Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Kehadiran Anggota Keluarga Baru


__ADS_3

Mendekati HPL aku mulai rajin berjalan santai mengelilingi komplek. Tinggal di rumah baru benar-benar nyaman rasanya.


Kalau dulu tinggal di kontrakkan kecil dan harus super duper irit, kini aku tinggal di salah satu rumah yang tergolong mewah. Belum ada kolam renang tapi Leo bilang halaman belakang nanti akan Ia buat kolam renang. Agar anak kami nanti jago berenangnya.


Jam setengah 6 pagi sehabis sholat subuh, aku berjalan sambil meregangkan tubuhku ke sekitar komplek. Leo habis sholat subuh lanjut lari keliling komplek.


Senyumnya mengembang setiap kali melewatiku. Terkadang sambil berlari Ia mencium pipiku dengan mesranya. Membuat yang lewat di depan komplek ikut tersipu malu.


Dokter bilang harus banyak jalan kaki agar proses melahirkannya mudah. Aku juga ikut senam hamil. Belajar bagaimana teori melahirkan meski tak yakin saat melahirkan nanti akan menggunakan teori tersebut atau tidak.


Sudah jam 6 lewat. Saatnya menyiapkan sarapan untuk Leo.


"Sayang! Aku nyiapin sarapan dulu ya!" teriakku karena posisi Leo lumayan jauh. Aku malas menghampirinya. Posisiku sudah di depan rumah saat ini.


Harap dimaklumi, perut gede kayak gini jalan jauh saja bikin kebelet pipis. Apalagi ini perut aku katanya sudah mulai turun. Pertanda sebentar lagi mau ngelahirin.


"Iya." balas Leo seraya mengacungkan jempolnya.


Aku masuk ke dalam rumah dan mendapati tugas yang kuberikan pada Mbak Dal asisten rumah tanggaku sudah dikerjakan. Tadi sebelum olahraga aku meminta Mbak Dal membersihkan sayuran dan mengupasnya.


Hari ini aku mau masak capcay. Meski tak seperti namanya capcay yang berarti 9 jenis sayur, tapi bolehlah ya. Aku hitung sayur yang kupakai. Wortel, sawi putih, kol, brokoli, kembang kol dan buncis. Kurang dari 9 jenis. Its oke lah.


Aku sedang menumis bawang putih ketika tanpa terasa aku merasa seperti pipis dan ada air yang mengalir di pahaku. Ya Allah, ketubanku pecah.


"Mbak! Panggilin Leo!" teriakku yang panik tapi berusah tenang.


"Iya, kenapa Bu?" tanya Mbak Dal yang datang tergopoh-gopoh dari tempat mencuci.


"Panggilin Leo! Bilang ketubanku pecah!" ternyata rasa panik lebih menguasaiku. Enggak bisa tenang. Tapi aku ingat harus mematikan kompor.


Mbak Dal juga tertular kepanikan yang kuciptakan. Ia berlari keluar memanggil Leo. Aku menunggu sambil duduk di kursi makan. Berusaha menenangkan diri.


Tenang... harus tenang.... tapi...


"Sayang!!" Leo datang dengan penuh kepanikan. "Kamu gimana? Mules? Mau lahiran sekarang? Kita ke dokter sekarang?"


Aku yang baru saja mulai tenang jadi ikut-ikutan panik lagi. "Iya. Ketubanku pecah. Gimana dong?"


"Kita ke RS sekarang." Leo lalu menyuruh Mbak Dal mengambil tas perlengkapan melahirkan yang sudah kusiapkan di kamar bayi.


"Ambil tas gede warna hitam di kamar bayi. Bawa ke mobil sekarang." Leo menginstruksikan Mbak Dal.


"Ayo kita ke mobil sekarang." Leo pun menuntunku ke mobil. Tangannya dingin saat terkena kulitku.


Dengan sigap Leo membukakan pintu mobil dan memintaku masuk ke dalam. "Mana sih Mbak Dal lama banget?!"


Mbak Dal lalu datang tergopoh-gopoh membawakan tas yang lumayan besar. Tubuhnya yang kecil kuat agak kesulitan membawanya.


Leo membukakan pintu belakang dan menaruh tas yang dibawa Mbak Dal. "Kamu jaga rumah ya."


"Baik, Pak."


Leo lalu melajukan mobilnya secepat yang Ia bisa menuju rumah sakit tempat biasa aku kontrol. Memarkirkan mobilnya dan menuntunku ke UGD.


Sementara Leo mengurus administrasi, aku dibawa ke dokter kandungan. Untunglah dokter yang biasa memeriksaku hari ini ada jadwal praktek tapi nanti sekitar jam 9.


Aku di USG terlebih dahulu dan hasilnya aku harus di operasi caesar karena ketuban sudah pecah dan belum ada pembukaan sama sekali. Kontraksi pun belum ada.


"Tenang saja, Bu. Jangan panik." suster berusaha menenangkanku yang sedang menangis memikirkan akan di operasi caesar.


Anggapan banyak orang kalau melahirkan caesar belum seutuhnya menjadk seorang ibu membuatku sedih. Padahal aku pun sudah berusaha melahirkan normal, ikut senam hamil dan jalan santai tiap pagi adalah bukti usahaku.


Manusia bisa berusaha, namun Allah juga yang berkehendak. Mungkin sudah jalannya aku harus melahirkan dengan cara caesar.


Perjuangan sebagai seorang ibu tiap orang berbeda. Jangan menyamaratakan. Aku memutuskan caesar demi keselamatan anak dalam kandunganku. Tak mau ada kejadian Adam lagi.


Leo dengan setia mendampingiku sampai kami harus berpisah di depan kamar operasi. Wajahnya masih terlihat khawatir. Andai Ia bisa menemaniku di dalam, pasti akan Ia lakukan.


Aku menunggu sendirian sampai dokter datang. Dengan memakai baju dari rumah sakit dan tanpa pakaian dalam sehalai pun aku menunggu di kamar operasi yang dingin.


"Pagi Ibu Maya. Siap ya Bu untuk dioperasi hari ini." seorang suster menyapaku ramah lalu mendorong ranjang tempat tidurku menuju lebih dalam lagi ruang operasi.

__ADS_1


"Iya." jawabku setengah ragu.


Di dalam ruang operasi sudah ada dokter anastesi dan beberapa perawat laki-laki dan suster yang sudah stand by.


"Tolong duduk dulu, Bu." agak malu sebenarnya aku karena tak ada sehelai benang pun menutupi. Just info, baju dari rumah sakit seperti apron memasak. Bagian belakangnya terbuka. Hanya menutupi bagian depan saja.


Aku pun menurut dan duduk. "Lebih nekuk lagi ya Bu karena kami akan menyuntikkan bius lokal sebelumnya."


Aku menurut dan mengikuti apa yang disuruh. "Rileks ya Bu. Agak sakit sedikit."


Dan aku pun merasakan sakitnya jarum suntik yang disuntikkan di antara tulang punggungku, tepatnya di area sekitar pinggang.


Aku menahan sakit. Suntikan paling menyakitkan yang kurasa.


"Silahkan tiduran lagi, Bu." aku menuruti dengan tiduran lagi.


Setelah aku tiduran, sebuah kain berwarna hijau dibentangkan diatas dadaku. Membuatku tak bisa melihat proses operasi.


"Terasa sakit tidak Bu?" tanya dokter anastesi.


"Enggak." jawabku jujur.


"Baik. Berarti obat bius sudah bekerja ya."


Dokter anastesi berganti dengan dokter kandungan yang biasa memeriksaku.


"Pagi Ibu Maya. Saya Dokter Nina. Kita mulai ya operasinya." sapa dokter Nina dengan ramah.


"Iya, Dok." kehadiran Dokter Nina membuatku tak merasa sendirian di ruang operasi ini.


Dulu saat operasi Adam, aku tak sadarkan diri dan sudah selesai ketika aku sadar. Ini berbeda.


Dokter dan suster terlihat santai mengoperasiku. Sambil mengobrol tentang kegiatan di rumah dan berita dk televisi. Santai sekali. Tidak seperti di film-film.


Aku yang tidak merasakan apapun dan tidak bisa melihat apapun hanya bisa pasrah saat perutku seperti digoyang-goyang.


"Oke. Sekarang siap di dorong ya." Dokter Nina lalu memint salah satu diantara cowok itu untuk mendorong perutku. Aku hanya diam saja menyaksikan semuanya sampai air mataku menetes saat mendengar suara...


"Selamat ya Bu, bayinya laki-laki." Dokter lalu menunjukkan bayi mungil nan tampan di depanku. "Lengkap semua ya Bu. Jari tangannya dan jari kakinya. IMD (Inisiasi menyusui dini) dulu ya."


Dokter Nina lalu meletakkan bayiku di sumber kehidupannya yang langsung Ia kenali. "Wah sudah keluar Asinya. Bagus sekali. Pasti banyak nanti Asinya. Kita bersihkan dulu ya."


Aku tak memperhatikan lagi apa yang dilakukan. Ada suara seperti vakum sedang menye dot entah apa dari tubuhku. Aku tak peduli. Bayiku sudah lahir.


Setelah dioperasi aku kembali menunggu untuk ke ruangan. Bedanya di ruang ini Leo bisa masuk.


"Sayang." Leo datang dan langsung memelukku erat. Leo menciumi seluruh wajahku dengan penih kebahagiaan.


"Makasih... Makasih kamu sudah menjadi ibu dari anakku. I Love you." kembali Leo mencium keningku.


Matanya yang berlinang air mata bahagia menjadi saksi kalau Ia amat mencintaiku. Aku tersenyum bahagia. Merasakan indahnya dicintai.


"My Boy... Aku yang namai atau kamu? Atau mau gabung saja? Ideku dan ide kamu. Bikinnya juga berdua, namanya juga berdua dong."


"Kamu saja." aku mau Leo merasa memberi andil dalam kelahiran anakku. Agar Ia selalu merasa sayang pada anaknya.


"Baiklah. Hmm... Aydan Ammar Kusumadewa. Aydan artinya pemuda yang penuh semangat sedang Ammar artinya kuat iman. Jadi arti lengkapnya pemuda yang penuh semangat dan kuat iman keluarga Kusumadewa. Gimana? Suka enggak?"


Aku mengangguk dengan penuh semangat. "Suka. Suka banget. Bisa dipanggil Aydan atau Ay ajam Gimana?"


"Dipanggil Ammar juga boleh. Apa aja yang penting kamu suka." Leo kembali mencium keningku dengan penuh cinta.


****


Aku sudah dipindahkan ke kamar rawat di ruang VVIP. Ada balon dan hiasan menyambut kedatanganku. Pasti Leo yang membuatnya. Bunga-bunga disingkirkan dahulu takutnya aku dan bayi kami ada alergi serbuk bunga.


Sudah ada Bapak, Ibu, Kak Anton dan istrinya Kak Anne, Papa, Mama, Kakanda dan Kak Rian yang saling menatap dengan sebal. Ada apa dengan mereka?


Mama Lena memelukku erat dan mengucapkan selamat padaku. Sambil mengelus perut Mama yang buncit aku tersenyum. "Dikit lagi Mama juga mau punya baby. Samaan ya kita."


"Iya, Sayang. Mama senang sudah punya cucu dan akan punya anak lagi dalam waktu dekat." Mata Mama terlihat berkaca-kaca. Tangis haru dan bahagia menjadi satu.

__ADS_1


Satu per satu mereka yang datang mengucapkan selamat padaku. Senyum bahagia tercurah untukku. Namun pesta harus usai. Bahagia berjalan bersamaan dengan rasa sakit.


Aku harus belajar bergerak ke kiri dan ke kanan. Belajar menyusui bayiku yang membuat rasa perih dan lecet di payu daraku.


Nikmatnya menjadi ibu. Belum kering bekas luka akibat operasi, keesokan hari aku sudah harus belajar berdiri. Rasanya.... mantap!!


Agak segan aku saat perawat memintaku belajar berjalan. Masih sakit. Rasanya mau bermanja-manja ria dengan bobo-an aja di tempat tidur.


Namun aku harus tetap bangun dan belajar jalan. Harus, kudu, mesti dan wajib.


Lagi-lagi rasanya.... mantap!!!


Saat di rumah pun rasa sakit akibat operasi masih terasa namun harus tetap mengurus bayi. Menyusuinya setiap dua jam sekali agar tidak kuning. Benar-benar pengorbanan seorang ibu.


Maka mau melahirkan dengan cara apapun, baik itu lahiran normal atau caesar tolong hargai. Karena perjuangan melahirkan dan setelah melahirkan pun sama menyakitkannya.


Aku jadi ingat perkataan ibu-ibu kala makan bakso dengan Duo Julid waktu itu, bagaimana ibu-ibu menggosipkan temannya yang dibilang lemah karena melahirkan dengan cara caesar.


Kalau mengingat itu rasanya mau aku bejek aja mulutnya. Gemas!


Perlahan aku mulai sehat dan bisa mengurus bayiku sendiri. Mulai pulih dan bisa bolak-balik rumah tanpa rasa sakit.


Sekarang gantian, Mama yang sedang kontraksi. Leo bilang Mama mulas sejak tadi siang dan sudah dibawa Papa ke Rumah Sakit.


Aku tak bisa datang menjenguk. Ada bayi yang harus kujaga dan terlalu sensitif jika dibawa ke rumah sakit.


Hanya bisa mendoakan semoga semua lancar. Dokter akhirnya mengambil tindakan caesar karena mengkhawatirkan kesehatan Mama yang tak lagi muda.


Dan keluarga The Buntungers pun bertambah. Dino Buntungers hadir. Kakak ipar kecilku hadir dengan membawa kebahagiaan untuk semua.


Karena iseng memanggil Dino Buntungers, Papa Dibyo pun jadi punya ide. Putri bungsunya sekaligus anak perempuan satu-satunya dinamakan Dina. Dina adalah Dibyo dan Lena. Sama seperti penamaan Leo, yakni Lena dan Dibyo.


"Lalu kalau aku artinya apa sih Pa? Leo dan Dina adalah penggabungan nama kalian. Aku gimana? Wah kalian jahat nih, membedakanku sendiri dengan yang lain!" Kakanda bak anak kecil yang ngambek minta diberitahu apa arti namanya.


"Cat, inget! Kamu sekarang sudah menikah! Jangan kayak anak kecil!" omel Papa.


"Ya Papa sih, kenapa enggak kasih tau apa arti nama aku! Tinggal jawab aja apa susahnya sih!" gerutu Kakanda.


Semua yang hadir di rumah Papa dan Mama hanya menertawakan ulah Richard.


"Kasih tau Pa!" perintah Mama Lena.


"Iya. Papa kasih tau." Richard menunggu perkataan Papa.


"Hmm... Richard itu asal katanya dari-" belum selesai Papa mengucapkannya sudah dijawab oleh Richard.


"Rich!" jawab Richard. "Kaya."


"Nah itu kamu tau." ledek Papa.


"Ya masa sih artinya begitu Pa? Simple banget!" omel Richard.


"Ya simple namainnya. Bikinnya mah enggak. Susah tau. Harus menerobos benteng pertahanan-" lagi-lagi Richard memotong perkataan Papa.


"Enggak usah diceritain Pa tahap kayak gitu. Kalau cuma artinya kaya doang mah aku udah tau." kata Richard bersungut-sungut.


"Yeh tadi nanya! Jadi enggak nih dijawab?" ledek Papa lagi. Demen banget ngeledekkin Kakanda biar ngambek.


"Jadi." jawab Kakanda dengan cepat.


Aku menahan tawa melihat ulah Kakanda dan Papa yang bak anak kecil.


"Lucu ya mereka." bisik Leo yang sedang menggendong Ay dengan hati-hati.


"Iya." jawabku sambil mentowel pipi Aydan yang mulai gembil karena sering minum ASI.


"Yaudah Papa kasih tau. Nama kamu tuh bukan artinya Rich atau kaya seperti yang kamu bilang. Ya harapan Mama dan Papa sih kamu bisa lebih kaya lagi dari Papa. Tapi bukan itu artinya." Papa sengaja menjeda perkataannya. Membuat kami semakin penasaran.


"Richard diambil dari bahasa Perancis, artinya gagah berani dan kuat. Papa mau kamu jadi kakak yang gagah berani untuk adik-adiknya. Juga jadi seorang yang kuat melindungi keluarganya, melindungi istri dan anak-anak kamu nanti."


Semuanya diam. Salah sangka terhadap Papa pupus sudah. Papa bisa serius juga ternyata. Tapi hanya sebentar, karena kemudian...

__ADS_1


"Papa keren kan bisa kasih nama bagus kayak gitu? Ha...ha...ha..." Papa pun tertawa puas. Nyesel... nyesel muji-muji Papa...


__ADS_2