Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Siapa Bembi?


__ADS_3

"Tuh kan bener yang Richard bilang. Kita enggak nyasar, Pa. Itu mobil Richard ada disitu." suara Richard si Kadal Buntung terdengar sampai ke dalam rumah.


Akhirnya mereka sampai juga.


Aku mau menyambut kedatangan mereka namun Leo tak melepaskan genggaman tangannya. Oh iya aku lupa, Leo kan sedang bicara serius dengan Bapak.


Apa ya yang tadi Leo katakan? Oh iya, Leo akan melepaskan aku jika memang aku mau menerima lamaran Angga dan lebih berbahagia bersama Angga dibanding bersama dengannya.


"Sesuai perkataan saya tadi, saya tidak sendiri. Saya datang dengan keluarga saya. Dan mereka sudah sampai sekarang." kata Leo yang masih menatap Bapak dengan lekat.


Leo lalu melepaskan tanganku dan berjalan keluar rumah. Pandanganku tak pernah lepas mengikuti kemana Ia melangkah.


"Pa, Ma, Cat!" panggil Leo.


Leo lalu berjalan menghampiri keluarganya.


"Lama banget sih?!" omel Leo.


"Sabar! Enggak sabar banget pengen kawin!" ledek Papa Leo. "Nih kerjaannya Kakak sama Mama kamu. Tiap liat spot foto bagus minta berhenti. Terus main foto-fotoan segala."


"Mama, Pa. Bukan aku!" Richard pun mengelak tuduhan Papa.


"Ah kamu sama saja! Kamu juga tadi ikutan pose pas ada orang lagi bajak sawah sama kerbau. Untung saja kerbaunya enggak ngamuk!" omel Papa Leo.


"Habis viewnya bagus, Pa. Mama jadi pengen deh punya rumah di daerah sini. Udaranya bagus dan bersih. Pemandangannya juga enak liat yang hejo-hejo." suara Mama Leo terdengar ikut menimpali.


"Mama mau rumah disini?" tanya Papa Leo menanggapi perkataan mantan istrinya dulu.


"Mau! Papa mau beliin?" Mama terdengar bersemangat.


"Boleh. Asal kita rujuk dulu. Biar samaan kayak Leo dan Maya. Kita rujuk duluan kalau perlu, jangan sampai keduluan sama Leo. Nanti Papa beliin deh tanah disini buat Mama. Mau berapa hektar sok atuh tinggal tunjuk." busyeeh deh nih Papa malah ngegombalin Mama.


"Iiiih Papa... Mama kan malu...." ini lagi Mama Leo, kenapa jadi kayak anak gadis yang dimabuk cibya sih?


Beneran ya ini keluarga enggak ada yang nyadar apa kalau kami semua yang ada di dalam menunggu dengan muka tegang. Mereka malah asyik ngobrolin hal yang enggak penting.


Aku melirik ke arah Bapak. Ia mengernyitkan keningnya. Menunggu tamu yang tak kunjung masuk ke dalam rumah. Mau menyuruh masuk tapi gengsi. Terus menunggu malah membuatnya makin penasaran.


Lalu Papanya Angga. Saat aku melihat ke arahnya eh dia ikut melihat ke arahku. Pake tersenyum segala lagi. Oh my God... Aki-aki centil.


Aku sekarang melihat ke arah Angga. Lehernya sedang dipanjangkan. Berusaha melihat keluarga Leo namun tidak kelihatan. Maklum, jendela rumah ditutup sama Bapak. Takut ada karyawannya yang iseng mengintip.


Aku yang duduk di dekat jendela masih bisa mendengar percakapan mereka, sama seperti Ibu yang terlihat mengernyitkan keningnya.


"Itu keluarganya kayak gitu May? Suka selpi?" tanya Ibu sambil berbisik di telingaku.


"Selfi, Bu. Bukan selpi. Foto-foto. Maklum orang kota kalau ke kampung suka agak udik. Liat tempat bagus dikit langsung foto-foto." jawabku sambil berbisik juga.


"Oh begitu. Tapi kayaknya seru May keluarganya. Rame. Daripada keluarga di depan. Kelihatan diam tapi kok Ibu ngerasa nyeremin ya?" bisik Ibu lagi.


"Ibu belum tau aja kelakuan keluarganya yang lebih nyeremin lagi."


"Masih ada lagi yang lebih nyeremin selain bersyukur karena kehilangan Adam?" tanya Ibu tak percaya. Suaranya masih bisik-bisik agar tidak ada yang mendengarnya.


Aku mengangguk tak menjelaskan lebih jauh. Biarlah kupakai sebagai senjata terakhir.


Aku kembali menajamkan telingaku mendengar keluarga Buntungers di luar. Lama banget sih belum masuk juga.


"Itu mobil Bapaknya Maya?" tedengar suara Richard bertanya.


"Bukan. Sudah ayo masuk ke dalam. Sudah ditunggu!" ajak Leo.


"Sebentar! Mama ketinggalan bawaan di mobil. Papa ayo anterin!" pinta Mama Leo.


"Ih Mama manja banget ke mobil aja minta ditemenin. Kalau tinggal disini bisa ditemenin sama Papa terus nih. Enggak rugi kayaknya Papa beliin Mama rumah disini."


Ya ampun ini Bapake malah masih ngegombal. Sementara Bapak mulai bete karena tamu yang awalnya tidak diharapkan kini malah jadi ditunggu kedatangannya.


"Silahkan dimakan dulu Pak hidangannya." Bapak akhirnya berbasa-basi untuk mengurangi kecanggungan yang terjadi di ruang tamu.


"Itu mobil siapa dong? Platnya Jakarta gitu. Keren. Jazznya nanti minta tuker Papa ah jadi kayak gitu." terdengar suara Richard lagi.


"Nanti memang ke kantor mau pakai Mercy gitu? Enggak menarik perhatian banyak orang?" tanya Leo.


"Biarin aja. Biar Lidya makin terkesan. Enggak mungkin kan ke kantor bawa Lambo." suara tengil Richard membuatku sedikit tersenyum. Sombong tapi berkelas.


Eh tapi kok mereka malah ngomongin masalah mobil sekarang? Lama banget sih! Enggak sabaran nunggunya (kayak pembaca yang enggak sabaran nunggu Up tapi males vote 😂).

__ADS_1


"Mama bawa apaan sih? Lama banget ambilnya?" terdengar suara Leo mulai tak sabaran.


"Bawa sesuatu yang beda dari yang lain. Kayak enggak tau aja Mama kayak gimana hebohnya? Selain bawa kue-kue juga bawa upeti buat Bapaknya Maya." jawab Richard.


"Upeti apaan?" tanya Leo penasaran.


"Biasa, out of the box. Pasti bakalan kaget deh." jawab Richard penuh misterius.


"Richard! Leo! Bantuin Mama dan Papa dong! Jangan ngobrol aja!" teriak Mama.


"Iya." jawab Leo dan Richard bersamaan. Lalu tak terdengar suara apapun karena mereka pasti ke mobil untuk membantu Mamanya membawa sesuatu.


Tak lama kemudian terdengar suara Leo menggerutu. "Mama tuh memang suka ada-ada aja deh! Masa sih orang mau melamar bawa kayak gitu? Aneh banget sih!"


"Ih itu mahal tau. Eh tapi pakai uang Papa sih jadi enggak masalah." jawab Mama.


"Taruh di depan dulu ya. Enggak enak kalau dibawa masuk ke dalam." kata Leo.


Yah kenapa enggak dibawa ke dalam? Aku makin penasaran nih apa yang Mamanya Leo bawa sampai Leo protes seperti itu.


"Hilang enggak nanti?" tanya Mama ragu.


"Enggak. Hanya orang tertentu yang tahu kalau ini tuh mahal. Udah ayo cepetan masuk. Papa juga mana sih? Lama banget?" tanya Leo tak sabaran.


Sepertinya Richard berjalan hanya sendirian tidak bersama Papanya. "Papa mana?" tanya Leo lagi.


"Tuh lagi jongkok deket mobil." kata Richard.


"Ngapain jongkok deket mobil? Kita udah ditungguin nih!" pertanyaan yang Leo ajukan sama persis dengan yang ingin kutanyakan.


"Kata Papa kalo grogi bawaannya mau kentuut terus. Biarin aja dia kentuut dulu. Nanti daripada kentuut di dalam bikin malu." jawaban Richard membuatku tak kuat menahan tawa.


"Hush!" Ibu memperingatkanku. Ternyata Ibu juga dengar karena kami duduk membelakangi tempat mereka mengobrol.


Aku kembali melihat ke arah Bapak. Wajahnya yang kesal bertambah kesal melihat tamu tak diundangnya lama sekali tak juga masuk ke dalam rumah.


Aku lalu mendengar suara Papa Dibyo. Sudah selesai ternyata ritual membuang gas dalam tubuhnya. Mengingat hal itu aku kembali menahan tawa. Keluarga macam apa ini???


"Ayo!" kata Papa Dibyo.


Lalu aku melihat Leo yang masuk ke dalam rumah. Ia membawa sebuah parsel besar berisi kue-kue yang aku yakin sangat mahal dan pasti rasanya tidak bohong. Wuenak bangets pastinya.


Leo lalu meletakkan parsel yang Ia bawa dan meletakkannya di tengah ruangan. Bersebelahan dengan parsel buah yang dibawa Angga. Parsel buah Angga terlihat amat kerdil berdampingan dengan parsel Leo yang besarnya seperti anak 5 tahun.


Leo berbalik badan dan tak mendapati Papanya. "Aduh kemana lagi sih?" keluh Leo.


Aku juga menunggu kedatangan Papa Dibyo. Ini beneran ya keluarga rempong banget. Tinggal masuk aja lama banget.


"Assalamualaikum!" suara Papa Dibyo yang khas dan berat pun terdengar.


Aku tersenyum menyambut kedatangannya. Loh kok enggak ada yang menjawab salamnya?


"Waalaikumsalam." jawabku memecah kesunyian.


Aku melihat ke arah Bapak yang tampak terkesima dan takjub. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Dibyo?" kata Bapak dan Papanya Leo bersamaan.


Loh mereka kok saling mengenal?


"Bembi?" Papa Dibyo juga kaget setelah melihat Bapak. Tak diacuhkan Papanya Angga yang juga mengenalnya.


Bembi? Kenapa Papa Dibyo memanggil Bapak dengan sebutan Bembi? Apa mereka saling kenal sebelumnya.


Bapak langsung bangun dan berjalan menghampiri Papa Dibyo.


"Woy Dibyo! Apa kabar men?" Bapak mengulurkan tangannya yang langsung disambut Papa Dibyo dan mereka lalu berpelukan.


"Baik. Gila! Bembi udah tuwir sekarang!" kata Papa Dibyo sambil tertawa.


"Sok muda situ! Tuh uban udah banyak aja!" ledek balik Bapak.


"Ha...ha...ha.... Esih mana? Udah lama enggak ketemu!" Papa Dibyo celingukan mencari Ibu. Bapak lalu menunjuk Ibu yang duduk bersebelahan denganku.


"Dibyo? Beneran Dibyo nih?!" Ibu lalu berdiri dan menyambut Papa Dibyo.


"Esih! Masih betah hidup sama Bembi? Masih suka marah-marah enggak dia?" Papa Dibyo lalu berjabat tangan dengan Ibu dan memeluk seperti sahabat lama yang sudah lama tak berjumpa.

__ADS_1


"Heh peluk-peluk aja bini orang. Bini kamu mana?" Bapak memisahkan Papa Dibyo dan Ibu agar tidak berpelukan terlalu lama.


"Pelit ih! Dulu juga yang ngenalin kamu sama Esih kalau bukan aku siapa?" cibir Papa Dibyo. "Ma, masuk sini!" Papa Dibyo memanggil Mama Lena untuk masuk ke dalam rumah.


Mama Lena pun masuk. Ia mengenakan baju batik rancangan designer terkenal karena aku sempat melihatnya di Mall yang aku tahu pasti harganya pasti diatas 5 juta.


"Loh beneran Bembi yang itu?" tanya Mama Lena tak percaya.


"Bembi yang apa?" Papa Dibyo memancing jawaban Mama Lena.


"Ah Papa kayak enggak tau aja! Bembi yang pitak kan?" ujar Mama Lena sambil tertawa.


Eh Bapak bukannya marah malah tertawa terbahak-bahak. "Masih inget aja ya. Pasti kerjaan Dibyo nih cerita yang enggak-enggak. Bikin malu aja!"


"Heh itu pitak punya sejarah besar di kancah ahli silat sedunia tau ha...ha..ha..." ledek Papa Dibyo lagi.


Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Pitak? Bapak pitak? Kenapa aku anaknya tidak tahu ya?


Sama sepertiku. Leo, Angga, Papanya Angga dan Kak Rian menatap keempat orang di depan kami seperti sedang reuni orang jadul.


Oh iya, satu lagi. Richard. Sejak tadi Richard hanya melongo di depan pintu. Ia yang sudah memasang kuda-kuda amat kaget ternyata baku hantam yang Ia pikir akan menjadi arena berdarah ternyata berubah jadi ajang reuni.


Leo bertanya apa yang sedang terjadi melalui bahasa tubuhnya. Aku mengangkat kedua bahuku. Aku tak tahu apa yang terjadi. Keadaan ini sangat absurd. Enggak bisa dijabarkan dengan logika.


"Ayo duduk dulu. Sebentar saya suruh bibi saya buatkan minum untuk kalian." kata Bapak dengan wajah yang terus tersenyum.


Begitu cepatnya perubahan emosi Bapak. Tak sampai sepuluh menit lalu Ia masih berwajah masam dengan sorot amarah di matanya. Tapi kini? Tawanya bahkan terdengar kencang memenuhi ruang tamu. Matanya malah berbinar-binar penuh kebahagiaan.


"Biar Ibu saja yang nyuruh si bibi." Ibu pun pergi ke dapur untuk menyuruh bibi buatkan minum untuk tamu yang datang.


Papa Dibyo dan Mama Lena pun duduk. Kami duduk di atas karpet dengan posisi melingkar. Seperti orang yang sedang tahlilan.


Richard juga ikut duduk. Sepertinya acara baku hantam gagal terlaksana. Ia tak diperlukan menjadi body guard lagi.


Ibu yang sudah kembali dari dapur lalu duduk kembali di sebelahku. Wajahnya terlihat sangat bahagia. Aura suram dari wajahnya perlahan menghilang bersama datangnya Papa Dibyo.


"Jadi Lena itu Mamanya Leo?" tanya Ibu to the point.


Mama Lena mengangguk. "Namanya saja Leo, kepanjangan dari Lena Dibyo." jawab Mama Lena.


"Lah kalau aku kepanjangan dari apa Ma?" tanya Richard yang tiba-tiba nyeletuk tanpa diminta.


"Kamu yang kasih nama tuh Papa. Kalau Leo yang kasih nama Mama. Tanya sana sama Papa kamu! Gangguin orang ngobrol aja nih!" Richard cemberut karena kena omel Mama Lena.


"Maaf ya kami telat. Ini Lena enggak boleh liat spot foto keren dikit langsung minta difotoin sama Richard deh. Jadi tadi sudah sampai mana ya?" tanya Papa Dibyo.


"Sebenarnya kamu kalah cepat Dib. Sudah ada Pak Broto yang melamar Maya untuk anaknya Angga." kata Bapak menjelaskan.


Papa Dibyo sepertinya baru menyadari keberadaan Angga dan Pak Broto. "Oh ada Si Kuya ternyata? Masih hidup Bro? Eh manggilnya Bro atau To atau Soto ya?" ledek Papa Dibyo.


"Masih dong. Kamu yang kupikir sudah mokat duluan karena kelamaan di penjara." sindir Pak Broto.


"Masa sih kelamaan di penjara? Cuma setahun doang. Sebentar itu sih. Kemarin laporan ke KPKnya kurang bukti ya makanya enggak bisa bikin aku nginep lama-lama di rutan?" sindir Papa Dibyo.


Ooh... Aku sudah bisa menyimpulkannya nih. Ternyata Papa Dibyo dan Papanya Angga musuh bebuyutan sejak dulu. Apa jangan-jangan yang melaporkan Papa Dibyo adalah Papanya Angga?


"Lalu keputusan kamu gimana Bem? Milih mau besanan sama Si Kuya ini atau sama aku yang keren ini?" tanya Papa Dibyo.


Bapak bolak balik melihat antara Papa Dibyo dan Papanya Angga. Bingung memilih yang mana.


"Kamu lupa sama janji kamu dulu Bem? Lupa itu pitak ada sejarahnya?" suara Papa Dibyo terkesan penuh ancaman. Bapak pun mulai goyah. Ada apa dengan pitak sih?


*****


Ayo votenya kencengin lagi. Bisa kali 200 vote lagi 🤣🤣🤣. Bodo ah authornya maksa. Masih ada misteri lain loh:



Lamaran Leo diterima apa enggak?


Ada apa dengan pitak?


Apa yang dibawa sama Mama Lena sampai Leo ngedumel kesal. Ada yang bisa tebak gak?



Ayo vote yang banyak ya. Jangan lupa ramein IG ku: Mizzly_

__ADS_1


__ADS_2