
Aku menatap Leo dan Bapak silih berganti. Lalu melihat ke arah Kak Rian dan memberi kode untuk meminta bantuannya. Situasi semakin memanas ini.
"Pak, kalau Angga diijinkan untuk melamar Maya, kenapa Leo enggak dikasih ijin untuk mengutarakan maksudnya?" Kak Rian mulai beraksi bak super hero.
"Kamu juga diam! Bapak sudah tau kalau kalian bersekongkol mau membuat Bapak malu ya? Ha..ha..ha.. Bagaimana rasanya jika rencana yang sudah kalian susun berantakan karena Bapak jauh lebih pintar dan bisa menguasai keadaan dibanding kalian?!" Bapak benar-benar marah.
"Maaf, Pak. Kami enggak ada maksud membuat Bapak malu. Bagaimana mungkin aku mau membuat Bapakku sendiri malu? Kami cuma mau Bapak memberikan kesempatan kepada Leo untuk mengutarakan maksudnya. Sama seperti Bapak memberikan kesempatan untuk Angga melamar Maya." Kak Rian masih berdebat dengan Bapak. Tak mudah menyerah rupanya.
"Kamu lagi Rian! Kamu senang melihat adik kamu menderita? Sudah jelas-jelas adik kamu tuh disia-siakan oleh laki-laki ini, kenapa kamu malah membuka jalan mereka untuk kembali bersama?" sekarang Bapak yang gantian mencecar Kak Rian.
"Aku enggak mau Pak melihat Maya menderita. Tapi perpisahan mereka karena kesalahpahaman juga. Kalau memang Maya menderita, kenapa Maya masih mau kembali sama Leo?" tanya balik Kak Rian.
"Kayak enggak tau saja adik kamu tuh sudah dibutakan oleh cinta? Dengan bodohnya percaya sama laki-laki tidak bertanggung-jawab selerti itu. Coba adik kamu membuka matanya lebar-lebar. Liat siapa Angga!"
Pandangan Bapak kini tertuju padaku. Aku seperti sedang disidang dan duduk di kursi pesakitan. Genggaman tangan Leo semakin kurekatkan. Tak peduli tanganku yang berkeringat.
"Selama dia kuliah di Bandung siapa yang menemani? Siapa yang ngejagain? Lalu saat Ia keguguran siapa yang ada disisinya? Apa laki-laki breng sek yang ada di sebelahnya? Bukan! Angga yang selalu setia ada disisinya. Bukannya membalas cinta yang Angga berikan setulus hati eh malah mau rujuk lagi sama orang yang sama. Heran! Kapan sih kamu akan pintar May?"
Mataku mulai memanas. Aku memang terbiasa dibilang oon, tapi selama ini tak pernah di depan orang banyak seperti yang Bapak lakukan. Sakit hatiku.
Banyak yang bilang aku oon, Bu Sri, Bu Jojo, Richard dan Kak Rian juga bilang aku oon. Tapi hanya saat sendiri bukan dibilang bodoh di depan banyak orang apalagi sama Bapak sendiri.
Leo sepertinya paham yang aku rasakan. Saat aku tertunduk diam, Leo menepuk pelan tanganku mencoba memberi dukungan padaku.
"Maya tau kalau Maya tidak pintar dan bodoh seperti yang Bapak bilang. Maya sadar itu. Tapi Maya bisa membedakan mana yang benar-benar sayang sama Maya dan mana yang tidak." jawabku sambil menunduk. Aku berusaha melawan tapi tak berani menatap mata Bapak. Takut nyaliku menciut lagi.
"Kurang sayang apalagi Angga sama kamu? Dua tahu May! Dua tahun Ia menjaga kamu saat di Bandung. Kini Angga datang membawa orang tuanya ingin melamar kamu, bukti kalau kamu wanita yang diinginkan oleh Angga. Seharusnya kamu bersyukur ada laki-laki lajang dengan pekerjaan yang bagus mau melamar kamu yang statusnya sudah...." Bapak tak meneruskan perkataannya.
Aku mengangkat wajahku dan menatap ke mata Bapak. Keberanianku muncul lagi. "Status Maya yang sudah janda, Pak? Hina ya status janda di mata Bapak? Malu Bapak punya anak berstatus janda?" aku bahkan menantang Bapak meski tangan Leo sejak tadi makin menggenggamk erat, mencoba membuatku menahan diri namun aku yang lepas kendali. Aku kesal, sakit hati dan kecewa. Bapakku sendiri yang malu dengan statusku.
"Dengan menikahi Angga setidaknya status kamu bukan janda lagi, May. Kamu nyaman gitu dipandang tetangga dengan sebelah mata hanya karena status kamu?" terdengar sedikit rasa bersalah dalam nada suara Bapak.
"Pak, Maya jadi janda karena Maya tak mau mendengarkan penjelasan Leo dulu. Karena Maya salah paham saat itu. Mendengar Bapak memandang rendah status janda membuat Maya jadi teringat dengan Mamanya Angga yang jelas-jelas telah menghina status Maya yang janda ini. Anak Bapak loh ini yang dihina. Apa Bapak mau Maya punya mertua yang menghina Maya?" aku terpaksa membongkar kejadian kelam dengan Mamanya Angga dulu.
"Maaf, Pak. Istri saya dulu belum mengenal Maya dengan dekat jadi langsung memandang sesuatu berdasarkan gosip yang beredar. Sekarang istri saya sangat menginginkan Maya menjadi menantunya." Bapak Angga menyanggah percakapan kami dengan perkataannya yang dibuat semanis mungkin.
"Kamu diperlakukan begitu May?" kali ini Ibu yang berbicara. Ibu yang sejak tadi hanya diam saja tak terima anaknya diperlakukan seperti itu.
"Betul, Bu. Angga saksinya. Bagaimana Mamanya Angga menghina status Maya yang seorang janda. Bahkan tega mengatakan kalau Maya seharusnya bersyukur kehilangan Adam jadi biaa melanjutkan kuliah dan bekerja di perusahaan seperti sekarang. Apa itu pantas Bu dikatakan kepada sesama wanita?" air mata kini sudah membanjiri mataku. Leo memberikan sapu tangannya dan menepuk bahuku memberi dukungannya.
"Ya ampun Maya.... Ibu enggak akan pernah rela melihat kamu diperlakukan seperti itu. Pantas saja hari ini Mamanya Angga tidak dibawa ke rumah. Ternyata Ia memang tidak mau menerima kamu?" Ibu lalu menatap tajam ke Bapak.
"Pak, Ibu tidak menerima lamaran angga! Ibu tidak mau anak Ibu menderita hidup di kelurga yang bisanya cuma menghina status seseorang. Kalau sampai Bapak mengijinkan maka Ibu juga bisa bersikap tegas sama Bapak!"
__ADS_1
Inilah kehebatan seorang Ibu. Saat anaknya disakiti Ia tak takut untuk mengaum, menantang dengan berani siapapun yang menyakiti anaknya.
Bapak lalu terdiam. Pandangannya berpindah dari Angga, Papanya Angga lalu menatapku.
Ibu tak pernah marah. Ibu selalu sabar dan hanya bisa diam saat aku diusir. Baru kali ini aku melihat Ibu sedemikian murkanya. Meski berbicara sambil menangis namun suaranya membuat siapapun yang mendengarnya langsung terdiam dan menurut.
"Bu, coba berpikir jernih dulu. Ibu tenang dulu. Itu kan yang Maya katakan. Coba kita tanya pada Angga, kejadian sebenarnya kayak gimana." Bapak berusaha membaik-baikki Ibu.
Angga langsung memanfaatkan momen untuk memutar balikkan fakta yang ada. "Mungkin Maya salah paham Pak, Bu. Maksud Mama saya tidak seperti itu. Mama saya berusaha membesarkan hati Maya agar Maya bisa bangkit dari keterpurukan akibat kehilangan anaknya. Kalau belum mengenal Mama memang akan terkesan Mama itu jutek dan ketus, namun Mama aslinya baik dan penyayang. Mama bahkan memikirkan masa depan Maya."
"Maksud kamu ini semua karena aku baper aja? Maksud kamu aku tuh salah paham gitu? Hellow... Aku memang bodoh tapi aku bisa bedain mana yang beneran menghina dan mana yang peduli. Jangan ngarang deh kamu, Ga. Aku enggak nyangka kamu akan berbuat sejauh ini!" aku langsung menyahut. Gatal rasanya mulut ini harus menahan amarah.
"May. Kamu enggak bodoh. Jangan memandang rendah diri kamu. Apalagi didepan orang ini. Aku sejak tadi diam karena aku mau pembicaraan ini baik-baik. Aku datang ke rumah kamu untuk meminta kamu dengan baik-baik sama Bapak kamu. Kamu cukup diam dan berlindung di belakangku. Biar aku yang maju." ujar Leo padaku. Ia menghapus air mataku di pipi dengan lembut.
Leo lalu menatap Bapak. "Pak, saya tahu dulu saya pernah salah langkah. Saya terlalu mencintai Maya sampai tidak mau melepaskannya. Namun saya belajar menghargai keputusan Maya. Bisa saja kami nekad seperti dulu. Maya yang meminta restu Bapak sebagai syarat rujuknya kami."
Leo sekarang kembali menatapku lekat. Ada keseriusan dalam tatapan matanya. "Saya akui jika saya pernah amat menyakiti Maya. Kehilangan Adam adalah rasa sakit terdalam bagi kami berdua. Dan lebih menyakitkan saat mendengar seseorang mengatakan kalau seharusnya Maya bersyukur kehilangan Adam hanya agar bisa melangkah maju."
Kini Leo menatap ke arah Angga dengan tajam. "Mencintai bukan berarti memaksakan perasaan kita. Tepuk tangan bisa terdengar jika kedua tangan saling bertepuk, bukan hanya satu tangan saja yang akhirnya memaksa tangan yang lain untuk ikut menepuk hanya untuk memamerkan suara yang terdengar nyaring saja. Sama halnya memaksa menerima lamaran tanpa seijin Maya. Yang akan menjalani kehidupannya nanti adalah Maya, bukan yang lain."
Leo menatap ke arah Bapak lagi. Kali ini tatapannya penuh dengan keseriusan. "Saya tidak datang sendiri. Keluarga saya sedang dalam perjalanan kesini. Dengan penuh kesungguhan hati saya berniat melamar anak Bapak, Maya Aprilia Putri untuk kembali menjadi istri saya lagi."
Deg.... Merinding rasanya bulu kudukku mendengar perkataan Leo. Suaranya yang tenang melambangkan keseriusan dalam kata-kata yang diucapkannya. Tidak ada emosi di dalamnya. Tenang. Aku tahu Ia amat emosi dengan semua perkataan Bapak dan niat Angga untuk menggagalkan rencana kami.
Aku teringat saat kami menikah dulu. Bagaimana Leo kalau marah amat menyeramkan. Bahkan sampai membanting piring segala.
Diterpa cobaan bertubi-tubi ternyata malah menjadikan Leo sosok yang lebih tenang dan dapat mengendalikan emosinya. Atau mungkin Leo sebenarnya bukan tipikal tempramental? Leo dulu hanya takut kalau Ia akan menjadi monster yang menyakitiku. Ini kah pribadi Leo yang sebenarnya? Leo yang baru kukenal dan membuatku makin terpesona dibuatnya.
Ternyata perkataan Leo tak serta merta merubah keputusan Bapak. Leo belum bisa membuktikan pada Bapak kalau Ia sudah membahagiakanku. Sebenarnya Leo kalah satu langkah dibanding Angga.
Angga sudah membuktikan kalau Ia sudah mendampingiku selama 2 tahun kuliah. Sedangkan Leo menikah denganku saja belum sampai 5 bulan sudah bercerai. Wajar saja Bapak memandang sebelah mata dengannya.
"Apa yang kamu punya? Apakah hal yang kamu miliki lebih hebat dari yang Angga miliki?" Bapak mulai mencari lagi kelemahan Leo dibanding Angga.
"Maksud Bapak?" aku tahu Leo bertanya bukan karena tidak mengerti maksud perkataan Bapak melainkan meminta penjelasan Bapak agar tidak salah menjawab.
"Apa pekerjaan kamu? Apakah lebih hebat dari pekerjaan Angga yang seorang pimpinan perusahaan?" terlihat Bapak menyepelekan Leo.
"Saya... Saya hanya karyawan di bagian audit. Sama seperti Maya." jawab Leo merendah.
Bapak tersenyum meremehkan. Merasa dirinya menang dan diatas angin. "Apa mobil kamu lebih bagus daripada mobil Angga? Kasihan kan anak saya kalau sampai pakai mobil murahan?!"
Ih kok Bapak kayak gitu sih? Sejak kapan Bapak berubah menjadi materialistis seperti itu? Kok aku nggak percaya ya Bapak akan melakukan hal seperti ini. Ini bukan Bapak sesungguhnya, pasti ada yang Bapak rencanakan kenapa sampai membandingkan tentang materi antara Leo dan Angga. Apakah Bapak memang mau membuat Leo mundur sendiri?
__ADS_1
"Maaf Pak, saya belum punya mobil. Mobil yang saya pakai hari ini itu punya kakak saya. Saya pinjam. Nanti rencananya setelah kami menikah mungkin saya akan membeli mobil." jawab Leo jujur. Terlalu jujur malah.
"Yah baru rencana. Belum pasti dong?" sindir Papanya Angga. Ia benar-benar merasa menang dan diatas angin.
Aku menatap sebal ke arah Papanya Angga. Sombong banget sih jadi orang! Dasar aki-aki centil keganjenan!
"Memangnya kamu sudah punya uang untuk membelinya? Lalu kalau mobil nggak ada kamu pasti udah menyiapkan rumah dong untuk Maya? Angga sudah menyiapkan rumah untuk Maya. Apa kamu mengajak Maya tinggal di kontrakan lagi seperti dulu?"
Kenapa sih Bapak malah bersikap merendahkan Leo? Apa Bapak udah dicekoki oleh Papanya Angga sampai Papa bisa berpikir seperti itu?
Leo lalu tersenyum. Ini yang bikin aku heran. Kenapa Leo masih sempat-sempatnya tersenyum menghadapi orang-orang yang nyebelin kayak gini? Aku aja udah mau ngamuk rasanya dari tadi!
"Saya sudah menabung untuk membeli rumah, namun untuk sementara kami mungkin tinggal di rumah orang tua saya dulu karena nggak ada orang dan kalau memang Maya enggak mau kita bisa ngontrak lagi seperti dulu. Sampai rumah kami sudah jadi tentunya."
"Baru mau nyicil rumah? Kapan selesainya? Beli cash dong! Gimana mau bahagiain Maya kalau belinya tunggu utang lunas?" lagi lagi Papanya Angga mengompori dan berkata amat sombong.
Ternyata Papa dan Mamanya Angga sama saja. Sama-sama nyebelin. Dan sama-sama sombong dan tukang pamer ternyata!
"Mungkin saya tidak bisa langsung membeli cash. Tapi saya membelinya dengan hasil kerja keras saya sendiri. Itu bukti kalau saya memang benar-benar dari hati ingin membahagiakan Maya."
Kini air mataku sudah kering. Berganti dengan senyum bahagia. Aku makin yakin dengan pilihanku. Oppa kamu pasti bisa!
Bapak mulai kehabisan pertanyaan. Jawaban yang Leo berikan sejak tadi selalu memuaskannya. Bingung mau bertanya apa lagi.
"Kalau seandainya saya tetap menerima lamaran Angga bagaimana?" tanya Bapak lagi. Sepertinya ini pertanyaan sakti karena Leo harus memikirkan jawabannya dahulu.
"Angga, pertanyaan yang sama juga saya ajukan sama kamu!" Bapak sekarang menatap Angga. "Bagaimana kalau saya menerima lamaran Leo bukan lamaran kamu?"
Angga tak siap ditanya seperti itu. Ia menjawab dengan cepat dan penuh percaya diri. "Hal itu tidak akan terjadi, Pak. Karena saya yang lebih membahagiakan Maya."
Kini Bapak menatap ke arah Leo. Meminta jawaban Leo.
"Kalau Bapak menerima lamaran Angga dan Maya menyetujuinya. Dan jika Maya lebih bahagia dibanding jika Ia bersama saya, maka saya akan mengikhlaskan kepergian Maya." jawab Leo yakin.
Loh kok Leo semudah itu menyerahnya? Gimana sih?
Suara ramai dari depan rumah membuyarkan suasana yang semula sunyi dan serius. Semua menengok ke luar.
"Kamu sih kebanyakan selfi!"
"Bukan aku, Mama tuh minta difotoin!"
Itu kan suara Kadal Buntung dan Bapake Buntung. Mereka beneran datang?
__ADS_1
*****
Ayo nungguin Up ya? Nungguin Up tapi votenya kendor, gimana dong? Aku suka baca komen kalian yang minta Up lebih dari 1 bab. Maaf banget aku kalau bisa juga sudah Up lebih banyak. Aku banyak kesibukan. Nah sekarang kalau votenya kendor aku upnya kendor juga ya? bodo amat dibilang maksa 🤣🤣🤣