
Pulang dari interview aku langsung menghampiri rumah Ibu Sri. Sudah kuduga Duo Julid sedang bergabung. Bu Jojo menemani Bu Sri yang sedang mengupas bawang sambil memainkan handphonenya.
"Bu, ini artis kerjaannya kawin cerai melulu. Ada gosip katanya Dia nikahnya cuma settingan doang. Bisa ya nikah cuma settingan. Emangnya malam-malam gak bobok bareng?" kata Bu Jojo membacakan berita dari handphone-nya.
"Ya enggak bobok bareng Bu. Namanya juga settingan. Hidupnya juga settingan. Eggak tahu deh kalau Dia mati itu settingan apa beneran." sahut Bu Sri.
"Ya mati mah enggak ada yang settingan Bu. Mati mah mati. Masa ada orang mati settingan? Kalau di drama Korea baru deh ada, udah mati hidup lagi mati hidup lagi." kataku yang langsung ikut bergabung dengan obrolan Ibu Jojo dan Ibu Sri.
"Eh ada Maya. Gimana interviewnya? Lancar enggak?" tanya Bu Jojo.
"Lancar dong. Maya diterima kerja Bu. Mulai besok, Maya udah kerja di Kusumadewa Group." kataku memberitahukan berita gembira kepada 2 sahabatku itu.
"Yang bener May? Wah selamat ya! Kamu tuh memang pintar May. Saya tuh udah yakin kalau kamu pasti bakalan diterima." kata Bu Sri dengan nada gembira.
Aku tersenyum. Bu Sri dan Bu Jojo tuh kalau memuji beneran tulus. Makanya kalau mereka memuji aku tuh rasanya bahagia banget.
"Saya senang banget tau dengarnya kalau kamu diterima kerja May. Saya maunya tuh kamu punya semangat hidup lagi yang baru. Kamu punya cita-cita lagi. Kamu punya kerjaan. Maka kamu bisa membangun masa depan kamu lagi dari awal." kata Bu Jojo.
"Iya, Bu. Maya juga maunya begitu. Makasih ya Bu. Kalian selalu mendoakan dan mendukung Maya. Kalau enggak ada kalian mungkin Maya masih termenung di kamar seorang diri." aku benar-benar bersyukur bisa kenal dengan Bu Sri dan Bu Jojo.
"Jangan dong May. Kamu masih muda. Jalan kamu tuh masih panjang. Kamu harus bisa jadi lebih sukses lagi dari sebelumnya, kan kalau kamu kaya raya dan sukses kita bisa nebeng. Ya kan Bu?" tanya Bu Sri meminta dukungan Bu Jojo.
"Betul itu." sahut Bu Jojo kompak.
"Iya nanti Maya ajak kalau Maya udah sukses. Enggak bakalan Maya meninggalkan kalian. Tenang aja, oke? Bu, Pop Icenya dong. Maya haus nih dari tadi lama banget interviewnya."
"Yah....mulai deh Si Oon nyari kesempatan dalam kesempitan. Udah saya bikinin. Mau rasa apa?" Bu Sri melepaskan sarung tangan dan pisau yang Ia pakai untuk mengupas bawang. Ia lalu membuatkan Pop Ice sesuai request-an ku.
"Rasa taro aja Bu. Tapi kejunya yang banyak ya. Choco chipnya juga."
"Mulai deh. Dikasih hati minta ampela nih anak. Tapi biarlah, nggak ada Dia sepi." sahut Bu Sri.
Sambil menunggu Ibu Sri membuatkan Pop Ice untukku, aku meneruskan kerjaan Bu Sri mengupasi bawang.
"Udah biarin aja May. Nanti baju kamu kotor loh!" larang Ibu Sri.
"Enggak apa-apa Bu. Maya bosan. Maya kan lagi mengenang masa lalu waktu Maya masih ngupasin bawang bareng sama ibu-ibu." aku tetap membantu Bu Sri mengupasi bawang dan tak mengindahkan larangannya.
"May, Si Angga masih ngintilin kamu terus?" tanya Bu Jojo penasaran.
"Masih. Tapi sekarang Dia lagi ada kerjaan di luar kota makanya enggak keliatan batang hidungnya." jawabku.
"Kamu udah jadian belum sih May sama Angga?" tanya Bu Sri meneruskan pertanyaan dari Bu Jojo.
"Kalian nih ya kebiasaan. Bu Jojo yang ngoper bola lalu Bu Sri yang nendang ke gawang. Melipir-melipir nanyanya ujung-ujungnya mau tau kalau aku pacaran sama Angga apa enggak kan?" aku udah paham taktik Bu Sri dan Bu Jojo kalau mau mencari tahu informasi.
Bu Sri dan Bu Jojo mengangguk kompak. Keponya udah akut kalau kayak gini.
"Belum. Aku belum pacaran sama Angga." jawabku.
"Kenapa?" tanya Bu Sri penasaran.
"Belum bisa move on?" tanya Bu Jojo selanjutnya.
"Bukan belum move on. Tapi memang aku belum ada niat buat memulai hubungan aja. Pacaran terlalu beresiko, salah langkah bisa hamil lagi kayak dulu. Menikah juga aku belum siap. Takut gagal lagi."
"Kalau kamu takut terus kapan kamu beraninya May? Kamu masih muda. Masih bisa lah dapetin Ridho Rhoma." sahut Bu Sri.
"Kenapa harus Ridho Rhoma sih Bu? Kan masih ada Al atau Varel?"
"Ya karena Ridho Rhoma banyak bulu dadanya. Seksi tau." jawab Bu Sri sambil bergidik. Entah Ia melamunkan apa.
"Udah ah mana Pop Ice Maya? Maya mau bawa pulang aja. Mau nonton sinetron di TV ikan terbang." Aku mengambil Pop Ice dan memberikan uang sepuluh ribu rupiah pada Bu Sri. "Ambil aja kembaliannya."
Aku memakai sepatuku dan hendak pulang ke kontrakkan. Aku masih bisa mendengar perkataan Bu Sri pada Bu Jojo. "Tumben Dia bayar, biasanya juga minta gratisan."
***
__ADS_1
Aku memakai kemeja biru garis-garis dan rok sepan selutut. Formal tapi tetap terlihat sopan dan modis. Aku sengaja memilih untuk naik angkutan umum, padahal Angga mengajakku berangkat bareng dengan mobilnya. Aku mau belajar mandiri.
Enggak mungkinkan selamanya aku terus bergantung dengan kebaikan hati Angga? aku enggak mau terus-menerus memberi harapan pada Angga. Aku takut menyakiti hati orang yang udah baik sama aku.
Letak rumah kontrakanku dengan kantor tidak begitu jauh, hanya sekali naik kopaja aja. Rumah kontrakanku termasuk kategori yang dekat dengan pusat kota.
Aku berangkat pagi agar tidak berdesakan dalam kopaja. Kopaja yang kutumpangi masih sepi. Aku memilih duduk di pinggir dekat kaca.
Makin lama penumpang dalam kopaja semakin penuh. Untunglah aku dekat jendela, masih bisa merasakan udara segar diantara padatnya penumpang yang berdesak-desakkan.
Sebenarnya aku bodoh, diajak naik mobil mewah sama Angga tapi aku tolak dan lebih memilih berjubel di kopaja. Untungnya masih pagi, aroma tubuh penumpangnya masih segar sehabis mandi. Kalau sore wah wanginya udah campur aduk enggak karuan deh.
Jakarta....oh.... Jakarta.... Yeeee.... Alhamdulillah....
Ups. Ini bukan acara ceramah pagi.
Jakarta.... Oh.... Jakarta....
Macetmu tiada tara. Panasmu tiada dua. Polusimu tak ada tandingannya.
Masuk kopaja rapi dan wangi, keluar udah keringetan dan rambut berantakan. Kok bisa? Iyalah. Susah untuk turun ditengah penumpang yang berdempetan. Nyetopin kopajanya harus jauh dari tempat yang dituju. Belum lagi tatapan yang mengincar tempat duduk. Lebih ganas dari tatapan singa dikala lapar.
Aku berhasil turun dari kopaja dengan selamat. Ah lebay, tapi banyak loh yang turun dari kopaja tapi langsung nyusruk karena sopirnya langsung tancap gas padahal baru satu kaki yang menapak tanah.
"Huft.... Untung enggak kelawatan." gumamku dalam hati.
Aku merapikan sedikit dandananku, sisanya nanti saja di kamar mandi. Aku masuk ke dalam gedung bertingkat tinggi nan megah, khas Kusumadewa Group, menaiki lift menuju tempat kerjaku yang baru.
Aku ke kamar mandi dulu untuk merapihkan dandananku dan juga memakai parfum. Sedikit lipstik warna mate kuoleskan di bibirku. Ya, aku sudah lebih manusiawi sekarang kataku setelah melihat wajahku di cermin.
Aku menghampiri meja resepsionis dan memperkenal diri. Resepsionis lalu mengantarku ke dalam ruang meeting, katanya nanti akan ada pengarahan lagi dari Supervisornya.
Aku mengetuk pintu ruang meeting dan ternyata bukan aku seorang disana. Aku melihat Ana, teman yang ikut interview bareng sama aku kemarin.
"Hi!" sapaku pada Ana.
"Aku pikir cuma aku sendirian eh ternyata ada kamu. Senang deh aku ada temannya." kataku.
"Iya, aku juga. Tadi aku malah mikir kalau aku cewek sendirian diantara eh akhirnya ada kamu, May." kata Maya tak kalah senang dibanding aku
"Memangnya ada berapa orang sih yang diterima?" tanyaku penasaran.
"Kayaknya sih ada 4. Aku dan Aldi ditempatkan di bagian admin. Kamu dan cowok yang lagi ke toilet kayaknya di bagian audit deh." Ana mencolek Aldi dan memperkenalkannya padaku.
"Aldi." cowok manis dan terlihat anak baik-baik itu memperkenalkan dirinya padaku.
"Maya." aku menyambut uluran tangannya.
Tak lama kemudian Supervisor yang menangani kami pun datang.
"Pagi semuanya!"
Aku langsung duduk manis dan obrolan kami bubar.
"Pagi." jawab aku, Ana dan Aldi kompak.
"Loh kok cuma bertiga? Satu lagi mana?" tanya Supervisor itu bingung.
"Lagi ke toilet, Pak." jawab Aldi.
"Oh baiklah. Kita mulai saja. Perkenalkan, nama saya Johan. Saya yang akan menjadi koordinator kalian. Coba perkenalkan diri kalian terlebih dahulu."
Belum sempat ada yang mengenalkan diri tiba-tiba pintu ruang meeting diketuk.
"Permisi, Pak."
Deg. Aku kenal suara itu. Aku sangat kenal.
__ADS_1
Aku menengok ke arah pintu dan aku tak percaya dengan siapa yang aku lihat. Leo?
Sama sepertiku, Leo juga tidak percaya melihat keberadaanku di ruang meeting ini. Ia terlihat terbelalak dan berhenti sejenak.
"Silahkan duduk!" kata Pak Johan membuat kesadaran Leo kembali lagi.
Kenapa harus Leo sih? Dan kenapa dari sekian banyak tempat aku harus bertemu Leo disini?
"Kamu karyawan yang ke empat itu ya?" tanya Pak Johan.
"Iya, Pak. Maaf saya terlambat. Tadi saya ke kamar mandi dulu." jawab Leo.
"Baiklah karena semuanya sudah lengkap mari kita memperkenalkan diri masing-masing. Mungkin tadi Leo tertinggal maka akan saya perkenalkan diri saya kembali. Nama saya Johan dan saya salah seorang Supervisor disini. Selanjutnya kita mulai dari mbak yang pakai baju biru garis-garis untuk memperkenalkan diri." mata Pak Johan tertuju padaku.
Aku lalu berdiri dan memperkenalkan diri. "Selamat pagi, nama saya Maya Aprilia Putri. Panggil saja Maya." aku lalu memamerkan senyum sejuta watt paling sakti milikku.
Perkenalan diri selanjutnya adalah Ana, lalu Aldi dan terakhir Leo.
"Pagi. Nama saya Leonardo Prakasa. Panggil saja Leo." tanpa senyum Leo lalu duduk di kursinya kembali.
"Baiklah. Karena semuanya sudah memperkenalkan diri saya akan mulai pembagian tugas dan bagian. Untuk Ana dan Aldi kalian akan ditempatkan di bagian administrasi. Tugas kalian akan lebih jelas lagi nanti diajarkan oleh rekan kalian di ruangan,"
"Selanjutnya, Maya dan Leo. Kalian akan ditempatkan di bagian audit. Karena kalian masih menjadi junior audit jadi lebih banyaklah belajar dengan senior kalian nanti. Saya akan mengantar kalian ke ruangan masing-masing." Pak Johan lalu berdiri dan mengantar kami ke ruangan masing-masing.
Ana dan Aldi yang diantar duluan ke bagian admin. Selanjutnya beliau mengantarku ke ruang audit.
Pak Johan memperkenalkanku dan Leo sebagai anak baru di bagian tersebut. Kebetulan Pak Johan sendiri sebagai supervisornya.
"Kamu duduknya di sebelah kiri dan Leo di samping kamu. Saya akan mengurus ID kalian agar bisa login di sistem kami. Silahkan duduk terlebih dahulu."
Aku menuruti perintah Pak Johan dan duduk di kursiku. Tak sengaja aku melihat ke sebelah kanan dan mataku dengan mata Leo saling bertemu. Aku langsung membuang mukaku. Malas kalau harus melihat wajah miliknya.
Leo juga sepertinya langsung membuang muka. Aku tak peduli. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Kami satu team berlima, termasuk Pak Johan selaku Supervisor.
Pak Johan tak lama kemudian masuk kembali ke ruangan kami. "Password kalian sedang saya urus. Saya akan menjelaskan job desk kalian,"
"Kita satu team memegang Kusumadewa Group khususnya perusahaan makanan. Dalam hal ini meliputi pabrik, restauran dan toko kue. Maya dan Leo akan bekerja sama dengan Anggi dan Fahri, senior kalian."
Anggi terlihat amat pendiam namun agak jutek Kalau Fahri sepertinya orang yang serius. Aku menyesali kenapa aku melamar menjadi bagiaun audit? Aku seharusnya melamar jadi admin saja jadi bisa bersama Ana dan aldi yang terlihat lebih ramah.
Pak Johan lalu menugaskan Anggi dan Fahri untuk mengajariku dan Leo. Kami belajar cara kerja audit Kusumadewa Group dengan serius. Kami juga memperhatikan Anggi dalam mengerjakan pekerjaannya.
Aku merasa iri dengan kehebatan Kak Anggi. Ia pendiam namun saat bekerja sangat cekatan. Ia juga lumayan cantik kok. Kak Anggi meminta kami untuk memperhatikan cara Input dalam system.
Aku dan Leo bergegas bangun, hampir saja kami bertabrakan namun mata kami saling melotot tidak suka.
Aku dan Leo berdiri bersebelahan namun tetap menjaga jarak. Memperhatikan cara Kak Anggi bekerja.
Kami lalu mulai diberi pekerjaan. Baru sekedar memeriksa catatan saja sih. Tanpa kami sadari sudah masuk jam istirahat.
Ana melembaikan tangannya mengajak aku dan Leo untuk istirahat. Aku mengikutinya. Aldi juga mengajak Leo istirahat bersama.
Aku menuju lantai 8 tempat kantin Kusumadewa Group berada. Enaknya bekerja disini ada fasilitas makan siang untuk karyawannya. Satu lantai memang di design khusus untuk area makan siang.
Aku menunggu giliran untuk mengambil makanan. Aku dan Ana memilih kursi di pojok. Baru saja hendak menikmati makanan eh Ana ternyata memanggil Aldi dan Leo agar bergabung bersama kami.
Dan situasi awkward pun terjadi. Aku duduk berhadap-hadapan dengan Leo, sementara Ana dengan Aldi.
"Gimana May enak enggak di bagian audit?" tanya Ana memulai percakapan.
"Hmm... lumayan. Aku masih menyesuaikan diri." jawabku.
"Kamu mah enak, bisa bareng sama Leo. Aku dan Aldi terpisah jauh meski sama-sama di admin." keluh Ana.
"Malah aku mau kayak kamu dan Aldy. Kita bisa tukeran enggak ya?" tanyaku yang langsung disambut dengan tatapan tidak suka dari Leo.
*****
__ADS_1
Jangan lupa vote dan likenya dulu kakak 🥰🥰🥰