
Maya
Sejak Kakanda memegang perusahaan, kesibukan Leo mulai berkurang. Baguslah. Jadi kami bisa menghabiskan waktu bersama Aydan.
Kami bahkan bisa berbulan madu, lagi. Tapi kali ini mengajak Aydan dan keluarga besarku. Bapak dan Ibu, Kak Anton dan Kak Anne istrinya, juga Kak Rian yang patah hati tak berkesudahan semenjak Adel menikah dengan Richard.
Kami memutuskan ke Bali. Yang dekat namun semua yang kami inginkan ada disana. Aydan sudah berusia 3 bulan. Sudah bisalah ya diajak jalan-jalan.
Yang namanya honey moon pasti diisi dengan ngamar dan ngamar. Aydan seakan memberi ruang padaku dan Leo untuk meneguk indahnya percintaan panas kami yang membara.
Jika Ibu dan Bapak tidak menelepon kamar kami, pasti kami tak mau keluar dan meneruskan mencoba berbagai gaya yang Leo lihat di video xxxx yang Ia download. Aku dan Leo terpaksa ikut keluar kamar dan menunggu Bapak dan Ibu di dekat kolam renang sebagai tempat janjian.
"Nanti malam aja kita coba yang modelnya Jepang ya!" bisik Leo.
"Kenapa enggak yang modelnya China aja?" tawarku.
"Enggak ah. Lebih seru yang Jepang." balas Leo.
"Kalian ngapain sih?!" aku dan Leo kaget saat Kak Rian menyapa dari belakang.
"Ih Kak Rian ngagetin aja!" omelku. Untung saja Aydan anak yang anteng. Ia tetap tenang di gendonganku. Nih anak Leo banget. Anteng. Kalau miripku waduh.... Bisa rusuh!
"Kalian lagi ngomongin masalah ranjang ya? Wah parah! Enggak jaga perasaan banget!" Kak Rian pura-pura ngambek.
"Makanya Kak. Move on! Adel saja udah nikah dan bahagia dengan Kakanda. Kakak kapan?" tanyaku.
"Entahlah! Jodoh enggak ada yang tahu. Bisa aja ada yang jatuh dari langit." baru beberapa detik Kak Rian bicara tiba-tiba..
Brukkk
Sebuah benda jatuh ke atas muka Kak Rian. Benda yang entah darimana datangnya. Apa mungkin dari langit?
Kak Rian menyentuh benda berwarna pink dengan merk La Senza berukuran 36 C dengan agak geuleuh.
"Maaf, Mas! Saya ambil ke bawah ya!" teriak seorang perempuan.
Aku dan Kak Rian saling pandang. "Beneran jatuh dari langit Kak!" ujarku.
"Sst! May! Itu sizenya lumayan gede loh!" ujar Leo menambahkan.
"Masih gedean aku kan?" tanyaku.
Leo langsung mengangguk. "Tentu dong. Kan aku yang membuat punya kamu makin membesar." kata Leo dengan bangganya.
"Ih stress kalian berdua! Laki bini kenapa sama-sama gesrek begini?" ujar Kak Rian. "Nih pegang May!"
Aku mengelak saat Kak Rian hendak memberikan Bra tersebut padaku. "Ih ogah! Kak Rian pegang aja sendiri! Aku sibuk megang Aydan nih!" tolakku.
"Ya masa sih aku yang pegang? Mana warnanya gonjreng banget lagi kayak gini!" Kak Rian lalu memberikannya pada Leo. "Kamu aja yang pegang Yo!"
Leo pun menghindar dengan gesitnya. "Aku sih mau aja pegang Kak. Aku bisa cium wanginya dulu malah. Tapi Adik Kakak lebih nyeremin. Resiko tingkat tinggi kalau aku melakukannya!" tolak Leo.
"Apaan kamu mau cium-cium punya orang?!" omelku seraya memelototi Leo.
"Enggak kok Madam! Itu becanda doang!" elak Leo.
"Ih kalian berdua ya! Ngeselinnya tingkat dewa banget!" omel Kak Rian yang terpaksa memegang benda keramat itu.
Tak lama seorang perempuan pun turun. Wajahnya cantik. Putih dan berwajah oriental. Ia datang dengan malu-malu dan merasa tak enak hati.
"Maaf, saya mau ambil barang saya!" ujar cewek tersebut.
"Tapi Mbaknya beda sama yang tadi teriak!" protes Kak Rian. Ternyata Ia menjaga benda keramat itu dengan sepenuh hati.
"Hmm... Itu adik saya. Dia saya suruh jemur di kamar mandi eh malah dijemut di balkon. Jadi deh terbang. Maaf banget Mas. Kalau Mas enggak percaya saya bisa telepon adik saya." aku yakin apa yang dikatakan oleh cewek tersebut benar adanya.
"Kak! Kasih! Itu beneran punyanya!" kataku setelah melakukan screening dan memantau ternyata ukurannya sama besar dengan bra yang Kak Rian pegang.
"Nih. Jangan jemur sembarangan lagi!" omel Kak Rian.
"Iya. Makasih ya Mas!" cewek itu pun mengambil bra miliknya dan pergi dengan wajah merah merona.
****
Bapak dan Ibu mengajak kaminke Kreshna, membeli oleh-oleh untuk tetangga di kampung. Aku yang sudah menitipkan keranjang berisi oleh-oleh yang mau kubeli pada Kak Rian lalu pergi ke bagian souvenir.
Macam-macam bentuk aneh souvenir ada disana. Aku mengambil sebuah dan menunjukkannya pada Leo.
"Mau ngapain kamu pegang souvenir berbentuk alat kelamin pria itu? Kan ada aku!" ujar Leo.
"Bukan buat kamu Sayang. Buat Kakanda!" aku mengambil 5 buah dan memasukkannya dalam keranjangku yang masih kosong.
"Ngapain banyak-banyak?" protes Leo.
__ADS_1
"Biarin! Kakanda harus kubalas karena bikin Adel sedih melulu!" ujarku. Namun karena lengah keranjangku jatuh saat ada yang menyenggolnya. Jatuhlah isi keranjangku.
Aku melihat siapa yang menabraknya. Ternyata cewek yang tadi branya jatuh. Oh my God...
"Maaf Mbak. Eh kita bertemu lagi!" ujarnya seraya memunguti souvenir milikku yang jatuh. Ia memungutnya dengan tangan seperti jijik. Bisa kupastikan Ia belum menikah.
"Biar aku aja! Kamu belum terbiasa! Kalau udah terbiasa megangnya kayak gini nih!" aku memamerkan kemampuanku.
"Sayang!" Leo menegurku seraya mengajak Aydan bicara.
"Maaf. Eh kita belum kenalan." aku mengulurkan tanganku. "Maya!" ujarku.
"Sari." Ia menyambut uluran tanganku.
"May, ada yang mau kamu beli lagi enggak?" tanya Kak Rian yang tiba-tiba muncul. "Ih ngapain beli gituan?"
"Buat Kakanda." aku menggabungkannya dengan keranjang yang Kak Rian bawa.
"Inget melulu sama dia! Ngapain coba!" gerutu Kak Rian.
"Kata siapa inget Kakanda terus. Aku juga inget sama Kak Rian kok. Buktinya aku udah nanyain namanya mbak ini." aku menunjuk Sari yang agak bingung.
"Kapan aku-" kuinjak kaki Kak Rian sebelum Ia bicara panjang lebar.
"Ayo Kak kenalan. Sari ini juga masih single kayak Kakak!" aku menarik tangan Kak Rian dan menyuruhnya mengulurkan tangan duluan.
"Rian." ujar Kak Rian setengah terpaksa.
"Sari." jawab gadis cantik berwajah oriental tersebut. Dengan gugup Sari membalas uluran tangan Kak Rian.
"Sari tinggal di Bali?" tanyaku setelah Sari melepaskan uluran tangannya.
"Oh enggak. Aku tinggal di Jakarta." jawab Sari.
"Oh ya? Dimananya? Aku di Pasar Minggu." jawabku. "Kalau Kak Rian ngekost dekat Benhill sekarang."
"Ish May! Dia enggak nanya tau!" sikut Kak Rian padaku.
Sari mengu lum senyum melihat interaksiku dengan Kak Rian. "Kalian akrab sekali ya!"
"Oh iya. Kak Rian tuh Kakak yang baik. Juga calon suami yang baik!" aku mempromosikan Kak Rian tanpa persetujuannya. Benar saja aku mendapat pelototan matanya.
"Bisa aja! Ha...ha....ha..." Sari tertawa, gigi kelincinya terlihat dan membuat tawanya amat menarik perhatian. Kulirik Kak Rian, Ia sepertinya setuju dengan pemikiranku.
"Boleh minta nomor Hp kamu?" aku menatap Kak Rian tak percaya. Ternyata Ia lebih garcep lagi dariku.
"Nanti di Jakarta mau kan kalau aku ajak nongkrong di salah satu kedai kopi?" ajak Kak Rian.
"Tentu. Kabarin aja! Aku duluan ya. Adikku sudah menunggu!" Sari melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan kami.
Aku dan Leo saling tatap. "Garcep banget nih! Baru liat Sari tersenyum aja langsung agresif! Lupa kalau belum move on dari Adel?" ledekku.
"Udah ah jangan bawel. Mungkin Sari adalah jodoh yang dikirim Allah dari langit?" ujar Kak Rian sambil tersenyum.
"Yang dikirim Allah tadi tuh bukan jodoh, Kak. Tapi bra! Bra warna pink! Baru sebentar aja udah lupa!" kataku.
"Terserah. Yang penting Kakak udah dapet nomornya!" Kak Rian lalu melihat ke arah Leo. "Leo, nih bayar oleh-olehnya! Biar aku yang gendong Aydan."
Kak Rian mengambil Aydan dari gendongan Leo. "Lebih enteng gendong Aydannya Om ya daripada suruh bayar oleh-oleh. Iya kan Aydan?" Kak Rian malah mengajar Aydan ngobrol dan bersekutu.
"Ih licik banget!"
***
Sebulan Kemudian
Aku sebenarnya malas hadir di acara resepsi, mual sekali rasanya hamil kali ini. Sudah 3x hamil masih saja belum terbiasa dengan mualnya.
Untung saja ada Bu Sri yang membawakanku asinan kacang skippy yang sedikit menghilangkan rasa mual. Acaranya membosankan. Keseringan menghadiri pertemuan dan pesta di kantor Leo membuat minatku terhadap pesta seperti ini memudar.
Aku jadi teringat pesta pernikahanku yang tak pernah bisa kulupakan seumur hidup. Sebuah ide tercetus di kepalaku.
Kulirik Adel dan Richard yang sedang ke ruang ganti. Rasa mualku hilang saat aku menemukan ide ini.
"Bu Sri! Bu Jojo!" panggilku.
"Kenapa May?" tanya Bu Sri yang asyik memakan puding.
"Kamu mau makan apa? Nanti saya ambilin." ujar Bu Jojo yang sedang memakan kambing guling.
"Bu. Maya bosen. Kita ubah yuk pesta membosankan ini jadi pesta yang asyik!" ajakku.
Aku melirik kiri dan kanan. Suamiku sedang mengobrol dengan salah satu rekan bisnisnya. Kak Rian yang sebelumnya mengobrol dengan Lidya kini kembali menemani Sari.
__ADS_1
Ya, mereka bahkan sudah berpacaran. Belum kenal sebulan mereka berniat pacaran dan akan ke pelaminan. Mungkin sudah cocok satu sama lain. Baguslah.
Situasi aman. Enggak ada yang mengawasiku. "Bu, kita ubah tema pesta membosankan ini menjadi panggung musik dangdut. Ibu setuju enggak?"
"Yang bener May? Enggak bakalan diomelin?" Bu Sri agak ragu. Ia takut dianggap biang rusuh, padahal memang dia biangnya biang.
"Enggak! Udah aku yang ngomong sama Diva-nya ya."
"Kita mah siap aja." ujar Bu Sri dan Bu Jojo kompak.
Aku lalu menghampiri Diva terkenal yang sedang minum air mineral. Ia mengenalku karena aku datang bersama Mama saat mengurus pernikahan Adel.
"Wah Bu Maya! Mau request lagu Bu?" tanya Djva cantik tersebut.
"Mbak, aku boleh minta lagu dangdut enggak? Aku ngidam mau denger mbak nyanyi dangdut nih!" kupasang mata puppy eyesku sambil mengelus perutku yang masih rata.
"Bu Maya sedang hamil toh! Mau lagu apa Bu?"
"Lagu Belah Duren. Boleh ya?" pintaku dengan memelas.
"Tentu aja Bu. Buat Ibu hamil apa sih yang enggak?"
"Tapi nanti Mbak tolong ajak mertua saya Pak Dibyo dan Bapak saya Pak Bambang untuk tuun ya." pesanku.
"Iya. Siap Mbak."
Setelah mengucapkan terima kasih, aku pun kembali ke samping Leo yang kini sudah menggendong Aydan yang baru terbangun dadi tidurnya.
"Kamu ngapain?" Leo menatapku penuh curiga.
"Ada deh." aku memberi kode pada Bi Sri dan Bu Jojo.
"Selamat malam para tamu yang hadir. Sesuai permintaan dari Ibu Maya yang sedang ngidam. Bolehkah saya menyanyikan lagu dangdut?" tanya Sang Diva.
"Boleh." jawab tamu yang hadir.
"Boleh Pak Dibyo Kusumadewa?"
Papa Dibyo mengacungkan jempolnya.
"Kalau boleh, Bapak turun dong kesini!" pinta Sang Diva. Setelah minta ijin sama Mama, Papa pun turun. Papa malah menarik Bapak ikut serta.
Musik dangdut pun mengalun.
🎶 Makan duren di malam hari
Paling enak dengan kekasih
Dibelah Bang.... Dibelah...
Enak Bang silahkan dibelah...🎶
Musik dangdut membuat banyak yang tertarik untuk ikut bergoyang. Para pengusaha dan orang penting pun ikut bergabung dengan alunan musik dangdut.
"Kamu jangan ikutan! Inget ada anak aku di perut kamu!" Leo sudah membatasi gerakku sebelum aku ikut bergabung.
Aku hanya bisa menatap puas. Semua menikmati pesta. Adel dan Richard yang sempat terkejut pun ikut menikmati pestanya.
****
Setahun Kemudian
Keluarga besar Dibyo Kusumadewa akan melakukan sesi foto bersama. Semua wanita memakai dress warna merah dan laki-laki memakai setelan jas.
Aydan juga memakai setelan jas loh. Mama Lena yang buatkan untuk semua anggota keluarganya. Harus kompak. Begitu pesan Mama.
"May, Aydan dielap dulu itu cokelat di bibirnya!" pesan Mama Lena.
"Dina, kesini! Jangan manjat-manjat tangga!"
"Radit, jangan liatin mbak modelnya terus!" Mama bahkan mengomeli Radit anaknya Kakanda yang kecil-kecil udah tebar pesona terhadap model yang juga pemotretan di studio ini.
"May, pegang bayinya yang bener! Nanti kecengklak!" kena juga aku diomelin.
Dan kerempongan keluarga ini pun terbayarkan dengan hasil fotonya yang memuaskan. Semua terlihat tersenyum bahagia disana.
*****
Hi semua...
Maaf ya boncap ini lama banget rilisnya. Semoga mewakili pertanyaan tentang Kak Rian dan siapa jodohnya serta bagaimana keluarga Maya selanjutnya.
Untuk yang masih ngukutin karyaku, yuk kita berpetualang di kisah cinta Shanum dan Sandy yang terdampar di tahun milenium. Kayak gini nih:
__ADS_1
Dijamin enggak kalah serunya loh! Jangan lupa mampir dan add favorit ya... Makasih semuanya.... Luv u all 😘😘😘