
Sayup-sayup terdengar suara adzan isya berkumandang. Kami masih di jalan, menikmati indahnya kemacetan.
Aku menatap keluar jendela dan melihat banyak tukang jualan. Macet, artinya rejeki tidak harus macet. Malah semakin mengalir deras.
Ada gemblong. Makanan yang kusuka sejak kecil. Tukang jagung bakar berjejer dan susu jahe untuk menghangatkan tubuh.
Udara semakin malam, semakin dingin saja. Ditambah AC dari mobil yang membuatku tanpa sadar mengusap lengan.
Untung saja tadi memakai cardigan dari kontakkan. Jika tidak pasti aku sudah menggigil kedinginan.
"Dingin ya Sayang? Pakai jaket aku ya." Leo menawarkan jaket yang tersampir di tempat duduknya padaku.
Aku menerima pemberiannya dan memakainya menutupi dadaku. Seperti memakai selimut. Bukan dipakai seperti semestinya.
"Macet banget ya?!" keluhku lebih kepada diri sendiri bukan mengeluh pada Leo.
"Justru ini seninya. Menikmati keramaian di tengah kemacetan. Kamu mau jajan apa?"
"Seni kok menikmati macet. Di Jakarta sudah sering macet atuh Sayang. Jajan ya.... Hmm... Kita jadi jajan jagung bakar enggak sih?"
Leo menjalankan lagi laju mobilnya. Meskipun kecepatannya tak lebih dari 40 km/jam namun Ia terlihat santai mengendarai mobil. Tidak mengeluh dan memasang muka bete sepertiku.
"Jadi dong. Tapi nanti saja di Atta'awun. Enaknya makan apa ya?" mungkin bawaan bayi dan juga karena cuaca yang dingin membuatku lapar lagi.
Beberapa rintik hujan mulai turun. Membuat para pengendara motor menepikan kendaraannya untuk memakai jas hujan.
Pantas saja terasa dingin, ternyata mendung dan hujan akhirnya turun. Sudah terbayang kemacetan akan makin bertambah.
Kami sudah melewati Taman Safari Indonesia. Jika kami berangkat lebih siang mungkin enak juga mampir kesana. Selain hujan dan kemalaman rasanya enggak enak deh kesana. Kalau malam bisa lihat safari malam, namun kalau hujan begini enggak seru. Malah lebih nyeremin. Lagi hamil ke hutan malam-malam.
Aku bergidik membayangkannya. Perbuatanku tentu menarik perhatian Leo. "Kenapa?"
"Enggak apa-apa. Lagi membayangkan sesuatu aja." jawabku jujur.
"Bayangin apa? Pasti ngelonjor alias ngelamun jorok ya?" goda Leo.
Aku mencubit pelan lengannya. Sempat-sempatnya mikir kayak gitu!
"Enggak lah. Daya khayal jorok aku tuh udah hilang. Sudah tersalurkan semua sama kamu. Ngapain mikir jorok lagi coba? Aku tuh lagi mikir kalau malam-malam ke Taman Safari, lagi hamil dan hujan deras. Agak menyeramkan juga ya. Hiiiyyy...." aku kembali bergidik ngeri.
"Tenang aja. Kan ada aku. Aku akan selalu ada untuk melindungi kamu dan anak kita."
"Cie.... Aku digombalin cie... Cie... Udah jago ngegombal cie..." aku malah meledek Leo.
Leo tersenyum ringan. Tangannya terulur mengusap lembut puncak kepalaku. "Bisa banget ya godain aku nya. Nanti gantian kamu yang akan aku goda balik ya!" ancam Leo.
"Jangan Om... Adek takut..." aktingku sebagai anak kecil yang takut sama om-om ternyata lumayan jago. Terbukti dengan cubitan Leo yang gemas di pipiku.
"Om enggak bakal nyakitin adek kok. Cuma om elus-elus terus ***** deh wahahahaha...." Leo terbahak-bahak dan tertawanya nular. Aku ikut tertawa bersamanya.
"Beneran ya om enggak nyakitin adek?" rupanya aku masih mau meneruskan akting jadi om-om dan cabe-cabean centil. Enggak apa-apa toh centil sama suami sendiri? Daripada nanti suaminya nyari yang centil-centil di tempat lain?
"Bener. Om pelan-pelan kok, Dek. Adek pasti suka deh."
"Masa sih Adek bakalan suka Om?" Leo sesekali tersenyum melihat aktingku.
"Suka dong, Dek. Bakalan bikin Adek merem melek saking sukanya."
"Memangnya Adek cacingan ya Om sampai merem melek?"
"Ini merem meleknya beda, Dek. Bukan penyakit tapi merem melek enak."
"Oh ya? Seenak apa sih Om? Om suka gitu?" aku mulai bermanja-manja dengan menyandarkan kepalaku di lengan Leo. Persis seperti cabe-cabean yang lagi meraya om-om senang, hmm... sugar daddy istilah jaman sekarang.
Kalau Leo sugar daddy, berarti aku sugar babynya dong. Ah mainan apa ini sih. Kenapa jadi main sugar daddy dan sugar baby sih?
"Om suka dong. Adek aja bisa merem melek apalagi Om?" Leo menaik turunkan alisnya bak om-om senang. Agak geuleuh sih ngeliatnya, tapi show must go on. Lanjut lagi aktingnya.
"Tapi Adek kan masih kecil, Om. Kalau Ibu sama Bapak tahu terus marah gimana Om?"
__ADS_1
Leo mulai mempercepat laju kendaraannya. Jalanan tidak semacet sebelumnya. Masih bisa tancap gas sebelum nanti kembali macet lagi.
"Tenang, Dek. Urusan Ibu dijamin beres sama Om. Bapak aja yang killer bisa Om taklukin. Apalagi Ibu yang lembut? Beres deh pokoknya!" Leo menyombongkan dirinya.
Aku tak bisa menahan diriku untuk tidak memainkan bibirku seperti sedang komat-kamit. Sombong banget gayanya mentang-mentang Bapak udah kasih restu.
Enggak inget apa dulu sampai diusir? Kalau bukan karena jasa Papa Dibyo juga belum tentu direstui. Sekarang bisa sombong ye, dulu aja mau ke rumah ngumpet-ngumpet dan enggak jadi karena ngeliat Bapak. Huh....
"Sombong bener!" kataku spontan.
"Loh kan sombong is my middle name. Leo Sombong Prakoso Kusumadewa Ha....ha....ha...."
Lagi-lagi aku ikut tertawa dengan lawakan receh yang Leo buat. Apa-apaan coba namanya jadi Leo Sombong. Nanti dipanggilnya Ombong gitu? Bukan Mr. So lagi dong jadinya malah jadi Mr. Ong? Kayak Koh Ahong di Si Doel Anak Sekolah malah ha...ha...ha...
"Om... Aku mau dibawa kemana nih?" action! akting kembali dimulai. Aku melepaskan tanganku dari lengan Leo. Pegal. Stretching dikit biar otot lemas.
"Pokoknya Om mau bawa Adek ke tempat yang tenang, dingin, enak deh buat kekepan."
"Kekepan Om? Memangnya Om mau kekepan sama siapa?" aksi tarik ulur mulai lagi.
"Sama Adek dong. Masa Om kekepan sama bantal dan guling aja? Datar dong. Enggak ada liukannya. Kayak Adek gitu."
"Memangnya Adek ada liukannya gitu Om?"
"Om ada dong. Adek kan kayak guling tapi versi yang lebih upgrade lagi." Leo melambatkan lagi mobilnya karena kemacetan menuju Puncak Pass kembali mengular.
Lumayan juga main goda menggoda ini membuatku tak bosan menghadapi padatnya jalur Puncak. Enggak terasa tau-tau sudah hampir sampai aja.
"Lebih upgrade? Lebih upgrade gimana Om?" kali ini aku beneran penasaran dengan jawaban yang akan Leo berikan.
"Iyalah. Adek kan guling yang bisa kentut. Guling hidup gitu ha...ha..ha..."
"Kayak Bu Sri tadi dong ha....ha....ha..." aku dan Leo tertawa ngakak. Jadi teringat Bu Sri tadi. Ulahnya yang seenaknya bak preman pasar. Kentut enggak pakai sen kiri dulu langsung aja meledak. Tanpa aba-aba. Mana bau banget lagi. Ampuuuunnn dah....
"Heh kamu ketawa aja. Awas ya kamu juga kayak Bu Sri! Kalau mau kentut bilang-bilang biar aku buka dulu jendelanya. Jangan buang bom atom dulu sebelum dipersilahkan!" gerutu Leo. Kenapa enggak protes pas ada Bu Sri? Kenapa harus gerutunya hanya sama aku aja? Huh jangan-jangan Leo takut sama Bu Sri? Iyalah, preman pasar aja cium tangan sama Bu Sri ha..ha...ha..
"Iya. Nanti aku bilang. Tapi kalau bau ya. Kalau enggak bau aku diem-diem aja." aku tersenyum jahil. Namun bukan Leo kalau tidak bisa membalikkan keadaan.
"Ih! Om centil! Adek kan masih lugu tau Om. Eh tapi kok Adek disamain kayak sayur asem sih? Asem dong Adek kalau begitu!"
"Enggak gitu dong, Dek. Sayur asem tuh walah rasanya asem tapi seger. Kuahnya tuh sedep. Nah sama kayak Adek. Kalau Adek cemberut tuh bibirnya bikin Om pengen nyaplok aja kayak gini nih." Leo menurunkan rem tangannya dan menarikku lalu mencium bibirku cepat. Tak bisa lama-lama karena aksinya membuat klakson mobil di belakang kami berbunyi menyuruhnya untuk maju.
"Ih! Diomelin tuh sama mobil belakang! Suka reflek nyium tanpa aba-aba deh!" omelku sambil menepuk pelan lengan Leo.
"Yang namanya spontan itu lebih enak Adek sayang. Ada sensasi deg-degannya. Jadi rasanya tuh lebih mantap deh. Om suka itu." ya ampun main Om-Adek masih belum kelar juga ternyata. Yaudah lanjut lagi deh.
"Hmm... Om. Om bisa ngegombal enggak? Adek mau digombalin dong!" nah pasti Leo mikir nih. (Sama kayak Authornya yang mikirin nih novel tapi votenya turun terus huh!!!)
"Dek, Adek tau enggak persamaan Adek sama jagung tuh apa?" wah ternyata Leo langsung bisa ngegombal loh. Hebat. Apa dia memang suka ngegombalin cewek di luar sana? Hm... Patut dicurigain nih!
"Kok Adek disamain sama jagung sih Om? Kan bisa nyamainnya sama bunga, matahari atau apa kek. Tadi dibilang sedep kayak sayur asem eh sekarang malah disamain sama isiannya sayur asem si jagung ini!" gerutuku.
"Ya nanti dulu dong. Satu-satu. Adek jawab dulu dong. Tau enggak persamaan Adek sama jagung tuh apa?"
Aku menggelengkan kepalaku. "Enggak tau. Apa Om persamaannya?"
"Sama-sama manis."
"Ih garing! Enggak semua jagung manis kali Om. Ada juga jagung putren yang tawar. Atau ada jagung muda yang enggak ada manis-manisnya sama sekali. Om ngarang nih!" protesku lagi.
Tapi Leo malah tersenyum. Yah... Aku masuk jebakannya nih! Pasti Leo sengaja deh mancing aku karena tau aku orangnya pasti reflek menjawab tanpa dipikir dulu.
"Enggak dong. Kan Adek mah manis, sama kayak jagung manis. Tapi.... "
"Tapi apa?" tanyaku penasaran.
"Tapi... kalau bajunya udah dibuka wahahahaha..." Leo tertawa terbahak-bahak membuatku makin sebal aja dibuatnya!
"Ih apaan sih! Enggak lucu tau! Memangnya jagung pake baju apa?!"
__ADS_1
"Loh memang pakai baju dong. Kalau enggak malu nanti kelihatan bulu halusnya. Kelihatan biji jagungnya. Iya toh?" selalu alasan yang masuk akal dan tak bisa kubantah.
"Terserah Om aja deh. Enggak ada gombalan lain Om selain disamain sama jagung?"
"Adek tau enggak persamaan Adek sama Bulan?"
Aku mengernyitkan keningku. Menatap bulan yang kini mulai nampak setelah hujan.
"Ih bulan kan bolong-bolong mukanya. Masa sih Adek disamain sama bulan? Ogah ah!" protesku.
"Tuh kan protes melulu. Tadi disamain sama jagung manis minta yang lebih keren kayak bunga dan matahari? Ini Om bilang mirip kayak bulan protes terus."
"Iya... Iya.... Apa persamaannya?" aku menyerah lagi dengan jawaban Leo yang selalu logis itu.
"Enggak mau nebak dulu nih?" goda Leo lagi.
"Enggak!"
"Beneran? Enggak mau phone a friend dulu?"
Mau nelepon siapa? Adel? Yah otaknya Adel mah sama aku satu server. Enggak bakalan tau tuh anak.
Nanya Duo Julid juga bukan solusi. Jawabanyya paling enggak jauh-jauh dari ************.
"Enggak. Nyerah aja. Udah mau sampai nih kita!" aku menunjuk masjid besar yang sudah kelihatan. Agak macet karena mobil banyak yang berbelok dan masuk ke area masjid. Sama seperti yang akan aku dan Leo lakukan nanti. Jadi lebih baik sabar menanti.
"Adek sama bulan tuh sama-sama mukanya bolong."
"Bolong? Muka Adek kinclong kayak pake minyak goreng begini kok Om bilang bolong? Ini tuh halus, lembut. Enggak ada bolong-bolongnya sama sekali. Coba deh Om pegang." Aku menarik tangan Leo dan menyuruhnya mera ba wajahku yang halus dan glowing bak artis Korea.
Muka perawatan begini dibilang bolong-bolong? Ini tuh rajin dirawat sampai mulus. Enak aja nih.
Tuh kan namanya juga cewek. Di protes dikit langsung deh mencak-mencak, ngomel panjang lebar. Kadang cowoknya enggak peka. Kayak Leo gini nih.
"Ya jelas Adek mukanya bolong lah. Kan suka Om makanin kayak gini nih." Leo langsung mencium pipiku bertubi-tubi sampai aku kegelian dan tertawa terbahak-bahak. Gombalan macam apa ini? Tapi aku senang kok. Digombalin receh kayak gini.
Mobil Leo pun memasuki area parkir kendaraan. Baru saja mematikan mesin mobil dan hendak melepas seat belt, ada seorang anak kecil yang menjajakan dagangannya pada kami.
"Om beli mainannya Om..."
Yah langsung mode kasihan deh kalau liat kayak gini. Susah tapi masih mau usaha.
Aku melihat mainan yang dijual. Ada pistol gelembung, mainan Avengers, Barbie KW dan ada monopoli.
Tanpa dikomando, pilihan aku dan Leo kompak memilih....
"Ini aja. Berapa?" Leo mengambil uang seratus ribu dan menukarnya dengan monopoli. "Kembaliannya ambil aja."
"Beneran Om? Ya ampun makasih banyak Om. Makasih. Semoga Om makin banyak rejekinya. "
Aku mengaminkan doa anak kecil tersebut. Who knows? Kita enggak pernah tau dari mulut siapa doa akan dikabulkan.
Leo menaruh mainan di jok belakang. "Kita mainin nanti ya. Ayo kita turun."
Aku dan Leo turun dari mobil dan disambut anak-anak penjual mainan dan makanan yang mengerubunginya. Rupanya aksinya memberi uang lebih menarik perhatian penjual yang lain.
"Om beli tahu sumedangnya juga dong Om."
"Om beli gelang aku juga dong om."
"Om beli hati adek juga dong om." godaku yang disambut tawa Leo.
*****
Om minta vote yang banyak dong udah turun jauh nih...
Tante minta vote boleh?
Ting...ting....
__ADS_1
Om minta vote dan like boleh Om? Yang banyak ya. Janan pelit ya Om... Tante... Muachhh 😘😘😘