Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Bekerja sama


__ADS_3

Setelah makan siang aku langsung kembali ke ruanganku. Ternyata Leo sudah kembali dan sedang asyik bergelut dengan pekerjaannya. Aku lalu duduk di kursiku dan mulai mengerjakan lagi pekerjaan yang tadi disuruh.


Sesekali aku melirik ke arah Leo yang biasanya juga kadang melirik, tapi ternyata Ia terus saja berkutat dengan pekerjaannya. Rasanya agak aneh sih. Biasanya nyebelin ini tiba-tiba anteng.


"May, coba kamu periksa budget biaya untuk Departemen Produksi restoran. Ada yang mencurigakan apa enggak?" Pak Johan memberikan setumpuk file untuk aku periksa.


Aku memandang berkas didepanku dengan pandangan tidak percaya. Setumpuk loh ini. Bukan cuma keluar 2 lembar kertas, dari mana aku harus memulainya?


Seakan bisa membaca kebingunganku, Pak Johan juga menugaskan Leo untuk membantuku memeriksanya.


"Leo, coba kamu bantu Maya. Pekerjaan kamu udah selesai apa belum?"


"Sedikit lagi selesai Pak." jawab Leo.


Pak Johan berjalan ke tempat Leo untuk memeriksa hasil pekerjaannya. Ia mengambil sebuah berkas dan meneliti apa kesalahan dari pekerjaan anak barunya tersebut. Rupanya Ia cukup puas dengan hasilnya.


"Kamu selesaikan dulu pekerjaan kamu, baru kamu bantuin Maya. Saya, Anggi dan Fahri mau ke lapangan dulu. Nanti saya sudah selesai dari sana akan saya cek lagi pekerjaan kalian. Kerjain secepat mungkin agar saat saya datang untuk langsung bisa saya periksa." pesan Pak Johan.


"Iya, Pak." jawab Leo hormat.


"Kamu kerjain dulu May semampunya kamu. Nanti Leo selesai dengan pekerjaannya baru Ia bisa membantu kamu."


"Baik, Pak." jawabku.


Pak Johan, Ka Anggi dan Fahri lalu pergi ke lapangan. Yang dimaksud dengan lapangan itu bukan lapangan sepak bola tapi terjun langsung ke pabrik atau restoran. Pokoknya istilahnya terjun langsung deh bukannya cuma di ruangan aja terima report.


Sepeninggal mereka bertiga ruangan kami langsung terasa sunyi senyap. Leo masih asyik berkutat dengan pekerjaannya dan aku masih saja bingung apa yang harus dilakukan terlebih dahulu.


"Kerjain! Nanti waktunya keburu habis." ujar Leo tanpa memalingkan pandangannya dari setumpuk laporan yang sedang Ia kerjakan.


"Enggak tahu mesti kerjain yang mana dulu." jawabku jujur.


Leo menghela nafas kesal. Mungkin Ia kebal dengan kebodohan aku? Toh memang aku nggak ngerti, daripada aku kerjain nanti tambah salah gimana?


Leo lalu bangun dari tempat duduknya dan berjalan menghampiriku. Ia berdiri tepat di sampingku dan melihat apa yang sedang aku kerjakan.


"Ini salah nih. Seharusnya biaya ini tuh nggak masuk ke dalam kolam itu. Biaya itu salah masuk data, karena bukan termasuk biaya pokok, Itu cuma biaya tambahan aja kalau kamu masukin nanti hasilnya jadi berantakan ke bawahnya." tunjuk Leo. Aku lalu mengangkat sebuah file dari salah satu restoran yang aku cek.


Jarak Leo yang terlalu dekat denganku malah membuat jantungku berdegup kencang. Aku malah makin grogi. Kenapa sih dia harus sedekat ini sama aku? Kenapa juga dengan jantungku?


"Kayak gini?" aku menunjukkan ke data tersebut.


"Ck... Bukan. Kan tadi aku bilang, biaya tambahan jangan dimasukin ke biaya pokok. Kamu lihat laporan ini, seharusnya biaya itu enggak usah dimasukin. Laporan yang kayak gini yang salah dan kamu catet sebagai temuan."


Tuh kan.... Saking dekatnya jarak Leo denganku aku sampai grogi dan salah ngambil map. Aku berusaha tetap tenang dan mengendalikan degup jantungku yang masih bertebaran tak jelas.


Leo mengambilkan sebuah mata dan Ia membantu mengeceknya. "Kayak gini nih. Laporannya rapi. Pos-pos biayanya juga rapi. kamu bisa pakai ini sebagai contoh. Nanti kamu cari lagi, di toko ini masalahnya dimana. Pasti ada deh. Walaupun laporannya bener, masalah yang timbul bukan cuma tentang laporan tapi aspek-aspek lain. Ngerti enggak?"


Aku menggelengkan kepalaku. Leo tuh terlalu deket sama aku jadi konsentrasiku buyar.


Leo menghela nafasnya lagi. Mungkin Ia kesel kali melihat kebodohan aku.


"Kamu kerjain aja dulu. Coba satu file, jangan semua kamu periksa sekaligus. Kamu periksa satu persatu biar kamu nggak makin pusing. Kamu coba kerjain sebisanya dulu nanti aku bantuin. Kerjaan aku sedikit lagi selesai kok."


"Iya. Aku coba dulu."


Leo lalu kembali ke tempatnya. Aku langsung menghembuskan nafas lega setelah sejak tadi tertekan berada di samping Leo. Debaran di jantungku makin kencang. Aku berusaha menenangkan diri. Aku mengambil segelas air putih dan meminumnya.


"Biasa aja. Enggak usah grogi gitu." celetuk Leo.


Uhuk.... Aku langsung tersedak.


Leo yang panik langsung berdiri dan menepuk-nepuk punggungku dengan pelan. Setelah aku kembali tenang Ia pun kembali ke tempatnya semula.


"Aku enggak grogi kok cuma bingung aja. Aku bisa kok." kataku mencoba menyelamatkan harga diriku. Jangan sampai Leo juga tau kalau detak jantungku berdebar kencang kalau Ia ada di dekatku. Bisa besar hati Dia.

__ADS_1


"Ya udah cepet sana kerjain. Aku juga coba ngerjain kerjaanku lebih cepat biar bisa bantuin kamu. Kamu ikutin aja yang tadi aku ajarin."


Rupanya Leo tidak membahasnya lebih jauh. Syukurlah. Aku pikir dia akan berkata kejam lagi seperti sebelumnya.


Aku melanjutkan pekerjaanku. Aku masih dalam konsentrasi penuh ketika akhirnya Leo datang lagi menghampiriku.


Ia mengambil map yang sudah aku periksa dan diperiksa ulang oleh nya. Ia menaruh kembali map tersebut, sepertinya kerjaanku benar. Aku pun tersenyum senang.


"Ini udah benar?" tanyaku.


"Udah."


"Yess!" Aku bangga dengan hasil kerjaanku.


Leo tersenyum melihat ulahku yang seperti anak kecil. Ia menyentuh kepalaku dan mengacak-acak rambutku.


"Seneng banget."


Senyum di wajahku langsung menghilang. Aku mengangkat wajahku. Leo sadar akan tindakan spontan yang Ia lakukan. Ia langsung menurunkan tangannya.


"So... Sorry. Kebiasaan lama."


Leo tidak balik menatapku. Ia malah mengambil salah satu map dan memeriksanya.


Leo menarik kursinya dan duduk disampingku. Kenapa juga harus di samping aku ya? Kan duduk di depan mejaku bisa?


Sepertinya Leo tidak mengindahkan tatapanku yang bertanya-tanya. Ia terlihat sibuk dengan map tersebut bahkan sampai mengerutkan keningnya.


"Yang kayak gini nih banyak salahnya. Coba kamu lihat!" Leo menaruh map tersebut di meja dan menunjukkan padaku dimana letak salahnya.


"Seharusnya jumlah petty cash-nya segini. Tapi ternyata hanya segini. Lalu order bahan bakunya banyak tapi penjualannya standar. Ini patut dicurigai. Kamu pisahkan map ini dan nanti laporkan dengan Pak Johan. Biar Pak Johan yang turun langsung ke lapangan buat memeriksanya."


"Iya. Berat juga masalahnya restoran yang satu ini." kataku pelan. Aku mengambil map yang Leo berikan lalu memisahkannya. Tak lupa aku tulis dengan sticky note apa saja kesalahannya.


Leo mengambil map lain dan mulai memeriksanya lagi. "Ya memang berat. Tapi enggak seberat masalah di antara kita." gumam Leo pelan.


Aku berpura-pura tidak menanggapinya dan sibuk berkonsentrasi dengan map yang baru aku ambil. Ternyata Leo meneruskan lagi perkataannya.


"Kalau memang kamu dan Angga sudah menikah, itu pilihan kamu. Jalan hidup kamu. Toh kita sudah bercerai, kamu berhak dekat dengan laki-laki lain," ujar Leo dengan suaranya yang tenang, lebih ke pasrah. Ia lalu melanjutkan lagi perkataannya setelah melihat responku yang datar dan biasa saja.


"Masih ada satu hal yang terhubung di antara kita. Yakni, Adam. Aku tahu aku tidak pernah ada saat Ia lahir. Aku sadar itu. Aku bahkan tidak membiayai persalinannya. Aku juga tidak menafkahinya. Kamu benar kalau aku memang tidak berhak atas Adam."


"Tuh nyadar." celetukku tanpa mengalihkan pandangan dari map yang aku periksa.


"Sadarlah. Aku kan masih punya hati nurani." jawab Leo.


"Masa?"


Leo menghembuskan lagi nafas berat. Ia juga tahu jika Ia tersulut emosi lagi karena ulahku maka kami akan berakhir dengan ribut besar yang bisa lebih parah lagi karena di ruangan ini tidak ada siapapun yang akan memisahkan kami. Karena itu Ia menahan kesabarannya.


"Aku hanya memperdulikan nasib Adam. Aku memikirkannya, Adam tinggal bersama Angga yang adalah Bapak tirinya. Banyak cerita tentang Ibu dan Bapak tiri yang membuatku makin khawatir. Bolehkah aku bertemu Ia sekali saja untuk memastikan keadaannya? Aku enggak akan bilang kalau aku papa kandungnya. Aku akan merahasiakannya, aku janji!" aku mendengar nada kesungguhan dalam ucapannya.


Mataku memanas. Air mata mulai memenuhi mataku dan tak bisa kutahan lagi sampai akhirnya menetes. Aku langsung menghapusnya. Aku enggak mau Leo makin berbesar hati karena melihat aku begitu mudahnya terharu atas perkataannya.


Aku tahu Leo sudah melihatnya. Perkataannya selanjutnya yang membuatku yakin kalau Ia menatapku sejak tadi.


"Maaf. Seharusnya aku terus mencari keberadaan kalian. Aku begitu mudah menyerah. Aku juga begitu tidak percaya diri bisa menghidupi kalian dengan layak. Karena itu aku putuskan untuk melanjutkan kuliah lagi. Sekarang aku sudah punya pekerjaan yang lumayan. Aku mau membiayai Adam."


Aku mengangkat wajahku dan mengangkat Leo dengan tajam dan mulai marah. Ia langsung berbicara sebelum aku bicara satu patah kata.


"Kamu enggak perlu khawatir. Aku nggak akan mengambil Adam dari sisi kamu. Aku hanya ingin melihat dia sekali saja. Please, izinkan aku ya."


Kemarahan dalam diriku tiba-tiba menghilang saat melihat sorot mata Leo yang terkesan amat memelas.


Aku menghembuskan nafas berat. Aku bingung pilihan apa yang harus aku ambil. Leo benar, dia memang berhak untuk mengetahui dimana anaknya. Aku enggak bisa selamanya menutupi kenyataan sepenting itu dan membuatnya terus berharap kalau anaknya masih hidup.

__ADS_1


"Baiklah. Hari sabtu besok temui aku di depan kontrakan kita yang lama. Aku akan mengajak kamu menemui Adam."


Keputusanku langsung membuat Leo tersenyum. Ia senang akhirnya Ia punya kesempatan untuk melihat anaknya. Sorot matanya berbinar-binar, dan aku merasa takut sorot mata itu akan berubah secepatnya menjadi kekecewaan.


"Yang bener May? Iya aku akan datang. Jam berapa? Aku enggak akan telat. Aku janji!"


"Jam 8 aja. Kalau kesiangan nanti panas." tau sendiri di pemakaman kan panas kalau makin siang.


"Oke. Adam sukanya mainan apa? Ukuran bajunya berapa? Atau ukuran sepatunya apa?"


Mataku kembali memanas melihat Leo sebahagia itu. Aku tak bisa membayangkan bagaimana hancur hatinya kalau tahu Adam sudah tiada.


"Adam su..." aku tak bisa mengatakannya secara langsung. "Enggak usah bawa apa-apa. Adam enggak memerlukan semua itu."


Aku kembali berkonsentrasi dengan map yang harus ku periksa.


"Kalau Avengers Adam suka enggak ya? Atau Dinosaurus? Thomas?" Leo menyebutkan tokoh kartun yang anak-anak suka. Hal itu malah membuatku dadaku terasa makin sakit.


"Cukup. Aku bilang enggak usah, atau aku akan membatalkan pertemuan kalian?!" ancamku. Aku benar-benar tidak kuat mendengarnya.


"Oke. Oke. Sorry. Aku enggak akan membahasnya. Jangan dibatalin ya." Leo lalu bangkit dan mengambil banyak map sekaligus.


"Biar aku periksa yang banyak. Kamu enggak boleh kecapean. Nanti kamu sakit aku enggak bisa ketemu Adam lagi."


Leo lalu bersenandung riang sambil memeriksa map. Aku melirik ke arahnya. Kulihat Ia amat bahagia.


Kenapa rasa bahagia yang Ia rasakan begitu terlambat? Kenapa saat Adam ada di perutku Ia terlihat dingin bahkan tak pernah mau mengelus perutku? Dan sekarang setelah Adam tiada Ia malah begitu bersemangat untuk menemuinya?


Aku bangun dan menuju kamar mandi. Rasanya dadaku begitu sesak. Air mata seakan sulit untuk ditahan.


Di kamar mandi aku berusaha menenangkan diri. Aku mencuci mukaku agar tidak terlihat sehabis menangis. Saat wajahku sudah lebih segar aku kembali lagi ke ruangan dan melanjutkan memeriksa map lagi.


*****


Tiin


Angga membunyikan klaksonnya membuyarkan lamunanku.


"Neng, ikut abang dangdutan nyok?" teriaknya dari dalam mobil.


Aku hanya tersenyum simpul mendengar guyonannya yang tak mampu meredakan galaunya hatiku. Aku masuk ke dalam mobil Angga dan Ia lalu mengemudikan mobilnya meninggalkan lobby.


"Kita jadi makan Sate Padang Ajo Ramon enggak?" tanya Angga lagi.


"Terserah." jawabku singkat.


"Ini nih jawaban kaum venus yang membuat kaum mars gedeg setengah mati. Terserah. Mending dipukul algojo deh daripada dengar cewek ngomong terserah."


Aku tersenyum mendengar gumaman Angga. "Iya, jadi. Ayo."


"Nah gitu dong. Tapi kamu salah, May. Sate Padang Ajo Ramon bukan di Blok S tapi di Pasar Santa." koreksi Angga.


"Ya elah. Sama aja. Kan deket-deket situ juga." jawabku tak mau kalah.


"Nah ini lagi nih kebiasaan kaum Venus. Irak sama Iran juga hampir sama tapi beda jauh Neng, presidennya aja beda." protesnya.


"Ampun deh bawel banget kamu, Ga. Iya... iya.. Mau di Pasar Santa, Pasar Baroe kek bodo amat. Udah nyalahin Maps aja. Laper nih!"


"Dih... Yang salah siapa, Dia yang galak."


Aku memelototi Angga. Ia seperti anak anjing yang langsung mojok ketakutan.


"Iya... iya.... Peace!"


Aku kembali tersenyum. Aku memang tidak bisa terlalu lama marah dengan Angga.

__ADS_1


Aku kembali menatap jendela. Melihat kanan dan kiri jalanan yang penuh dengan kemacetan.


Pikiranku kembali berkelana. Banyak pertanyaan yang akhirnya akan terjawab sabtu besok. Bagaimana reaksi Leo kalau tahu anaknya meninggal? Bagaimana kalau Leo tahu penyebab kematian anaknya adalah karena Ia menepis tanganku sampai aku terjatuh? Bagaimana kalau Leo tidak siap dengan semua kenyataan ini?


__ADS_2