
Suasana rumah langsung terasa sepi ketika Bu Jojo dan Bu Sri sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Kalau dulu, ada Leo yang menemani. Sekarang hanya aku sendirian.
Malam semakin larut namun mataku masih saja terjaga. Permintaan Kak Rian untuk segera dipertemukan dengan Leo membuatku berpikir kalau memang sudah waktunya mereka bertemu.
Masalah nanti mereka bertemu, mau saling baku hantam itu belakangan. Aku mencegahnya dengan mengajak ketemuan di tempat yang ramai dan dan bisa privasi juga sih seperti di restoran misalnya.
Hal yang aku pikirkan berikutnya adalah tentang kecurigaan Pak Johan. Kalau memang perkataan Leo benar, semuanya memang menjurus ke arah Pak Johan. Aku harus membantu Leo dengan begitu Ia bisa bekerja dengan tenang.
Aku juga memikirkan tentang Angga dan permasalahan dengan kedua orangtuanya. Bukan karena aku memberi harapan kepada Angga, melainkan aku hanya masih punya sedikit sisi manusiawi.
Tapi mengingat saran Bu Sri dan Bu Jojo yang mengatakan kalau aku lebih baik bersikap cuek dan juga Leo yang sepertinya mendukung saran Bu Sri dan Bu Jojo sepertinya aku harus mengikuti mereka.
Belajar bersikap bodo amat, ilmu yang tidak ada gurunya.
Aku lupa jam berapa aku masih terjaga, namun rasanya aku baru saja sebentar tertidur alarm handphoneku sudah berbunyi, membangunkanku untuk bersiap-siap bekerja lagi.
Masih ngantuk pastinya. Namun tuntutan mencari uang di ibukota membuatku langsung mengguyur kepalaku dengan air dingin dan membuat mataku langsung melek.
Aku bertekad akan membuat kopi saja nanti di kantor untuk menghilangkan rasa ngantuk yang melanda.
Seperti biasa, Pangeran ber-Aeroxku sudah ada di depan rumah. Leo terlihat sedang memainkan handphonenya menunggu aku keluar dari rumah kontrakanku.
"Pagi Madam Sayang..." sapa Leo dengan senyumnya yang langsung mengembang di wajah.
"Pagi juga Oppaku yang ganteng." aku membalas senyum Leo dengan senyumanku yang tak kalah lebar.
"Ngantuk banget kayaknya Neng?" tanya Leo seraya memberikan helm padaku.
"Iya nih. Semalam enggak bisa tidur." aku mengambil helm dan memakainya.
"Sabar ya." ujar Leo saat aku naik ke atas motornya.
"Sabar kenapa?" tanyaku bingung.
"Sabar nunggu Oppa bisa nemenin Madam bobo lagi. Dulu waktu kita tinggal bareng kamu enggak pernah tuh insomnia. Pasti karena ada aku kan makanya tidurnya pulas?" ledek Leo.
"Ngeledekkin melulu ya bisanya. Yaudah untuk mempercepat Oppa bisa bobo bareng sama Madam lagi gimana kalau ketemuan sama Kak Rian dulu, gimana?" kesempatan ini kugunakan untuk mewujudkan keinginan Kak Rian yang terus memaksaku mempertemukan Leo dengan dirinya.
"Kapan Kak Rian mau ketemu aku? Aku siap kapan aja." jawab Leo dengan penuh keyakinan.
"Nanti malam gimana?"
"Boleh. Semakin cepat semakin bagus. Mengurangi beban pikiranku jadinya."
"Baiklah nanti aku akan mengabari Kak Rian. Kamu mau sarapan nasi uduk dulu enggak nih?" aku melirik jam di tanganku, masih cukup waktu kalau membeli Nasi Uduk Mpok Uum.
"Enggak usah. Kita makan gultik aja dulu di Blok M. Gimana?"
"Kamu yakin? Nanti kerjaan kamu gimana? Enggak makin numpuk?"
"Tenang aja. Kalau aku datang sekarang pasti Pak Johan sudah stand by di ruangan. Ia sedang mencari celah dan menangkap basahku. Sekali-kali bolehlah kita ngerjain dia. Gimana, mau kan?"
Sambil mengencangkan peganganku pada Leo aku berteriak dengan kencang. "Oppa, Go!"
"Siap, Madam!"
Aku dan Leo bukannya langsung ke kantor tapi malah sarapan gultik dulu di Blok M. Tinggal tunjuk aja nih mau gultik yang mana. Penjual gultik udah berjajar banyak di sepanjang jalan.
__ADS_1
"Kamu pilih yang mana?" tanya Leo.
"Mana... mana..."
"Kamu pilih yang mana?"
"Mana.... mana..."
"Kok kita kayak lagi nyanyi lagu dangdut ya?" ujar Leo yang tertawa. Aku juga ikut tertawa. Ah lebaynya kumat ya kita berdua.
"Kamu aja yang pilih!"
"No! Ladies first. Laki mah ngikut aja."
"Terserah kamu aja." jawabku.
"Weits... Kata-kata sakti dikeluarkan nih!" ledek Leo.
"Bukan begitu. Aku enggak tau yang enak tuh yang mana. Siapa tau kamu lebih tau. Aku kan bukan orang Jakarta asli jadi enggak tau." kataku beralasan.
"Bagiku sih sama semua rasanya ha..ha...ha..."
"Yaudah aku pilih yang paling sepi aja ya. Itu!" aku menunjuk penjual gultik yang sedang melamun menunggu ada pembeli.
"Loh kok malah nyari yang sepi sih? Dimana-mana nyari yang rame, karena yang rame tuh biasanya udah jaminan enak." walau Leo agak protes namun Ia tetap mengarahkan motornya ke arah yang kutunjuk.
"Justru itu. Kalau penjual yang rame itu rezekinya udah banyak. Kasihan sama yang sepi. Itung-itung kita bagi-bagi rezeki sama orang lain. Malah kalau ada rezeki lebih, kita beli yang banyak dari tempat yang sepi terus kita bagi-bagiin sama orang lain. Itu akan menambah rezeki kita lagi nanti."
Leo yang sudah memarkirkan motornya hanya bisa menatapku seakan tidak percaya, kenapa Maya si oon ini bisa ngomong sesuatu yang diluar nalarnya.
"Kamu tuh benar-benar amazing ya May. Kenapa aku nggak pernah menyadari kalau kamu seperti ini ya dari dulu? Kalau aku tahu kamu tuh berhati malaikat kayak gini, aduh aku nggak akan pernah rela melepaskan kamu May." puji Leo.
"Selama ini kita hanya terpaku sama penjual yang rame seperti yang kamu bilang, kalau penjual rame pasti enak. Sedangkan di mata penjual yang rame kamu tuh cuma segelintir dari pembelinya dia, tapi kalau di mata penjual yang sepi kamu tuh akan lebih mudah diingat oleh mereka karena kehadiran kamu tuh bener-bener ditunggu dan dinanti."
Leo bahkan sampai bertepuk tangan mendengar perkataanku. Bukan perkataan yang terlalu hebat kalau menurutku. Itu hanya merubah mindset aja.
Pernah dengar istilah membeli sambil beramal? Kalau kita membeli dengan penjual yang sepi, kita beramal karena kita sudah membantunya melariskan dagangan sehingga pedagang tersebut bisa membiayai keluarganya juga. Lalu bagaimana kalau seandainya makanan yang kita beli itu nggak enak?
Kalau kita beli terus rasanya enggak enak ya udah anggap aja itu amal. Enggak ada salahnya dong kalau kita ada kelebihan uang kita beramal dengan yang lain? Kalau kita mau membantu perekonomian negara enggak usah pakai hal-hal yang besar. Kita mulai dulu dari hal yang kecil yakni membantu perekonomian masyarakat menengah ke bawah.
"Yaudah ntar malam kita langsung ketemu Kak Rian ya. Aku tuh nggak sabar pengen rujuk sama kamu. Pokoknya secepatnya kita harus menikah lagi. Aku nggak bakal rela kalau kamu sampai diambil sama orang lain."
"Ih apaan sih kamu. Ya udah ayo cepetan kita beli nanti kita kesiangan nih." aku langsung berjalan ke tempat penjual Gultik yang paling sepi di antara yang lain. Ada 2 buah kursi bakso berwarna merah yang memang disediakan untuk pembeli yang makan di tempat.
"Pak pesan dua ya makan di sini. Lalu pesen 10 buat dibungkus." ujar Leo.
Aku sampai melongok tidak percaya. Ini Leo beneran pesan banyak banget?
"Beneran Mas?" tanya penjual gultik itu tidak percaya, namun saat Leo menganguk Ia langsung mengucap syukur. "Alhamdulillah. Terima kasih banyak Mas."
Seakan bisa membaca apa yang ada dalam pikiranku, Leo langsung berkomentar. "Aku ngikutin apa yang kamu katakan. Enggak ada salahnya kan? Aku rasa kamu benar May. Kita mulai segala sesuatunya itu dari hal yang kecil dulu kalau kita nggak bisa menyumbang yang besar."
Kini aku yang memandang Leo dengan tatapan amazing. "Ya ampun Oppa, keyeeeenn bingits. Makin lope lope deh sama Oppa."
"Baru nyadar ya kalau aku keren?"
"Mulai deh narsis."
__ADS_1
Dan obrolan kami berhenti sejenak dikala penjual gultik membawakan pesanan kami.
"Makasih." kataku seraya menerima piring putih dengan pinggiran kembang-kembang tersebut.
"Saya yang harus terima kasih Mbak. Sejak pagi belum ada yang beli. Eh tahu-tahu Masnya ini langsung ngeborong beli banyak banget. Makasih banyak ya Mbak... Mas."
Penjual gultik lalu kembali lagi ke tempatnya menyiapkan pesanan Leo yang di take away. Leo berpesan kalau dipisahkan plastiknya satu persatu. Penjual gultik mengiyakan aja apa request-nya Leo.
Selesai makan dan membayar Leo lalu mengajakku berputar ke sekitaran Blok M sambil menuju ke arah kantor. Ada beberapa pengemis dan petugas sampah yang Leo bagikan gultik.
Sorot mata penuh terima kasih dan beberapa doa terucapkan untuk Leo atas kebaikan hatinya hari ini. Aku terus saja tersenyum melihat ulah Leo. Hal kecil yang bisa bermanfaat bagi orang banyak.
"Aku senang banget nih hari ini. Kayaknya tuh hati aku bahagia banget melihat orang lain bahagia. Kamu lihat kan tadi pas penjual gultik bener-bener berterima kasih sama aku. Sesuai perkataan kamu ternyata hari itu kita tuh pembeli pertama. Pantas saja Ia begitu bahagia menyambut kedatangan kita,"
"Dan lagi-lagi kamu benar, rasa gultiknya juga enak kok. Cuma memang dia belum dikasih kesempatan aja untuk menawarkan dagangannya kepada yang lain." Leo berkata dengan berapi-api dan penuh semangat. Dari kaca spion aku bisa melihat betapa Leo sangat bahagia hari ini.
"Aku hanya meneruskan ilmu yang aku dapat dari orang lain. Kalau ilmu tersebut bermanfaat juga bagi orang lain yang aku kasih tahu, kan aku juga dapat pahalanya. Kadang kebaikan itu bukan dari hal yang besar tapi dimulai dari hal yang kecil, tetapi tentunya kita harus ikhlas menjalaninya."
"Karena perbuatan kamu hari ini aku jadi punya ide nih. Aku akan menyelenggarakan suatu program yang bertemakan 'Gerakan perekonomian dimulai dari sektor kecil'. Jadi di perusahaan kita tuh memang ada ladang amalnya. Antara lain membiayai mahasiswa berprestasi dengan diberikan beasiswa gratis. Tapi aku mau yang beda kali ini,"
"Aku mau membuat seperti yang tadi aku lakukan. Nantinya kita akan membantu pedagang-pedagang kecil yang baru merintis usaha, kita beli dagangannya lalu kita bagikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Nantinya kita akan memberitakan di majalah khusus kantor, tujuannya bukan untuk pamer atau riya melainkan untuk mengajak karyawan lain melakukan hal yang sama,"
"Kalau karyawan lain melakukan seperti apa yang aku lakukan, bukan tidak mungkin makin banyak pedagang-pedagang kecil yang akan semakin maju dan dengan begitu perekonomian kita pasti akan membaik. Seperti yang kamu bilang, dimulai dari hal yang terkecil jika tidak bisa membantu yang besar."
Sepanjang mendengar penuturan Leo senyumku tak pernah lepas dari wajah, sampai pipiku terasa pegal karena sejak tadi tersenyum terus. Aku bangga dengan apa yang Leo lakukan. Ia memang benar-benar berjiwa pemimpin karena itu mungkin Papanya menyuruhnya memimpin perusahaan yang sangat Papanya sayangi tersebut.
"Kamu memang hebat calon imamku." gombalan receh yang bisa membuat wajah Leo memerah saat kami berjalan dari parkiran menuju ruang kantor.
Kami sampai di ruangan setelah Kak Anggi dan tentunya Pak Johan sudah datang.
"Pagi Pak. Kak." sapaku sopan.
"Pagi." jawab Pak Johan.
"Pagi juga. Kalian tumben baru datang. Biasanya sudah datang pagi-pagi." ujar Kak Anggi yang membuat Pak Johan mengernyitkan keningnya dan mulai menaruh curiga lagi.
"Tadi habis sarapan dulu Kak. Biasa, wiskul alias wisata kuliner dulu kita." jawabku dengan santai. Sengaja. Aku tahu sejak tadi Pak Johan terus memperhatikan kami.
"Kak, kemarin kerjaan yang Kak Anggi suruh aku cek udah aku taruh di meja Kakak ya." kata Leo.
"Oh iya. Aku udah periksa. Kamu memang ya kalau kerja cepat dan bagus lagi hasilnya. Kalau memang agak lama ngerjainnya pasti kamu tambahkan sesuatu deh yang bikin kita tau apa kekurangan kita. Good job!" puji Kak Anggi.
Aku sudah duduk di mejaku. Aku tahu sejak tadi Pak Johan terus menerus menguping percakapan Leo dan Kak Anggi.
"Ah Kak Anggi bisa aja. Ada lagi yang harus aku kerjain enggak Kak?" Leo malah menagih kerjaan pada Kak Anggi.
Kak Anggi mah langsung aji mumpung, mau kasih Leo kerjaannya yang menumpuk itu namun Pak Johan dengan sigap mencegahnya.
"Kamu tolong bikin rekapan nama-nama vendor yang baru masuk saja ya Leo. Beserta nama dan alamat mereka. Cek juga bagaimana pengiriman barang dan pembayaran yang kita lakukan. Tolong kamu teliti di situ aja dulu. Dan Anggi, kamu kerjakan saja kerjakan kamu!" perintah Pak Johan.
"Baik Pak." jawab Kak Anggi dan Leo kompak.
Sspertinya kali ini Pak Johan sudah tidak mencurigai Leo lagi. Entahlah. Yang pasti aku hanya harus fokus pada pertemuan Kak Rian dan Leo malam ini.
***
Hai readers yang tersayang. Maaf ya aku kebanyakan bernarasi sendiri. Aku cuma mau mengajak kalian kebaikan dimulai dari hal yang kecil. Kalau bukan kita siapa lagi?
__ADS_1
Dan maaf aku cuma bisa setiap hari 1 episode karena kesibukan aku di rumah dan kantor tentunya, tapi votenya mana nih? Kok kendur sih? Nanti aku kendor juga nih Up nya he...he...he.... Becanda. Aku enggak baperan kok cuma suka ngancem aja ha...ha...ha...
Ini bukan hanya tentang Maya dan Leo saja. Tapi tentang kehidupan di sekitar kita. Aku mau novel yang halu tapi real banget. Karena itu yuks bantu aku ngehalu makin rajin dengan banyak-banyak vote ya. Maacih... Thank you so much... muach...