kamu cukup di rumah aja, jaga rumah. Istirahat. Kamu tuh lagi hamil May. Ini kamu mah bandel. Kalau terjadi apa-apa sama kamu siapa yang tanggung jawab?"
Perkataan Leo benar-benar menyudutkanku. Tanpa kusadari air mata mulai membanjiri mataku. Aku mulai menangis terisak. Aku seperti seorang narapidana yang sedang disidang karena terbukti bersalah.
"Aku... Aku cuma mau bantuin kamu aja Leo. Aku nggak ada maksud untuk melawan kamu sebagai suami aku. Aku cuma pengen kita ada uang lebih, untuk periksa bayi dan untuk membeli perlengkapan bayi nanti." jawab ku sambil menangis tersedu-sedu.
"Membeli perlengkapan bayi kan bisa nanti May. Kalau kamu nabung dari sekarang juga kita bisa nanti beli perlengkapan bayi. Sabar. Aku juga lagi berusaha mencari pekerjaan baru yang bisa mendapatkan lebih banyak uang dibanding sekarang. Memangnya kamu pikir aku nggak berusaha demi kamu? Aku berusaha May. Aku selalu mencari pekerjaan lagi sepulang aku bekerja. Tapi sampai sekarang memang belum ada yang lebih baik dari tempat aku sekarang." kata Leo dengan penuh amarah.
Aku masih menangis tersedu-sedu. Namun tangisanku seakan tidak meluluhkan kemarahan dalam dada Leo.
"Aku bukannya tidak bersyukur Leo. Aku juga bukannya tidak bersabar. Tapi semenjak aku hamil, aku sama sekali belum pernah periksa ke bidan. Aku nggak tahu gimana keadaan anak aku. Mungkin kamu nggak peduli, kamu aja nggak pernah menanyakan bagaimana keadaan anak kita. Tapi aku peduli. Dan berkat uang aku bekerja, aku tadi udah periksa di bidan. Kalau aku nggak periksa tadi, aku nggak pernah tahu kalau selama ini ternyata bayi kita kekurangan berat badannya." jawabku tak mau kalah.
"Kenapa kamu bisa berpikir aku nggak peduli? Itu kan juga anak aku. Darimana kamu bisa mengambil kesimpulan kalo aku nggak peduli?" tanya balik Leo.
"Ya kamu nggak kaya laki-laki lain. Sejak aku hamil, kamu tuh kayak jauhin aku. Aku udah bilang waktu itu sama kamu, aku pikir kamu akan introspeksi diri tapi kamu tuh makin lama makin menjauh Yo. Kamu seperti nggak menginginkan kehamilan aku. Kamu seperti nggak suka kalau ada bayi dalam kandungan aku. Bukannya dulu juga kamu yang menyarankan untuk aku menggugurkan kandungan aku?" aku mulai berani melawan Leo. Kalau untuk masalah anak, aku berani melawan. Aku nggak akan diam aja.
__ADS_1
"Itu kan dulu. Buktinya aku tetap bertanggung jawab kan sama kamu?" balas Leo lagi.
"Ah sudahlah. Aku tuh selalu salah di mata kamu. Bahkan kamu enggak melihat niat baikku dibalik keinginan aku untuk bekerja. Kamu selalu negatif thinking sama aku." Aku lalu meninggalkan Leo. Aku menghapus air mataku dan pergi ke taman.
Aku melamun seorang diri. Cuaca amat terik. Jam 2 siang taman terasa amat panas. Aku tidak peduli. Aku duduk dibawah pohon dan menatap anak-anak yang sedang bermain bola.
Enaknya menjadi anak-anak. Bebas. Tidak mengkhawatirkan masalah uang, tidak mikirin permasalahan hidup. Semua orang tua yang pikirin. Betapa indahnya masa kanak-kanak.
Ah lagi-lagi aku menyesali perbuatanku. Penyesalan yang sudah kesekian kalinya dalam hidupku.
Duduk di taman ditemani angin sepoi-sepoi membuat mataku mengantuk. Habis menangis memang paling mudah untuk tertidur. Aku menyenderkan kepalaku di tiang kursi dan terlelap.
Tidak tahu berapa lama aku tertidur. Aku lalu terbangun. Di depanku sudah ada Angga yang sedang melukis.
"Angga? Sejak kapan kamu disini?" tanyaku heran.
"Sejak setengah jam lalu kamu sudah tertidur lelap." jawabnya tanpa mengalihkan matanya dari kertas yang Ia buat.
"Kenapa enggak dibangunin sih? Aku ketiduran tau." omelku.
"Hehehe... Kasihan aku. Kayaknya kamu habis nangis. Pas tidur aja ada air mata yang lolos. Nih buktinya." Angga memberikan kertas yang sejak tadi Ia pegang.
Aku menerima kertas tersebut dan kaget ternyata itu adalah sketsa wajahku saat aku tidur.
"Kamu menggambar mukaku?" tanyaku tak percaya. "Wow bagus banget gambarnya."
Baru saja memuji Angga, terdengar namaku dipanggil.
"Maya!" Aku menengok dan kulihat Leo sedang berlari menghampiriku.
Kukembalikan kertas milik Angga.
"Lepasin. Aku bisa jalan sendiri!" tolakku.
Angga maju dan berusaha menolongku. "Jangan kasar bos sama perempuan! Kalau Dia enggak mau jangan dipaksa!" sahut Angga ikut campur.
"Jangan ikutan kalau enggak tau. Ini urusan rumah tangga orang!" jawab Leo dengan sinis.
Tak mau Leo dan Angga makin bertengkar hebat, aku meninggalkan taman tanpa menunggu ijin dari Leo .
"May, tunggu!"
*****
"Tadi itu siapa?" tanya Leo penuh curiga.
"Teman." jawabku singkat.
"Teman apa sampai seakrab itu?" tanya Leo lagi.
"Ya teman ketemu gede lah." jawabku lagi. Aku mulai sebal dengan sikap Leo.
"Mana ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan? Kamu yang suka sama Dia atau Dia yang suka sama kamu?" selidik Leo lagi.
"Enggak ada yang saling suka." aku mengambil remote TV dan menyalakannya.
Leo mengambil remote TV yang aku pegang lalu mematikannya. "Aku lagi ngomong serius!"
"Aku juga serius. Apa kamu mengajak aku pulang hanya untuk mendengar kamu meluapkan emosi kamu gitu? Kalau kamu narik aku pulang cuma untuk marah-marah lagi tanpa mau menyelesaikan masalah lebih baik aku balik lagi ke taman dan menghirup udara segar disana." kataku panjang lebar.
Leo mulai mendengarkan perkataanku. "Oke. Kita selesaikan permasalahan kita. Pertama, jawab dulu siapa laki-laki tadi?"
__ADS_1
"Itu bukan permasalahan kita. Itu permasalahan kamu. Permasalahan kita tuh awalnya karena aku diam-diam mengupas bawang tanpa sepengetahuan kamu." aku mengingatkan Leo lagi.
"Iya itu permasalahan kita. Lalu kenapa kamu malah lari ke pelukan laki-laki lain saat kita bertengkar?" tuduh Leo seenaknya.
"Yang lari ke pelukan laki-laki lain siapa? Itu kan hanya prasangka kamu aja. Aku tuh tadi lagi menenangkan diri di taman sampai ketiduran. Aku pikir kamu akan nyamperin aku eh ternyata ada Angga yang iseng melukis wajah aku. Aku lagi liat lukisannya dan kamu udah curiga duluan." kataku membela diri.
"Kata siapa aku enggak nyamperin kamu? Aku tuh nyariin kamu ke rumah Bu Sri dan Bu Jojo tapi enggak ada. Pas aku lewat taman aku lihat kamu malah sama cowok lain. Gimana aku enggak marah coba ngeliat istriku sama laki-laki lain?" kata Leo tak mau kalah.
"Ya makanya tanya dulu jangan nuduh sembarangan. Angga tuh cuma orang sekitar sini yang suka main sepeda di taman. Karena aku dan Dia seumuran makanya kalau ke taman kadang ngobrol. Enggak ada hal lain kok." aku juga enggak mau kalah.
"Tapi aku enggak suka. Aku enggak mau kamu ngobrol sama Dia lagi!" putus Leo.
"Semua yang aku lakuin kayaknya enggak ada yang kamu suka deh. Pikiran kamu selalu negatif dengan apa yang aku lakukan. Memangnya kamu pikir sebagai istri aku enggak bisa menjaga nama baik suami apa?"
"Kalau kamu menjaga nama baik suami ngapain kamu ngobrol sama cowok lain? Itu yang namanya menjaga nama baik suami?" kata Leo membalikkan lagi perkataanku.
"Yaudah kalau kamu masih mau kayak gitu terus lebih baik aku keluar lagi. Pusing aku dengan sikap curigaan kamu!" Aku hendak bangun dan pergi dari rumah namun tangan Leo menahanku.
"Jangan kebiasaan kabur kalau ada masalah! Kita selesaikan sekarang!" kata Leo tegas.
"Oke kalau mau diselesaikan. Kamu juga jangan sembarangan nuduh dong!"
"Iya. Kita lupakan Angga. Pokoknya aku enggak suka kamu ketemu sama Dia titik. Dan masalah kamu suka ngupasin bawang aku juga enggak suka. Mulai besok jangan dilakuin lagi!"
"Itu sih namanya cuma dengerin keputusan kamu aja. Kamu tau enggak berapa biaya untuk sekali periksa dan USG? Mahal. Belum biaya melahirkan nanti dan membeli perlengkapan bayi. Bukan aku tidak bersyukur, tapi uang gaji kamu belum tentu cukup. Salah kalau aku mau membantu kamu? Pasangan lain di luar sana saling kerjasama, dua-duanya bekerja dan tidak ada masalah. Kenapa kamu begitu emosi?"
"Jangan nyamain rumah tangga aku dengan orang lain. Biarkan mereka kayak gitu yang penting kita enggak. Dan masalah uang untuk periksa dan membeli keperluan bayi biar aku yang cari. Aku akan lembur untuk menutupi kekurangannya. Itu udah keputusanku. Jangan dibantah lagi!"
Dan.... aku kalah. Sebagai seorang istri aku harus menuruti keputusan suamiku.
"Kamu setuju kan?" tanya Leo setelah melihatku hanya diam saja.
"Terserah kamu lah. Toh aku bilang apa juga enggak pernah ada gunanya." Aku merebut lagi remote TV dari tangan Leo.
"Aku enggak mau tetap saja harus menurut keputusan kamu kan?" Aku menyalakan TV dan membolak-balik siaran hanya sebagai pelampiasan hati saja.
"Dan aku enggak mau kamu ketemu Angga lagi!" titah Leo.
Aku hanya diam sambil air mataku mulai menetes lagi.
"Kenapa kamu nangis? Sedih karena enggak bisa ngupasin bawang lagi atau sedih karena enggak bisa ketemu Angga lagi?" tanya Leo memojokkanku.
Air mataku makin deras saja seakan tak mau berhenti. "Bukan dua-duanya. Kamu dari tadi melarang aku begini dan begitu. Kamu sama sekali enggak nanya bagaimana hasil aku periksa ke bidan. Kamu sama sekali enggak peduli dengan keadaan anak dalam kandungan aku. Segitu enggak kepengennya ya kamu punya anak dari aku?"
Aku menghapus air mata yang tak kunjung berhenti tersebut. Mataku tidak mau menatap Leo. Aku hanya menatap layar TV tanpa benar-benar menontonnya.
"Aku... Aku bukannya enggak peduli. Kita kan lagi bertengkar masalah lain. Jadi gimana dengan keadaan anak kita?" tanya Leo pada akhirnya.
Aku hanya diam. Aku tidak menjawab pertanyaan Leo.
"Tuh kan kamu cuma diem aja. Aku kan udah nanya pertanyaan yang kamu mau. Kamu malah diem aja bukannya jawab!" keluh Leo.
"Untuk apa aku jawab pertanyaan yang aku tau hanya untuk berbasa-basi saja? Enggak ada gunanya kan?"
"Aku tuh beneran nanya May. Kenapa sih kamu suka sekali membalikkan perkataanku?" tanya Leo dengan kesal.
"Karena kamu memang enggak pernah benar-benar peduli dengan anak dalam kandunganku. Kalau kamu memang enggak peduli dengan anak ini, aku juga enggak akan peduli apapun keputusan kamu. Its all about take and give, oke? Kalau kamu mau aku menuruti perintah kamu, perlakukan aku dan anak aku seperti kamu memperlakukan istri dan anak kamu yang sebenarnya. Bukan hanya sebagai suami yang otoriter dan semua perintahnya harus dituruti!" kali ini aku menatap Leo dengan tajam. Perkataanku tegas dan tak menerima bantahan lagi. Leo harus menghargaiku dan anak kami kalau Ia mau dihargai!
****
Like dan Votenya jangan lupa ya kakak 😁😁😁
__ADS_1