Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Istri Pimpinan


__ADS_3

Aku membawa plastik berisi kue lekker, kue cubit dan Kebab AB dengan hati riang menuju ruangan Leo.


Ruangan yang terletak di sayap kiri gedung dengan diapit ruangan para manager petinggi gedung memang beda dengan ruangan di sayap kanan. Aku yang biasa nganan kini harus ngiri, maksudnya biasanya dari operator belok kanan sekarang harus belok kiri gitu.


"Siang Bu Maya!" sapa security dengan ramah padaku.


Kok bisa tau ya namaku Maya? Dan tumben banget nyapa. Biasanya security tuh nyapa kalau kita lupa pakai name tag. Ini tumben-tumbenan nyapa bilang selamat siang.


Aku hanya geleng-geleng kepala. The power of gossip. Aku yakin Leo tak akan sempat membuat pengumuman ke satu kantor kalau aku adalah istrinya.


Sejak tadi pindah ruangan, Leo sangat sibuk, meneponku saat aku di Majestyk saja. Leo tak peduli dengan jabatannya, yang dia pikirkan hanya memimpin perusahaan agar maju dan bisa menghidupi banyak karyawan.


"Siang, Pak." aku membalas sapaan sopan yang security ucapkan padaku lalu berjalan dengan santai ke sayap kiri.


Satu persatu aku lewati. Mulai dari Manager Pemasaran, Manager Keuangan, Manager Umum dan aku hanya berjalan menuju ruangan yang berbeda dibanding yang lain.


Sekeretaris merangkap operator sedang duduk sambil menatap wajahnya di cermin. Alisnya terlihat habis melakukan tatto. Warnanya belum natural soalnya. Bulu matanya juga double. Asli dan palsu ditumpuk jadi satu.


Enak banget Leo punya sekretaris cantik kayak gini. Seksi pula. Wah, ancaman baru nih.


"Siang Bu Maya. Ada yang bisa dibantu?" lagi-lagi aku sudah disambut hangat serta tau namaku tanpa harus kuperkenalkan.


Hebat sekali, dalam waktu setengah hari aku sudah dikenal satu kantor. Hebatnya gosip. Padahal biasanya aku jarang membaur dengan yang lain, hanya senyum sopan aja padahal engak kenal.


"Leo ada?" tanpa ada panggilan Bapak, tanpa ada panggilan Mr. So. Aku hanya menyebutkan nama suamiku dengan singkat, padat dan jelas.


"Ada, Bu. Silahkan!" aku mengikuti sang sekretaris yang kutahu namanya Rena saat melihat ID Cardnya.


Aku memasuki ruangan setelah Leo mengijinkan.


"Lain kali langsung masuk aja kalau enggak ada tamu, Sayang. Pake minta dianterin segala." langsung dapet omelan saat aku masuk ke ruangannya. Bukannya disambut!


"Aku kan enggak tau dimana ruangan kamu. Masuk kesini tuh hawanya enggak enak. Beda kalau di ruangan Audit." aku menghampiri Leo dan mencium pipinya.


Leo menepuk pahanya dan memintaku duduk di pangkuannya. "Malu ah di kantor!" tolakku.


Namun Leo menarikku dan membuatku terduduk di pangkuannya. "Aku udah bilang sama Rena, kalau ada kamu jangan diganggu. Kamu baru ke ruanganku aja udah bilang hawanya enggak enak Sayang, apalagi kalau kamu ke ruangan Papa di lantai atas? Lebih enggak enak lagi hawanya."


Aku mengalungkan lenganku di leher Leo. Posisi kami saat ini seperti di film-film panas. Tapi tenang saja. Ini kantor. Tak ada tempat tidurnya. Jadi kami enggak akan ngapa-ngapain. Kalau kursi pijat baru ada. Eh kayaknya enak nih kalau lagi pegel pake kursi pijat he....he...


"Mm... Bau matahari nih!" protes Leo saat mencium lagi pipiku.


"Ih! Yaudah aku duduk di kursi pijat aja deh." aku pura-pura ngambek padahal aku sudah ngincer mau pakai kursi pijat yang terlihat nyaman itu.


"Tuh.... gitu aja ngambek. Mau bau Matahari, Ramayana, Robinson, Sogo atau Metro tetap saja aku suka. Apalagi kalau bisa diunyel-unyel gini."


Beneran loh Leo unyel-unyel aku. "Malu ah. Nanti dikira lagi mesum tau!"


Leo tertawa lepas. "Mm... Sekali-kali mesum di kantor seru juga kayaknya!"


Mataku membelalak sempurna pastinya mendengar ide gila Leo. "Enggak! Jangan aneh-aneh deh!"


"Siapa suruh kamu kasih ide? Aku mah nurut aja!"


"Memang otak kamu aja yang traveling kemana-mana! Oh iya aku bawain makanan nih buat kamu. Kamu udah makan atau belum?"


Leo menggelengkan kepalanya. "Belum. Enggak ada kamu yang temenin aku males ke kantin."


"Tuh kan! Memang enggak bisa pesan online gitu?"


"Sibuk. Banyak berkas yang disodorkan padaku begitu aku mengungkap siapa jatidiriku. Biasa, banyak nyamuk!"


"Nyamuk? Aku beli baygon dulu ya. Kalau nyamuk di siang hari kan bisa jadi nyamuk DBD. Bahaya kalau kamu sampai digigit." aku hendak bangun dari pangkuan Leo tapi cepat-cepat Ia halangi.


"Bukan nyamuk itu, Sayang. Ruangan aku tuh fasilitasnya lengkap. Ada air purifier juga dan humidifier. Nyamuk enggak ada yang mau masuk. Nyamuk disini tuh maksudnya orang-orang yang suka menjilat. Biasalah, nyari muka biar penilaiannya bagus."


"Ada yang kayak gitu?"


Leo menyandarkan kepalanya di dadaku. Posisi yang kurang nyaman sebenarnya. Tapi melihat Ia begitu lelah, kubiarkan saja.


"Banyak. Aku sekarang mengerti apa yang Papa rasakan. Kenapa Ia sampai begitu emosian saat di rumah. Karena tekanan di pekerjaan amat berat. Kamu harus sabar ya May menghadapiku."


"Ralat. Bukan hanya aku yang harus sabar. Kamu juga harus bisa bersikap profesional. Jangan membawa masalah dalam pekerjaan ke rumah. Begitu pun sebaliknya. Jangan membawa permasalahan di rumah ke kantor. Ada tembok pembatas yang jelas. Kalau kamu mencampuradukkannya maka bisa dipastikan kamu akan sebelas dua belas dengan Papa Dibyo."


"Enggak. Jangan sampai May. Aku enggak mau kayak Papa. Aku enggak mau sampai nyakitin kamu! Bagi aku, kamu dan anak-anak kita itu prioritas pertama." Leo menggeleng ketakutan.

__ADS_1


Aku merengkuh wajah Leo dan menatapnya dari dekat. Mata yang setiap melihatku selalu membuat gelenyar aneh di dalam dada. Hidung yang mancung dan bentuk wajah yang tegas dan manl**y.


"Aku percaya sama kamu. Kamu berbeda dari Papa. Aku yakin itu. Karena itu aku percayakan kamu jadi imam aku lagi."


"Ih udah pinter ngegombal sekarang ya?"


"Aku tuh bukan ngegombal. Tapi berkata jujur. Mungkin aslinya hatiku tuh memang romantis tau."


"Bisa aja. Mana sini cemilannya. Aku lapar. Lebih baik aku makan cemilan daripada makan kamu!"


Aku mengeluarkan cemilan yang kubawa.


"Banyak banget kamu belinya." ujar Leo seraya memasukkan kebab AB ke dalam mulutnya. "Mm... Enak."


"Iya dong. Enak. Itu kan kesukaanku. Aku ngiler ngeliat banyak makanan. Aku beli aja semuanya. Ternyata enggak sia-sia. Aku bisa bagi ke Kak Fahri dan Kak Anggi. Dan tentunya beliin kamu makan siang juga." aku mengelap mayonaise yang ada di ujung bibir Leo dengan tissue.


"Lapnya jangan pakai tissue dong." protes Leo.


"Pakai apa? Sapu tangan? Atau mau pakai tisue basah?"


Leo tersenyum menggoda. "Pakai bibir!"


"Mesum! Dasar mesum! Udah ah aku mau balik ke ruangan." aku hendak berdiri namun Leo tak mau melepaskanku.


"Kamu kerjanya di ruangan aku aja ya. Nanti pindahin meja kerjanya disana." Leo menunjuk sudut kosong di dalam ruangannya.


"Enggak mau ah."


"Kenapa?"


"Aku suka di ruang audit. Kalau disini ngeliat muka kamu yang tegang saat ngeliat laporan bisa bikin mood aku jelek. Aku kan butuh ketenangan juga dalam bekerja."


"Jadi aku ditolak nih?" Leo pura-pura merajuk.


"Bukan ditolak. Ada baiknya kita memisahkan hubungan pribadi dan pekerjaan. Lagi juga ketemu terus apa enggak akan bosen? Aku kan juga harus pakai ilmu tarik ulur agar kamu enggak akan pernah bosen sama aku dan melirik ke wanita lain."


"Enggak dong. Aku enggak akan bosen sama kamu."


"Masa sih?"


"Bener. Kalau aku bosen tinggal ganti gaya aja. Beres." aku tau senyum mesum itu mengartikan maksud perkataannya.


"Aku balik ke ruangan dulu ya." pamitku.


"Iya." akhirnya Leo mengijinkan. Aku rapikan kemejanya yang sedikit kusut. Merapihkan rambutnya dan menatapnya lekat.


Tidak ada jas hitam khas pimpinan. Hanya kemeja dan celana bahan biasa. Kulihat jam KW masih bertengger di tangan kirinya. Benar-benar penampilan yang sederhana dan tidak mencerminkan seorang pimpinan.


Namun semua seakan tunduk dan menghormati Leo. Menghormati pahlawan yang berhasil membawa Kusumadewa Group dari keterpurukan menjadi juara lagi.


"May." Leo memangilku ketika langkahku sudah mendekati pintu dan hendak memutar knop pintu.


"Kenapa?"


Leo menunjuk pipi kanan dan kirinya. "Sun dulu dong! Biar semangat kerjanya." senyum jahil tersungging di wajahnya.


Aku menghela nafas menghadapi ulah suamiku yang ada-ada aja. "Iya." aku menghampiri Leo dan mengecup pipi kiri dan kanan bergantian.


Leo tersenyum jahil lalu bernyanyi


🎶 Idih mama genit


suka ciumin papa🎶


Membuatku teringat akan ringtone hp menyebalkan yang sengaja dipasang Leo. Kenapa malah Mama yang mencium Papa?


"Ih jahil! Jahil! Beneran aku ganti nih ringtone nyebelin itu!" ancamku namun Leo makin tertawa terbahak-bahak mendengar ancamanku.


Aku meninggalkan ruangan Leo yang masih sayup-sayup kudengar Ia masih tertawa. Jahil... jahil...


****


Sudah jam 7 malam namun Leo belum ada tanda-tanda untuk mengajakku pulang. Aku hanya sendirian di ruang Audit.


Kak Anggi dan Kak Fahri sudah menungguku tadi, namun aku menyuruh mereka pulang duluan. Jangan karena aku menunggu Leo membuat mereka ikut menunggu juga. Bukan tugas mereka.

__ADS_1


Aku memegang perutku yang kini keroncongan. Laper. Untung saja tadi aku beli lekker banyak. Lumayan untuk mengganjal perut.


Tapi kini cemilan sudah habis. Susu Dancow pun sudah aku buat di pantry tapi tetap saja aku masih merasa lapar.


Aku sepertinya mulai meyakini perkataan Leo kalau aku memang hamil. Bawaannya laper terus. Jadi ingat saat hamil Adam dulu. Enggak ada mual dan dapat istilah hamil kebo.


Apa hamil kali ini akan sama seperti aku hamil Adam? Ah aku harus memeriksa dengan test pack besok pagi. Jangan sampai lupa lagi.


Terdengar pintu ruang Audit diketuk. Lalu kepala Leo terlihat melongok masuk. "Kamu beneran belum pulang?"


"Iyalah. Aku kan nungguin kamu!" kataku sambil cemberut.


"Maaf... Maaf.... Nyamuk banyak banget yang datang. Dari cabang juga datang." Leo mengangkat paper bag yang Ia bawa. "Ini sebagian kecil hadiah dari mereka. Sisanya aku suruh OB buat dibagikan sama karyawan yang lain."


"Masa sih? Kok bagian Audit enggak dikasih?" sindirku sebal.


"Bukan enggak dikasih. Tapi belum. Aku baru kasih tadi. OB nya belum sempat bagi-bagi. Paling di taruh di kulkas dulu baru besok dibagiin. Ayo kita pulang. Kamu pasti capek. Nanti kamu pijitin aku ya."


Aku memang agak oon. Tapi aku enggak tuli. "Wait. Aku ulangi ya perkataan kamu, kamu pasti capek, nanti kamu pijitin aku ya. Kenapa harus aku yang pijitin kamu? Kan yang capek aku?" aku mengunci ruang Audit sambil menyampirkan tas di bahu.


"Ya kalau kamu juga mau dipijitin sama aku boleh kok." Leo menyunggingkan senyum jahil dan mesum. Perpaduan baru senyum di wajahnya yang akan terus Ia gunakan sepertinya.


"Kenapa yang awalnya kamu nawarin aku kenapa berubah jadi aku yang minta dipijitin ya? Ih tambah nyebelin!"


"Uh.. cup...cup...cup.... Jangan pundung atuh. Ayo kita makan dulu. Aku ada janji juga sama seseorang."


Aku yang awalnya berjalan di samping Leo kini menghentikan langkahku. Kulihat jam di tanganku. Setengah 8 malam dan Leo masih saja ada janji dengan orang lain. Mau pulang jam berapa?


"Aku naik taksi aja kalau gitu. Kamu temuin aja orang yang janjian sama kamu sendiri!" aku merajuk. Ya Tuhan, baru sehari aku jadi istri pimpinan sudah hilang saja kesabaranku. Apalagi sebulan atau setahun? Huft...


"Yaudah enggak jadi janjian deh. Kita makan dulu ya." Leo membujukku yang mulai ngambek.


"Enggak usah! Makan di rumah aja. Kasihan Mama Lena sudah masak!" aku masih ngambek. Akal sehatku sih kasihan sama Leo. Tapi rasa haus perhatian membenarkanku untuk ngambek.


"Oke kita pulang. Tapi sebentar saja ya aku temui orang yang janjian sama aku. Please...." seorang Mr. So pun memohon pada Maya yang oon. Huft... sabar May.... sabar...


"Yaudah. Tapi jangan lama-lama ya!"


"Iya."


Ternyata Leo janjian dengan temannya Tony, sahabatnya sejak kuliah dulu. Leo dan Tony berhighfive dan memeluk layaknya dua sahabat lama yang sudah lama tak bertemu.


Tony tersenyum ke arahku lalu kami berjabat tangan. Kalau Tony sih aku kenal.


"Mana katalognya Ton?"


Tony menyerahkan katalog yang Ia bawa. Leo terlihat serius memilih. Pilihannya lalu jatuh pada sebuah mobil Mercy type terbaru. "Ini aja."


"Yakin?" tanya Tony sekali lagi.


"Iya. Udah aku cari tahu sebelumnya."


"Enggak mau Lambo atau Ferrari aja kayak Richard? Om Dibyo kan membebaskan kamu mau beli yang mana." Tony berusaha mengubah pendirian Leo.


"Enggak usah. Ini aja. Ini juga udah cukup mewah." Leo lalu melihat ke arahku. "Kamu mau yang mana Sayang?"


"Aku?" aku menunjuk ke diriku sendiri.


"Iyalah. Siapa lagi yang aku panggil Sayang selain kamu?"


"Kamu mau beliin aku mobil?"


Leo mengangguk. "Kamu pilih mau yang mana. Bebas. Sesuka kamu aja."


Aku masih bengong tak percaya. Begitu mudahnya Leo membelikanku mobil, seperti membelikanku baju di pasar malam saja. Tak memandang harga.


"Udah cepat pilih! Jangan kebanyakan bengong!"


Aku menunjuk sebuah mobil Jazz warja putih. "Ini aja."


"Ini Ton. Proses secepatnya!"


"Siap." jawab Tony.


Bapak... Ibu.... Maya dibeliin mobil! Nanti kita jalan-jalan ya Pak, Bu pakai mobil Maya.....

__ADS_1


****


Done ya 2 bab hari ini. Aku tunggu votenya ya dan like juga tentunya. Maacih.... 😘😘😘


__ADS_2