Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Poker Face


__ADS_3

Jam 08:25 waktu di mesin absen. Aku dan Leo hanya selisih beberapa detik saja. Kami pun masuk ke dalam ruangan dan mendapati sorot mata penuh pertanyaan dari penghuni bagian Audit.


"Pagi Pak. Pagi Kak!" aku dan Leo menyapa Pak Johan, Kak Anggi dan Kak Fahri yang ternyata sudah ada di ruangan.


"Tumben banget kalian telat? Dan kenapa kalian bisa berangkat bareng?" tanya Pak Johan. Makij menaruh curiga saja Ia denganku dan Leo.


"Tadi kami bareng Pak berangkatnya. Maya biasa di drop sama Kakaknya di dekat rumah saya lalu barengan deh sama saya ke kantornya. Kebetulan banyak galian pipa air dan listrik Pak jadi macet banget jalanannya." Leo kalau bohong bisa lancar jaya seperti itu. Patut diwaspadai nih. Jangan sampai Ia seperti itu sama aku.


"Ya sudah lanjutkan pekerjaan kalian." Pak Johan mempersilahkan kami untuk duduk di kursi masing-masing.


"Kalian tuh ya kemana-mana berdua terus. Awas naksir loh! Nanti jatuh cinta lagi. Eh tapi di kantor kita ada peraturan enggak sih kalau sesama rekan kerja tidak boleh menikah? Harus ada yang mengalah dan resign kayak di kantor lain?" Kak Anggi bertanya pada Kak Fahri. Pak Johan terlihat hanya mendengarkan saja sambil pura-pura bekerja.


"Hmm... Kayaknya enggak ada sih Gi. Itulah enaknya disini. Bebas untuk jatuh cinta." jawab Kak Fahri.


"Kata siapa? Kalau saya sih jika di bagian ini ada yang menikah lebih baik pindah bagian saja! Jangan dua-duanya disini. Nanti masalah rumah tangga dicampuradukkan dengan pekerjaan lagi!" Pak Johan ikut nimbrung dengan percakapan kami.


Sekarang baik Kak Anggi maupun Kak Fahri tak ada yang membahas lagi tentang pernikahan. Seakan kena skak dari Pak Johan. Dilarang dengan tegas.


Aku juga mengkhawatirkan hal tersebut namun Leo sepertinya santai saja. Yaiyalah, diakan yang memimpin perusahaan ini. Meskipun sembunyi-sembunyi tetap saja keputusan Leo memiliki ketetapan hukum. Mutlak adanya.


Suara dering telepon milik Pak Johan membuat mereka bisa bernafas sedikit. Ternyata Pak Johan ditelepon sama Papa Dibyo yang meminta laporan hasil audit bulan lalu.


"Anggi, tolong kamu print laporan hasil audit bulan lalu beserta data penunjangnya. Saya diminta Pak Dibyo sekarang juga." perintah Pak Johan.


"Hah? Ada Pak Dibyo, Pak? Pak Dibyo balik kerja lagi disini?" tanya Kak Anggi memastikan pendengarannya takut ada salah tafsir.


"Memangnya kapan beliau pernah berhenti? Selama ini terus mengawasi kok. Apalagi orang suruhannya si Mr. So, enggak tau yang mana orangnya tapi main kasih perintah saja. Kayak yang paling tau tentang perusahaan saja!" semakin Pak Johan menggerutu, semakin aku menaruh curiga dengannya.


Kenapa Pak Johan sepertinya sangat sentimen dengan keluarga dan orang kepercayaan Papa Dibyo? Kok kayak enggak senang ya kalau Leo yang memimpin perusahaan dengan memakai nama Mr. So? Apa Pak Johan berharap posisi Mr. So dilimpahkan padanya?


Kak Anggi tak membahas lagi. Ia bisa menebak kalau Pak Johan sedang emosi saat ini. Kalau salah menjawab bisa kena semprot Ia nanti. Kak Anggi lebih memilih mengerjakan tugas yang diperintahnya.


Aku juga berkutat dengan pekerjaanku. Tapi konsentrasiku buyar. Perutku keroncongan. Semalam hanya makan ramyun sedikit saja. Lalu harus melayani Leo sampai dua kali. Gimana aku enggak laper coba?


Aku memegang perutku yang mulai berbunyi. Leo sepertinya melihat apa yang aku lakukan. "Kamu lapar?" tanya Leo tanpa bersuara. Hanya gerakan bibir saja yang memberikan isyarat kepadaku.


Aku lalu menjawabnya dengan anggukan. Lalu Ia juga bilang, "Sarapan aja dulu."


Aku lebih memilih untuk menunggu Pak Johan pergi terlebih dahulu dari ruangan. Enggak enak. Udah datang siang, baru datang langsung sarapan di ruangan. Kayak enggak tau aturan saja.


Setelah Pak Johan pergi menghadap Papa Dibyo, aku langsung mengeluarkan Tupperware berisi sarapan pagiku.


"Baru sarapan May?" tanya Kak Fahri.


"Iya, Kak. Tadi kesiangan jadi enggak sempat sarapan dulu. Makanya sekarang Maya laper banget Kak." aku memakan sarapan milikku.


"Kamu nggak makan Leo? Kamu kan juga belum sarapan. Nanti kamu sakit maag loh." aku memberikan tupperware yang kubawa untuk sarapan Leo. Aku sampai lupa kalau di ruangan tak hanya ada kami berdua saja, melainkan ada Kak Fahri dan Kak Anggi juga.


"Kalian pacaran ya?" tebak Kak Anggi.

__ADS_1


"Eh... Enggak, Kak." aku mengelak, terpaksa berbohong daripada ribet urusannya. Pak Johan sudah memberikan ultimatum kalau tidak boleh sampai ada yang menikah lalu masih bekerja satu bagian, di bagian audit tentunya.


"Jangan bohong deh. Takut ya kita laporin ke Pak Johan? Tenang aja. Kita bisa jaga rahasia kok. Aku juga enggak setuju dengan peraturan yang Pak Johan buat. Jelas-jelas perusahaan enggak masalah jika karyawannya ada yang menikah. Berarti enggak masalah dong? Kenapa juga harus dibikin sulit?" ini curahan hati Kak Anggi. Atau mungkin Kak Anggi dan Kak Fahri pacaran?


"Kakak berdua juga pacaran ya?" tebakku.


Kak Anggi dan Kak Fahri langsung gelagapan. Panik. "Eng....Enggak kok." jawab Kak Fahri terbata-bata.


Aku tertawa ngakak dibuatnya. "Ketahuan banget tau Kak. Semakin grogi, semakin kelihatan jelas bohongnya ha...ha...ha..."


"Kamu bantuin aku ngomong dong!" Kak Anggi memukul pelan lengan Kak Fahri.


"Kalau aku ngomong malah makin kelihatan bohongnya, Gi. Udah aku diem aja. Aku kan enggak bisa bohong." kata Kak Fahri beralasan.


"Udah ah aku mau sarapan. Kakak mau?" aku menawari roti bakar buatanku.


"Enggak usah May. Makasih." tolak Kak Anggi dan Kak Fahri kompak.


Siangnya Leo menarikku ke kantin. Rupanya Ia kelaperan karena hanya sarapan roti satu tangkup saja. Maklum anak laki-laki makannya banyak, apalagi semalam habis bertempur. Butuh banyak asupan nutrisi.


"Tumben kalian udah duluan dan nempatin tempat duduk, biasanya aku dan Aldy." Ana menaruh nampan yang Ia bawa lalu duduk di depan Leo persis. Masih saja Ana usaha mendekati Leo.


"Laper. Makanya jam 12 teng langsung ngacir ke kantin." jawab Leo sambil mengunyah makanannya. Beneran kelaperan nih anak.


"Yaudah nih mau punya aku? Aku kebanyakan kalau makan sendiri. Kalau kamu mau ambil aja." mulai lagi deh Ana melancarkan aksinya menggoda suami orang.


Kalau kemarin mungkin aku akan diam saja karena status Leo hanya seorang duda dan bukan siapa-siapaku. Namun sekarang keadaannya sudah beda. Leo suamiku sekarang.


Wah enggak bisa dibiarkan nih. Perselingkuhan itu bisa terjadi bukan karena ada pelakor tapi karena si pelaku dikasih kesempatan. Ibaratnya tangan tuh enggak bisa bertepuk tangan kalau tidak dengan tangan yang lain.


Selingkuh juga sama, kalau pelaku dan pelakor memang sepakat menjalin hubungan baru deh tercipta perselingkuhan. Jadi harus dibasmi dari akarnya.


"Oppa, ini! Katanya kamu mau makan punya aku. Nih aku kasih kamu ya. Biar kamu enggak lapar lagi." Aku memberikan sebagian makanan dari nampanku ke Leo.


"Oppa?" tanya Ana dan Aldy kompak.


Leo bukannya menjawab mereka malah menghentikan tanganku untuk memberikannya makanan lagi. "Madam, udah cukup ya. Kenyang kalau kebanyakan. Madam juga makan ya biar kuat. Oke?"


"Madam?" tanya Ana dan Aldy lagi dengan kompak.


"Siap, Oppa." jawabku sambil bermanja-manja ria.


Ana yang sadar lebih dahulu dari kagetnya. "Kalian pacaran ya? Kok punya panggilan mesra gitu?!" Ana cemberut. Tampak tak suka dengan apa yang aku dan Leo lakukan.


"Ya mesra lah. Maya sama aku aja manggilnya Kakanda. Iya kan Adinda?" Richard yang baru datang membawa nampan langsung duduk dan ikut bergabung dengan percakapan kami.


"Ih apaan sih?! Ikut campur aja! Aku tuh lagi nanya sama Leo, bukan sama kamu!" sungguh apes nasib Richard, baru datang sudah kena semprot sama Ana.


"Lidya mana Cat?" Leo bukannya menjawab pertanyaan Ana malah menanyakan hal lain pada Richard. Membuat Ana makin bete saja dibuatnya.

__ADS_1


"Ih Leo mah kan aku yang nanya duluan sama kamu! Kenapa malah nanya hal lain sama Richard sih? Nyebelin deh!" Ana merajuk dengan suara manjanya yang dibuat-buat.


Makin sebal aku kalau ada cewek yang kecentilan apalagi depan suami aku sendiri. Walaupun sekarang Leo tidak tergoda bukan tidak mungkin kalau nanti jika Ana terus-menerus menggodanya membuatnya menyerah.


"Kenapa aku harus jelasin sesuatu yang udah pasti sih Na? Kan udah dijelasin semua hal. Kamu bisa lihat sendiri apa yang sudah terjadi." Leo menjawab sebelum aku sempat mengutarakan isi pikiranku dan unek-unekku pada Ana.


"Beneran kalian udah jadian?" Ana menanyakan sekali lagi. Mungkin Ana masih berharap kalau apa yang dikatakan Leo hanya sekedar untuk mengerjainya saja.


Baik Leo maupun aku tidak ada yang menjawab pertanyaan Ana. Benar apa yang Leo bilang, nggak penting. Kenapa kita harus menjelaskan semuanya sama Ana? Memangnya Ana tuh siapa?


"Kenapa sih kalian nggak ada yang mau ngejawab pertanyaan aku? Apa salahnya sih kalian jawab pacaran atau belum? Aku kan cuma mau tahu aja." Ana mulai baper.


"Aku sama Maya enggak pacaran, Na." jawaban Leo membuatku spontan memelototinya. Apa Leo mau menyembunyikan hubungan kami? Apa maksudnya? Apa mau tetap terlihat single gitu?


Leo lalu mengangkat tangan kananku dan menunjukkan cincin di jari manisku. "Hubungan kami lebih dari pacaran."


Aku menatap Leo karena tak percaya dengan apa yang Ia ucapkan. Leo beneran mem-blow-up hubungan kami? Di depan semuanya?


Kenapa enggak bilang saja kalau kami memang berpacaran? Ini malah membuat keadaan makin kacau kayaknya.


"Maksudnya? Kalian...." Ana tak mampu melanjutkan lagi perkataannya. Mungkin tenggorokannya tercekat sampai kata-kata tak bisa keluar dari mulutnya?


Leo mengangguk yakin. Jawaban Leo membuat wajah Ana yang awalnya emosi berubah jadi pucat pasi.


Pandanganku beralih dari Ana ke Lidya yang sejak tadi hanya duduk diam dan mengacak-acak makanannya tanpa dimakan.


Lidya datang tak lama setelah Leo menanyakan dimana keberadaannya. Tapi Lidya sekarang berbeda. Ia sejak tadi hanya datang, menaruh nampannya dan menunduk tanpa mau menyapa kami.


Kayaknya Lidya ikut join makan karena formalitas saja. Tidak ada temannya di kantor ini, mungkin sedang ke restoran dan Ia ditinggal disini untuk jaga kantor.


Aku melirik ke arah Richard. Tampak Kakandaku sedang asyik makan dengan lahapnya. Entah karena ketidakpekaan terhadap perasaan seorang wanita atau Ia memang sengaja melakukannya?


Aku menendang kaki Richard dengan sebelah kakiku. Membuat Richard tersentak kaget. "Apaan sih May? Kalau aku latah nanti aku bilang gini 'Eh ayam eh ayam...'"


Ini apa lagi. Enggak jelas deh. Aku memberi isyarat lewat mataku yang mengarah ke Lidya. Maksudnya biar Richard menghibur kekasihnya tersebut, eh udah pacaran belum ya mereka?


"Biarin aja May. Kadang tuh hidup harus bisa menerima sesuatu yang di luar kekuasaan kita. Contohnya masalah hati. Enggak ada yang bisa memaksa." Richard lalu melirik ke arah Ana. "Kamu, Na. Ikhlasin aja Leo sama Maya. Mau kamu PDKT kayak gimana juga Leo cintanya cuma sama Maya. Udah ada garis jodohnya sendiri."


"Ih apaan sih ikut campur aja!" Ana sewot dengan nasehat yang Richard berikan.


"Bukan ikut campur. Perempuan tuh harus ada harga dirinya. Jangan ngejar-ngejar laki-laki sampai sebegitunya. Justru perempuan tuh yang dikejar-kejar sama laki-laki! Apalagi kalau yang dikejarnya laki-laki yang sudah beristri. Itu lebih salah lagi." Richard asyik memberi nasehat sambil makan pisang sunpride pencuci mulut hari ini. Gayanya santai kayak di pantai.


"Sok tau! Kapan aku ngejar-ngejar laki-laki beristri? Memangnya salah kalau aku suka sama Leo? Enggak kan? Lalu kamu sok ceramah kayak hidup kamu udah paling bener aja. Kamu aja cinta bertepuk sebelah tangan sama Maya dan Lidya. Kalau kamu sudah berhasil dengan urusan percintaan kamu baru ceramahin aku!" Ana tak kalah membalas perkataan Richard.


"Kalau sama Maya aku memang kalah, lebih tepatnya mengalah. Enggak mungkin kan saingan sama adik sendiri. Dan kalau Lidya.... Kita cuma berteman aja. Segala yang terjadi di masa lalu biarkan saja berlalu. Iya kan Lid?"


Sungguh berani Richard. Ini sama aja kalau Ia tidak menganggap Lidya sebagai perempuan yang paling Ia puja lagi. Aku pikir mereka akan jadian eh ternyata mereka memutuskan berteman saja toh?


"Iya. Aku sama Richard hanya berteman. Sama seperti kamu, Na. Aku juga patah hati kok mendengar hubungan Maya dan Leo. Tapi aku bisa apa? Aku lebih memilih berdamai dengan hatiku. Berharap saja hubungan Maya dan Leo akan membuat Leo bahagia. Karena mencintai berarti ingin orang yang kita cintai itu bahagia bukan? Kalau hanya sekedar memiliki itu bukan mencintai tapi obsesi. Aku belum sampai dalam tahap seperti itu." jawaban Lidya membuatku langsung menyunggingkan senyum kearahnya dan mengacungkan dua buah jempol padanya. Lidya balas tersenyum padaku.

__ADS_1


Lidya sudah beres. Selanjutnya Ana yang makin terlihat kesal dengan jawaban dari Richard dan Lidya.


"Kamu senang ya May? Kamu merasa menang dari aku? Kita enggak tau apa yang akan terjadi di masa depan, May. Bisa saja senyum di wajah kamu berubah menjadi air mata." Ana memasang poker face di wajahnya. Aku makin tidak mengenal siapa Ana. Ada berapa banyak wajah yang Ia sembunyikan? Entahlah, tapi yang jelas Ia sudah membuka salah satu wajahnya di depan Leo.


__ADS_2