
"Sah!"
"Sah!"
Aku terharu mendengarnya.
Ini bukan yang pertama kalinya dalam hidupku.
Tapi ini yang pertama kali aku dinikahkan dengan Bapak sebagai orang yang menikahkanku.
Air mata langsung merembes dan menetes di wajahku. Untungnya ada tissue yang memang disediakan di meja akad nikah. Aku ambil tissue dan kuhapus air mata haru.
"Udah Neng, nangisnya belakangan. Cium tangan dulu sama suaminya!" ledek Pak Penghulu.
"Iya, Pak." kataku dengan suara serak.
Aku menyambut uluran tangan Leo, lelaki yang kini menjadi suami... lagi. Kucium tangannya, berharap kelak surga akan Ia ridhoi untukku.
Leo tersenyum diantara matanya yang juga memerah menahan tangis. Ia lalu memajukan tubuhnya dan mencium keningku.
Indah....
"Udah cium-ciumannya nanti malam aja. Sekarang cium tangan kedua orang tua dulu sana!" nih kenapa Pak Penghulunya jahil banget sih? Ada apa dengan orang-orang disini? Baru nyium bentar udah disuruh udahan.
Heran!
Kalo di luar negeri malah sampai ciuman bibir dan ciumannya sampai melintir-melintir. Ini baru cium kening aja udah dipisahin. Iri bilang boss!
"Yeh Si Eneng mukanya sebel sama saya. Sabar atuh Neng. Saya masih ada jadwal nikahin orang lagi. Kalo bukan permintaan Pak Bambang mah saya tolak Neng minta nikah dadakan begini. Sekarang Neng minta sungkem sama orang tua sana. Doa orang tua akan membuat jalan hidup berumah tangga kita semakin mudah. Ridho orang tua, ridho allah juga. Bukan Ridho Roma Irama loh ya." yaaah... apaan sih nih penghulu?
"Habis itu minta maaf sama saya ya Pak. Saya udah dilangkahin. Dua kali lagi. Gimana saya mau dapet jodoh cepet kalo dilangkahin terus?" ini lagi Richard enak banget nyeletuk.
Daripada makin banyak yang protes akhirnya aku dan Leo menghampiri Ibu dan Bapakku terlebih dahulu. Kulihat Leo dipeluk Ibu dengan akrab dan dibisikkan sesuatu di telinganya. Mungkin wejangan untuk membahagiakanku.
Aku mencium tangan Bapak yang berwarna legam terbakar matahari. Tangan yang sudah menghidupi selama ini. Tangan yang selalu menjadi pelindung di setiap hari-hariku.
Kini tanggung jawab Bapak akan berpindah pada Leo suamiku. Tugas Bapak untuk mendidik dan membiayaiku sebenarnya sudah selesai. Anak gadisnya kini sudah menjadi milik orang lain.
Selesai mencium tangan Bapak lalu memelukku erat. Tangisnya pecah. Aku pun ikut terhanyut dengan tangisannya. Bapak si anak STM tukang tawuran yang punya pitak di kepala hanya seorang Bapak cengeng yang anaknya sudah mau ikut suaminya.
"Kali ini kamu harus bahagia ya May. Jangan sampai pernikahan kamu kandas seperti dulu. Kalau Leo menyakiti kamu lagi nanti Bapak timpuk pake sepeda yang Dibyo beliin buat Bapak!"
Sia-sia suasana syahdu yang tercipta tatkala Bapak mengucapkan kalimat tersebut.
"Bapak doain Maya aja ya. Semoga rumah tangga Maya dan Leo langgeng." kataku sambil menepuk punggu Bapak.
Aku gantian dengan Leo, kini Leo yang sungkeman dengan Bapak. Aku mendengar sekilas apa yang Bapak ucapkan.
"Pokoknya kamu enggak boleh nyakitin Maya lagi! Enggak boleh poligami! Enggak boleh bikin Maya nangis lagi! Harus jagain Maya! Kalau kamu nyakitin Maya lagi nanti Bapak sunat kamu pake gunting kuku!" Bapak menepuk punggung Leo cukup keras. Terlihat Leo menahan sakit akibat ulah Bapak.
Ibu hanya mendoakan kebahagiaanku makanya aku bisa melihat situasi awkward yang terjadi di sampingku. Apa lagi tadi ancaman Bapak yang membuat Leo bergidik ngeri? Oh iya, Bapak akan nyunatin Leo pakai gunting kuku. Pantas saja Leo langsung memegang adik kecilnya. Ancaman super seram itu!
Kasihan melihat Leo diancam seperti itu, aku mengajak Leo gantian sungkem dengan orang tuanya.
Aku menyalami Mama Lena pertama kali. Mama Lena menangis sesegukan. "Kamu jangan nunda hamil ya May. Langsung hamil. Mama mau punya cucu."
Aku tersenyum. "Iya, Ma." iyain aja dulu. Orang tua mah suka sensi kalau enggak diiyain.
Aku lalu ke Papa Dibyo. Bos sekaligus mertuaku saat ini. Eh dulu juga sih tapi dulu enggak direstuin dan sekarang direstuin.
"May, bantu bujukkin Mama kamu ya supaya mau rujuk lagi sama Papa. Kalau Leo pindah Papa kesepian sendirian di rumah. Bantuin Papa ya May!"
Ini lagi sungkeman tapi ada maksud dan tujuan tersendiri. Hadeh. Enggak Mama... Enggak Papa semuanya modus. Tapi enggak apa-apa. Tanpa kehadiran mereka hari ini pasti lamaran Leo akan ditolak Bapak mentah-mentah.
Aku dan Leo lalu diajak keluar menuju gazebo tempat Bapak bermain catur. Ternyata di luar sudah didekor dengan sederhana namun berkesan seperti pesta kebun.
Aku sudah menebak kalau ini ulah Mama Lena. Gazebo diubah layaknya kursi pengantin dengan banyak bunga hidup di sekelilingnya.
__ADS_1
"Pasti Mama kamu ya yang dekor?" bisikku pada Leo.
"Iyalah. Siapa lagi?" jawab Leo santai.
"Kok bisa? Dapet dari mana nih bunga?"
"Dari pasar. Tadi bunga di pasar diborong sama Mama. Terus Mama juga beli karpet buat alas dan kain seprei buat jadi backgroundnya."
"Hah? Ini yang belakang pake seprei?" tanyaku tak percaya.
"Yoi. Untung ada seprei warna kalem tanpa motif. Keren kan? Mama tuh hebat tau. Dulu cita-citanya jadi designer dan WO Planner. Makanya acara kita jadi ajang unjuk kebolehannya. Mantap kan?" Leo benar-benar membanggakan kemampuan Mamanya tersebut.
"Terus tadi tanah siapa yang dibeli sampai 1 hektar segala?" tanyaku lagi.
Leo tersenyum. "Tuh ulah Kakanda kamu. Dia yang ngasih ide supaya maharnya tanah aja. Katanya bisa diolah sama Bapak kamu. Nanti bisa buat aset kamu di masa depan. Tumben digunain tuh otak pinternya. Biasanya cuma senang-senang aja. Kayaknya dia beneran sayang sama kamu, May. Aku juga harus waspada nih sama si Kadal Buntung!"
"Ih kamu apaan sih? Aku tuh terharu tau. Mungkin kalian kurang deket aja selama ini jadi enggak tau kalau kalian tuh saling sayang. Terus beli punya siapa? Dari tadi belum di jawab! Aku kan penasaran tau!" Aku menepuk pelan bahu Leo.
"Itu mah gampang, May. Cari aja disini yang lagi BU alias butuh duit terus terlilit utang sama rentenir. Pasti mau deh dilepas. Masalah surat-surat juga udah beres. Kan ada pengacara kenalan Papa yang kerja dekat sini. Gampanglah itu."
Aku hanya bisa menggelengkan kepala dengan ulah keluarga Buntungers ini. Kompak dalam menghadapi kesulitan ternyata.
"Jadi dari tadi kalian sibuk berunding masalah ini?" pantas saja mereka tadi serius sekali diskusinya sebelum aku di make up.
"Yoi. Kita kan kayak mau cerdas cermat. Harus kompak. Dan lihat kan hasilnya? Aku juga enggak nyangka sekarang keluargaku bisa berubah kayak gini. Bener-bener jadi keluarga yang sebenarnya." Leo tersenyum dengan ucapan yang Ia katakan.
"Mau tau kenapa?"
Leo menatapku penuh ingin tau. "Kenapa?"
"Karena kamu! Kamu yang mengubah mereka dengan cinta kasih kamu. Dengan pengorbanan yang kamu berikan untuk mereka. Mereka semua kompak mau memberikan yang terbaik untuk momen penting kamu. Sama seperti kamu yang bahkan mengorbankan hal penting hanya demi keluarga kamu. Kamu yang hebat, Leo. " aku mengacungkan kedua jempolku. Memuji kehebatan Leo sepenuh hati.
"Bisa aja kamu, Cantik. Nanti kita adain resepsi lagi ya." Leo menggenggam tanganku.
"Iya. Aku ikut kata suami aku aja." aku tersenyum penuh bahagia. Seperti kata orang, hari dimana aku dan Leo jadi ratu dan raja sehari, hari paling membahagiakan.
"Yaudah kamu cepat nikah dong. Kan sekarang udah deket sama Lidya?" ledekku.
Richard tersenyum simpul. "Aku udah enggak cinta lagi sama Lidya." jawab Richard jujur.
"Kok bisa?" tanyaku dan Leo kompak. Bukankah keluarga Buntungers punya kutukan hanya suka pada satu orang saja?
"Ya bisa lah. Leo juga bisa kalau mau." kata Richard seenaknya.
"Ih amit-amit deh! Baru aja nikah juga. Doanya udah jelek aja nih!" omelku. Richard memang kalau ngomong suka enggak diayak nih. Seenaknya aja ngomong.
"Siapa yang doain Neng? Aku kasih tau aja sama kamu supaya hati-hati. Biar bagaimanapun Leo tuh Buaya Buntung! Jangan percaya seratus persen!" ini kenapa Richard malah ngomporin ya?
"Kamu beneran kayak gitu?" tanyaku penuh selidik pada Leo.
"Enggaklah May." elak Leo. "Cat! Apaan sih ah! Enggak lucu tau becandanya! Baru aja akad nikah udah ngeledekkin kayak gitu! Enggak tau apa ngedapetinnya susah?!"
Richard hanya tertawa-tawa melihat Leo yang marah-marah karena perkataannya. Kalau memang Richard benar, aku juga harus waspada nih. Jangan sampai Leo dicolong sama yang lain!
"Seru banget kayaknya?" Kak Rian datang menghampiri. "Selamat ya Leo, May!" Kak Rian menyalami kami satu per satu.
"Kakak kemana aja sih? Dari tadi aku nyariin Kakak kok enggak ada?" aku langsung merajuk manja pada Kakakku tersayang.
"Kakak lagi ada kerjaan dadakan tadi. Tapi Kakak sempat ngeliat kok pas kamu akad nikah tadi. Jadi inget dulu Kakak yang nikahin kalian. Akhirnya sekarang Bapak juga yang nikahin kalian ya?!" Kak Rian tersenyum bahagia.
Berbeda denganku. Aku yang terharu. Kakakku ini selalu mendukung apapun yang aku lakukan. Mau yang benar atau yang salah, membantuku kembali ke jalan yang benar.
"Maafin Maya ya Kak. Maya selalu nyusahin Kakak." mataku mulai berkaca-kaca. Aku memeluk Kak Rian dengan erat.
"Iya. Kakanda maafin." jawab Richard.
"Ih bukan Kakanda tau! Aku lagi ngomong sama Kak Rianku tersayang!" Richard membuat mataku yang awalnya berkaca-kaca berubah menjadi kesal. Ganggu momen orang aja nih!
__ADS_1
"Dia siapa sih May? Dari tadi rusuh banget?" tanya Kak Rian.
"Ih enggak kenal? Aku tuh anak tertua Dibyo Kusumadewa tau." Richard menyombongkan dirinya. Tapi masa sih Kak Rian enggak kenal sama Richard?
"Oh yang direhabilitasi dua kali ya gara-gara narkoba?" sindir Kak Rian.
Ini orang kenapa sih? Belum apa-apa udah berantem aja. Apa mereka punya ikatan takdir di masa depan?
"Bukan. Di pesantren dua kali keles!" balas Richard.
Aku dan Leo hanya senyum-senyum saja melihat kedua kakak kami bertengkar. "Udah... Udah. Dua-duanya Kakaknya May ya. Kakaknya aku juga. Yang akur. Kan sekarang kalian saudara ipar. Kita foto bareng aja ya?"
Leo lalu memanggil fotografer dadakan yang disuruh memfoto kami. Ini lagi lebih hebat. Nemu dimana tuh fotografer. Kok aku enggak yakin ya hasilnya bagus?
"Itu dapet dari mana fotografernya?" tanyaku pada Leo sambil berpose di depan kamera. Richard berpose bak artis Korea sementara Kak Rian berpose bak atlit pencak silat. Kenapa punya Kakak enggak ada yang normal ya?
"Biasa, Mama. Dia panggil tukang cuci foto dekat sini terus disewa seharian. Jago kan Mama aku?" lagi-lagi Leo membanggakan kemampuan Mamanya. Aku hanya geleng-geleng kepala saja. Kelakuan Mama memang out of the box deh.
"Aku mau makan dulu ah. Laper. Nanti kalau ada teman kamu yang cakep kenalin ya May!" pinta Richard.
"Mau aku kenalin sama teman aku Adel enggak?" lagi-lagi aku promosiin Adel.
Kak Rian pun cemberut. "Kemarin katanya mau dikenalin sama aku, sekarang sama Dia. Gimana sih kamu May? Enggak konsekuen deh!" omel Kak Rian.
"Habis Kakak enggak mau sih. Kalo Kakanda mau enggak?" aku tanya balik pada Richard.
"Aku mau." jawab Kak Rian dan Richard kompak.
"Ih aku duluan!" Kak Rian tak mau kalah.
"Siapa suruh ghosting? Kasih keputusan dong. Mending sama aku aja Adinda. Pilihan Adinda pasti bagus deh." Richard juga tak mau kalah.
"Udah! Udah! Nanti aku kenalin sama kalian berdua. Tergantung Adel ya maunya sama siapa." harus dipisahin nih dua orang sebelum baku hantam.
"Pasti pilih aku lah May." Kata Kak Rian penuh percaya diri.
"Enggaklah. Pasti aku kan May?" Richard lagi-lagi tak mau kalah.
Pusing nih jadinya.
"Udah ya Kakak-Kakakku sekalian. Ada yang antri mau ngucapin selamat nih." Leo yang geram akhirnya memisahkan perdebatan dua kakak ipar tersebut.
"Huft... Berat nih. Mereka bisa enggak akur deh!" aku akhirnya bisa bernafas lega setelah mereka pergi.
Satu per satu para tetangga dekat mengucapkan selamat padaku dan Leo. Bapak memang mengundang tetangga dekat saja untuk menjadi saksi kalau kami sudah melangsungkan pernikahan agar tidak terjadi fitnah kelak.
"Selamat ya, May! Walau aku masih belum ikhlas kamu sama nih anak tapi kalau Bapak sudah merestui bisa apa aku?" Kak Anton datang memberikan ucapan selamat setengah ikhlasnya.
"Kakak jangan gitu dong. Doain aja semoga aku bahagia. Memang Kakak enggak mau lihat aku bahagia apa?"
"Mau lah. Biar enggak nyusahin Bapak terus. Yaudah semoga kalian langgeng sampai maut memisahkan ya." Kak Anton kalau ngomong tuh emang suka pedas, tapi sebenarnya niatnya baik. Cuma memang orangnya jarang ngobrol aja denganku jadi kami tidak begitu akrab. Tidak seperti Kak Rian.
"Aamiin." kataku dan Leo kompak.
Setelah mengucapkan selamat kepadaku dan Leo, kami pun makan bersama. Untung saja Ibu sudah memasak banyak makanan yang cukup untuk dibagi-bagikan kepada tetangga sekitar. Pesta memang tidak berlangsung lama karena aku Leo dan keluarga Papa Dibyo harus kembali ke Jakarta malam ini juga.
"Kita tinggal di mana nih malam ini?" tanya Leo. "Rumahku aja ya."
"Kenapa?" apa Leo malu tinggal di kontrakkan lagi?
"Kalo di kontrakkan takut digrebek, May. Kamu ambil pakaian saja nanti tinggal di rumah Papa Dibyo aja dulu ya. Nanti kalau libur lagi kita mulai nyari rumah."
Aku mengangguk setuju. "Aku ikut aja deh apa kata suami aku."
"Nah gitu dong. Baru istri solehah namanya."
****
__ADS_1