
Hi Semua yang sudah menantikan novel ini Up. Ayo jangan lupa like dan vote tentunya untuk mendukung novel ini. Jangan lupa Vote dan Likenya kakak 🥰🥰🥰😍😍😍
Perkataanmu Bu Jojo benar-benar mengusik pikiranku. Aku jadi kepikiran, apakah mungkin Leo akan sama kayak Papanya?
Enggak. Leo enggak akan begitu. Meskipun hubungan kami belum sampai setahun, aku merasa sudah mengenal Leo. Leo bukan tipikal orang kayak gitu.
Kuberanikan diriku untuk bertanya kepada ibu-ibu yang sudah pengalaman di depanku ini.
"Emangnya benar Bu kalau orangtuanya terbiasa melakukan kekerasan sama anak nantinya anaknya akan menuruni sifat yang sama?" tanyaku pada Bu Jojo.
"Katanya sih gitu May detik soalnya dulu suaminya keponakan dari sepupunya adik ipar saya kayak begitu." jawab Bu Jojo.
"Maksud sampeyan gimana toh? Suaminya keponakan dari sepupunya adik ipar itu jadinya siapa? Saya pusing jadinya." protes Bu Sri.
"Eh salah. Maksudnya keponakan sepupunya adik ipar itu punya suami, gitu maksudnya." kata Bu Jojo memberi penjelasan tapi malah bikin jadi tambah enggak jelas.
"Lah bukannya ngerti malah tambah puyeng saya. Intinya mah sodara jaaaauuuuuuhhhhnya Ibu Jojo, udah gitu aja. Ribet banget sih diputer-puter. Kalo Mas Bojo yang muter-muter sambil goyang mah enak." celetuk Bu Sri seenaknya.
"Ih Dia mah di depan anak kecil ngomong kayak gitu. Kan malu saya jadinya. Tau aja kalau kayak gitu tuh enak. Upss..... Keceplosan." Bu Jojo dan Bu Sri tertawa lepas bersama.
"Yeh nih ibu-ibu mesum malah jadi goyangan yang dibahas. Pertanyaan saya gimana tadi? Jadi muter-muter deh. Fokus dong Bu. Fokus." omelku.
Mereka berdua mah memang enggak bisa diajak serius. Mereka akan serius kalau dapet bahan gosipan yang jadi trending topik.
"Pertanyaan apa ya May? Saya juga bingung apa pertanyaan kamu. Saya mah kalau udah ngomongin goyangan suka lupa." jawab Bu Jojo.
"Udahlah Bu nggak usah dibahas. Maya juga jadi bingung. Kita bahas sambal aja. Gimana rasanya sambal cumi buatan Ibu Maya? Enak kan?" aku malas membahas pertanyaan tadi. Nanti mereka malah curiga lagi.
"Enak May. Boleh bungkus nggak?" tanya Bu Sri seperti biasa tanpa malu-malu.
"Enak aja mau bungkus. Ini tuh cuma dibawain sedikit sama ibu. Tahu sendiri kan harganya mahal. Lagian ibu ibu nggak takut kena kolesterol apa kebanyakan makan cumi-cumi?" tolakku to the point. Sama ibu-ibu ini mah harus tegas. Nanti bisa dihabisin sama mereka.
"Yaelah May kan saya doyan. Bilangin sama ibu kamu ya nanti kirimin lagi. Bilang aja buat kita-kita, dua sohib kamu. Kita kan udah kayak teman satu angkatan, iya enggak?" kata Bu Sri lagi. Memang nih emak-emak suka enggak nyadar umur, enak aja aku dibilang seangkatan.
"Wani piro? Enak aja. Kasihan tahu Ibu Maya. Emangnya nggak capek apa bikinin kayak gini? Udah nanti aja kalau misalnya Maya punya lagi Maya bagi ya." bujukku.
"Tuh pelit deh. Nanti saya enggak bagi Pop Ice lagi nih?" ancam balik Bu Sri.
"Ya janganlah Bu. Leo belum nyobain nih."
"Iya... iya... Saya becanda doang kok. Kamu hari ini ngupasin bawang lagi enggak?" tanya Bu Sri.
"Iya. Tapi satu aja, Bu. Leo masuk shift pagi takut sore udah pulang." Leo sekarang ada shift pagi, masuk jam 8 dan pulang jam 4 sore. Kalau aku kebanyakan ambil bawangnya nanti keburu Leo pulang.
"Yaudah nanti saya bilangin anak buah saya biar anterin." kata Bu Jojo.
"Saya juga satu, Bu." kata Ibu Sri tak mau kalah.
"Iya. Nanti kalian saya kasih masing-masing satu. Ngomong-ngomong enak ya kita liwetan kayak gini. Makan jadi lebih lahap." ujar Bu Jojo.
"Iya. Enak. Ada kebersamaannya. Eh May, kamu kok hamil tapi enggak pernah ngidam sih? Enggak ada pusing-pusingnya gitu. Dulu saya mah mabok banget. Mual muntah melulu." komentar Bu Sri.
"Enggak ada Bu. Mungkin anak Maya pengertian kali. Mayanya udah banyak masalah anaknya enggak mau tambah nyusahin lagi." kataku sambil mengusap-usap perutku.
"Kamu udah periksa belum, May?" tanya Bu Jojo.
Aku menggelengkan kepalaku. "Belum."
"Tapi dari sejak kamu hamil udah pernah periksa dong?" tanya Bu Jojo lagi memastikan.
Aku menggelengkan kepalaku lagi. "Belum pernah."
"Lah kamu gimana sih May? Harus cek dong. Kan kamu jadi tahu bagaimana perkembangan bayi kamu." omel Bu Jojo.
"Mm... Maya enggak tau mau periksa dimana, Bu. Kalau kemarin Maya enggak punya uang buat periksa. Sekarang uang tabungan Maya udah bisa buat periksa." jawabku jujur.
__ADS_1
"Ya ampun nih anak. Kalau enggak ada uang bilang sama saya dan Bu Sri. Nanti saya bayarin deh periksanya." kata Bu Jojo kesal.
"Iya. Saya juga bisa patungan. Periksa di bidan mah murah. Ayo sekarang kita periksa nanti saya temenin." ajak Bu Sri spontan.
"Bener nih mau temenin Maya?" tanyaku lagi memastikan.
"Bener." jawab Bu Sri dan Bu Jojo kompak.
"Yaudah ayo. Maya beresin bekas kita makan dulu ya baru kita capcus ke bidan." kataku bersemangat.
"Iya. Cepetan sana. Kita nunggu disini aja. Kekenyangan soalnya." kata Bu Sri.
Aku secepatnya membereskan bekas makan kami. Akhirnya aku akan memeriksa anak dalam kandunganku. Rasa bahagia langsung meluap dalam diriku.
Aku mengambil uang dalam toples yang selama ini sudah kutabung. Aku lalu menghampiri duo julid yang sedang selonjoran dan kekenyangan.
"Ayo kita come on!" ajakku penuh semangat.
"Ayo." jawab Bu Jojo sambil membantu Bu Sri bangun dengan menarik tangannya.
Kami pun berjalan kaki menuju bidan terdekat. Sudah jam 11 siang. Matahari mulai bersinar dengan terangnya.
Panasnya terasa sekali seperti diatas kepalaku. "Masih jauh enggak sih, Bu?" tanyaku tak sabaran.
"Sebentar. Deket kok. Dua belokan lagi." jawab Bu Jojo.
"Kamu tuh harus banyakkin jalan May. Biar sehat. Nanti kamu ngedennya kuat. Jangan manja." nasehat Bu Sri.
"Memangnya harus ngeden kuat-kuat? Bukannya nanti keluar sendiri?" tanyaku benar-benar tidak tahu.
"Mulai deh Si Oon kumat. Di sinetron yang tiba-tiba keluar sendiri Neng. Kenyataannya enggak kayak gitu. Malah kalau bayinya gede harus dirobek anu kamu." jawab Bu Jojo.
"Hah? Dirobek? Pake gunting? Sakit dong?" tanyaku ketakutan.
"Bukan. Pake gunting kuku!" celetuk Bu Sri gemas.
"Ya habisnya nih anak kalau oon-nya udah keluar kebangetan banget sih. Memangnya kamu enggak pernah nonton video orang melahirkan apa?" tanya Bu Sri.
Aku menggelengkan kepalaku. "Belum pernah." jawabku jujur.
"Kenapa? Pasti takut ya?" tebak Bu Sri lagi.
"Iya."
"Ah, bikinnya aja berani. Giliran nonton video ngelahirin takut. Kalau nonton video porno pernah enggak?" tanya Bu Sri lagi.
"Pernah." jawabku jujur.
Duo julid pun kompak menertawakanku. "Tuh kan Bu. Kalau tentang kawin tuh anak cepet. Giliran pelajaran hidup lain lemot banget." bisik Bu Sri pada Bu Jojo.
"Iya. Makanya cepet banget mateng kayak pake karbit. Ha...ha..ha..." Bu Jojo dan Bu Sri menertawaiku bareng.
"Udah kenapa ngetawain saya-nya. Pertanyaan saya belum dijawab tuh. Emang bener nanti dirobek?" aku membawa mereka fokus ke pertanyaan awal.
"Bener. Biasanya tuh kalau bayinya agak susah dikeluarinnya dan beratnya berlebih. Kamu makanya jangan kegedean ya hamilnya. Takut nanti ngelahirinnya susah." nasehat Bu Jojo.
"Memang sakit banget Bu?" terlihat sekali ketakutan di wajahku.
"Ya memang sakit May. Kan menurut berita yang saya baca, melahirkan itu paling menyakitkan. Saat melahirkan hmm.... apa lagi ya kelanjutannya? Tau ah saya lupa. Pokoknya paling menyakitkan deh."
Aku menahan tawa melihat ulah Bu Sri. Awalnya mau terlihat pintar karena sering melihat berita, eh malah ujung-ujungnya lupa. Dasar emak-emak! Ada aja ulahnya.
"Karena melahirkan itu menyakitkan, makanya kita sebagai anak tidak boleh durhaka sama Ibu yang sudah melahirkan kita. Harus mengasihi dan menyayangi orang tua kita terutama pengorbanan Ibu. Kalau Ayah mah enak cuma tinggal suntik doang. Culuma modal setitik doang eh anaknya mirip ke Ayahnya. Beda sama ibunya, proses melahirkan seorang anak itu berat belum lagi nanti harus mendidiknya. Kalau anaknya nakal yang disalahin pasti ibunya bukan ayahnya. Ayahnya mah enak banget langsung bilang 'Gimana sih kamu mendidik seorang anak?' padahal mah mendidik itu bukan cuma tugas seorang ayah tapi juga tugas kita seorang ibu." kata Bu Jojo dengan bijaksana.
Perkataan Bu Jojo seperti menyindir aku. Aku merasa diri aku tuh sudah sangat durhaka sama ibu dan bapak. Sekarang aku mulai merasakan rasanya menjadi seorang ibu dan bagaimana kekawatiran aku tentang anak dalam kandungan ku. Mungkin Ibu juga saat ini merasakan apa yang aku rasakan. Ia pasti khawatir melihat anak perempuan satu-satunya hidup seorang diri di kota. Ia tidak bisa membantu karena dilarang suaminy namun di satu sisi jiwa seorang ibu yang harus melindungi anaknya membuatnya harus mengendap-endap hanya untuk membantu anaknya sendiri.
__ADS_1
"Mau kemana May?" tanya Bu Sri.
"Ke bidan." jawabku.
"Orang udah kelewatan. Kamu sih bengong aja kita panggil-panggilin masih ada nyelonong. Tuh lihat tuh bidannya kelewatan dua rumah. Jangan bengong apa May. Kamu mah lagi hamil malah bengong melulu. Kalau kesambet aja gimana? Ibu hamil kan katanya wangi. Banyak hewan makhluk halus yang demen deket-deket sama ibu hamil." ceramah Ibu Jojo.
"Oh udah kelewatan toh? Yaudah sih tinggal mundur aja." Aku lalu berjalan memasuki sebuah Klinik Bidan Melati.
"Wah rame sekali nih ada Ibu Sri dan Ibu Jojo." sapa Bidan Melati saat melihat kami datang bertiga.
"Ini, Bu. Mau nganterin tetangga kita, Maya namanya. Maya mau periksa kandungan, Bu." kata Bu Sri memperkenalkanku.
"Maya toh yang mau periksa. Kirain Ibu Sri dan Ibu Jojo yang hamil lagi he...he....he...." gurau Bu Melati.
"Ya jangan dulu, Bu. Kasihan suami saya nanti enggak keurus." jawab Ibu Sri meladeni gurauan Bu Bidan.
"Bisa aja Bu Sri. Mari Maya kita periksa. Coba ukur berat badannya dahulu." perintah Bu Bidan.
Aku lalu naik ke atas timbangan dan menimbang berat badanku. Kupikir timbanganku akan naik karena makan melulu sejak hamil eh ternyata malah turun.
Bu Bidan mencatat berat badanku dalam sebuah buku baru. "Kamu pasti belum punya buku ini kan?" tebak Bu Bidan.
Aku mengangguk. "Belum, Bu. Buku apa ya itu?" tanyaku heran.
"Ini namanya buku kesehatan ibu dan anak. Setiap periksa kamu harus membawanya ya. Agar siapapun yang memeriksa kondisi kamu jadi tahu riwayatnya gimana. Terakhir kali kamu menstruasi kapan?"
Aku menyebutkan tanggal terakhir aku menstruasi. Ibu Bidan Melati terlihat sedang menghitung dengan alat berbentuk bulat miliknya.
"Sudah memasuki 15 minggu ya." kata Bu Bidan lagi.
"Maksudnya hampir 4 bulan gitu, Bu?" tanyaku memastikan.
"Iya. Kalau kita menyebutnya berapa minggu. Perkiraan HPL atau Hari perkiraan lahir itu tanggal ini." Bu Bidan menunjuk ke kalender setelah menghitung-hitung lagi.
Aku mengingat-ingat tanggal yang Bu Bidan sebutkan.
"Baiklah mari kita periksa. Mau sekalian USG tidak?" tanya Bu Bidan lagi.
Aku tahu kalau sekalian USG pasti lebih mahal biaya periksanya. Tidak apa-apalah. Toh aku masih ada uang yang Ibu berikan. Aku juga bawa uang lumayan untuk periksa hari ini.
"Boleh, Bu." jawabku yakin.
"Baik. Silahkan naik ke atas tempat tidur, Bu." aku menuruti apa yang Bu Bidan perintahkan.
Ia lalu membuka kaus yang kukenakan sampai ke atas perut. Menuangkan gel dan mulai menaruh alat USG ke atas perutku.
Aku melihat dari balik layar yang menangkap bayi dalam perutku. Bu Bidan lalu mengukur dan menjelaskan kepadaku.
"Untuk jenis kelaminnya belum kelihatan ya Bu. Ibu bisa kembali lagi sebulan kemudian untuk lebih jelasnya. Ini bagian perutnya. Tapi maaf nih Bu Maya, sepertinya ada yang harus saya sampaikan." kata Bu Bidan serius. Ia lalu mematikan alat USGnya dan membersihkan perutku dari gel bekas USG.
"Mau sampaikan apa ya Bu?" tanyaku sambil bangun dari tidurku.
"Sepertinya anak Ibu pertumbuhannya ada sedikit masalah. Berat badannya pun masih kurang. Coba Ibu Maya makannya lebih diperhatikan lagi. Perbanyak karbohidrat. Dan yang pasti makanan yang bergizi ya Bu."
"Tapi enggak apa-apa kan Bu?" tanyaku khawatir.
"Tidak apa-apa, Bu hanya berat badannya bayi aja sih yang masih kurang dari seharusnya. Kurangi stress dan perbanyak makanan berkarbohidrat ya Bu agar bayinya beratnya cukup." kata Bu Dokter.
"Iya nanti saya akan perbanyak makan yang bergizi lagi, Dok." jawabku dengan yakin.
"Bagus itu, Bu. Nanti saya resepkan obat dan vitamin untuk Ibu minum secara teratur. Inget ya Bu, jangan stress. Ibu muda biasanya kan stress menghadapi kehamilan." pesan Bu Bidan.
"Iya, Bu."
Pemeriksaan di Bu Bidan Melati pun selesai. Kami Trio Julid pun pulang dan melanjutkan aktifitas kami yakni.... ngupasin bawang.
__ADS_1
Rutinitas rutin yang biasa kami lakukan. Enggak keren sih tapi lumayan duitnya, buat periksa bulan depan. Kan bisa sekalian USG. Mau lihat bagaimana perkembangan anak dalam kandunganku.
Sedang asyiknya mengupasi bawang dan mengobrol tiba-tiba sebuah motor berhenti di depan rumah. Leo? Leo sudah pulang? Tunggu, ini kan baru jam 2 siang. Kenapa Leo sudah pulang?