
"May mau kemana?" tanya Leo ketika melihatku berjalan dengan membawa tas ke arah pintu.
"Pulang." jawabku tanpa menengok ke belakang.
"Tunggu! Aku anterin. Aku matiin komputer dulu."
Aku tak mengindahkan perkataan Leo dan terus berjalan. Tujuannya adalah agar Leo mengejarku.
Tapi aku harus menggunakan strategi tarik ulur nih. Kalau aku jalannya kecepetan, nanti Leo nggak bisa ngejar aku. Tapi kalau aku jalannya lama nanti ketahuan kalau aku lagi nungguin Leo.
Jadi aku berjalan terus aku berhenti sebentar terus aku lihat lagi ke belakang lalu aku jalan lagi, melirik lagi ke belakang ternyata Leo belum keluar ruangan.
Aduh gimana nih strategi tarik ulur gagal. Leo lama banget sih keluar ruangannya!
Yaudah sebagai cewek harus ada rencana tarik ulur side B. Ceilah kayak kaset aja ada side A dan side B segala!.
Rencana tarik ulur side B adalah pura-pura ada telepon. Aku berjalan amat pelan sambil berakting kalau sedang menerima telepon.
Aku melirik ke belakang dan Leo sedang mengunci pintu. Oke waktunya menutup telepon juga dan mulai berakting.
"Iya Bu. Jaga kesehatan ya Bu. Nanti Maya pulang. Maya sayang Ibu." aku menutup telepon dan mulai berjalan menuju lift.
"May tunggu dong!" teriak Leo yang mulai berlari mengejarku.
Aku pura-pura acuh tak mau melihat ke belakang. Sampailah aku di depan lift dan Leo berhasil mengejarku. Misi tarik ulur side B berhasil yey!
"Kenapa sih buru-buru banget?" tanya Leo dengan nafas yang ngos-ngosan sehabis mengejarku.
"Ya mau pulang lah." jawabku sok cool.
"Bareng atuh May. Kita kan berangkat bareng, masa sih pulangnya sendiri-sendiri?" ujar Leo yang kini berdiri di sampingku menunggu lift yang sejak tadi penuh terus.
"Kirain kamu sibuk. Tadi aja ngilang pas mau pulang." sindirku.
"Bukan sibuk tadi aku tuh-" belum sempat Leo menjelaskan padaku tiba-tiba ada yang memanggil nama Leo.
"Leo!"
Aku dan Leo reflek menengok ke arah yang memanggil Leo. Ternyata cewek tadi yang ngobrol dengan Leo sampai segitu akrabnya.
"Hai Li!" Leo menyapa balik cewek itu dan tersenyum lebar.
Jarang-jarang loh Leo tersenyum begitu lebar pada seorang perempuan. Siapa sih cewek ini?
"Udah mau balik?" tanya cewek yang tadi Ia panggil Li. Entah kependekan dari Lincah, Melin, Lince atau Lintong sayur? Ups...
"Iya. Kamu juga?" tanya balik Leo.
"Maunya sih kita nongkrong dulu di cafe, gimana? Mau enggak?"
Ih nih cewek lebih kecentilan lagi dibanding Ana. Ngapain coba ngajakin laki orang buat nongkrong di cafe? Eh bukan laki orang deng tapi mantan laki orang!
"Next time aja ya. Udah terlanjur janji sama Maya." Leo lalu menepuk jidatnya seakan baru sadar kalau Ia belum mengenalkan kami berdua.
"Kenalin ini Maya teman satu ruanganku di bagian audit." Leo memperkenalkanku lalu beralih ke arah cewek itu lagi. "Ini Lidya, May. Salah satu owner Samchi yang akan bekerja sama dengan perusahaan kita."
Oh namanya Lidya toh kirain beneran Lintong sayur?
"Maya." aku mengulurkan tangaku.
"Lidya." ujar Lidya seraya menjabat uluran tanganku.
"Memang kalian mau kemana?" tanya Lidya kemudian.
"Enggak kemana-mana sih. Kebetulan rumahnya Maya searah sama aku yaudah kita bareng." jawaban Leo membuatku kesal.
Ting.
Pintu lift terbuka di depan kami. Untunglah liftnya kosong. Aku langsung masuk dan menekan lantai ground. Leo dan Lidya ikut masuk setelahku.
"Kirain aku mau kemana gitu. Rumah kita bukannya searah juga ya? Bolehlah kapan-kapan aku yang bareng sama kamu?! Kita kan satu kantor sekarang." Lidya ngobrol sambil senyum-senyum menggoda, membuatku makin kesal saja.
"Bisa diatur itu he...he...he..." jawab Leo sambil ikut tersenyum.
Ih apa-apaan sih Leo? Ngapain juga harus senyum-senyum sama cewek lain? Di depanku lagi! Enggak ngejaga perasaan orang banget sih!
Ups tunggu, kenapa Leo harus menjaga perasaanku ya? Kami kan sudah bercerai. Terserah Leo dong mau senyum sama siapa aja. Kenapa aku harus sewot?
"Kirain aku kamu menghilang kemana eh ternyata kamu lanjut kuliah lagi. Enggak apa-apa sih, toh takdir akhirnya mempertemukan kita lagi disini." ujar Lidya.
"Ya pada akhirnya aku balik juga ke rumah Papa dan disuruh kuliah lagi ya nurut aja. Mau ngapain lagi coba buat ngusir waktu luang?" kata Leo.
__ADS_1
Aku bagaikan sebuah lukisan yang berdiri di sudut ruangan. Hanya mendengarkan dua orang di depanku berbicara tanpa diajak ngobrol sama sekali.
"Jadi inget deh waktu pertama kali kamu kerja dulu, kikuk banget sampai beberapa kali salah kasih pesanan. Tapi bukannya bikin aku kesal malah buat aku mau tertawa terus. Soalnya lucu aja gitu, anak orang kaya kerja di restoran kecil punyaku. Mau aku omelin bisa kena jitak bapaknya nanti he....he...he..." Lidya tertawa sambil menutup mulutnya.
Oh lagi reunian nih? Apa Lidya enggak tau kalau dulu Leo tuh kerja karena menghidupi istrinya yakni aku?
Aku menatap Leo yang ikut tertawa mendengar perkataan Lidya. Ih centil banget sih Leo, ketawa ketiwi di depan cewek lain. Nyebeli! Nyebelin! Nyebelin!
"Ha...ha...ha... Jadi malu kan aku dibongkar lagi sama kamu. Dulu masih grogi ketemu banyak pelanggan kamu. Kamu sih hebat banget masih muda bisa merintis usaha sampai sebesar itu. Bikin aku makin iri aja sama kamu." puji Leo.
Oh sekarang Leo yang muji-muji Lidya. Cocok deh saling memuji kalian.
Ini kenapa sih liftnya lama banget turunnya? Udah sebal aku satu ruangan dengan sepasang kekasih yang lagi tebar pesona ini.
Akhirnya lift sampai juga di lantai ground. Aku yang berdiri di belakang tombol lift terpaksa harus membiarkan Lidya yang berdiri dekat pintu lift keluar duluan.
Kok kesannya kayak aku petugas lift ya dan mereka tamu yang harus aku layani?
"Ayo May!" Leo menyuruhku keluar duluan dari lift baru dirinya yang terakhir. Lumayan meredam kesalku sih. Kalau Leo tadi keluar duluan pasti rasa kesalku makin bertambah saja.
"Kamu bawa mobil?" tanya Leo pada Lidya.
"Bawa kok. Apa aku besok enggak usah bawa mobil aja ya biar bisa bareng sama kamu?" ledek Lidya.
"Ha..ha...ha.. Aku naik motor. Kalau bareng sama Richard aja gimana? Nanti aku bilangin." jawab Leo dengan senyum yang tak pernah hilang sejak tadi.
"Enggak mau! Maunya bareng kamu aja." Lidya lalu melihat ke arahku. "Hmm...Mbak Maya, Leonya bisa minjem kan buat bareng aku?"
Mbak? Memangnya aku tuh Mbak-mbak tukang pecel? Enggak nyadar diri apa kalau kamu tuh lebih tua daripada aku?
"Err... Terserah sama Leo aja sih." nah, aku keluarkan jurus sakti seluruh kaum cewek yakni kata 'terserah'. Coba aja deh Leo salah jawab bisa habis nanti sama aku!
"Tuh katanya boleh Leo." loh kapan aku bilang boleh? Ah asli ngarang nih Lidya.
"Maya tuh baik tau Li. Iya kan May?" tanya balik Leo.
Aku hanya tersenyum meringis. Senyum setengah ikhlas dan setengah lagi jijik sih.
Sampai di depan lobby aku dan Leo pamit pada Lidya. "Kita duluan ya Lid." ujar Leo.
"Duluan Kak." males sih aku manggil Kak. Pengennya manggil Mbah aja. Mbah Uti cocok kayaknya.
Aku dan Leo berjalan di sebelah kanan.
"Kenapa enggak nganterin Lidya aja? Aku bisa naik Kopaja kok." kataku setelah hanya tinggal kami saja yang berjalan menuju parkiran motor.
"Lidya bawa mobil hari ini." jawab Leo.
"Kalau besok enggak bawa mobil terus kamu anterin gitu?" tanyaku dengan ketus.
"Ya kalau kamu milih ikut Angga buat anter jemput kamu kan enggak ada yang aku anterin, jadi lebih baik aku anterin Lidya aja. Itung-itung amal." jawaban Leo malah memercik emosi dalam diriku.
"Iya nanti aku bilang Angga aja buat jemput aku lagi. Biar kamu bisa bareng sama Lidya." perkataanku terkesan kalau aku sedang cemburu, padahal tidak. Siapa yang cemburu? Enggaklah ya!
"Oke siap." jawab Leo.
Loh kok Leo malah jawab kayak gitu? Bilang apa kek biar rasa kesal di dadaku enggak makin menuncak?
Kami sudah sampai di parkiran motor. Leo menyerahkan helm untuk kupakai. Sebenarnya Leo mau memakaikanku helm tapi wajahku seakan menggambarkan kalau aku enggak bisa diganggu alias muka jutek mode on.
"Kita mau mampir kemana dulu enggak?" tanya Leo.
"Enggak usah. Langsung pulang aja!" kataku sambil menaiki motor Leo.
"Siap Bu Boss!"
Leo lalu mengemudikan motornya keluar dari area kantor. Tapi rute Leo kali ini tidak seperti rute biasa.
"Kita mau kemana?" tanyaku yang heran dengan rute memutar yang Leo pilih. Apa Leo mau berlama-lama denganku ya menikmati suasana pulang kerja bareng?
"Macet May kalau lewat jalan tadi pagi. Enakkan keluar masuk kampung kayak gini. Walau memutar tapi jalan terus." jawaban yang mengecewakan saudara-saudara.
"Oh." jawabku singkat namun dalam hatiku menggerutu panjang lebar. Kirain mau jalan-jalan dulu sebelum pulang. Eh beneran langsung pulang ternyata.
Dasar makhluk Mars memang tidak peka!
Enggak enaknya lewat area perkampungan adalah banyak polisi tidur. Baru ngegas sebentar eh udah ada polisi tidur lagi.
Leo memang bawa motornya halus, enggak seradak seruduk main hajar aja polisi tidur kayak Kang Ojek. Tetapi oh tetapi....
Perutku bergejolak. Aku yang minum air putih sampai 2 gelas penuh mulai merasakan kantung kemihku yang penuh rasanya mau meledak, alias kebelet pipis.
__ADS_1
Aku mencoba menahannya tapi beberapa polisi tidur terus menghadang kami. Membuatku makin tak kuat menahannya.
"Leo."
"Hmm." jawab Leo yang sejak tadi diam saja tak mengajakku berbicara.
"Ada pom bensin enggak?" tanyaku.
"Bensin aku masih full enggak usah kamu isiin."
Ih siapa yang mau ngisiin? Beneran enggak peka ya? Aku enggak bisa lama-lama nahan nih! Kalau nunggu sampai rumah kontrakkan enggak akan keburu.
"Aku mau ke toilet. Ada pom bensin enggak deket sini?"
"Oh mau ke toilet. Kita berhenti di restoran depan aja. Pasti ada toiletnya disana."
"Yaudah dimana aja deh." kataku nyerah.
"Di semak-semak boleh?" ledek Leo.
Bug. Aku meninju pelan bahu Leo yang kini malah makin tergelak saja.
"Jangan rese!"
Leo akhirnya keluar dari area perkampungan dan berhenti di salah satu restoran yang menjual bebek goreng.
"Cepetan!" kataku tak sabaran. Udah di ujung banget soalnya.
"Ya sabar atuh. Helm kamu juga copot dulu sini!" ujar Leo sambil melepas helm miliknya sendiri.
Aku sampai lupa membuka helm saking sudah kebelet pipisnya. Aku buru-buru membuka helm lalu menyerahkannya pada Leo.
"Ayo. Cepetan!" kataku makin tak sabaran.
Leo tersenyum dan berjalan di sampingku masuk ke dalam restoran.
"Sore Pak, Bu. Silahkan." seorang pelayan menyambut kedatangan kami.
"Toiletnya dimana Mbak?" aku langsung menanyakan tujuanku.
"Didepan lurus saja Bu." tunjuk pelayan tersebut.
"Makasih Mbak." aku langsung menuju toilet yang ditunjukkan oleh pelayan tadi.
Aku langsung masuk ke dalam toilet dan menuntaskan hajatku. Semuanya gara-gara Leo! Enggak pernah aku kebelet pipis kalau pulang kerja kayak sekarang!
Selesai menuntaskan hajatku aku pun bisa bernafas lega. Aku keluar dari kamar mandi dan mencuci tanganku.
Aku mencari keberadaan Leo yang ternyata sudah duduk di salah satu tempat kosong sambil meminum es teh manis.
"Udah pipisnya?" tanya Leo begitu melihat kedatanganku.
"Udah. Ayo pulang!"
"Makan dulu aja. Sini duduk!" Leo menepuk kursi duduk di sampingnya yang kosong.
Aku pun menurut dan duduk di sampingnya.
"Good girl!" seru Leo seraya mengacak rambutku.
"Udah pesen belum?" tanyaku sambil melihat-lihat menu makanan yang terlihat enak itu.
"Udah. Kamu juga udah aku pesenin." jawab Leo.
"Baguslah." aku menutup lagi buku menu dan menaruhnya di atas meja.
"Besok-besok kalau mau gabung ngobrol sama aku dan Lidya bilang ya."
Aku tak mengerti maksud ucapan Leo apa.
"Maksudnya? Aku mau gabung gitu dalam pembicaraan kamu? Kamu salah paham nih kayaknya. Aku enggak mau kayak gitu kok." elakku.
"Memangnya aku enggak lihat kalau tadi kamu sampai minum dua gelas di pantry? Gelas kamu gede loh May. Makanya enggak heran kalau kamu kebelet pipis."
Loh jadi Leo tau ternyata? Ah aku malu banget nih.
"Rese!" kataku seraya memukul bahu Leo pelan.
"Ha...ha...ha...ha... " Leo terus menertawakanku sampai puas.
*****??
__ADS_1