
"Memangnya ada gitu jodoh yang belum selesai?" aku mengutarakan pertanyaan yang jujur saja membuatku ragu.
"Ada May. Kamu tau enggak kisah sepasang anak kembar yang terpisah karena diadopsi?"
Aku menggelengkan kepalaku. Memang belum tau kisahnya.
"Jadi ada sepasang anak kembar yang dipisahkan karena orang tuanya bercerai. Si A diajak ke Afrika dan Si B tinggal di Inggris misalnya, saya juga agak lupa ceritanya. Lalu saat dewasa mereka bertemu lagi dengan kondisi fisik yang berbeda, Si A berkulit gelap sedangkan Si B berkulit putih bersih. Walau lama dipisahkan tapi mereka bertemu lagi dan saling mengenal karena memang mereka kembar. Itu yang dinamakan jodoh mereka belum selesai."
"Ya itu bukan jodoh namanya Bu. Itu sodaraan." protesku sambil mengambil biscuit Saltcheese dan mengunyahnya.
"Yang namanya jodoh itu belum tentu tentang pasangan May. Bisa aja kan jodoh itu tentang teman, saudara, bahkan beli rumah aja kalau belum jodoh bisa batal." protes Bu Sri.
"Tau ah Bu. Yang pasti jodoh saya sama Leo udah selesai."
"Ini lagi nih. Jangan mendahulukan kehendak Tuhan. Kita aja enggak tau keadaan 1 menit ke depan kayak gimana. Apalagi tentang jodoh?"
"Emangnya Ibu mau saya masih berjodoh gitu sama Leo?" aku membalas pertanyaan Bu Sri dengan pertanyaan kembali.
"Ya kalau bisa bikin kamu bahagia kenapa enggak?"
Jawaban Bu Sri yang membuat air mataku menggenang.
"Ahhh.... Maya sayang sama Bu Sri..... " Aku merentangkan kedua tanganku dan memeluk erat Bu Sri.
"Iya jadi nanti Angga saya jodohin sama anak saya gitu maksudnya he...he...he..."
"Ih Ibu mah!" aku melepaskan pelukan Ibu Sri sambil memanyunkan bibirku.
Ibu Sri masih saja tertawa. Kena tipu aku. Dasar emak-emak jahil.
"Tenang aja May. Anak saya kan masih kecil. Nanti Angga udah tua anak saya masih muda lagi," Bu Sri menghentikan tawanya.
"Saya melihat kamu tuh sama Angga kayak enggak ada rasa May. Beda kalau sama Leo. Walau kamu sebal dan benci sama Leo, tapi dalam mata kamu seperti hanya ada nama Leo seorang."
"Mulai deh sok taunya."
"Heh jangan menyepelekan emak-emak ya. Emak-emak tuh tau kalau ada anak gadis yang udah bunting duluan padahal belum nikah, emak-emak juga bisa tau dalam sekali lihat mana anak gadis yang masih perawan, mana juga yang udah enggak perawan lagi. Itu ilmu tingkat tinggi yang hanya emak-emak yang tahu,"
"Kalau cuma ngeliat orang yang masih sama-sama saling mencintai kayak kamu dan Leo mah gampang. Keliatan jelas tau!" ujar Bu Sri dengan berapi-api.
"Antara saya sama Leo udah selesai Bu. Kemarin Leo habis saya kasih tau makam Adam. Ternyata Leo selama ini enggak tau kalau anaknya meninggal di dalam kandungan."
"Lah terus gimana? Nangis kejer dong tuh Leo?" tanya Bu Sri penasaran.
"Bukan kejer lagi, Bu. Tuh batu nisan aja sampe dipelukkin dari jam 8 pagi sampe adzan dzuhur."
"Kasihan banget May. Pasti shock banget deh Leo. Saya enggak bisa ngebayangin gimana sedihnya Leo. Pasti Leo udah ngebayangin bisa meluk anaknya eh malah makamnya yang bisa dia peluk. Kasihan May."
Mata Bu Sri pun berkaca-kaca dan setetes air mata berhasil membasahi pipinya. Walau suka julid tapi hati Bu Sri sangat lembut dan mudah merasa iba.
"Maya juga kasihan Bu. Awalnya Maya pikir kalau Maya akan bahagia melihat Leo yang pasti akan terpukul dan sedih setelah tau Adam sudah tiada, tapi ternyata Maya enggak tega Bu."
Bu Sri menepuk bahuku pelan. "Bagus, May. Kamu hebat kalau kayak gitu. Sebesar apapun dendam kamu, jangan biarkan diri kamu hanyut dalam kebencian. Selama kamu terus membenci Leo, mungkin selama itu pula Adam bersedih di atas sana. Cobalah untuk ikhlas menerima takdir kalian. Masalah kalian nanti mau balikan atau kamu mau sama Angga itu urusan kamu. Yang pasti rasa benci diantara kalian cobalah diselesaikan."
Bijak sekali perkataan Bu Sri. See? Jangan pernah menyepelekan dan memandang rendah seseorang, karena sehina apapun seseorang kita tidak pernah bisa tahu ada hal amazing apa yang bisa dihasilkan dari otak cerdasnya....
"Udah ya May saya pulang dulu. Mau nyuci baju kotor yang segunung. Nanti sore kita ke taman yuk. Mau beli lorun (telor bihun) buat cemilan terus kita tutup sore hari dengan bakso dan es campur, gimana?"
Aku tersenyum. "Ide yang cemerlang tuh. Saya setuju!"
Dan Trio Julid pun berkumpul di taman. Duduk di bangku taman sambil kompak memakan lorun dan minum jus lima ribuan beraneka rasa.
Aku duduk diapit kedua ibu-ibu julid yang asyik meniup-niup lorun yang masih panas dan melahap langsung beserta saos abang-abang yang terkenal kenikmatannya.
"Angga mana May?" tanya Bu Jojo yang mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk memakan lorun. Terlihat gelang emas baru yang tadi pagi dibelikan Mas Bojonya tersayang.
"Enggak tau. Belum ngabarin dari kemarin. Sibuk kali," aku menyeruput es jus yang rasanya asli... asli campuran antara buah asli dan perasa makanan maksudnya.
"Bu, itu gelang barunya dipamerin melulu. Riya bener!" protesku.
"Oh... Maya ngeliat ya? Bagus enggak?" ini nih, sok-sokan pura-pura enggak tau tapi ujung-ujungnya pamer.
__ADS_1
"Gimana enggak ngeliat kalau Ibu ngangkatnya tinggi kayak gitu? Silau tau saya!"
"Sabar May... Sabar.... Saya aja yang dari tadi mupeng cuma bisa ngeliatin aja." ujar Bu Sri menenangkanku.
"Ih saya mah enggak mupeng, Bu. Saya enggak suka pakai emas,"
"Yang bener?" tanya duo julid kompak.
"Tapi sukanya pakai berlian... ha....ha...ha..." perkataanku sukses membuat duo julid mencibir sebal.
"Hu.... Lebih riya dari pada saya." celetuk Bu Jojo.
"Sst! Diem dulu deh. Tuh liat ada yang lagi mojok. Pacarannya di pojokan taman!" tunjuk Bu Sri membuat kami kompak diam dan melihat ke arah yang Bu Sri tunjuk.
Terlihat sepasang anak muda berusia SMA sedang duduk sambil berangkulan di pojokkan taman yang tertutup oleh pohon palem.
Bu Sri diam-diam mengendap dan.... "Dorr!"
Teriakannya mengagetkan kedua sejoli dan membuatnya malu lalu pergi meninggalkan taman sambil memberengut kesal dengan kelakukan Bu Sri.
Aku dan Bu Jojo tertawa ngakak dibuatnya. Sumpah ya, Bu Sri tuh kelakukannya konyol banget.
"Ha...ha...ha... Kalo saya enggak bubarin udah berbuat mesum tuh anak piyik. Enggak tau aja kalau nikah itu berat. Iya kan May?" sindirnya Bu Sri langsung tertuju padaku.
Tawaku pun langsung lenyap, aku balas mencibir Bu Sri yang hanya tertawa cengengesan.
"Udah ngapa jangan nyindir saya melulu." pintaku setengah memelas, berharap mereka akan kasihan tapi harapan itu hanya semu.
"May, gimana jadi karyawan kantoran? Udah seminggu nih kamu kerja!" Bu Jojo mengganti topik pembahasan kami.
"Pusing Bu. Saya salah pilih bagian kayaknya. Susah jadi audit. Yang harus diperiksa banyak." aku memakan lorun yang sudah kuaduk rata dengan saus. Lezatnya...
"Ya dijalanin dengan ikhlas nanti jadi ringan. Kalau ngejalaninnya sambil ngedumel yang ada pekerjaan makin berat. Bersyukur. Di luar sana masih banyak orang yang pengen dapet pekerjaan seperti yang kamu miliki saat ini." ujar Bu Sri dengan bijaknya.
"Betul itu! Eh tapi kemarin kayaknya saya liat Leo deh May di warung Pak Husin. Dia mukanya pucet gitu terus matanya bengkak kayak habis nangis."
Aku dan Bu Sri saling menatap. Sia-sia aku dan Bu Sri menyembunyikan fakta pertemuanku dan Leo eh ternyata Bu Jojo malah melihat langsung.
"Kalian udah tau ya?" tebak Bu Jojo.
"Ih apaan sih kalian? Ketauan bohongnya tau! Kalau mau bohong tuh yang kompak!" gerutu Bu Jojo.
"Maaf Bu. Maya tadinya enggak mau cerita karena Maya pikir antara Maya dan Leo sudah selesai. Jadi Maya satu kantor sama Leo dan udah kasih tau dimana makam Adam,"
"Mungkin pas ketemu sama Bu Jojo, Leo lagi sedih dan habis menangis di makam. Maya pikir Leo udah enggak bakalan kesini lagi eh tadi pagi Leo pake acara bawain nasi uduk lagi ke rumah Maya, kan jadi ketemu sama Bu Sri. Panjang deh urusannya kalau kalian tahu mah."
"Saya ngerti kamu takut kita ngomel kan kalau kamu ketemu sama Leo? Enggaklah May, tenang aja. Jangan kamu pendam sendiri permasalahan kamu May. Cerita sama kita berdua. Toh kita tetap mendukung apapun keputusan kamu kok. Mau kamu pilih Leo atau Angga kita berdua tetap dukung." ujar Bu Jojo tanpa merasa teringgung karena aku menyembunyikannya dari mereka berdua.
"Ya ampun... Kalian berdua memang sahabat Maya yang terbaik. Ayo sekarang Maya traktir makan bakso!"
"Ayo! Saya mau sama es campur juga ya May?" tanya Bu Sri.
"Sok atuh. Saya bebaskeun."
Kami pun berjalan bersama sambil tertawa bahagia. Persahabatan lintas generasi yang indah dan kompak tentunya.
***
Pagi hari saat baru saja sampai di kantor, aku mendapati sebuah roti dan hot chocolate ada di meja kerjaku.
Aku memandang ke sekitar dan belum ada siapapun di ruangan. Hanya ada tas selempang milik Leo yang ditinggalkan pemiliknya yang entah sedang berada dimana.
Aku langsung bisa menebak siapa yang sudah menaruh roti dan hot chocolate di mejaku. Siapa lagi kalau bukan Leo?
Aku mengambil roti dan hot chocolate di meja dan memindahkannya di meja Leo. Lalu aku duduk di kursiku dan mulai menyalakan komputer.
Tak lama mulai berdatangan penghuni ruang audit. Termasuk Leo yang sudah rapi setelah dari kamar mandi.
Aku melirik Leo dari sudut mataku. Kulihat Ia seperti bingung melihat roti dan hot chocolate pemberiannya ada di mejanya.
Kulihat Leo menyunggingkan seulas senyum lalu memakan roti dan meminum hot chocolate tanpa berkata apa-apa.
__ADS_1
"May." panggil Pak Johan.
"Iya, Pak." jawabku yang langsung berdiri dan menghampiri meja Pak Johan.
"Kemarin ada perubahan harga bahan baku dari supplier. Coba kamu telepon supplier tersebut dan memastikan apa saja yang mengalami kenaikan harga. Itu tanggal efektif kenaikan harganya beda-beda, kamu dipastikan dulu lalu buat perencanaan biayanya." Pak Johan menyerahkan berkas penunjangnya padaku.
"Baik, Pak."
Aku mengambil berkas tersebut lalu mulai berkutat dengan laporan harga pembelian barang. Aku memasukkan harga yang baru dan mensortirnya, mana saja yang mengalami kenaikan harga.
Aku menelepon perusahaan yang mensupplai barangnya lalu memastikan harga kenaikan apakah sudah sesuai dengan laporan atau tidak. Masih agak manual memang tapi audit yang seperti ini lebih menghindari kecurangan.
"Leo." kali ini Leo yang dipanggil oleh Pak Johan.
"Iya, Pak." Leo menaruh hot chocolate yang Ia sedang minum dan menghampiri Pak Johan.
"Kamu buat list barang yang sudah expired dan berita acaranya."
"Baik, Pak."
Pekerjaan yang diberikan ternyata membuatku keasyikan dan terhanyut di dalamnya. Tanpa sadar sudah jam istirahat tiba.
"Sst, May!" panggil Leo.
"Mm." jawabku singkat tanpa menengok ke arah Leo dan tetap fokus pada pekerjaanku.
"Istirahat yuk. Nanti keburu habis waktu istirahatnya." ajak Leo.
Aku mengangkat wajahku dari setumpuk laporan yang kuperiksa dan melihat kalau hanya tinggal aku dan Leo saja di ruangan sementara yang lainnya sudah istrirahat semua.
"Udah jam 12 lewat?" tanyaku.
Leo hanya mengu lum senyum melihatku yang baru menyadari kalau ruangan sudah kosong.
"Baru sadar Neng? Mau makan enggak? Atau mau aku beliin makanan jadi kamu bisa makan di ruangan?" tanya Leo yang bersiap bangun dan hendak membelikanku makanan.
Merasa tidak enak dengan kebaikan hati yang Leo tawarkan aku terpaksa menolaknya.
"Enggak usah. Aku ke kantin aja," aku merapihkan pekerjaanku dan bersiap ke kantin.
"Loh kok belum pergi?" tanyaku yang melihat Leo hanya berdiri di depan pintu dan memainkan Hp nya.
"Nungguin kamu. Ayo ke kantin bareng." ajak Leo sambil menyunggingkan senyumnya.
Tak ingin berdebat lebih lama, lebih baik aku menuruti saja kemauan Leo. Aku menjaga jarak darinya dan hanya berdiam diri selama bersama Leo.
"Hi May!" sapa Aldi yang sudah menyiapkan tempat duduk kosong untukku dan Leo.
"Hi, Di! Ana mana?" tanyaku yang hanya melihat nampan berisi makanan tanpa melihat keberadaan Ana.
Aku menaruh nampan berisi makan siangku tepat di samping kursi Ana yang kosong.
"Kayaknya ke toilet sebentar deh." jawab Aldi.
"Oh." aku membuka tutup botol air mineral dan meneguknya sedikit untuk membasahi tenggorokanku.
Tak kuindahkan Leo yang sudah duduk di samping Aldi, yang berarti di depan nampan kosong milik Ana.
"Hmm.... May,"
"Kenapa, Di?"
"Udah terima roti dan hot chocolate dari aku belum?"
Aku mengangkat wajahku dari nampan dan menatap Aldi tidak percaya. "Jadi, tadi kamu yang kasih?"
Kulirik sekilas ke arah Leo yang sedang mengu lum senyum. Ternyata aku salah paham. Kupikir Leo yang memberikannya. Aduh....
"Oh udah terima toh. Besok aku bawain lagi deh buat kamu. Kamu mau roti rasa apa?" tanya Aldi lagi.
Sekarang kuperhatikan senyum di wajah Leo menghilang berganti tatapan tidak suka pada teman di sampingnya tersebut.
__ADS_1
"Hmmm... Enggak usah, Di. Aku... lebih suka sarapan nasi uduk." jawabku spontan yang langsung membuat senyum di wajah Leo kembali mengembang.
Oh God... Aku salah ngomong dong????