
Aku menghembuskan nafas lega. Pekerjaan di hari pertama selesai walaupun masih ada sedikit kesalahan namun masih bisa-lah diperbaiki.
Aku melirik jam di sudut kanan bawah komputer. Jam 5. Waktunya pulang kantor. Aku memperhatikan ruangan kerjaku dan nggak ada yang beranjak dari pekerjaannya. Mereka lupa waktu atau gimana ya? Mereka masih asyik berkutat dengan pekerjaannya bahkan tidak mengindahkan sudah jam berapa sekarang.
Aku yang hanya anak baru hanya bisa berpura-pura mengecek pekerjaan lagi padahal kerjaanku udah selesai. Semua agar aku terlihat sedang bekerja seperti yang lain, padahal sebenarnya aku juga lagi menunggu kapan bisa pulang ke rumah.
Aku melirik ke arah Leo lagi. Ia pun sama, masih asyik dengan pekerjaannya. Kenapa semua nggak ada yang mau pulang ya? Dari pintu di luar ruangan aku bisa ngelihat kalau Ana dan Aldi melambaikan tangan pamit kepadaku untuk pulang.
Wah enak banget ya dibagian lain. Pulangnya on-time, sedangkan di bagianku tidak. Sepertinya mereka asik-asik aja dengan pekerjaannya. Berbeda denganku, yang harus diperiksa terlalu banyak.
Pak Johan sepertinya mengerti kalau ini hari pertamaku dan Leo bekerja. Aku dan Leo mungkin belum siap untuk bekerja lembur. Sebagai bentuk pemanasan, Pak Johan mempersilahkanku untuk pulang lebih dahulu dibanding yang lain.
"Maya.... Leo.... Sudah jam 5. Kalian pulang aja nggak apa-apa. Kita udah terbiasa kok di sini lembur dan ngerjain kerjaan sampai malam." perintah Pak Johan.
Aku menatap ke arah Leo begitupun Leo menatapku kami saling meminta pendapat. Mau pulang tapi ragu tidak pulang tapi sudah disuruh.
Pak Johan pun tertawa melihat ulah aku dan Leo. "Ha...ha...ha... Kalian nggak usah saling meminta pendapat begitu. Saya biarkan kalian pulang sekarang karena mulai besok kalian akan ikut jam kerja disini. Bagian audit bukan seperti bagian admin atau bagian lain yang jam 5 teng sudah bisa pulang. Kalau ada pekerjaan yang harus di audit, kita bahkan bisa pulang jam 3 pagi dan kembali masuk keesokan harinya."
Seperti sudah diduga aku pasti akan merespon ucapan Pak Johan dalam bentuk kekagetan yang tak bisa disembunyikan. Pulang jam 3 pagi? Kerjaan apaan yang pulang jam 3 pagi ?
Setahu aku, hanya orang yang kerja di dunia malam yang pulang sampai pagi. Pekerja kantoran jarang ada yang pulang sampai jam 3 pagi. Yang namanya pekerja kantoran tuh kerjanya pagi pulang malam, bukan pulang pagi.
Lalu kalau harus lembur aku pulang naik apa? Aku enggak bisa naik motor. Bisa sih naik mobil, tapi enggak punya mobil. Naik kopaja udah pasti nggak mungkin, selain sudah tidak ada dan aku akan beresiko kalau pulang pagi. Naik ojek online? Bisa sih. Tapi aku takut.
Pak Johan kembali tersenyum. Ia seakan bisa membaca ketakutanku. Mungkin dulu juga Ia pernah berada di posisi aku karena itu Ia mengerti apa yang aku rasakan.
"Kalian tenang aja. Tadi kan saya bilang cuma kalau ada pekerjaan yang harus diselesaikan auditnya secepat mungkin. Kalau hari biasa kita pulang nggak semalam itu kok. Cuma memang lebih lama dibanding bagian lain. Jarang sekali kita bisa pulang jam 5 teng. Saya sudah memberitahu kalian jauh-jauh hari. Nanti kalian enggak usah bingung ya kenapa kita pulangnya malam." ujar Pak Johan.
Tetap saja penjelasan yang Pak Johan berikan padaku tidak serta merta membuat aku langsung bisa bernafas lega. Beliau kan tadi bilang kalau ada pekerjaan yang menyelesaikan audit secepat mungkin, berarti akan ada hari-hari di mana aku harus pulang pagi. Aku harus memikirkan bagaimana aku nanti pulang ke kontrakan?
Sebagai seorang perantauan, aku nggak punya siapa-siapa di Jakarta selain Kak Rian. Enggak mungkin aku suruh Kak Rian untuk menjemput pagi-pagi. Kasihan. Kak Anton juga tidak mungkin, Ia tinggal di desa bersama Bapak dan Ibu. Saudara yang lain juga tidak ada yang tinggal di Jakarta.
Apa aku harus belajar naik motor? Sepertinya kalau mendengar dari HRD kemarin uang gajiku di perusahaan ini lumayan untuk bisa mencicil motor dan bayar kontrakan serta hidup sehari-hari. Masih cukup bahkan lebih. Perusahaan Kusumadewa Grup bukanlah perusahaan yang pelit terhadap karyawan. Makan saja ditanggung, sudah pasti gaji yang diberikan juga besar.
Atau, aku sekalian nyicil mobil saja ya? Tapi kalau beli mobil parkirnya dimana? Rumah kontrakanku yang sekarang tidak seperti rumah kontrakan yang dulu. Rumah kontrakan yang dulu masih ada tempat untuk memarkirkan mobil di depannya. Tapi rumah kontrakan yang sekarang lebih padat, di dalam gang dan hanya bisa masuk 2 buah motor saja.
"Loh kok masih pada diam sih? Udah cepetan pulang. Pak Johan nggak nyuruh 2-3 kali loh. Ini tuh kesempatan langka, kapan lagi kalian bisa pulang kalau nggak disuruh sama Pak Johan?" ujar Kak Fahri mengompori kami berdua.
Leo yang berinisiatif untuk bangun duluan. Ia tahu mungkin aku masih takut untuk menjadi seorang penggerak. Leo mengambil tasnya dan memberi kode padaku agar mengikuti gerakannya.
Aku langsung merapikan tasku dan mengikuti jejak Leo.
__ADS_1
"Kami pulang dulu ya Pak... Kak." ujar Leo mewakili aku dan dirinya.
"Iya." jawab Pak Johan, Kak Anggi dan Kak Fahri kompak.
Aku mengikuti langkah Leo keluar dari ruangan. Sampai di depan ruangan, kami tidak saling berkata-kata, begitu pun saat di lift. Aku memilih untuk diam tanpa melihat langsung ke wajah Leo.
"Ada yang jemput gak?" tanya Leo memulai percakapan dengan ku.
"Ngapain nanya-nanya?" tanya aku dengan sengit.
"Mau bareng nggak?" Leo menawariku untuk pulang bersama.
"Enggak usah." tolakku mentah-mentah.
"Ya udah kalau nggak mau mah. Udah untung ditawarin pulang bareng. Sombong banget sih nggak mau naik motor ya? Maunya naik mobil mewah yang adem pakai AC. Kalau naik motor kan kena debu, panas, nanti bau asem." sindir Leo.
"Yang bilang aku pulang naik mobil mewah siapa? Memangnya kopaja itu kategorinya mobil mewah ya? Kasihan banget berarti standarisasi mobil mewah di mata kamu tuh rendah banget ya?" kataku tanpa mengurangi kepedasan dari kata-kata yang keluar dari mulutku
"Ya bukan kopaja maksudnya lah. Kan biasanya dianterin tuh sama Ayang Beb, memangnya Ayang Bebnya nggak mau jemput lagi ya? Apa baiknya cuma waktu masih selingkuh dulu? Giliran udah ngedapetin sekarang udah nggak mau nganterin lagi? Kasihan ya....."
Kalau bukan karena harus berjalan sampai ke lobby, sudah pasti aku tidak akan menimpali perkataan Leo.
"Kenapa kamu yang harus kasihan?"
Aku tertawa sinis mendengar ucapan Leo. "Kasihan ya. Kamu sampai mengarang cerita begitu hebatnya. Untuk apa? Biar kelihatan keren kan? Mau ngebuktiin kamu lebih hebat dari dia kan? Enggak usah pakai pembuktian, kalau orang udah hebat pasti akan kelihatan hebat. Orang hebat itu nggak ada yang riya kayak kamu."
"Aku? Mau nunjukin hebat? Lalu mau ngapain? Enggak ada gunanya kali. Menarik perhatian kamu lagi gitu? We had done. Kita sudah berakhir. Apa gunanya nyari perhatian kamu lagi? Kayak enggak ada aja cewek lain di dunia ini. Ana dan yang lain masih banyak yang cakep. Kak Anggi juga boleh lah. Sekali kali main sama yang lebih tua kayaknya lebih enak. Lebih pengalaman." ujar Leo dengan pedasnya.
Aku nggak tahu apa yang terjadi dengan hatiku. Yang pasti hati aku terasa panas mendengar ucapan beliau barusan. Apaan juga pakai bawa-bawa Ana dan Kak Anggi segala. Mau ngebandingin aku sama mereka berdua? Jelas menang dengan aku-lah!
"Bagus dong kalau ada cewek yang lebih baik lagi dari aku. Berarti, kamu nggak bakalan jadi cowok pengecut lagi dan tidak bertanggungjawab lagi don. Eh tapi aku yang kasihan sih sama mereka. Bakalan mendapatkan cowok yang jahatnya ngelebihin jahatnya Dajjal." kataku tak mau kalah pedas dari ucapan Leo barusan.
"Dajjal? Enggak salah? Bukannya kamu yang kepincut sama Dajjal duluan? Siapa dulu yang rela mengorbankan mahkota terindahnya sama Dajjal? Kamu kan?" ucapan Leo makin lama makin membuat hatiku kesal.
Semakin lama aku berdiri di sampingnya dan berdekatan dengannya, aku rasa tekanan darah aku bisa naik. Aaku juga nggak tahu kenapa rasanya jadi semakin sakit mendengar ucapannya Rio.
"Udahlah. Enggak penting ngomong sama kamu. Aku cuma mau ngomong sama orang yang punya hati bukan orang yang jahat kayak kamu" cibirku.
"Terserah. Aku juga nggak perlu. Enggak penting juga kok ngomong sama kamu. Tapi jangan lupa, kasih tahu dimana anakku sebelum aku mencarinya sendiri ke rumah kamu nanti"
"Oh ya? Silahkan aja cari sana. Aku pastikan kamu nggak akan bisa melihat Adam. Sampai kapanpun." jawabku dengan tegas.
__ADS_1
Akhirnya kami sampai juga di lobby. Leo yang memarkirkan motornya di basement bawah sepertinya sengaja mengikuti langkahku sampai ke lobby. Seharusnya Ia langsung turun ke lantai basement. Tidak harus mengikuti lku. Sepertinya Ia masih penasaran dengan keberadaan anak kami.
Perkataanku barusan memancing rasa penasaran Leo makin dalam. Aku yang memang tidak mau memberitahu dimana tempat Adam malah membuat Leo tersulut emosinya.
Leo menarik lenganku dan tak membiarkan aku melangkah meninggalkan gedung kantor.
"Kasih tau enggak, di mana anak aku!" tatapan mata Leo benar-benar menyeramkan. Ia terlihat bisa melahap habis aku dalam sekali telan.
"Enggak mau. Aku udah bilang enggak bakalan kamu bisa melihat Adam!"
"Aku berhak ya. Ingat, aku berhak! Aku akan bawa kasus ini ke ranah hukum kalau kamu masih enggak mau ngasih tahu dimana anak aku berada!." ancam Leo padaku.
Aku tersenyum. Perpaduan antara sedih dan ingin tertawa. Sedih karena terkenang anakku yang sudah tidak ada dan aku belum sempat mendengar suara tangisnya namun karena ulah bapaknya aku jadi kehilangannya, dan aku tertawa karena pasti Leo akan merutuki dirinya dan menyesali dirinya karena Ia yang telah membunuh anaknya sendiri.
Leo memaksa aku memberitahu dimana anaknya sampai seperti ini. Dia tidak peduli pandangan beberapa orang yang melihatnya menarik lenganku. Jam 5 loh ini. Banyak karyawan yang sedang pulang kerja di waktu yang bersamaan, dan Ia melakukannya di lobby. Cukup untuk menjadi santapan empuk para penggosip melihat ada sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
"Lepasin. Kamu mau mempermalukan nama kamu sendiri depan umum kayak gini? Semakin kamu memaksa dan memperlakukan aku seperti ini maka semakin aku yakin kalau aku nggak akan memberi tahu di mana Adam berada."
Tak perlu pakai kekerasan. Tak perlu pakai ucapan marah-marah. Hanya satu ancaman yang langsung membuat Leo melepaskan tangannya dari lenganku.
Aku menepuk pelan lengan ku yang habis dipegang oleh tangannya. Mengibaskannya seakan jijik dengan sentuhan yang Ia berikan pada tubuhku.
Tanpa menoleh ke belakang, aku berjalan meninggalkan lobby menuju depan kantor untuk bersiap menunggu kopaja yang datang.
Sepertinya Leo juga langsung turun ke basement dan mengendarai motornya karena saat aku masih menunggu kopaja datang aku melihat motornya tak lama keluar dari kantor. Ia menggeber motornya tepat di depan diriku untuk menunjukkan salah satu ekspresi marahnya.
Dan disinilah aku sekarang. Merutuki kebodohanku dan rasa gengsi karena menolak ajakan pulang bareng Leo. Kopaja di sore hari adalah neraka jahanam. Penuh penyiksaan.
Penumpangnya amat penuh dan berjubel. Bahkan untuk berdiri 2 kaki saja susah. Tangan kananku mengamankan tas yang aku pegang, maklum kopaja penuh adalah lahan empuk bagi para pencopet.
Penderitaanku belum juga berakhir. Aroma dari tercium dari tubuh para pencari kerja di sore hari tidak dapat didefinisikan dengan kata-kata. Apalagi saat supir kopaja mengerem mendadak. Membuat penumpang yang tadinya berdiri tanpa berpegangan mengangkat lengannya dan berpegangan pada besi di atas....
Beuuuhhh...
Itu aroma dari si keti tercium amat semriwing sampai ke hidungku. Rasanya tuh mual banget. Mana nih kopaja kagak jalan-jalan lagi. Macet. Wah udah deh. Nyesel banget aku.
Apa aku minta dibelikan mobil saja ya sama Bapak? Aku kan nggak pernah minta beliin apa-apa lagi sudah lama. Aku nggak pernah minta apa-apa sama Bapak sejak aku mencorengkan nama baik Bapak. Malu rasanya.
Aku teringat tawaran Angga yang mau berangkat kerja bareng denganku. Ya, sepertinya mengiyakan tawaran Angga lebih menggiurkan dibanding naik kopaja seperti ini. Baru hari pertama aku udah nyerah, apalagi nanti? Bisa tua di jalan aku.
Aku menuruni kopaja lalu berjalan kaki menuju rumah kontrakanku. Dandananku sangat berbeda dibanding saat tadi pagi. Sudah tidak shining, shimmering , splending seperti tadi. Yang ada cuma kucel, kusut, dan awut-awutan.
__ADS_1
Aku melihat pintu rumah kontrakanku dari kejauhan. Senyum bahagia langsung terpancar di wajahku. Aku mau langsung mandi terus beli makan dan tidur. Itu rencanaku pada awalnya. Ternyata, setelah aku mandi ada yang mengetuk pintuku. Aku tidak menyangka siapa yang akan datang dan bertamu ke rumah kontrakkanku.