
Aku mencoba mengupas bawang sesuai yang Ibu Jojo ajarkan dan ternyata memang jadi lebih mudah.
"Ngupasinnya cepetan Neng. Kalau lama sehari juga belum kelar kamu satu karung nanti keburu suami kamu pulang." komen Bu Jojo yang masih asyik nongkrong bersama Bu Sri di teras rumahku.
"Namanya juga baru belajar Bu. Slow but sure lah." jawabku.
"Alah... Pake sok-sokan bahasa inggris segala. Makan pake tempe aja belagu. Baru sekali makan tetelan ngomongnya pake Inggris segala. Udah nyiangin aja tuh bawangnya." celetuk Bu Sri seperti biasa tanpa mikirin perasaan orang.
Mungkin karena aku sudah kenal dengan sikapnya kali ya jadi aku tahu kalau Ia asal ngomong aja tanpa mikirin orang lain dan tidak ada maksud apa-apa.
"Bu, nggak ada cemilannya apa?" celetukku seenaknya.
"Ih Si Oon ye, yang punya rumah tuh situ, kenapa nanya cemilan sama kita? Enggak kebalik apa?" ujar Bu Sri sambil tertawa.
"Yaelah, Bu. Enggak ada cemilan di rumah saya. Adanya air putih aja tuh. Susu milo aja saya beli yang sachetan saking enggak punya duitnya." balasku.
"Tuh kan nih anak bisa banget bikin orang enggak tegaan. Udah saya gorengin sosis buat ngemil disini." Bu Sri pun bangun dan hendak ke warungnya.
"Sekalian sama Pop Icenya ya Bu." teriakku.
"Saya Teh Sisri aja Bu." teriak Bu Jojo mengikutiku.
"Wah...wah... Bener-bener ya. Dikasih hati minta jantung. Rujaknya juga gak? Saya punya mangga muda sama jambu air di kulkas." tawar Ibu Sri.
"Mauuu." jawab aku dan Bu Jojo kompak.
"Saya ada ketimun sama pepaya mengkel. Nanti saya bawain cobek dan cabe." kata Bu Jojo.
"Kamu nyumbang apa May?" tanya Bu Sri.
"Saya nyumbang.... garem aja haa....ha...ha..." aku tertawa puas.
"Dasar Oon!" jawab Duo julid lalu pergi ke rumah masing-masing.
Aku meneruskan lagi mengupasi bawang. Speed mengupasku makin lama makin cepat. Tak lama Duo Julid datang.
Bu Sri datang dengan membawa sepiring sosis dan kentang goreng di tangan kanan dan pop ice milikku di tangan kiri. Teh Sisri milik Bu Jojo di selipkan di jari tangan kirinya.
"Jangan dimakan dulu, biar makan bareng nanti." Bu Sri menaruh di terasku dan balik lagi ke rumahnya untuk mengambil bahan rujakan.
Bu Jojo datang dengan membawa buah dan sedang mengupasi di sampingku. Ia juga membawa cobek dan bahan untuk buat sambal kacang.
"Saya jadi nyumbang garem, Bu?" tanyaku.
"Enggak usah." jawab Bu Jojo dan Bu Sri yang baru datang kompak.
"Hehehehe.... Jadi enak saya. Saya ambilin minum aja ya." kataku berinisiatif.
"Nah kalau itu boleh deh." ujar Bu Jojo.
Aku meletakkan pisau dan sarung tangan yang kupakai lalu masuk ke dalam dapur. Kuambilkan tiga buah gelas dan air dingin dari dalam kulkas lalu keluar menghampiri Duo Julid lagi.
"Udah boleh makan belum nih, Bu?" tanyaku sambil meletakkan gelas dan minum yang kubawa.
"Udah makan aja. Kasihan bumil (ibu hamil) nanti ngeces." jawab Bu Sri.
Aku mengambil sosis yang biasa Bu Sri jual lalu memakannya. Hmm... enaknya.
"Bu, enggak rugi apa jualannya dikasih buat saya dan Bu Jojo?"
"Udah makan aja. Gak usah mikirin untung dan rugi. Saya kan punya anak perempuan juga. Lihat nasib kamu kayak gini bikin saya melas." jawab Bu Sri yang sibuk mengupasi buah-buahan.
"Lagi kamu sih May. Masih muda udah pacaran yang kelewatan. Memang kamu segitu terpesonanya ya sama suami kamu sampai rela ngorbanin masa depan kamu kayak gini?" tanya Bu Jojo sambil mengulek bumbu rujak.
Aku mengambil pop ice yang Bu Sri buatkan lalu meminumnya. Rasanya enak banget masuk ke tenggorokanku.
"Dulu sih Maya akuin kalau Maya tuh terpesona Bu. Leo tuh selain ganteng juga berotot. Uuuuh... Siapa juga yang enggak tertarik sama Leo?"
"Emang segitunya ya? Saya belum pernah liat suami kamu sih May. Jarang keluar rumah udah gitu pas keluar ketutup sama jaket dan helm." jawab Bu Jojo.
__ADS_1
"Saya pernah liat. Tapi kayaknya enggak sekeren yang Maya ceritain deh. Kerenan juga suami saya. Mas Bejo tuh perutnya buncit jadi enak buat diunyel-unyel kalau mau bobo." kata Bu Sri.
"Hati-hati nanti kebanyakan unyel-unyel malah jadi bunting lagi kamu Sri." celetuk Bu Jojo.
"Ya janganlah. Anak saya udah gede. Malu nanti kalau punya adek lagi." tolak Bu Sri.
"Udah ah kenapa jadi nanyain kamu Sri. Kan saya lagi nanya-nanya sama Maya. May, kan orang tua kamu enggak restuin kamu tuh, terus orang tuanya Leo gimana?" tanya Bu Jojo.
Aku menaruh gelas plastik Pop Ice dan memakai sarung tangan untuk mengupasi bawang lagi. "Sama aja kayak Bapak dan Ibu. Orang tua Leo juga enggak setuju. Malah pas Leo pulang ke rumah dan minta restu sampai babak belur dihajar Papanya."
"Kamu dihajar juga nggak May?" tanya Bu Sri penasaran.
"Saya enggak ikut, Bu. Cuma Leo sendirian yang minta ijin. Niatnya kalau udah direstuin Leo akan ngajak aku kesana. Eh belum direstuin Leo udah diusir duluan lagi. Sampai sekarang aku enggak pernah ketemu sama mertuaku." ceritaku.
"Beneran kamu belum pernah ketemu sama mertua kamu? tanya Bu Jojo masih tidak percaya.
"Bener, Bu. Masa saya bohong sih?"
"Beruntung juga kamu enggak perlu ketemu sama mertua yang kejam kayak di sinetron TV Ikan Goreng itu." kata Bu Jojo.
Aku masuk ke dalam dapur sebentar untuk mengambil garpu. Aku malas bolak-balik cuci tangan kalau mau makan rujak yang sudah jadi tersebut.
"Hemmmmm... Syeegeerrr banget. Udah lama aku mau makan yang seger-seger kayak gini." kataku sambil menyomot mangga muda dan mencocolnya dengan sambal kacang. "Enak banget Bu. Mantep sambelnya."
"Yaiyalah. Ulekan siapa dulu? Saya kan jago ngulek makanya suami saya enggak mau jauh-jauh dari saya." kata Bu Jojo dengan bangganya.
"Iya tapi mertua situ yang jauh-jauh dari situ dan keluarga." celetuk Ibu Sri.
"Mertuanya Bu Jojo emang kenapa jauh-jauh? Enggak suka sama Bu Jojo ya?" tanyaku dengan polosnya.
"Pake ditanya lagi nih anak. Bu Jojo sama kayak kamu, May. Dia juga enggak direstui sama mertuanya." Bu Sri mengambil jambu air dan mencocolnya di sambal buatan Ibu Jojo lalu memakannya dengan lahap.
"Beneran, Bu?" tanyaku masih tak percaya ada teman senasib sepenanggungan.
"Huft...." Bu Jojo menghela nafas panjang. "Ya seperti yang kamu dengar, May. Dulu waktu saya nikah mertua saya amat menentang karena katanya saya tuh enggak sekaya calon istri yang akan dijodohkan dengan suami saya. Tapi seiring berjalannya waktu saya dan suami bisa punya usaha yang lumayan dan mertua saya mulai membuka hatinya. Tapi tetep aja kami enggak bisa terlalu dekat juga. Mungkin karena sakit hati yang begitu mendalam kali ya ke saya."
Aku menepuk pelan tangan Bu Jojo, memberi dukungan atas cobaannya. "Yang sabar ya Bu."
"Bau, Mau. Yaelah.... Bau bawang dah." omel Bu Jojo.
"Oh maaf Bu... Maya lupa... "
"Gimana sih juragan bawang tapi takut bau bawang." celetuk Bu Sri lagi.
"Udah ah kita ngerujak lagi. Mangganya asem banget ya. (Sampai ngeces yang baca juga 😁)" Bu Jojo mengambil pepaya mengkel dan mencocolnya di sambal.
"Bu Jojo terus gimana ngambil hati mertuanya?" aku penasaran siapa tau bisa dapat ilmu meluluhkan hati mertua dari emak-emak berpengalaman.
"Pake duit. Punya enggak?" tanya Bu Jojo.
Aku menggeleng.
"Yaudah masakin yang enak. Bisa enggak?" tanya Bu Jojo lagi mencari solusi lain yang Ia bisa tawarkan.
Aku menggeleng lagi.
"Ya ampun Si Oon ini ya. Duit kagak gablek, masak kagak bisa. Bisanya cuma bikin anak aja ya?" celetuk Bu Jojo sambil geleng-geleng kepala.
"Nah kalo bikin anak baru Maya bisa!" jawabku sambil cengengesan.
Kami bertiga pun tertawa bersama-sama. Ah, aku senang bisa mengenal Duo Julid ini. Mereka membuat hidupku kembali ceria dan melupakan segala permasalahan hidup yang kuhadapi. Tanpa terasa aku sudah mengupas 1 karung bawang.
****
Rumah sudah bersih dan wangi tidak ada bau bawang. Masakan sudah matang dan tersedia saat Leo pulang nanti. Dan aku juga udah bersih dan wangi.
"Ah.... Lelahnya...."
Aku merebahkan tubuhku diatas tempat tidur ukuran single yang aku bawa dari kostan. Semua perabotan mulai aku bawa dari kostan. Untungnya kostan aku lumayan lengkap jadi tinggal bawa kabur aja deh.
__ADS_1
Tubuhku rasanya amat lelah. Pegal sekali pinggangku terasa. Aku menyalakan musik klasik dari Hp ku dan meletakannya diatas nakas.
Suara musik yang mengalun lembut membuat mataku dibuat terpejam. Aku pun tertidur dengan lelap. Tanpa kusadari Leo sudah pulang kerja.
Leo yang heran karena tidak ada yang membukakan pintu menghampiriku dengan penuh kekhawatiran. Disentuhnya keningku.
"Enggak sakit." gumamnya pelan.
Aku terbangun saat Ia menyentuh keningku. Aku menguap dan meregangkan tubuh lalu duduk.
"Kamu udah pulang?" tanyaku.
"Iya. Tumben banget kamu enggak bukain pintu buat aku." kritik Leo.
Aneh banget. Kemarin katanya aku enggak usah nungguin kalau pulang kerja tapi giliran aku ketiduran malah ditanyain.
"Aku ketiduran. Maaf ya. Aku buatin kamu milo dulu ya." baru saja aku hendak bangun Leo melarangku.
"Enggak usah. Kamu tidur aja. Tadi aku udah makan. Aku mau mandi dulu ya." Leo berjalan meninggalkanku, mengambil handuk dan tak lama kudengar suara air dari dalam kamar mandi.
Sudah terbangun membuatku susah tidur lagi. Aku mengambil remot dan menyalakan TV. Aku suka FTV di tengah malam begini. Ceritanya bagus-bagus dan menghibur.
Tak lama Leo keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk yang dililitkan di pinggangnya. Handuk bergambar hello kitty itu terlihat tidak cocok dengan perut datarnya.
Leo mengambil kaos kesayangannya dan memakainya lalu duduk di sebelahku.
"Beneran enggak mau makan? Aku masak tumis kangkung loh." aku kembali menawari Leo makan.
"Enggak usah. Aku masih kenyang. Kamu seharian kemana? Jalan-jalan di taman lagi?" pertanyaan sekaligus menyelidik.
"Enggak kemana-mana kok. Di rumah aja. Tadi ngerujak bareng sama Bu Sri dan Bu Tejo di teras." jawabku dengan jujur. Aku tidak menyebutkan kalau aku sambil mengupasi bawang.
Leo merebahkan tubuhnya di pahaku. Dengan lembut aku mengusap rambutnya.
"Kalian udah seakrab itu sampai bisa ngerujak bareng?" tanya Leo tak percaya. Yang Leo tau aku tuh di kampus hanya dekat dengan Adel dan susah dekat dengan teman cewek lain.
"Iya. Ternyata mereka tuh baik dan banyak ngajarin aku tentang pelajaran hidup." dalam hati aku sangat bersyukur bertemu dengan Duo Julid, meskipun awalnya kami saling sindir namun ternyata bisa akrab kayak sekarang.
"Ngegosip ya? Biasanya kan emak-emak kalau ketemu suka ngegosip." perkataan Leo memang benar. Tapi kalau aku jujur nanti aku enggak dibolehin temenan lagi sama Duo Julid itu.
"Ya enggak selalu gosip sih. Kebanyakan berbagi tips and trik." kataku beralasan.
"Kalau dekat dengan kamu berarti mereka tau dong kalau kamu lagi hamil. Dan hamilnya itu hamil di luar nikah. Apa mereka bukannya malah menjadikan kamu bahan gosip nantinya?" kata Leo penuh rasa curiga.
"Tenang aja. Kami bertiga udah satu hati sekarang." kataku dengan yakin. "Kamu sendiri gimana di kantor? ada masalah nggak?"
Aku bukan ingin tahu urusan Leo di kantor. Aku cuma mau jadi orang yang bisa berbagi segala kebahagiaan dan permasalahan yang Leo alami.
"Nggak ada kok. Aku udah mulai terbiasa sekarang. Ya kalau ada masalah juga udah tahu cara nyeleseinnya gimana." Leo mematikan TV dengan remote lalu bersiap untuk tidur.
Ada satu hal yang selama ini mengganjal di pikiranku. Yakni, Leo yang tidak pernah mengusap perutku.
Sejak mengetahui kalau aku hamil, Leo mulai menjauh dariku. Kami bahkan tidak pernah melakukan lagi hubungan suami-istri. Aku nggak pernah mau menanyakannya kenapa Ia tidak mau melakukan hal tersebut. Aku menunggu Leo sendiri yang mengatakannya padaku.
Jujur aja, sikap cuek Leo kepadaku membuatku kepikiran. Apakah Leo tidak menginginkan bayi dalam kandungan aku? Tetapi waktu itu Leo bersedia kok tanggung jawab.
Kalau memang Ia tidak menginginkan bayi ini, Ia pasti sudah setuju dengan orang tuaku untuk menggugurkan kandungan ini. Buktinya, Leo malah mengajakku kawin lari karena ingin mempertahankan bayi ini.
Aku selalu maju mundur untuk bertanya. Waktu kami cuma sebentar kecuali saat Leo libur. Kami bahkan jarang ngobrol kecuali hal-hal yang singkat aja.
Kalau aku bahas tentang kegalauanku, pasti Leo akan marah lagi. Aku nggak mau kalau itu terjadi. Aku takut kalau Leo marah.
"Kenapa belum tidur?" tanya Leo yang mungkin sejak tadi terganggu karena aku bolak-balik di tempat tidur.
"Ada yang aku mau tanya sama kamu, tapi aku takut kamu marah."
"Mau nanya apa?" Leo menopang kepalanya dengan tangan agar Ia bisa melihat kedalam mataku saat sedang berbicara.
"Hmm.... Kenapa sih sejak kita nikah kamu nggak pernah sama sekali mengelus perut aku? Apa kamu nggak suka dengan kehamilanku?" pertanyaanku terlalu berani dan aku takut untuk mendengar jawabannya.
__ADS_1
******
Jangan lupa vote dan like ya, oke? 😘😘😘