
Aku tidak tahu sudah berapa lama menangis dan memeluk makam Adam. Saat Maya menepuk bahuku dan mengingatkan kalau hari sudah semakin siang perlahan kesadaranku mulai pulih.
Dengan pikiran kosong aku mengikuti langkah Maya yang menenteng paper bag yang tadi kubawa di tangan kiri dan menggandeng tanganku di tangan kanannya.
Aku menoleh ke belakang, ke makam Adam yang sudah ditaburi bunga mawar oleh Maya. Rasanya aku tak ingin pergi dari makam tersebut. Aku mau terus menumpahkan penyesalanku yang terdalam disana.
Namun Maya sepertinya tidak mendukung keinginanku. Dengan tetap menggandeng tanganku Ia mengajakku ke sebuah panti asuhan yang terletak tidak jauh dari area pemakaman.
Maya menyerahkan paper bag yang kubawa. Mainan dan pakaian yang sudah kubayangkan akan diterima oleh Adam dengan senyum bahagia nan tulus khas anak kecil.
Harapan hanya tinggal harapan. Pakaian yang kuberikan selamanya tidak pernah bisa Adam pakai. Mainan yang kupilihkan dan bermimpi kami bisa bermain bersama hanya sekedar angan yang tak pernah bisa terwujud.
"Mohon diterima dan dibagikan kepada anak-anak di Panti. Ini dari anak saya Adam." begitu yang Maya katakan pada pemilik panti asuhan yang terlihat amat keibuan dan menyayangi anak-anak asuhnya tersebut.
"Terima kasih Bunda. Semoga keberkahan dan kebahagiaan Bunda sekeluarga semakin bertambah dan selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa." Ibu pemilik panti menerima paper bag yang Maya berikan seraya membacakan doa yang tulus atas kebaikannya.
Maya mengangkat kedua tangannya dan mengaminkan doa yang Ibu pemilik panti ucapkan.
Setelah bercakap-cakap sejenak Maya lalu mengajakku pergi. Pikiranku masih shock dan kosong. Maya kembali menggangdeng tanganku dan Ia membawaku ke rumah kontrakkannya yang baru.
"Duduklah. Aku ambilkan minum dulu." Aku duduk di ruang tamu tanpa sofa yang hanya dialasi karpet dan meja kecil. Aku memandang sekeliling dan ternyata rumah kontrakkan ini lebih kecil dari ukuran rumah kontrakkan kami dulu.
Aku duduk dan menyadar di dinding. Kepalaku aku sembunyikan diantara kedua lututku. Tangis terisak masih saja belum bisa aku hentikan.
"Minumlah." Aku mengangkat kepalaku dan mendapati Maya sudah menghidangkan segelas air mineral dan cemilan di meja kecil.
Aku hanya terdiam dengan pikiran kosong. Rasa bersalah dan shock masih melingkupi dadaku. Meninggalkan lubang besar yang terbuka lebar. Kosong.
Maya mengulurkan segelas air dan menyuruhku untuk minum. Awalnya aku mau menolak, tapi tangan Maya tak juga turun dan tetap menunggu sampai aku mau mengambil minum yang sudah Ia sodorkan.
Akhirnya kuambil gelas tersebut dan meminumnya. Air putih seakan bisa menenangkanku dan membuatku bisa berpikir lebih jernih lagi.
Aku menaruh gelas bekas minumku di atas meja kecil dan menatap Maya.
"Kamu menceraikan aku karena aku sudah membunuh Adam? Bukan karena mau menikah dengan Angga?" aku mulai menanyai Maya. Aku harus tau semua yang terjadi.
Maya hanya menjawab dengan anggukan sambil matanya melayang mengenang kejadian di masa lalu.
Tes... Air mata kembali menetes dari pelupuk mataku. Membuat rasa menyesal semakin menderaku
"Maaf...." tenggorokanku seperti tercekat saat mengucapkannya.
Aku tahu bahkan kata maaf pun tak pantas aku ucapkan. Kata maaf tak akan pernah bisa membawa Adam hidup kembali.
Maya tak menjawab perkataanku. Aku tahu hati Maya juga sakit mendengar perkataanku. Setelah apa yang kuperbuat, aku hanya bisa mengucapkan maaf? Sungguh laki-laki breng sek aku ini!
Maya terlihat memainkan kukunya. Tertunduk dan hanya diam. Sepertinya Ia tak mau membahas masa lalu yang sudah susah payah Ia lupakan itu.
"Apa yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahanku?" tanyaku lagi. Aku lebih suka Maya menamparku daripada hanya diam seperti ini.
"May...." aku menarik tangan Maya. Bersiap menerima hukuman yang akan kuterima.
Maya menarik tangannya cepat. Menghempaskan tanganku.
"Pulanglah!"
Maya membuang pandangannya dariku. Ia bahkan tidak mau melihatku lagi. Aku memang sehina itu. Aku bahkan layak mendapatkan yang lebih dari itu.
Aku berusaha bangun dan hendak pergi meninggalkan rumah kontrakkan Maya namun sebelumnya aku pamit terlebih dahulu.
"Aku pulang May."
Diam. Maya hanya diam dan tak menanggapi perkataanku. Membuang wajahnya agar tak perlu melihatku pergi.
Masih dengan pikiran yang setengah kosong aku lalu berjalan kembali ke rumah kontrakkan lamaku. Mengambil motor yang kutitipkan ke Pak Husin sang pemilik warung.
Walau dengan langkah gontai aku berhasil menyeret langkahku sampai warung Pak Husin. Motor Aerox yang jarang kupakai.
Aku mengingat salah satu khayalanku semalam, sebelum aku tahu kalau Adam itu sudah tiada. Aku membayangkan akan mengajak Adam muter-muter keliling kampung dengan motor baru kesayanganku itu.
Pasti Adam akan tersenyum senang. Giginya yang mulai tumbuh rata akan terlihat kala Ia tersenyum lebar. Tawanya yang terdengar renyah akan membuat aku reflex mengikutinya tertawa.
Khayalan hanya tinggal khayalan. Motor Aerox itu bahkan tidak akan sempat Adam naiki. Aku menghampiri warung Pak Husin.
__ADS_1
"Udah nitip motornya?" tanya Pak Husin ramah.
Kuselipkan uang lembar berwarna biru sebagai ucapan terima kasih.
"Makasih, Pak." sahutku lemas.
"Wah banyak banget upah nitipinnya." senyum Pak Husin lebar. "Kamu mau tinggal disini lagi? Bareng sama Neng Maya?" tanya Pak Husin.
Aku menggelengkan kepalaku. "Enggak, Pak."
"Oh... Kirain mau tinggal bareng sama Neng Maya lagi. Kasihan Maya tinggal sendirian. Untung aja Bu Sri dan Bu Jojo sering main." ujar Pak Husin.
Aku terdiam mendengar informasi yang Pak Husin beritahu padaku. Maya tinggal seorang diri?
"Bukannya Maya dan Angga.... ?" aku menggantung pertanyaanku, antara berat mengucapkannya dan tak enak rasanya menyebut nama istri dengan orang lain.
"Angga anaknya Bu Lakshmi yang orang kaya itu?" tanya Pak Husin.
Aku mengangguk, sekedar berkata 'iya' saja aku berat.
"Angga mah tinggal di rumah emaknya lah. Kalau tinggal sama Neng Maya bisa digrebek orang kampung disangka kumpul kebo?!"
Maya belum nikah dengan Angga? Lalu Maya beneran tinggal di kontrakkannya seorang diri? Aku tahu.... Aku tahu bagaimana harus menebus semua dosaku.
POV Leo End.
*****
Dulu waktu aku merasa hancur setelah operasi di Rumah Sakit hatiku sempat mendendam. Sakit hati yang dalam.
Bahkan pernah terlintas di benakku untuk membunuh Leo dengan kedua tanganku sendiri karena telah menghilangkan nyawa anak dalam kandunganku.
Dendam itu terus melintas di benakku. Bahkan saat Bapak menanyakan apa yang akan aku lakukan selanjutnya aku menjawab 'bercerai' dengan mantap.
Tak ada gentar. Tak perlu menengok ke belakang. Keputusanku untuk bercerai sudah bulat.
Tak perlu pakai proses mediasi segala. Langsung saja sidang cerai dan beres.
Aku juga langsung berangkat ke Bandung. Secepatnya menghapus kenangan lama yang menyakitkan dengan pergi ke tempat yang jauh, memulai hidup baru.
Air mata, dendam, amarah seakan jadi satu. Sampai aku pernah bertekad akan menghancurkan Leo jika kami sampai bertemu lagi.
Ternyata Tuhan malah mengabulkan doa yang tidak kuucapkan dengan sungguh-sungguh. Ia mempertemukanku kembali dengan Leo.
Lalu apakah dendam di hatiku sudah hilang? Jawabannya tentu tidak. Maka saat Leo meminta untuk bertemu Adam, maka saat itu aku merasa inilah waktu yang tepat untuk membalas semuanya.
Aku akan membuat kamu hancur Leo. Melebihi rasa hancurku dulu saat menyentuh tubuh mungil Adam yang sudah tak bernyawa!
Aku mengijinkan Leo bertemu Adam. Aku bahkan tertawa puas saat Ia tersenyum lebar sambil membawa paper bag besar berisi mainan dan pakaian untuk Adam. Aku tahu kalau sebentar lagi Leo akan hancur. Sama sepertiku dulu.
Saat kusebut nama pemilik makam, Leo langsung menjatuhkan paper bag yang Ia bawa. Ia bahkan berlutut dan menangis histeris di makam Adam.
Persis seperti yang aku bayangkan selama ini. Persis seperti keinginanku beberapa tahun lalu. Terwujud sudah semua keinginanku.
Tapi apa aku puas?
Apa aku bahagia?
Apa dendamku membuatku bisa bernafas lega?
Jawabannya tidak.
Tangisan Leo malah membuat batinku makin teriris.
Air mata pilu Leo membuat luka menganga di hatiku malah semakin terasa perih.
Tatapan kosong sambil terus memeluk batu nisan Adam dan mengelusnya seakan sedang memeluk Adam membuatku juga merasakan rasa sakit yang Ia rasakan.
Enggak bisa....
Aku enggak bisa selamanya melihat keadaan menyedihkan ini.
Aku mengambil tas yang tadi kubawa. Kutaburkan kelopak bunga mawar diatas makam Adam. Bekas bunga minggu lalu yang kutaburkan masih menyisakan kelopak bunga kering tapi sudah kutabur lagi dengan bunga yang baru.
__ADS_1
Aku memang rutin menyambangi makam Adam. Sesekali mengajak Adam mengobrol, membayangkan Adam bisa membalas obrolanku. Alasan itulah yang membuatku keukeuh untuk tinggal lagi di dekat rumah kontrakkan lamaku meskipun Bapak berkali-kali menentang sampai akhirnya menyetujuiku.
Kubuka dua botol air mawar dan kusiramkan diatas bunga mawar yang telah kutaburkan. Biasanya juga aku membasahi batu nisan dengan air mawar lalu membersihkan batu nisan tersebut agar terlihat bersih.
Melihat Leo masih memeluk batu nisan dengan pikirannya yang kosong, aku urungkan niatku tersebut.
Membaca doa sudah, menabur bunga dan menyiram air mawar sudah. Aku putuskan untuk pulang ke rumah meninggalkan Leo seorang diri menikmati kesedihannya.
Aku kembali ke rumah kontrakkanku. Menyalakan televisi dan menonton Warkop DKI yang biasanya selalu membuatku tergelak meski sudah beberapa puluh kali menontonnya.
Nyatanya kelucuan Warkop DKI hari ini tidak bisa memancing tawa. Aku pikir aku akan bahagia melihat Leo hancur seperti tadi, nyatanya aku bahkan tidak bisa tertawa.
Keadaan Leo sekarang adalah keadaanku saat Adam lahir tanpa nyawa dulu. Hancur. Mungkin aku juga seperti Leo.
Aku memutuskan untuk tidur dan melemaskan otakku namun ternyata gagal. Mataku segar.
Oke, harus mencari kesibukan. Ya, mencuci baju. Walau tadi pagi sudah mencuci baju tapi bed cover bisa aku cuci juga hari ini.
Jadilah aku mulai mencuci bed cover yang baru seminggu lalu kuganti. Mencuci sudah tapi aku masih memikirkan tentang Leo.
Masak. Iya. Aku bahkan belum masak, makan saja aku lupa. Aku lalu mulai memasak. Menyiangi sayuran, mengupas bawang lalu menumis. Beres.
Lalu ngapain lagi ya?
Saat sedang memikirkan apalagi yang harus aku lakukan terdengarlah sayup-sayup suara adzan dzuhur dari masjid yang letaknya agak jauh dari kontrakkanku.
Kulihat sudah jam 12. Sudah 4 jam sejak kami janjian untuk ke makam Adam.
Aku bukan mau melihat Leo.
Aku mau menemui Adam.
Ya, cuma mastiin aja sih Leo masih disana apa enggak?
Kalau Leo kesambet gimana? Pemakaman kan sepi, pasti banyak dedemitnya.
Kalau Leo sampai stress dan menjadi gila gimana?
Enggak... Aku bukan orang jahat. Aku bukan Leo yang sudah menjahatiku dan Adam. Aku bukan seperti Dia....
Aku lalu berjalan terburu-buru kembali ke pemakaman. Langkahku langsung tertuju ke makam mungil milik Adam.
Dan tebakanku benar adanya.
Leo masih memeluk nisan Adam sambil mengelusnya lembut. Sudah hampir 4 jam dan kalau Ia terus seperti itu bisa berbahaya bagi mentalnya.
Aku masih punya hati nurani. Hatiku yang sempat hancur masih bisa berusaha untuk mengasihani Leo.
Aku berjalan mendekati Leo. Kutepuk pelan bahunya. Sepertinya kesadarannya masih belum pulih. Aku harus membawa Leo secepatnya pergi dari sini kalau tidak mau Leo menjadi gila nantinya.
Aku menggandeng lengannya. Mengambil paper bag yang dibiarkannya tergeletak diatas tanah.
Aku berinisiatif untuk menyumbangkan paper bag yang berisi mainan dan pakaian ke panti asuhan terdekat. Kebetulan di dekat area pemakaman ada sebuah Panti Asuhan yang menurutku cocok untuk menerima sumbangan dari Leo. Panti Asuhan tersebut tidak banyak donaturnya namun jumlah anak asuhnya banyak.
Dii Panti Asuhan, Leo masih terlihat melamun dan pandangannya masih kosong. Tidak mungkinkan Ia langsung pulang dengan keadaan seperti itu? Bisa-bisa Ia kembali ke makam Adam dan melanjutkan menangisnya disana.
Jadilah aku berinisiatif untuk menawarkan minum di rumah kontrakanku. Awalnya Leo masih belum sepenuhnya sadar sampai akhirnya aku memaksanya untuk minum.
Yang membuat aku sebal adalah saat Iya akhirnya menyadari kalau aku menceraikannya bukan karena ingin menikah dengan Angga melainkan karena ulahnya yang telah mencelakaiku hingga membuat Adam meninggal dunia.
Dengan penuh penyesalan, Leo mengucapkan kata maaf. Hanya maaf. Lalu Ia mengatakan kalau Ia ingin menebus kesalahannya padaku.
Aku merasa amat marah. Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak 2 tahun yang lalu? Kenapa saat aku sudah mengikhlaskan Adam Ia baru menyesali dan mengetahui semuanya?
Aku menghempaskan tangannya saat Ia mencoba meraih tanganku. Sekarang Leo sudah sepenuhnya tersadar. Aku menyuruhnya untuk pulang. Aku bahkan mendorongnya untuk keluar dari rumah kontrakanku yang langsung aku kunci rapat setelah Ia pergi.
Aku hanya bisa menangis dibelakang pintu. Menangisi nasib kami yang amat buruk. Menangisi takdir kami yang amat kejam.
Efek menangis semalaman adalah bengkaknya mataku di keesokan harinya. Aku langsung menuju kamar mandi dan mengguyur tubuhku dengan air dingin agar lebih segar.
Baru saja selesai mandi dan mengeringkan rambut tiba-tiba pintu rumah kontrakanku ada yang mengetuk.
Siapa yang bertamu sepagi ini? Pasti Duo Julid deh.
__ADS_1
Aku membuka pintu dan .....
"Sarapan nasi uduk yuk May." ujar Leo dengan senyum yang mengembang di pipinya.