Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Ada Apa Dengan Pitak


__ADS_3

POV Author


Flashback


Makna pitak di KBBI adalah bekas luka atau bekas bisul di kepala atau dahi. Contoh: ada pitak di kepalanya karena jatuh.


Memang bekas pitak di kepala Bambang atau yang akrab dipanggil Bembi oleh Dibyo tidak begitu terlihat karena tertutup oleh rambutnya. Semua tentu ada sejarahnya.


Dibyo, anak keluarga Kusumadewa yang terkenal rada tengil memilih bersekolah di SMEA (sekarang SMK) mengambil jurusan Akuntansi. Alasannya simple, mau punya banyak pacar karena akan dikelilingi banyak teman cewek.


Dibyo beneran punya banyak teman cewek tapi ternyata kutukan dalam dirinya susah dihilangkan. Belum ada yang sreg dan nyantol di hatinya.


Punya banyak teman cewek tidak membuat Dibyo jadi kemayu. Ia malah terkenal di sekolahnya karena tergabung dengan ekskul taekwondo. Ia berhasil menyabet sabuk hitam dan menang beberapa kali pertandingan taekwondo antar sekolah.


Setiap pulang sekolah Dibyo selalu melewati STM. Pandangan anak STM selalu menganggap remeh dirinya.


"Woy, masuk SMEA kenapa pake celana? Pake rok dong biar kompakkan sama temen-temen ngerumpinya." ledek salah seorang anak STM yang bernama Bambang sambil tertawa-tawa. Bambang merasa bangga bisa masuk STM dan senang mengolok-olok Dibyo.


Dibyo selalu diredam emosinya oleh teman-teman ceweknya. Kadang mereka yang selalu membalas ledekkan Bambang.


"Yeh mending anak SMEA masih gaul sama cewek, dibanding anak STM kerjaannya cuma gaul sama mesin ha...ha...ha..." cewek dilawan. Bambang langsung bungkam kalau yang melawan cewek.


Dibyo selalu bersama Sukesih yang biasa dipanggil Esih. Temannya sejak masih SD. Esih berwajah cantik alami. Rupanya Bambang meledek Dibyo hanya untuk mendapatkan perhatian Esih.


Suatu hari sekolah Bambang diserang oleh anak STM lain. Kebetulan Dibyo sedang memakai baju olahraga bertuliskan nama SMEAnya jadi Ia tidak kena sasaran tawuran antar STM tersebut. Dibyo melenggang santai meninggalkan lingkungan sekolah dan nongkrong di warung bersama teman-teman ceweknya.


Bambang yang biasanya nyolot dengan anak STM lain menjadi bulan-bulanan dan di kejar sampai masuk ke dalam tempat tongkrongan Dibyo, Esih dan geng cewek lainnya.


Dibyo sedang asyik bermain gitar diiringi suara merdu Esih ketika Bambang datang sambil memegang kepalanya yang berlumuran darah.


"Tolong! Tolong saya!" Bambang ngumpet di belakang Dibyo dan teman-temannya.


"Eh kenapa nih anak? Kepalanya berdarah." kata Esih. "Cepetan kita tolong."


"Enggak keburu Sih! Itu anak STM bergerombol datang kesini. Kalau kita ngumpetin bisa kena juga!" tolak Dibyo.


"Jangan gitu Dib. Bisa mati anak orang nanti. Ayo kita akalin." Esih mengeluarkan mukenanya dan menyuruh Bambang memakainya. Kebetulan mukena Esih berwarna hitam jadi bisa menyamarkan darah Bambang.


"Pinter juga Sih!" Dibyo lalu memakaikan Bambang mukena Esih dan menyuruhnya pura-pura sedang sujud.


Dibyo dan Esih kembali ke posisinya semula seakan tak ada yang terjadi. Tak lama rombongan anak STM datang dan mencari keberadaan Bambang.


"Heh lo liat anak STM yang kepalanya berdarah enggak?" tanya anak STM yang masih memegang kopel (kepala gear yang diikat dengan tali gesper, lumayan berat kalau kena kepala bisa bocor).


"Enggak tau Bang." jawab Dibyo sambil tetap siaga. Kalau anak STM itu masih ngelawan Ia akan menangkis dengan gitar yang Ia pegang. Tapi masalahnya adalah Esih. Tuh anak enggak ada takutnya. Santai saja berdiri seakan tak ada masalah.


"Itu siapa? Sujud kok lama banget?" anak STM itu curiga melihat Bambang yang sujud tak kunjung berhenti.


"Oh... Itu Bembi....ta. Bembita." jawab Dibyo berpikir cepat.


"Tuh anak dosanya banyak. Habis nilep uang SPP buat dipake nonton. Lagi minta ampun dia. Kadang sambil nangis." Esih menambahkan perkataan Dibyo agar terlihat meyakinkan.


Anak STM itu masih curiga, namun Bambang pura-pura menangis, tentunya dengan suara seperti anak perempuan.


Akhirnya setelah yakin anak STM itu pergi meninggalkan warung. Dibyo dan Esih langsung mengecek keadaan Bambang.


Bambang terlihat pucat. Kepalanya masih berdarah.


"Aku anterin ke dokter pakai mobil aja." Dibyo dan Esih lalu membopong Bambang yang masih mengenakan mukena ke dalam mobil sedan miliknya.


Dibyo memang terbiasa bawa mobil ke sekolah tpi numpang parkir di warung tongkrongan mereka. Dibyo memajukan kendaraannya semakin kencang karena Bambang tambah pucat saja wajahnya.


Mereka langsung masuk ke dalam UGD. Bambang mendapat pertolongan pertama. Kepalanya bocor kena kopel dan harus mendapat beberapa jahitan. Beruntung Bambang bertemu dengan Dibyo dan dibawa ke RS tepat waktu. Tak tahu apa yang akan terjadi kalau telat sedikit saja.


Dibyo dan Esih masuk ke dalam ruangan Bambang. Kepalanya sudah ada perban. Katanya kena 8 jahitan. Lumayan juga ternyata.

__ADS_1


"Gimana keadaan kamu Bembi?" tanya Dibyo setengah meledek.


"Bambang bukan Bembi!" sungut Bambang tak terima.


"Lebih baik dipanggil Bembi apa Pitak?" ledek Dibyo lagi.


"Ih siapa yang pitak?" Bambang masih mengelak saja.


"Kata dokter, tuh bekas jahitan bakalan jadi pitak. Pasti ada bekasnya. Mau dipanggil apaan nih Bembi atau Pitak?" paksa Dibyo.


Bambang menghela nafasnya. Pasrah. Mau marah tak mungkin. Tak bisa dipungkiri, Dibyo adalah pahlawannya.


Mau meledek seperti dulu sudah tak bisa lagi. Ada hutang nyawa yang selamanya tak bisa Ia bayar.


"Baiklah. Panggil Bembi saja. Setidaknya lebih keren daripada dipanggil Pitak." kata Bambang dengan pasrah.


"Nah gitu dong. Ayo pulang." ajak Dibyo.


"Tapi biaya rumah sakitnya gimana?" Bambang ternyata tak punya uang. Ia hanya anak petani biasa yang kebetulan numpang tinggal di rumah pamannya di Jakarta.


"Udah beres. Ayo cabut!"


Dibyo baru berjalan beberapa langkah lalu berhenti. Bambang berjalan lama di belakangnya. Mungkin kepalanya masih terasa pusing.


Dibyo lalu mensejajarkan langkahnya dengan Bembi. "Cewek yang tadi bantuin aku mana?"


Dibyo sebenarnya sudah tau kalau Bembi naksir Esih sejak lama. Tatapan mata Bembi tak bisa bohong.


"Kayaknya yang bantuin kamu itu aku deh." sindir Dibyo.


"Iya aku tahu. Aku mau bilang terima kasih sama kamu. Aku juga mau bilang hal yang sama ke teman kamu itu." kata Bembi beralasan.


"Ada di apotek lagi antri beli obat. Kita ketemu di mobil aku aja."


Mereka lalu menunggu Esih di mobil. Tadi Dibyo sudah bilang sama Esih kalau mereka akan menunggi di mobil.


"Nih. Yang ada tulisan habiskan itu antibiotik jadi memang harus dihabiskan. Sisanya ikutin petunjuk aja di kemasan." kata Esih yanh langsung duduk di bangku belakang.


"Kenalin dulu nih. Esih namanya." Dibyo memperkenalkan Esih.


"Esih."


"Bambang."


Mereka pun berjabat tangan. Mata Bambang tak hentinya menatap Esih.


"Panggil Bembi aja, Sih. Kalau enggak mau kita panggil dia Pitak. Gimana?" ledek Dibyo lagi.


"Iya panggil Bembi aja. Udah jangan bahas tentang Pitak lagi ah." Bembi merasa malu diledek seperti itu di depan Esih.


Mereka lalu tertawa. Meledek Bembi yang selalu malu-malu kalau disebut Pitak.


"Kalian pacaran?" tanya Bembi malu-malu.


"Sih, Bembi naksir sama kamu. Dikiranya kita pacaran." adu Dibyo pada Esih. "Santai Sob, kita cuma temen dari orok aja. Dari TK sampai sekarang."


Dibyo bisa bernafas lega mendengarnya. Harapannya masih ada. Tak mungkin Ia bersaing dengan Dibyo yang tajir dan pintar ya walau mukanya masih gantengan Bembi sedikit sih.


Ternyata persahabatan mereka berlanjut sampai Dibyo selesai kuliah. Bembi tak melanjutkan kuliah karena keterbatasan biaya. Ia lalu menikahi Esih dan mengembangkan lahan pertanian yang diwariskan Bapaknya sampai maju seperti sekarang.


Pertemuan mereka terakhir adalah saat Dibyo akhirnya dijodohkan dengan Lena. Sayangnya Lena tak pernah bertemu dengan Bembi sama sekali. Hanya beberapa kali diceritakan oleh Dibyo kalau Ia punya sahabat yang bernama Bembi si Pitak.


Flashback Off.


*****

__ADS_1


POV Maya


Aku masih bertanya-tanya, bagaimana bisa Bapak yang galak memiliki nama panggilan yang imut seperti Bembi. Dan Bapak hanya manut saja lagi saat Papa Dibyo meledeknya.


Bapak terdiam memikirkan jawaban yang akan Ia berikan pada Papa Dibyo. Namun Papanya Angga mengganggu Bapak dengan mempengaruhi Bapak.


"Pak Bambang, Angga tuh anak baik-baik loh. Sayang sama Maya dengan tulus. Enggak ada yang setulus Angga. Dua tahun bukan waktu yang sebentar untuk menemani seorang wanita. Menjaganya seperti menjaga sebuah kaca, tak dibiarkan sesuatu memecahkannya. Kalau saya jadi Bapak, saya pasti akan memberikan yang terbaik untuk masa depan putri saya daripada sekedar membalas jasa. Anak saya segalanya Pak. Kebahagiaan mereka adalah bahagia untuk saya juga." Papa Angga sungguh pandai bersilat lidah.


Kalau aku ada di posisi Bapak, mungkin aku akan tergoda dan terpengaruh dengan apa yang dikatakan oleh Papanya Angga tersebut. Kepandaiannya dalam berbicara patut diacungi jempol.


"Memangnya Maya cinta sama anak Kamu? Bukannya dari dulu Maya cuma cinta mati sama anak saya Leo? Sama kayak Leo, cuma cintanya sama Maya. Udah cocok mereka berdua. Ngapain sih coba-coba menyatukan sesuatu yang tidak mungkin? Pake promosiin anaknya segala lagi! Jelas Leo lebih hebat lah." Papa Dibyo sepertinya tak tahan untuk tidak berkomentar.


"Cinta? Kamu ngomong masalah cinta? Enggak ingat kalau kamu tuh juga nikah sama istri kamu Lena karena dijodohkan? Memangnya kamu nggak cinta apa ujung-ujungnya sam Lena? Jangan munafik kamu di Dibyo, cinta itu bisa terjadi kalau kita sering bersama. Apalagi anak saya Angga orangnya tuh lovable banget. Banyak cewek-cewek yang langsung jatuh cinta sama anak saya karena kebaikannya." Papanya Angga tak mau kalah mempromosikan anaknya.


"Memang benar sih ujung-ujungnya saya mencintai Lena, tapi kan Lena mungkin tidak mencintai saya. Dan saya melepaskan Lena memang karena saya tidak mau membuat Lena semakin menderita hidup dengan saya." Papa Dibyo berbicara sambil menunduk. Sepertinya Ia sangat sedih berbicara seperti itu.


"Itu kamu sadar kalau kamu nggak bisa membahagiakan Lena. Bagaimana dengan hidup Maya nanti? Buktinya kemarin saja kamu nggak mendukung pernikahan Leo dan Maya." Ternyata Angga sudah menceritakan kronologi kegagalan rumah tanggaku dengan Leo pada Papanya. Buktinya Papanya Angga menggunakan kegagalan rumah tangga kami sebagai senjata pamungkasnya.


"Iya. Saya akui itu kesalahan saya. Kalau saja dulu saya nggak egois dan mau mendengarkan sedikit saja perkataan Leo, maka saya akan datang ke rumah Bembi dan melamar Maya untuk Leo langsung. Namun, Leo tuh tidak sakit hati dengan apa yang saya lakukan. Ia yang mengurus saya saat orang seperti kamu menjerumuskan saya ke dalam penjara! Saya bisa mendidik anak saya dengan baik buktinya anak saya menjadi anak yang penuh cinta kasih." balas Papa Dibyo.


Tuh kan bener. Ternyata Papanya Angga yang sudah menjerumuskan Papa Dibyo ke dalam penjara. Aduh hubungan antara orang dewasa itu rumit banget.


"Bisanya kamu cuma nuduh saja. Kamu punya bukti enggak kalau saya yang ngelaporin kamu ke KPK? Kamu tuh dari tadi cuman nyindir saya aja tapi kamu tuh enggak punya bukti sama sekali." Papa Anggak merasa dirinya di atas angin.


"Sudah! Sudah! Kenapa jadi kalian yang bertengkar? Ini tuh seharusnya pertarungan antara Angga dan Leo. Ini kalian yang sudah pada tua malah ikut-ikutan bertengkar." Bapak memisahkan kedua calon besannya sebelum terjadi baku hantam.


Baik Papa Dibyo maupun Papanya Angga hanya bisa diam menahan malu.


"Tadi sebelum kamu datang Dibyo, saya sudah bertanya pada keduanya. Leo dan Angga. Jawaban yang mereka jawab berbeda." Bapak menatap Angga.


"Saat saya bertanya jika Leo yang diterima, jawaban Angga adalah Ia pasti yang akan diterima karena Ia yang akan membahagiakan anak saya Maya. Jawaban yang bagus. Terbukti kalau Angga cinta dengan anak saya."


Angga tersenyum mendengar perkataan Bapak. Ia merasa berada diatas angin sekarang karena Bapak memujinya.


Rasa khawatir mulai menyergap dalam dadaku. Bagaimana kalau Bapak beneran akan menerima lamaran Angga? Aduh kenapa Bapak yang mutusin sih? Kan yang akan menjalaninya aku, bukan Bapak.


"Lalu saya bertanya pada Leo, jawaban Leo adalah Ia akan melepaskan Maya jika Angga bisa membuat Maya bahagia dibanding bersama dengannya. Terlalu pasrah dan mudah menyerah ya kesannya." Bapak lalu melihat ke arah Leo.


Leo menunduk. Ia pasrah saja. Sepertinya jawaban Leo kurang memuaskan Bapak dibanding jawaban Angga.


Mataku pun memanas. Bagaimana kalau Bapak beneran nerima lamaran Angga? Aku enggak mau menikah dengan Angga. Aku enggak mau punya mertua seperti Mama dan Papanya Angga. Bagaimana dengan hidupku kelak? Apa aku akan bahagia menjalani hidup yang seperti itu? Apa Bapak tega membiarkan aku selamanya hidup menderita?


Tes... Air mata mulai mengalir dan membasahi pipiku. Aku langsung menghapusnya, namun sayang Leo terlanjur melihatnya. Ia mengambil tanganku dan menepuknya pelan.


Aku tahu Leo hanya ingin aku bahagia. Tapi aku maunya sama Leo, salah enggak sih?


"Saya sudah membuat keputusan. Diantara lamaran Angga dan Leo. Saya akan menerima....."


Suasana seketika hening. Aku tak berani menatap Bapak. Hanya genggaman tangan Leo yang semakin kencang yang justru membuatku makij takut kehilangannya.


"Saya akan menerima..." Bapak mengulangi lagi perkataannya. Lalu Bapak menghela nafas pasrah. "Leo."


Aku langsung mengangkat wajahku dan menatap Bapak yang tersenyum penuh kasih sayang padaku.


"Loh kok bisa kayak gitu sih Pak? Bukannya lamaran Angga yang lebih dahulu?" Papanya Angga tak terima dengan kekalahannya.


****


Loh kenapa digantung lagi ceritanya Thor?


Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa eh kenapa minuman itu haram? Tereroret....iyuuuh garing euy.


Ceritanya lanjut lagi besok yak. Authornya sibuk kerja dulu, akhir bulan nih. Votenya jangan lupa. Kalo lupa besok ngaret lagi nih 🤣🤣🤣. Dasar Author tukang ngancem!


Bagi yang udah ngevote hatur nuhun, taratengkiu, maacih, kamsahamida..... Author nagih yang belum vote aja ya. Vote yang banyak. Bagi yang udah kirim hadiah maaacciiih banget. Banyak kopi Authornya jadi begadang mlulu. Bunganya juga banyak. Maacih semuanya.

__ADS_1


Maaf keterbatasan author. Kadang ceritanya muter, sengaja kalo enggak ada cerita ya bukan novel namanya. Jadi nikmatin aja oke.


__ADS_2