
Ada 3 hal paling menegangkan dalam hidupku. Pertama, saat meminta restu Bapak untuk menikah dengan Leo dan akhirnya kawin lari. Kedua, saat aku mendapat kabar kalau aku kehilangan Adam anakku tersayang. Dan ketiga, saat Leo dengan tatapan mata menantang membalas setiap perkataan Pak Johan.
"Ck...ck...ck.... Berani sekali kamu, Leo. Kamu tau kan kalau saya enggak suka kalau ada pasangan yang menikah bekerja satu ruangan, apalagi sebagai anak buah saya?" Pak Johan terlihat amat marah karena perkataan Leo.
"Tentu, Pak. Saya juga enggak suka punya atasan kayak Bapak." Leo menantang balik.
Rasa marah dan emosi dalam diri Pak Johan semakin menguasainya. Dengan sigap Leo berdiri di depanku. Melindungiku dengan memasang badan.
"Kamu langsung saya kasih SP-3!" ancam Pak Johan dengan matanya yang melotot tajam dam suaranya menggelegar kencang.
Beberapa karyawan sudah mengerumuni ruanganku. Mereka penasaran dengan suara bernada tinggi dan sudah menduga kalau ada pertengkaran di ruanganku.
"Oh ya? Atas dasar apa Bapak memecat saya? Apakah saya melakukan pelanggaran?" tantang Leo balik.
Aku yang sudah gemetar ketakutan memegang tangan Leo dan menggenggamnya. Mencoba mencari perlindungan dari suamiku sendiri.
"Ini bukan pelanggaran? Kamu sudah melawan atasan! Itu pelanggaran besar!"
Aku melirik ke arah Ana yang tersenyum puas. Ana menatap balik ke arahku dan menyunggingkan senyum liciknya.
Rasanya mau aku ludahi mukanya dan jambak rambutnya. Namun aku hanya mengelus-elus perut. Berdoa dalam hati jangan sampai memiliki anak keturunan bersikap seperti Ana yang iri hati dan dengki.
"Oh jadi kalau melawan atasan pelanggaran? Berarti anda juga melakukan pelanggaran dong karena melawan saya?!"
Sepertinya ini saatnya Leo membuka topengnya. Topeng yang selama dua tahun ini terus Ia sembunyikan. Topeng yang membuat Ia lelah fisik dan psikis.
"Memangnya siapa kamu? Kamu tuh cuma anak kemarin sore yang bekerja di perusahaan ini! Sok-sokan lagi mengaku jadi atasan!" Pak Johan menertawai Leo dengan puas. Merasa status dirinya jauh dibanding Leo.
Menjadi Kepala Bagian Audit Kusumadewa Group, posisi yang lumayan tinggi menurutnya. Bahkan Ia lumayan ditakuti para kepala bagian lain. Sekali Ia menemukan bukti, maka tak ada yang bisa berkutik.
"Kalau Mr. So, kenal?" Leo bertanya dengan nada santai namun penuh penekanan.
"Tentu saja kenal! Anak bau kencur kayak kamu mana pernah berhubungan dengan Mr. So. Berbeda dengan saya yang biasanya berhubungan dengan pejabat atas." Pak Johan makin besar kepala saja.
Bukannya menjawab Leo malah mengeluarkan Hp dan mengetikkan sesuatu.
"Coba buka email anda, Johan!" Leo makin berbuat kurang ajar dengan memanggil Pak Johan hanya namanya saja.
"Kamu!" Pak Johan terlihat hendak menghampiri Leo namun dicegah oleh Kak Fahri.
"Sabar, Pak. Sabar! Ini di kantor! Selesaikan dengan baik-baik!" Kak Fahri berusaha menenangkan emosi Pak Johan.
"Udah di cek belum emailnya Pak?" sindir Leo lagi.
Pak Johan yang murka namun ternyata lebih mendengarkan perkataan Kak Fahri. Ia kembali duduk di kursinya. Melihat email dikomputer miliknya.
Sementara di depan sudah mulai kasak-kusuk. Mereka membicarakan keberanian Leo melawan atasannya. Membicarakan ada hubungan apa antara aku dan Leo.
"APA-APAAN INI!" Pak Johan tiba-tiba berteriak murka.
"KAMU PASTI SUDAH MENSABOTASE EMAIL MILIK MR. SO!" Pak Johan menatap Kak Fahri. "PANGGIL SECURITY SEKARANG! HECKER SIALAN INI AKAN SAYA MASUKKAN KE PENJARA!"
Aku makin mencengkeram tangan Leo dengan erat. Aku takut dengan kemarahan Pak Johan. Dengan suara teriakkannya yang kencang, yang membuat makin banyak orang berkerumun di depan ruangan kami.
"Pa... Panggil securitynya sekarang Pak? Be-beneran?" Kak Fahri juga ketakutan sepertiku. Suaranya sampai tergagap seperti itu. Perpaduan antara takut dan kaget dengar amukan Pak Johan yang seperti orang kesetanan.
"IYA! PANGGIL SEKARANG JUGA!" Pak Johan kembali berteriak.
"I...Iya, Pak."
Namun belum sempat Kak Fahri keluar ruangan terdengar suara agak gaduh di depan ruangan.
"Eh minggir!"
"Kasih jalan woy!"
"Awas! Awas!"
Aku reflek menengok ke arah luar. Mencari tau apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Ada apa ini?" Papa Dibyo datang melewati kerumunan.
Kedatangan Papa Dibyo membuatku bisa bernafas lega. Setidaknya ada satu lagi penolongku dalam kantor ini.
__ADS_1
"Kebetulan sekali Bapak datang. Ini, Leo. Dia sudah berani menentang saya. Bahkan Ia melakukan tindakan kriminal!" Pak Johan mulai mengadukan Leo kepada Papa Dibyo.
"Tindakan kriminal? Tindakan kriminal apa yang kamu maksud?" Papa Dibyo mengernyitkan keningnya mendengar pengaduan yang Bapak Johan katakan.
"Ini, Pak. Leo berani mensabotase email milik Mr. So. Ini tindakan kriminal bukan?" Pak Johan merasa dirinya diatas angin.
Sementara itu suara ribut-ribut dari luar ruangan terdengar semakin ramai. Mereka berbisik-bisik, namun karena terlalu banyak yang menggosip jadinya bisik-bisik tersebut terdengar seperti gumaman yang pada akhirnya terdengar juga di telingaku.
"Beneran disabotase?"
"Nekat banget!"
"Siapa sih anak itu?"
"Punya nyawa berapa dia sampai nekat mensabotase email Mr. So?"
Bisik-bisik di depan semakin tak terkendali. Bahkan Papa harus membuat mereka diam karena sudah mulai membuat ribut. Yang datang untuk melihat apa yang terjadi juga semakin banyak. Tapi Papa tidak tidak mengusir mereka. Sepertinya memang sudah direncanakan oleh Papa.
"Kenapa kamu berpikir kalau dia mensabotase email milik Mr. So?" tanya Papa.
"Tentu saja Pak. Tidak akan mungkin Mr. So mengirim email seperti ini kepada saya!" Pak Johan lalu mengeprint email yang Leo kirimkan dan memberikannya pada Papa.
Aku melihat Papa seperti menahan senyum dan menggeleng-gelengkan kepala saat membaca email yang dikirimkan oleh Leo. Aku penasaran Apa sih yang udah Leo kirimkan?
"Iya. Ini memang ulah Leo. Bukan Mr. So." perkataan Papa Dibyo membuat Pak Johan makin diatas angin dan merasa menang saja.
"Betul kan Pak? Saya harus hubungi pihak IT dan juga kita laporkan kepada yang berwajib. Ini udah pelanggaran Pak!" Pak Johan semangat sekali mencari muka depan Papa.
"Tenang saja. Saya sudah bawa Polisi kok." Papa lalu memanggil asistennya dan menyuruh dua orang polisi untuk masuk ke dalam ruangan audit.
"Wah... Beneran di tangkep polisi nih!" gumam salah seorang cowok yang terdengar di telingaku.
"Bisa panjang nih urusannya."
"Kalau ketangkep berapa lama ya ngedekem di penjaranya?"
Semakin banyak yang bergosip, semakin tanganku terasa berkeringat. Aku tahu Leo berada di pihak yang benar, tapi tetap saja membayangkan kalau suamiku akan dipenjara membuatku takut.
Tak lama dua orang polisi yang sedang berpakaian preman pun datang. Mereka sedang menyamar rupanya agar tak menarik perhatian.
"Anda yang bernama Johan?" tanya salah seorang polisi.
"Betul, Pak. Bagaimana Bapak bisa kenal saya ya? Apa Pak Dibyo yang sudah memperkenalkan saya terlebih dahulu pada kalian?" Pak Johan merasa kegeeran rupanya.
"Bapak kami tahan atas tuduhan pemalsuan barang bukti serta tindakan penyuapan. Bapak bisa menggunakan hak Bapak untuk tetap diam. Silahkan ikuti kami ke kantor polisi!" salah seorang polisi memegangi tangan Pak Johan yang sudah dipegang dari belakang.
Tentu saja Pak Johan tidak terima tiba-tiba dibekuk. Ia masih belum menyadari kesalahannya.
"*Kenapa malah Pak Johan yang ditangkap?"
"Apa polisinya salah tangkep*?"
Suara gumaman terdengar semakin ramai saja di luar. Mereka mengomentari sesuatu yang bahkan tidak mereka ketahui apa masalahnya.
"Kenapa jadi saya yang ditangkap Pak? Kan saya yang melaporkan kalau anak tersebut sudah melakukan sabotase! Kenapa jadi malah saya yang Bapak tangkap? Bapak salah tangkap Pak! Salah!" Pak Johan tidak terima diperlakukan seperti itu oleh pak polisi apalagi di depan banyak orang.
"Bapak nanti bicaranya di kantor polisi saja ya." rupanya Pak Polisi tidak mau menjelaskan lebih jauh tentang permasalahan yang terjadi. Mereka kan belum interogasi Pak Johan jadi tidak enak rasanya mengumbar sesuatu di depan orang lain sedangkan masalahnya masih belum jelas.
Tak habis akal, Pak Johan lalu menghampiri Papa Dibyo dan meminta pertolongan Papa.
"Pak. Ini pasti Pak Polisinya salah Pak. Kenapa jadi saya yang ditangkap Pak? Pelakunya Leo, bukan saya! Kenapa jadi saya yang dibawa Pak Polisi, Pak? Pak tolong dijelaskan Pak sama Pak Polisi kalau saya tuh tidak salah. Yang harus ditangkap tuh Leo, bukan saya." baju handphone memelas meminta bantuan Papa.
"Lalu menurut kamu, yang harus ditangkap itu Leo?" Papa Dibyo masih aja menggoda dan mengerjai Pak Johan.
"Tentu saja, Pak. Hecker macam dia memang pantas dipenjara."
Leo hanya geleng-geleng kepala mendengar perkataan Pak Johan. Mengadu saja kerjaannya.
"Oh.... Begitu. Jadi saya harus menangkap anak saya sendiri gitu?"
"Tentu saja Pak. Bapak harus menangkap anak Bapak. Eh... Anak? LEO ANAK BAPAK?!" Pak Johan sangat kaget mendapati kenyataan yang baru saja Ia ketahui.
"Iya. Leo memang anak saya. Lebih tepatnya anak kedua saya. Kenapa saya harus menangkap anak saya sendiri? Apa salah dia?"
__ADS_1
"*Leo anaknya Pak Dibyo?"
"Beneran?"
"Kok mukanya enggak mirip sih?"
"Jangan-jangan*...."
Masih saja ada yang bergunjing di luar. Enggak ada takut-takutnya sama sekali. Padahal yang mereka gunjingkan anak owner sendiri loh.
Pak Johan sepertinya tak habis akal. Masih saja usaha untuk menjatuhkan Leo.
"Meskipun Leo anak Bapak, tapi tindakan mensabotase email milik Mr. So tidak bisa dibenarkan, Pak. Bisa saja kan suatu hari nanti Leo akan memalsukan tanda tangan Bapak untuk mendapatkan keinginannya?" Pak Johan masih mengompori Papa.
"Maksudnya seperti kamu yang sudah memalsukan bukti dan membuat seakan saya memberikan suap karena menang tender gitu? Leo tidak pernah mensabotase email miliknya sendiri. Dasar bodoh kamu Johan! Mengaku kepala bagian audit, tapi siapa sebenarnya Mr. So saja kamu tidak bisa menduganya!"
"Maksud Bapak.... Mr. So itu adalah Leo?"
"Tentu saja. Namanya saja Leo Prako... So. Dia selama ini yang menjadi atasan kamu!"
Pak Johan yang awalnya masih berdiri tegak kini terkulai lemas dan duduk di lantai. Hilang sudah segala kesombongannya selama ini.
"Kamu..... Mr. So?" Pak Johan bertanya pada Leo. Masih tak percaya dengan kenyataan yang terjadi.
"Yoi! Dan isi email saya sudah cukup jelas ya!" jawab Leo dengan santainya.
Pandanganku beralih dari Pak Johan ke Ana. Tak ada lagi senyum licik di wajahnya. Berganti dengan senyum ketakutan akan kenyataan pahit yang akan Ia alami sebentar lagi.
"Sayang, kamu duduk dulu ya. Biar aku yang urus semua ini." Leo menuntunku ke kursi kerjaku dan menyuruhku duduk sambil memperhatikan apa yang terjadi.
"Pak Polisi! Bawa Johan ke kantor polisi dan pastikan Ia mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatannya sudah merusak keluarga saya!" perintah Leo dengan tegas.
"Baik, Pak!" Pak Johan yang terkulai lemas di lantai lalu dibawa paksa ke kantor polisi. Untuk berjalan pun Ia lemas.
"Kamu urus masalah di kantor! Papa mau menyerahkan barang bukti dan kasih kesaksian!" Papa Dibyo mengikuti Pak Polisi dan meninggalkan ruangan diiringi dengan bisik-bisik dari luar.
"Wah.... Ternyata Leo adalah Mr. So yang sebenarnya."
"Sejak dulu aku penasaran seperti apa wajah Mr. So yang bijak dan pintar bisa memajukan Kusumadewa Group. Ternyata Mr. So selalu berada di sekitar kita."
"Apakah Leo akan memimpin perusahaan ini menggantikan Papanya?"
Leo kini menatap ke arah Ana. Pandangan mata penuh emosi dan amarah Ia tujukan padanya.
"Le... Leo.... eh Mr. So... Aku.... Aku bisa jelaskan semuanya. Pak Johan memaksa aku untuk... memberitahu hubungan kalian." Ana mulai tergagap berkata pada Leo, padahal Leo sama sekali tidak bertanya padanya.
"Aku sedang memikirkan hukuman apa yang cocok untuk kamu, Na." suara Leo terdengar tenang namun penuh ancaman.
"Dan kalian semua yang di luar, bubar! Kerjakan pekerjaan kalian!" perintah Leo dengan tegas. Semua yang di luar langsung membubarkan diri. Mereka tau siapa bos mereka saat ini. Dan bos mereka sedang marah besar. Lebih baik kembali ke tempat daripada kena omel lebih berat lagi.
Wajah Leo sangat serius. Aku sangat kenal kalau saat ini Leo amat marah. Ia paling benci penghianatan. Dan Ana melakukannya. Sama seperti aku dulu yang tetap jalan dengan Angga tanpa sepengetahuan Leo.
Akankah Leo akan marah besar seperti dulu. Rasa amarah dalam dirinya akankah keluar lagi? Karena rasa amarah itu pula kami kehilangan Adam. Aku tak mau Leo mengalami penyesalan karena tidak bisa mengontrol emosinya.
"Sayang..." aku memberanikan diri memanggil Leo yang masih menatap Ana penuh kemarahan.
Ana sudah bagai anak tikus yang terpojok dan tak bisa melakukan apapun.
Leo menengok ke arahku. Aku menggeleng padanya. Memberi isyarat untuk tidak melakukan sesuatu yang nantinya akan Ia sesali.
"Fahri!"
"Iya, Le... eh Mr. So eh Pak Leo!" kak Fahri yang kaget tergagap menjawab panggilan Leo.
"Panggil Manajer HRD suruh buat surat mutasi untuk Ana. Pindahkan ke cabang Karawang. Jika Ia berniat resign, suruh bayar denda 30x gaji!" perintah Leo dengan tegas.
"Iya. Baik, Pak!" Kak Fahri langsung pergi ke luar memanggil Manajer HRD.
"Kalau bukan karena Maya meminta agar aku menahan emosiku, sudah aku layangkan gugatan ke kantor kepolisian sama kamu!" ancam Leo.
"Maaf, May... Maaf Leo... Maafin aku.... Tolong.... Tolong jangan dipindahkan ke Karawang.... Please... Maafin aku...." Ana menangis penuh penyesalan. Sayangnya penyesalan selalu datang terlambat...
****
__ADS_1
Ayo udah pada jahit baju belum? Kita mau kondangan nih. Siap-siap ya... Like dan votenya dulu dong....