Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Visit


__ADS_3

Leo terlihat menggaruk telinganya seakan tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan barusan.


"May, beneran?" tanya Leo seakan tak percaya.


"Beneran apanya?" tanyaku bingung.


"Kamu beneran mau rujuk lagi sama aku?" Leo kembali memastikan jawabanku.


"Tergantung." jawaban yang menggantung paling nyebelin.


"Loh kok beda lagi? Tadi katanya 'siapa takut?'" sorot mata bahagia Leo berubah menjadi kekecewaan dalam waktu singkat.


"Jadi... Nanti aja deh, ada Kak Anggi dan Kak Fahri tuh." aku menunjuk ke arah Kak Anggi dan Kak Fahri yang sedang bercanda di depan pintu masuk.


"Tapi ini penting May!" elak Leo.


"Sst! Udah nanti aja." aku langsung fokus dengan pekerjaanku tak mengindahkan tatapan Leo yang tak terima obrolan serius kami harus berhenti di tengah jalan.


"Wah kalian tuh beneran rajin ya. Selalu yang pertama ada di ruangan sebelum kita bertiga." ujar Kak Anggi.


"Iya dong Kak. Junior harus ada duluan sebelum senior." jawabku merendah.


"Bagus! Bagus! Nanti aku usulkan sama Pak Johan saat penilaian nanti kalian dikasih nilai yang bagus." kata Kak Fahri.


"Yang bener Kak?" tanyaku dengan antusias. Sementara Leo asyik mengetik sesuatu di komputernya.


"Iya. Kalian tuh patut dicontoh. Apalagi Leo. Kerja melulu. Hasilnya juga bagus kok." puji Kak Fahri.


"Makasih, Kak." sahut Leo tanpa mengalihkan matanya dari komputer. Agak kurang sopan sih namun terbayar oleh hasil pekerjaan Leo yang bagus sesuai perkataan Kak Fahri.


Tak lama Pak Johan masuk ke dalam ruangan. Percakapan kami pun bubar. Kak Fahri dan Kak Anggi kembali ke tempat duduknya masing-masing.


Aku melirik ke arah Pak Johan yang terlihat sedang mengernyitkan keningnya sambil matanya melihat ke arah komputer. Wah ada apa nih?


"Saya baru dapat email dari Mr. So." suara Pak Johan yang berat langsung membuat perhatian kami teralih dan menatapnya siap menunggu perintah. "Ada kunjungan ke salah satu restoran kita."


Aku melirik ke arah Leo. Ia berakting natural seakan tak tahu apa-apa.


"Yang saya herankan kenapa Mr. So meminta anak baru untuk turun langsung ya?" tanya Pak Johan lebih ke dirinya sendiri bukan ke anak buahnya.


Aku menatap ke arah Leo yang terlihat sedang menyunggingkan seulas senyum. Ini pasti ulah Leo deh. Ia tidak rela percakapan kami terpotong dan menggunakan kekuasaan yang Ia punya sesuka hatinya.


"Restoran mana ya Pak?" tanya Kak Fahri.


"Yang di Bekasi." jawab Pak Johan.


Waduh! Kok Leo nyuruh yang jauh sih? Enggak salah nih?


"Oh... Soalnya Mr. So udah minta bagian kita ngecek yang di Jakarta, Pak. Mungkin Mr. So sudah memperhitungkan volume kerja dan kapasitas karyawannya Pak makanya menyuruh anak baru yang kesana. Nih saya sama Anggi masih ngecekkin yang di Jakarta masih belum rampung." Kak Fahri menjelaskan sambil menunjukkan berkas yang masih Ia periksa.


"Bisa juga sih. Tapi agak janggal menurut saya." Pak Johan mencurigai keputusan yang Mr. So eh maksudnya Leo ambil.


"Kasih aja lah, Pak. Toh Leo kerjanya bagus dan teliti, ditambah Maya pasti mereka bisa handle." dukung Kak Anggi.


Pak Johan terlihat memikirkan sesuatu sebelum memutuskannya.


"Maya gimana? Bisa?" Pak Johan menanyakan pendapatku.


"Bisa, Pak." jawabku yakin.


"Leo gimana?" kali ini Pak Leo menanyakan pendapat Leo.


"Saya sesuai perintah Bapak saja." kenapa Leo terkesan menurut sementara aku terkesan penuh percaya diri ya?


"Bekasi lumayan jauh dan sekarang sudah jam 1 lewat. Kalian mau langsung pulang saja nanti takut kemalaman kalau balik ke sini lagi. Pakai mobil kantor saja ya?" Pak Johan terlihat sedang memperhitungkan sesuatu.


"Saya bawa motor, Pak. Kebetulan rumah saya dan Maya searah jadi naik motor saya saja." Leo berusaha bernegosiasi dengan Pak Johan.


"Baiklah terserah kamu. Siap-siaplah." Pak Johan kembali lagi duduk.


Aku melirik ke arah Leo yang sedang membereskan barang-barangnya dan mematikan komputernya. Ia memasukkan laptop miliknya ke dalam tas.


Aku mengikuti apa yang Leo lakukan. Menyimpan pekerjaan yang sudah kulakukan lalu mematikan komputer. Memasukkan charger Hp dan dompet ke dalam tas. Aku juga menyiapkan dokumen yang dibutuhkan untuk memeriksa cabang disana.

__ADS_1


"Ayo, May!" ajak Leo.


Aku mengikuti Leo dan berpamitan pada Pak Johan.


"Jangan lupa bawa ID Card agar kalian diijinkan masuk. Karena wajah kalian masih baru takut mereka tak mengenali. Dan ini." Pak Johan menyerahkan print email yang Mr. So kirimkan untuknya. "Tunjukkan sebagai bukti."


"Baik, Pak." Leo mengambil kertas yang Pak Johan berikan.


"Kami pergi dulu Pak." pamit Leo. Aku hanya mengikuti saja apa yang Leo lakukan.


Baru saja keluar ruangan dan menutup pintu aku sudah mendengar Pak Johan mengeluh. "Aneh banget. Kenapa juga harus nyuruh anak baru?"


Aku mengikuti Leo yang sudah berjalan lebih dulu ke lift. Kebetulan sekali berpapasan dengan Richard yang hendak turun ke bawah dan melakukan survey lapangan.


"Loh kalian mau kemana?" tanya Richard.


Tak menjawab pertanyaan kakaknya Leo langsung masuk ke dalam lift yang terbuka lalu menekan lantai dasar tempat tujuan kami.


"Mau ke pabrik. Tuh Leo eh maksudnya Mr. So yang nyuruh." kataku begitu pintu lift menutup. Hanya ada kami bertiga di dalam lift.


"Bisa banget ya memanfaatkan posisi buat ngedate siang-siang?" ledek Richard. "Aku bilangin Papa loh!"


"Berisik ah! Ada yang mau aku omongin sama Maya!" ujar Leo dengan wajahnya yang serius.


"Ngomongin apaan? Aku enggak diajak nih?" tanya Richard ingin tahu.


"Enggak. Udah sana urusin Lidya. Udah difasilitasin buat PDKT sama Lidya juga bukan dimanfaatkan!" kalau seperti ini malah Leo yang terlihat seperti kakaknya dan Richard adiknya.


"Gampang itu mah. Kata Maya mau Maya bantuin kok. Iya kan May?" Richard meminta dukunganku.


"Iya tenang aja. Serahkan pada Maya." aku dan Richard lalu berhigh five alias tos-tosan dengan Richard membuat lift agak sedikit bergoyang.


"Oh jadi kalian merencanakan ini toh? Tadi isi bisik-bisik kalian pas makan siang tentang rencana menyatukan Richard dan Lidya gitu?" selidik Leo.


"Yoi." jawabku dan Richard kompak.


"Lebay." ledek Leo seraya keluar dari lift yang sudah berhenti di lantai dasar.


"Pelan-pelan dong!" kataku saat Leo sudah berjalan jauh di depan.


"Aku mau pakai helm dulu dan nyiapin helm buat kamu!" jawab Leo tanpa menoleh ke belakang.


Kini Leo sudah di depan motor Aerox hita miliknya. Mengambil helm cadangan dan menyemprotkan parfum helm untukku. "Nih, pake!"


Aku menerima helm yang Leo berikan. Wangi... Leo melakukan hal yang sama pada helm miliknya. Ia memang tipikal laki-laki yang resik dan cinta kebersihan.


"Ayo naik!" aku menurut saja bagai anak bebek yang mengikuti induknya.


Untunglah hari ini aku mengenakan setelah celana panjang dan blazer. Ternyata perjalanan ke Bekasi lumayan jauh juga, maklum beda planet.


Jam setengah 2 jalanan padat. Banyak angkot yang ngetem sembarangan tak mengindahkan peraturan.


Belum lagi banyak lampu merah harus kami lalui. Hampir setiap lampu merah ada pengamen, pengemis, badut yang cuma duduk manis sambil memasang wajah minta dikasihani karena kelelahan bekerja dan manusia silver tentunya.


Semua menambah ragam potret ibukota yang semakin semrawut. Yang membuat aku sebal ya si badut itu. Kok minta dikasihani? Aku saja bekerja seharian capek enggak minta dikasihani orang. Ini malah tinggal duduk, pasang wajah memelas eh duit dateng gitu? Usaha Mas!


Lalu manusia silver yang hanya berdiri diam bak patung yang sudah melumuri tubuhnya dengan cat. Yang membuat miris adalah kadang orang tua mengajak anaknya untuk menjadi manusia silver. Berlari seenaknya di jalan raya seakan taman bermain tak memperdulikan keselamatan anak sendiri.


Orang lain susah mendapatkan anak, aku pun begitu kehilangan anak eh dia dikasih anugerah anak bukannya diurus malah dijadikan ladang uang. Enggak ada akhlaknya memang jadi orang tua!


Motor Leo lalu melewati kolong-kolong fly over. Terlihat ibu-ibu yang sedang nongkrong menunggu anaknya setoran dari hasil meminta-minta. Ih aku gemas banget rasanya!


Kenapa enggak ibu-ibunya saja yang bekerja? Kan bisa jadi tukang cuci gosok, pembantu rumah tangga yang semakin langka kenapa harus uncang-uncang kaki menikmati hasil kerja keras anaknya?


Motor Leo kembali berhenti di lampu merah entah untuk yang kesekian kali saking banyaknya. Kali ini pengamennya masih muda. Rambutnya dicat blonde, memakai celana dan jaket jeans dengan kaos ketat didalamnya menonjolkan lekuk tubuh.


Gigi di behel di ahli gigi enggak jelas, yang penting gaya. Ukulele ditenteng dan dimainkan saat bernyanyi. Lagu kemana musik kemana.


Lipstik warna merah terang sambil sesekali menggoda para pengendara agar dikasih recehan. Ini makin membuatku miris. Aku dulu pernah merasakan enggak punya uang tapi mbok ya dengan cara yang mengangkat harga diri toh.


"Kenapa sih geleng-geleng kepala aja sejak tadi?" tanya Leo saat kami baru saja tancap gas setelah lampu merah berganti jadi lampu hijau.


"Aku tuh sebal dengan pengamen, pengemis, badut, manusia silver dan cewek-cewek sok gaul yang jadi pengamen berbehel. Mau punya uang tapi kok enggak mau usaha sih?!" aku menumpahkan unek-unekku sejak tadi.

__ADS_1


"Ya itu mereka lagi usaha." jawab Leo dengan entengnya.


"Itu usaha tercepat dan termalas yang mereka lakukan tau. Kalau mau cepat kenapa enggak ngepet di Bank aja. Cepet tuh jadi kaya!"


Tubuh Leo bergerak-gerak pertanda Ia sedang menertawai perkataanku. Aku memukul pelan bahunya. "Ngapain ketawain aku?"


"Cocok kamu jadi menteri sosial. Terlalu peduli dengan lingkungan sekitar. Udah biarin aja enggak usah ngurusin hal kayak gitu. Tugas pemerintah itu bukan kita. Yang terpenting kita ke restoran, ngecek semuanya lalu ngomongin tentang kita." Leo membelokkan motornya memasuki area Metropolitan Mall.


"Kamu tuh juga rese! Kalau mau visit yang deket aja sih! Jangan yang jauh! Panas tau siang-siang ke Bekasi dari Jakarta! Bisa belang deh kulit aku!" gerutuku. Memang cuaca siang ini sangat terik.


Leo memarkirkan motornya lalu mengajakku ke salah satu restoran milik Kusumajaya Group yang harus kami cek.


"Soalnya aku juga mesti cek restoran ini. Disini penjualannya lumayan tinggi. Bisa diaplikasikan ke yang lain teknik dan metodenya. Udah ayo masuk!" Leo menarik tanganku agar tidak hilang.


Metropolitan Mall kalau siang hari banyak anak sekolah yang nongkrong sepulang sekolah. Dengan memakai seragam tangan pendek putih dan rok abu-abu panjang. Kemeja putihnya sengaja dibuat ketat agar menunjukkan lekuk tubuhnya.


Beberapa anak SMA itu terlihat memandang ke arah Leo. Bahkan mereka menggoda Leo dengan berani di depanku.


Leo yang sudah melepaskan tanganku begitu kami masuk mall. Namun melihat banyak saingan yang akan menggoda Leo, buru-buru aku menggenggam tangan Leo. Menyatakan secafa terang-terangan kalau Leo adalah milikku!


"Tumben mau pengangan tangan? Biasanya juga males alasannya tangan kamu keringetan!" ledek Leo.


"Banyak bibit-bibit pelakor nih. Biar masih SMA kelakuannya udah berani godain laki orang!" aku asal saja menggerutu tidak memikirkan apa isi perkataanku.


"Laki orang?" tanya Leo.


"Mantan laki maksudnya." kataku meluruskan.


"Emang enggak mau jadi laki lagi?" ledek Leo.


"Mau lah." jawabku malu-malu.


Leo menuntunku ke eskalator. Ia melepaskan pegangan tangannya dan malah merangkul bahuku. Membuat anak SMA yang di belakang kami ber 'yaaaahhhh' bareng.


Aku tersenyum bangga karena berhasil menang melawan anak SMA kecentilan. Huh!


Saat mendekati restoran Leo kembali melepaskan tangannya dari bahuku. Ya, kami harus profesional.


"Kita bicarakan nanti. Kita kerja dulu ya!"


"Siap, Bos!"


Aku dan Leo pun disibukkan dengan pekerjaan kami sebagai audit. Memeriksa stok barang di gudang. Mengecek apakah ada stok makanan yang sudah expired dan memeriksa kebersihan restoran.


Aku mengambil beberapa foto saat menemukan ada kotoran tikus diatas rak. Ini kesalahan yang harus dilaporkan pada atasan kami tentunya.


Memisahkan kaleng-kaleng makanan kalengan yang sudah expired, mengambil foto dan memusnahkannya.


Memeriksa laporan stok barang dan mencocokkannya dengan yang ada di gudang. Ah kami berdua sangat sibuk. Pantas saja Kak Anggi dan Kak Fahri kalau visit ke restoran suka langsung pulang. Capek ternyata.


Kami selesai jam setengah 8 malam. Perutku keroncongan minta diisi. Huft lelah banget. Mana besok harus masuk kerja lagi!


Namun Leo seperti tidak kehabisan baterai. Ia masih mengirim laporan pada Pak Johan. Sebagai bukti hasil kerjanya.


Sementara aku sudah kucel, kumel and dekils. Muka udah berminyak banget. Aku pamit ke kamar mandi untuk merapihkan penampilanku.


Leo sudah menunggu di depan kamar mandi. Ia lalu mengajakku ke restoran cepat saji karena buka 24 jam. Leo memilih tempat duduk di luar. Angin sepoy-sepoy malah membuat rambutku berantakan. Ah... jauh berbeda dengan penampilan Leo yang tetap keren apapun situasinya.


"Kamu beneran mau kita rujuk?" Leo langsung to the poin.


"Iya. Tapi dengan satu syarat."


"Apa?" tanya Leo lagi.


"Aku mau Bapak yang menikahkan kita berdua lagi. Bukan Kak Rian."


Leo langsung tertunduk lunglai. Berat ini urusannya.


"Kenapa? Takut?" tanyaku.


"Enggak. Siapa takut!"


******

__ADS_1


__ADS_2