Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Curiga


__ADS_3

Gosip, digosok makin sip.


Tapi lihat dulu siapa yang gosok?


Kalau Duo Julid yang gosok.....


Bakalan duaaaarrrrrr


Kampung Durian Runtuh eh maksudnya kampung tempat aku mengontrak hari ini heboooohhh.


You know, menyenggol biang gosip balasannya adalah neraka! Ehem maksudnya balasannya adalah gosip sip sip sip.


Aku baru saja keluar dari rumah kontrakkan untuk berangkat kerja eh di luar rumah sudah ada Bu Sri, Bu Jojo dan Leo yang mengobrol dengan serius. Seperti membicarakan politik saja.


"Ada apaan nih pagi-pagi pada ngumpul?" tanyaku sambil menenteng sepatu dan memakainya di luar rumah.


"Ada-" baru Ibu Sri ngomong sudah aku hentikan.


"Sebentar, Bu. Hp Maya ketinggalan!" aku masuk lagi ke dalam rumah, copot sepatu dulu tentunya. Sebelum sampai di kamar aku dengar perkataan Bu Sri.


"Kebiasaan banget tuh anak! Suka lupaan!"


Aku senyum-senyum mendengar gerutuan Bu Sri. Dasar emak-emak!


Aku mengambil Hp diatas nakas dan memasukkannya ke dalam tas. Aku berjalan lagi keluar rumah, mengunci pintu dan memakai sepatu lagi.


"Dompet ketinggalan enggak May?" tanya Bu Sri.


"Oh iya! Bener... bener. Ketinggalan di tas yang warna pink semalam." dan aku pun mencopot sepatu, membuka pintu lalu masuk ke dalam rumah mencari dompet dan memasukkannya ke dalam tas.


Sebelum aku keluar dan menutup pintu, Bu Sri kembali bertanya. "Ada yang ketinggalan lagi gak May?"


Aku mencoba mengingat-ingat apa yang tertinggal sebelum mengunci pintu. "Enggak ada Bu. Kali ini Maya yakin!"


Aku mengulangi rutinitas tadi, mengunci pintu, memakai sepatu lalu berjalan menuju Bu Sri.


"Kamu yakin masih cinta sama yang kayak gini Leo?" tanya Bu Jojo yang sejak tadi hanya geleng-geleng kepala saja melihat kelakuanku.


"Iya dong. Ngegemesin tau enggak Bu." jawab Leo dengan yakin.


"Belum aja nanti nikah. Ngeselinnya makin nambah nih anak!" komentar Bu Sri.


"Kan udah pernah nikah, Bu. Saya sudah hapal sifatnya Maya. Letak tahi lalatnya aja saya hapal dimana saja. Yang paling sexy ya di-" aku langsung membekap mulut Leo sebelum berkata lebih banyak lagi yang akan membuat aku malu.


Bu Sri dan Bu Jojo tertawa melihat ulahku dan Leo.


"Pagi-pagi udah mesra aja ya! Udah sana cepetan rujuk lagi!" ujar Bu Jojo yang kini sudah satu kubu dengan Bu Sri. Semenjak Bu Sri menceritakan tentang perlakuan Mamanya Angga padaku, Bu Jojo langsung putar haluan dan mendukung Leo sepenuhnya.


"Kita memang pengen rujuk, Bu. Tapi masih terhalang restu Bapaknya Maya." jawab Leo sambil memberikan helm yang sudah dia semprot pengharum helm terlebih dahulu.


Aku menerima helm yang Leo berikan.


"Beda ya Bu kalau masih PDKT. Helmnya masih baru udah gitu disemprot pewangi segala lagi. Coba kalau kita yang udah puluhan tahun nikah, boro-boro pewangi, helm aja yang dapet gratisan dari dealer. Belum lagi helmnya bekas dipake siapa aja jadinya bau apek." kata Bu Jojo pada Bu Sri.


"Iya. Belum kalau yang bekas pake helm kutuan, iiihhh bisa nular." sahut Bu Sri menimpali.


Aku dan Leo tertawa terbahak-bahak. Memang nih Duo Julid sing ada lawan. Konyol banget.


"Oh iya kamu mau sarapan nasi uduk enggak?" tanyaku pada Leo.


"Enggak usah. Nih aku beliin kamu sarapan nasi ulam. Ada yang jual deket rumahku. Sekalian aja aku beliin." jawab Leo.


"Kita berdua enggak dibeliin nih?" tanya Bu Jojo dan Bu Sri kompak.


"Ha....ha...ha... Saya enggak tau kalau bakalan ketemu sama Ibu-ibu disini. Kalau tahu bakalan ketemu pasti beliin deh." jawab Leo.


"Oh gitu. Jadi lupa nih sama kita." pancing Bu Jojo.


"Mau dapet restu kita berdua enggak nih?!" sahut Bu Sri menimpali.

__ADS_1


"Ha...ha...ha... Mau dong. Ibu-ibu yang cantik ini jangan sarapan nasi ulam ya. Nanti susuknya luntur." Leo lalu mengeluarkan dua lembar seratus ribuan dan memberikannya pada Bu Sri dan Bu Jojo. "Sarapannya di Mc D aja sambil main perosotan."


"Asyik! Rejeki pagi-pagi Bu." sahut Bu Sri senang sambil menerima uang yang Leo berikan dan membaginya selembar untuk Bu Jojo.


"Daripada buat ke Mc D mendingan kita belanja ayam seekor. Bisa buat sekeluarga. Iya enggak Bu?" sahut Bu Jojo.


"Iya dong." jawab Bu Sri kompak.


"Dasar emak-emak! Ngomong-ngomong ngapain nih kalian udah pada ngumpul di depan rumah saya? Tumben banget. Biasanya juga kumpul di tukang nasi uduk sama di tukang sayur." aku memakai jaket agar baju kerjaku tidak bau asap kendaraan.


"Ini perihal gosip Papanya Angga. Semalam group aerobik saya ruame May. Mereka heboh." jawab Bu Sri.


"Iya. Group arisan sama group ibu-ibu PKK juga heboh. Ini hot gossip namanya! Hebat kamu May bisa dapet gosip kayak gitu!" sahut Bu Jojo.


"Itu mah bukan gosip Bu tapi fakta yang tertunda. Orang Maya sama Leo ngeliat sendiri. Kalau enggak percaya cek aja CCTV di Mall itu pasti keliatan kok adegan romantis mereka." aku tak terima fakta yang kemukakan dianggap gosip semata.


"Tapi tanpa kamu kasih tau sebenarnya kita tahu May. Waktu itu ada janda yang ngontrak di kontrakkan punyanya Mamanya Angga, masa sih Papanya Angga sering banget kesana cuma buat deketin tuh jendes. Akhirnya tuh jendes enggak betah terus pindah deh." cerita Bu Sri.


"Ehem... Udah ya ibu-ibu. Udah siang nih. Nanti kita berdua kesiangan berangkat kerjanya. Ngegosipnya dilanjutin lagi ntar malam ya kalau kita udah pulang." Leo membubarkan acara gosip menggosip kami yang semakin seru saja.


"Iya bener Bu. Aku udah siang nih. Aku ke kantor dulu ya. Nanti malam kalian kumpul aja di rumah aku kita lanjutin lagi ya ntar malam." aku setuju dengan perkataan Leo.


Pertimbangan lainnya adalah karena Leo banyak kerjaan sebagai Mr. So, kasihan nanti pekerjaannya akan numpuk.


"Iya May. Kita sambung lagi nanti malam ya." kata Bu Jojo.


"Iya. Jangan lupa sedia cemilan May. Enggak enak ngegosip kalau enggak ada cemilannya." pesan Bu Sri.


"Siap, Bu. Maya berangkat dulu ya."


Aku dan Leo meninggalkan Bu Sri dan Bu Jojo yang langsung bubar gerak kembali ke rumahnya masing-masing.


"Mereka masih aja lucu ya May." komentar Leo sambil mengendarai motornya.


Aku mencondongkan tubuhku agar lebih bisa mendengar perkataan Leo. Tapi kali ini aku tidak mau meluk Leo, terlalu berisiko kalau aku memeluknya dan ada orang kantor yang melihat. Jadi aku hanya memegang pinggangnya saja.


Sepertinya Leo juga mengerti posisiku. Kami belum saatnya mengungkap hubungan kami kepada orang lain, terutama di lingkungan kantor.


"Kayaknya kamu mengidolakan banget mereka berdua deh May."


"Bukan mengidolakan. Aku punya temen baru kali ini yang berbeda latar belakang dan usia. Ternyata berteman dengan emak-emak beda sama teman yang seumuran. Kalau teman seumuran ya paling nggak bisa share banyak pengalaman hidup tapi kalau sama emak-emak mereka banyak pengalaman hidupnya yang bisa kita ambil pelajaran."


"Wuidih makin dewasa aja nih Madam." puji Leo.


"Madam? Kok aku dipanggil Madam?" tanyaku bingung.


"Iya dong. Kan Madam artinya Mamanya Adam." goda Leo.


"Ah kamu bisa aja nih!" kataku sambil memukul pelan bahu Leo.


"Kita kan selama ini nggak pernah ada panggilan sayang May. Ya cuma gitu-gitu aja. Aku mau manggil kamu dengan sebutan Madam sekarang. Anak-anak enggak akan curiga kenapa kamu dipanggil Madam."


"Terus aku harus manggil kamu apa dong? Padam gitu? Aneh ah kalau Padam." aku memikirkan panggilan yang cocok untuk Leo.


"Gimana kalau Pakle?" usulku.


"Pakle? Apaan tuh? Enggak enak banget didengernya."


"Pakle tuh Bapak Leo. Gimana? Bagus enggak?"


"Enggak... Enggak. Coba yang lain!"


"Ih susah tau! Pagi-pagi aku disuruh mikir! Sebel!"


"Ha...ha...ha... Begitu aja udah ngambek. Ayo sambil mikirin aja mumpung lagi di jalan. Biar enggak terasa tau-tau udah sampai kantor."


"Iya... Iya.... Nih aku mikir lagi"


"Gimana kalau Oppa aja?" usulku setelah 10 menit berpikir keras.

__ADS_1


"Oppa Gangnam Style?" ledek Leo.


"Bukan Oppa itu. Oppa tuh artinya leO PaPa Adam. Bagus enggak?" beneran aku harus ngarang hanya untuk hal sepele kayak gini ya.


"Hmm... Boleh juga. Aku setuju!"


Aku tersenyum bangga dengan usahaku. Hmm... Bagus juga manggilnya Oppa. Kaya di drakor-drakor yang biasa aku tonton.


Sampai di kantor Leo langsung berkutat dengan pekerjaannya sedangkan aku seperti biasa mengambilkan 2 buah piring untuk makan nasi ulam beserta sendoknya serta membuatkan minuman untukku dan Leo.


Untukku seperti biasa, Susu Dancow Full Cream sedangkan untuk Leo susu Milo campur susu kental manis. Aku menaruhnya diatas meja Leo.


"Susu Milo nya Oppa." kataku dengan suara yang dibuat semanja mungkin.


Sambil tetap fokus pada pekerjaannya, Leo pun tersenyum mendengar perkataanku barusan.


"Makasih Madamku tersayang."


Aku tersenyum senang mendengar panggilan Leo padaku. Ih... Cuma panggilan aja tapi kok rasanya hati berbunga-bunga ya?


Kadang kebahagiaan tuh memang dimulai dari hal yang kecil ya. Kami melewatkan banyak hal kecil yang kami anggap gak penting dalam hubungan kami. Ternyata hal kecil saja bisa membawa kebahagiaan.


"Pagi!" sapa Pak Johan.


"Pagi, Pak!" jawabku dan Leo kompak.


Wah ada apa nih? Kenapa Pak Johan sampai datang pagi-pagi sekali? Tidak biasanya loh Pak Johan itu datangnya pagi-pagi. Biasanya sudah mepet jam 8.30, kadang malah suka lewat dari jam 8.30.


"Kalian datang pagi sekali ya? Masih lama loh kita masuknya." tanya Pak Johan dengan nada yang yang seperti mencurigai kami berdua. Pak Johan lalu berjalan mendekatiku dan Leo.


"Iya Pak. Aku sengaja datang pagi, soalnya semakin siang kopajanya semakin penuh. Kalau masih pagi kadang masih dapat tempat duduk jadi aku lebih baik berangkat pagi." Aku berusaha mengulur waktu agar Leo bisa membereskan pekerjaannya.


"Kamu sedang mengerjakan apa Leo?" tanya Pak Johan dengan nada curiga.


"Oh lagi main Solitaire, Pak. Saya memang sengaja berangkat pagi soalnya saya paling gak suka macet. Nanti bau asap knalpot. Saya paling gak suka deh Pak."


Pak Johan tetap saja tidak percaya dengan perkataan Leo. Ia melirik sekilas ke komputer Leo dan melihat kalau Leo sedang bermain Solitaire.


"Ingat! Jangan kebanyakan main game. Ini kantor bukannya rumah!" Pak Johan terdengar sedikit mengultimatum Leo.


"Baik, Pak!" jawab Leo sambil menutup game Solitaire dari komputernya.


Aku bergerak cepat agar Pak Johan tidak semakin curiga dan memeriksa komputer Leo. Aku membuka bungkus nasi ulam dan menaruhnya di piring.


"Sarapan Pak." kataku menawari Pak Johan sarapan.


"Terima kasih May." Pak Johan menolak tawaranku lalu kembali duduk di kursinya.


Leo mengikuti apa yang aku lakukan karena Ia tidak bisa mengerjakan pekerjaannya saat ini. Sorot mata Pak Johan masih terlihat mencurigainya.


"Sarapan, Pak." Leo menawari Pak Johan makan.


"Tidak, terima kasih. Kalian kok sarapannya bisa samaan sih? Kalau orang lain melihat pasti akan berpikir kalau kalian tuh punya hubungan loh! Kalian deket banget soalnya." aku mendengar perkataan Pak Johan itu kayak lagi menyindir kami berdua.


"Ha...ha..ha... Bapak bisa aja. Ini kebetulan samaan karena tadi saya beli enggak ada kembaliannya, Pak. Uang saya seratus ribu dan Ibu yang jualnya baru buka. Karena enggak enak hati ngeliat ibunya sampai nukerin duit ke warung yaudah saya pesen satu lagi deh buat Maya."


Aku salut dengan alasan yang diberikan oleh Leo. Bohong tapi terkesan masuk akal. Susah loh kayak gitu. Apa memang Leo seorang pembohong ulung?


"Besok kalau bawa uangnya Rp100.000 belinya tuh jangan 2 Leo. Kamu beli 5. Di ruangan ini Ada 5 orang loh orangnya bukan kamu berdua aja." sindir Pak Johan.


"Siap, Pak! Besok saya bawakan 5 bungkus ya. saya masih ragu tadi soalnya belum pernah beli, takut rasanya nggak enak makanya saya mau cobain dulu. Kalau memang enak besok saya beliin ya buat semua di ruangan sini." Leo malah menjawab tantangan dari Pak Johan dengan santai tentunya.


"Tidak usah Leo. Saya cuma bercanda doang kok. Sudah kalian lanjutkan makannya, nanti kalau sudah selesai saya mau diskusikan tentang laporan yang kalian kirim semalam." perintah Pak Johan yang kini sudah mulai berkutat dengan laporannya.


Aku melanjutkan memakan sarapan nasi ulam. Nasi ulam itu adalah nasi putih dengan kelapa yang sudah di bumbui atau istilahnya serundeng. Diatasnya dikasih toge kecambah, daun kemangi dan ketimun yang telah dipotong-potong. lebih enak dinikmati dengan sambal kacang.


Aku tahu kok sesekali mata Pak Johan melirik ke arah kami. Apa yang Ia curigai? Kecurigaannya hanya membuat pekerjaan Leo makin terbengkalai. Aku kasihan melihat Leo yang seperti tidak bisa berbuat apa-apa karena harus menyembunyikan identitasnya.


****

__ADS_1


Hai semua! Maaf ya kemarin aku cuma satu bab aja. Aku lagi sibuk banget akhir-akhir ini dan waktu untuk menulis sangat sedikit. Aku usahakan untuk tetap update setiap hari minimal 1 bab. Kalian juga jangan lupa ya votenya tetep dikencengin biar aku semangat juga nulisnya, oke?


Follow my IG : Mizzly_


__ADS_2