
"Aku ke kamar dulu ya. Mau mandi terus tidur." aku pamit meninggalkan Papa dan Richard yang melanjutkan bermain PS.
Kulempar waist bag yang tadi kupakai ke atas tempat tidur. Mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
Aku harus mandi minimal 2x sehari. Mau semalam apapun aku pasti akan mandi. Aku enggak akan bisa tidur kalau badanku lengket.
Aku menyalakan shower dan langsung mengguyur tubuhku dengan air dingin. Jam 12 malam dan aku malah mandi sambil keramas.
Jujur saja banyak yang aku pikirkan. Aku hanya berharap air dingin dapat membuat pikiranku semakin segar dan bisa berpikir jernih.
Semua seakan berputar-putar di pikiranku. Bagaimana jantungku berdegup amat kencang saat mencium Maya. Dulu kami bahkan melakukan yang lebih dari sekedar berciuman namun rasanya biasa saja. Mengapa kini membayangkan telah berciuman dengan Maya saja jantungku langsung kembali berdegup kencang?
Aku matikan shower ketika ritual mandiku sudah selesai. Aku enggak mau sampai sakit karena kelamaan mandi. Aku mengambil handuk mandi dan berjalan keluar dari kamar mandi.
Aku mengambil kaos dan celana pendek di lemari baju mungilku. Kenapa aku bilang mungil? Karena hanya lemari 2 pintu saja. Berbeda jauh dengan yang ada di kamar Richard dan Papa yang lemarinya lebih dari 6 pintu yang di design khusus.
Apakah Maya masih mau denganku setelah melihat kalau aku hanya diperlakukan sebelah mata oleh keluargaku sendiri?
Maya bisa saja terpesona saat pertama kali datang ke rumah ini, melihat betapa megahnya rumah milik Papa. Namun aku bisa melihat bagaimana Maya kaget setelah melihat kondisi kamarku yang amat berbeda jauh dengan kamar-kamar lain yang ada di rumah ini.
Bagaimana juga pendapat Maya jika Ia tahu kalau aku hanyalah seorang pemain pengganti di Kusumadewa Grup? Seorang pemain pengganti yang Papa ciptakan untuk mempersiapkan kursi kepemimpinan untuk Richard nantinya.
Ya... Aku memang selama ini memimpin Kusumadewa Group dengan nama samaran Mr So. Aku mengatur segala pergerakan di Kusumadewa Grup. Mulai dari meeting, pengambilan keputusan dan strategi bisnis ke depannya semua aku yang lakukan.
Namun aku sadar diri kok, bagaimanapun yang aku lakukan selama ini hanyalah menggantikan tempat Richard sampai Ia siap untuk mengambil alih perusahaan Papa.
Pemain pengganti. Aku biasa menyebut diriku seperti itu. Bukan tokoh utama suatu drama melainkan hanya ban serep atau pemain tambahan saja. Tidak memiliki banyak andil namun tidak bisa pergi dan menghindar dari tanggung jawab.
Miris memang. Aku tuh sadar diri. Sudah lama sekali aku sama sekali tidak berkeinginan untuk menguasai harta Papa. Kalau memang aku mau menguasainya saat apa di tangkap dipenjara waktu itu aku bisa saja membawa kabur seluruh isi brangkas milik papa dan mendirikan perusahaan sendiri atau aku bisa saja menjual saham perusahaan dan mengambilalihkan atas namaku, tapi semua itu nggak aku lakukan.
Kegagalan dalam berumah-tangga mengajarkanku kalau segala sesuatu harus didapat dengan usaha. Aku nggak mau dengan cara mudah menguasai harta perusahaan Papa. Lebih baik aku hidup seperti ini. Bekerja dan dibayar sesuai dengan kemampuanku. Bukan mengambil apa yang bukan menjadi hak-ku.
Aku sadar kok kalau selama ini Papa sudah menyiapkan semua harta kekayaannya untuk diwariskan kepada Richard. Aku juga enggak berniat untuk mengambilnya. Bagiku, harta memang perlu dalam hidup ini, tapi kebahagiaan itu enggak cuma tentang harta. Meskipun tanpa adanya harta bisa membuat hidup menderita tapi aku enggak mau menggadaikan harga diriku hanya demi harta semata.
Selesai memakai pakaian aku masih mengeringkan rambutku yang basah. Aku nggak mau tidur dengan keadaan rambut basah nanti takutnya malah bikin kepalaku pusing saat bangun nanti.
Aku menaruh handuk yang masih agak basah di rak gantungan lalu membaringkan tubuhku diatas tempat tidur. Ternyata setelah mandi aku malah segar dan tidak ngantuk lagi.
Aku mengeluarkan Hp dari dalam waist bag. Ternyata ada beberapa pesan masuk dari Maya. Tadi saat sampai rumah langsung dipanggil ngobrol sama Papa sampai lupa dengan Hp.
Ada banyak pesan dari Maya. Kebanyakan isinya menanyakan apakah aku sudah sampai rumah atau belum? Aku sangat senang membacanya.
Sudah jam 12 lewat aku mau menelepon takut Maya sudah tidur. Aku putuskan hanya membalas pesan singkat Maya dan memberitahu kalau aku sudah sampai rumah.
Namun ternyata Maya belum tidur. Pesanku langsung Ia baca. Aku memutuskan untuk langsung menelepon Maya.
Aku: Hi May! Maaf baru buka Hp sekarang.
Maya: Habis ngapain sih? Ngapel dulu ke rumah Ana ya?
(Aku tersenyum membaca pesan Maya. Pasti Ia sedang cemberut dan memanyunkan bibirnya. Kebiasaan kalau Ia sedang marah.)
Aku: Aku tadi dipanggil sama Papa, May. Diajak ngobrol dan enggak tau kalau kamu ngechat aku dari tadi.
Maya: Terus sampai rumahnya jam berapa? Kenapa enggak ngabarin?
Aku: Jam 11-an. Bukan enggak mau ngabarin tapi....
(Aku sengaja menggantung perkataanku untuk melihat reaksi Maya selanjutnya. Maya tuh tipikal orang yang kadang bisa ditebak kadang sulit untuk ditebak).
Maya: Tapi apa?
(Suara Maya terdengar campuran antara kesal dan enggak sabaran. Makin menggemaskan rasanya).
__ADS_1
Aku: Tapi... Takut kamu enggak peduli aku udah sampai rumah atau enggak.
(Jawabanku langsung membuat Maya memborbardiku dengan perkataan beruntun).
Maya: Loh kenapa kamu bilang kayak gitu sih? Ya aku peduli lah. Kamu tuh pulang dari rumah aku udah malam. Tadi aja kamu sampai ketiduran di rumah aku. Artinya apa? Artinya tuh kamu kecapean. Aku aja mau bangunin kasihan. Kalau kamu ketiduran di jalan terus kenapa-napa gimana?
(See? Panjang kan? Begitulah perempuan. Kita bilang satu kata Ia akan memberondong dengan ribuan kalimat. Enggak bisa diinterupsi lagi. Tapi jangan khawatir, kami kaum lelaki paling senang kalau kaum perempuan seperti itu. Karena apa? Karena tuh artinya Ia peduli dan memikirkan kami di dalam relung hatinya. Dan suara ocehan seperti ini tuh malah membuat kami kangen loh!)
Aku: Aku terhura eh terharu maksudnya mendengar kamu perhatian banget sama aku.
Maya: Ih siapa yang perhatian?
Aku: Yaudah jangan ngambek melulu ah, udah malam. Tapi tadi makasih ya kamu udah kasih aku tidur sebentar. Aku ngantuk banget soalnya. Lain kali bangunin aja daripada kita digrebek sama warga? Eh tapi aku seneng sih kalau sampai digrebek kan kita bisa langsung balikan lagi, iya kan?
Maya: Enak aja sampai digrebek! Bisa ngamuk Bapak sama Ibu nanti sama aku.
Aku: Bapak sama Ibu kamu gimana kabarnya May?
Maya: Baik. Bapak lagi senang karena baru saja mendapat cucu dari Kak Anton. Setelah beberapa tahun Kak Anton menikah akhirnya bisa kasih Bapak cucu juga. Bapak senang sekali dan terua menerus membanggakan cucu barunya tersebut.
(Aku tiba-tiba teringat tentang Adam. Kalau Adam masih ada pasti Adam akan menjadi cucu pertama yang akan sangat disayang oleh Bapak dan Ibunya Maya. Mungkin juga kalau Adam masih ada aku dan Maya nggak akan sampai seperti ini)
Maya: Hallo Leo! Kamu udah tidur?
Aku: Enggak May. Aku lagi dengerin kamu kok. Kamu enggak ngantuk May?
Maya: Kenapa? Kamu udah ngantuk ya? Atau kamu udah enggak mau ngobrol sama aku lagi?
(Kenapa sih Maya semudah itu menyimpulkan sesuatu padahal aku enggak ada niat seperti itu)
Aku: Bukan gitu. Aku malah mikirnya kamu yang enggak bakalan mau ngomong bahkan kenal sama aku setelah tau aku hanyalah anak yang terbuang.
(Kegundahanku dari tadi. Aku harus mengungkapkannya kalau tak mau terus memendamnya seorang diri)
Maya: Kamu jangan bilang gitu dong. Aku kan dulu mau pacaran sama kamu tanpa melihat siapa kamu. Sekarang setelah tau keadaan kamu udah enggak berpengaruh bagiku. Ya kamu kan apa adanya kamu. Sebodo amat dengan latar belakang keluarga kamu.
Maya: Ih apaan sih? Enggak usah bicara ke arah sana deh. Berat urusannya.
(Aku sudah duga. Maya tidak mau rujuk lagi denganku. Dibalik candaan dan godaan aku selalu berharap Maya mau rujuk lagi sama aku. Namun tampaknya Maya memiliki pemikiran sendiri. Apa Ia masih trauma dengan pernikahan?)
Aku: Besok mau jalan enggak?
(Aku mengalihkan pembicaraan agar tidak berujung pertengkaran. Topik rujuk bukan topik pembicaraan yang membuatku dan Maya makin akur, malah bisa semakin berantem)
Maya: Enggak ah. Mau bobo bangun siang terus mau ngurusin cucian dan setrikaan yang segunung.
Aku: Yah... Padahal aku mau kamu jalan terus pulang malam nih!
Maya: Tau ah! Emang aku cewek apaan?
Aku: Ya udah kalau enggak mau pulang malam gimana kalau pulang pagi aja?
(Aku tertawa sendiri membayangkan reaksi Maya yang pasti sebal banget sama aku)
Maya: Bodo amat! Makin enggak jelas deh kalau udah malam!
Aku: May...
Maya: Kenapa?
Aku: Aku masih sayang sama kamu. Your still the one in my heart.
Tak ada jawaban. Maya hanya diam saja.
__ADS_1
Aku: Udah malam. Kamu tidur sana. Aku juga udah ngantuk nih.
Maya: Iya
Aku: May
Maya: Apa?
Aku: I Love you
Aku menutup panggilan teleponku. Aku tak mau mendengar jawaban Maya. Malu. Aku harus menenangkan jantungku yang sejak tadi terus berdetak kencang tak beraturan.
****
Minggu pagi. Aku memutuskan untuk bangun siang setelah semalam sulit tidur apalagi setelah menutup telepon Maya.
Jam 8 pagi aku baru bangun, padahal biasanya jam setengah 6 pagi aku udah bangun. Setelah mandi aku langsung menuju meja makan.
Papa sedang menikmati sarapannya sambil membaca berita di portal berita online di tab miliknya.
"Pagi, Pa." sapaku seraya mengambil piring dan menyendok nasi goreng kampung buatan Bibi.
"Tumben baru bangun jam segini, biasanya pagi-pagi udah jogging di depan komplek." tanya Papa tanpa mengalihkan perhatiannya dari tab miliknya.
"Semalam enggak bisa tidur jadi mau bangun siang sekali-kali." aku mulai menikmati sarapanku dengan segelas teh TWG yang harganya mehong. Biarlah toh Papa yang beliin. Aku tinggal minum saja.
"Bagaimana perusahaan? Lancar?"
"Lancar. Papa mau nyuruh Richard ambil alih? Nanti aku siapin berkasnya." jawabku santai sambil tetap menikmati sarapanku.
Justru Papa yang sekarang mengalihkan perhatiannya dari tab miliknya. Papa memandangku dengan lekat. Keningnya sampai berkerut. Entah mikirin apa.
"Kamu mau semudah itu berikan perusahaan pada Richard?" tanya Papa.
Aku mengangguk. "Bukannya memang pada akhirnya Richard yang akan memimpin perusahaan ya Pa? Apa bedanya dikasih sekarang atau nanti."
Papa sekarang menggelengkan kepalanya. "Kamu enggak berniat untuk mengambil alih perusahaan?"
"Leo enggak mau mengambil apa yang bukan hak Leo, Pa." aku meneguk teh yang wangi tersebut. Aromanya benar-benar beda dibanding teh celup kemasan lain.
"Kalau kamu memimpin perusahaan bukannya kamu akan lebih mudah lagi untuk kembali sama Maya? Kamu akan punya kekuatan dan uang tentunya. Kamu akan ada nilai plus nanti di mata Maya." Papa mulai mengomporiku.
"Maya mah enggak ngeliat sesuatu dari hal kayak gitu, Pa. Dan Leo enggak mau pakai kekuatan uang untuk mendapatkan Maya. Masih banyak cara lain yang lebih baik dibanding menggunakan cara seperti itu."
"Kalau keluarganya nggak setuju gimana?" tanya Papa lagi.
"Ya...diyakinin supaya mau menyetujui. Walaupun ditolak berkali-kali tapi kalau terus-menerus mencoba pasti akan setuju juga kok."
"Kamu keras kepala banget ya?"
"Ya kan sama persis kayak Papa." jawabku sambil tertawa meledek.
"Papa pikir selama ini yang mirip Papa tuh Richard loh! Secara muka kami berdua kan mirip. Tapi ternyata kamu yang malah mirip sama Papa. Hanya sikap kamu yang sama sekali enggak punya rasa ambisius itu enggak mirip sekali sama Papa."
"Bukan enggak ambisius, Pa. Belajar dari pengalaman Papa aja. Semua kan terjadi karena sikap ambisius Papa. Leo enggak mau aja Maya seperti Mama yang pada akhirnya akan meninggalkan Leo. Uang bisa dicari Pa, dulu Leo cuma kerja jadi pelayan restoran aja masih bisa ngehidupin Maya. Kebahagiaan enggak bisa ditukar pakai uang Pa. Dan kebahagiaan Leo adalah Maya."
Papa terdiam mendengar perkataanku barusan. "Menurut kamu kalau sejak dulu Papa enggak seambisius dulu apa Mama mungkin tetap sama Papa?"
Aku mengangguk yakin. "Papa tau, Leo yakin di dalam hatinya Mama pasti ada nama Papa. Meskipun kalian di jodohkan, dengan Mama yang mau melahirkan anak dari Papa saja sudah jadi bukti kalau Mama tuh sebenarnya memiliki perasaan sama Papa. Hanya..... Papa yang enggak bisa memaintain sehingga perasaan Mama hilang deh."
"Apa Papa masih bisa mendapatkan hati Mama kembali?"
"Leo enggak tau, Pa. Sama seperti Leo saat ini. Leo enggak tau apakah Leo akan bisa mendapatkan Maya kembali. Satu yang pasti Leo yakin kalau Leo sudah mendapatkan hati Maya lagi cuma masalah prosedur aja yang akan rumit untuk mendapatkan Maya kembali di sisi Leo."
__ADS_1
"Papa enggak yakin. Luka yang Papa berikan ke Mama tuh amat banyak dan pasti sulit menyembuhkannya." kata Papa mengecilkan dirinya sendiri.
"Luka yang Leo tinggalkan ke Maya juga banyak Pa. Tapi Leo sedikit demi sedikit menyembuhkannya dan sebisa mungkin enggak membuat luka baru. Papa boleh ikutin cara Leo. Enggak ada yang gak mungkin, Pa. Setidaknya sudah usaha, masalah hasil serahin saja sama Tuhan."