
Aku melihat jam di pergelangan tangan kiriku. Sudah jam 11 malam. Aku sangat mengantuk. Hari ini beneran full energy.
Mau tidur tapi kok enggak tega karena Leo juga pasti lelah dan mengantuk namun tetap memaksa untuk menyetir mobil. Jadinya aku menemani Leo. Sesekali menyanyi mengikuti irama lagu dari radio.
Kami sudah mau sampai Jakarta. Baru saja keluar pintu toll. Jalanan lengang karena kebanyakan orang sudah tidur karena besok harus bekerja atau sekolah.
🎶Lebih baik disini...
Rumah kita sendiri....
Segala nikmat dan anugerah yang kuasa...
Semuanya.... Ada disini.... 🎶
Aku ikut menyanyi lagu Rumah Kita yang diikuti Leo dengan sesekali mengusap lembut rambutku.
"Kayaknya kamu kebanyakan energy nih. Udah malam masih on aja?" Leo memberhentikan mobil di belakang lampu merah. Ia mengambil botol air mineral yang terletak di belakang kursi kemudinya lalu meminumnya.
"Aku tuh begini biar kamu enggak ngantuk saat mengemudi." kataku beralasan.
"Oh ya? Berarti nanti malam juga enggak ngantuk dong?" sindir Leo.
"Ngantuk. Nanti malam ngantuk karena besok mau kerja." aku berusaha mengelak. Kulirik Leo yang tersenyum sambil menjalankan lagi mobilnya.
"Kalau kamu belum siap aku enggak akan maksa May." Leo kembali mengusap lembut kepalaku.
"Ih kayak kita pertama kali aja ngelakuinnya. Kita kan udah sering." aku kalau bahas tentang kayak gini langsung deh nyambung. Enggak pakai mikir dulu.
"Hmm.... Udah lama banget dong ya. Hampir 2.5 tahun lalu." Leo tersenyum sinis. "Waktu kita dulu sudah menikah malah enggak pernah ngelakuin hal kayak gitu, padahal udah halal. Giliran masih dosa kok kita malah senang ya ngelakuinnya?"
"Jangan tanya aku, tanya sama kamu. Kan kamu yang menghindar terus?! Aku tuh udah mancing-mancing eh kamunya cuek bebek." kayaknya ini curahan hatiku saat kami menikah dulu. Bagaimana dulu Leo bahkan menghindari kontak fisik denganku.
Leo kembali tersenyum. "Iya ya aku bodoh. Punya istri cantik di rumah malah dianggurin. Dulu aku kebanyakan mikir. Kebanyakan mengkhawatirkan hal yang enggak perlu dikhawatirkan."
"Berarti sekarang udah sadar dong?"
Leo mengangguk. Ia membelokkan kemudinya ke jalan menuju rumah kontrakkanku. "Sadar banget."
"Sadar apaan?"
"Sadar kalau aku enggak akan nganggurin kamu lagi. Siap-siap aja kamu." ancam Leo.
"Ih nyeremin banget."
"Nyeremin tapi ngangenin kan?"
"Iya... Iya... Udah parkir disana aja. Depan warung Pak Husin. Sebentar doang kok." aku menunjuk warung Pak Husin yang di depannya masih ada space kosong untuk parkir.
"Iya. Aku biasa parkir disini kok."
Dan seperti yang Leo bilang, Ia terbiasa parkir disini karena Pak Husin sudah mengenalinya. Pak Husin langsung tersenyum lebar menyapa Leo.
"Numpang sebentar ya Pak." Leo meminta ijin pada Pak Husin.
"Lama juga enggak apa-apa buat Nak Leo mah." Pak Husin tersenyum ramah. Beneran akrab nih mereka.
Aku lalu turun dan meregangkan sedikit tubuhku. Rasanya bo kongku panas kelamaan duduk. "Nitip sebentar ya Pak."
"Siap May!" jawab Pak Husin.
Leo lalu berjalan menghampiriku dan menggandeng tanganku. Sekarang mau gandengan tangan sudah enggak masalah. Sudah halal.
__ADS_1
Leo mengganti pegangan tangannya menjadi merangkul pundakku. Aku melakukan hal yang sama dengan memeluk pinggangnya dengan tangan kananku.
Kami pun sampai di depan rumah kontrakkanku. Aku masuk ke dalam diikuti Leo yang ikut masuk juga.
Aku mencari koper kecil milikku, ternyata ada diatas lemari. Aku lalu menurunkannya dengan menggunakan kursi plastik lalu sibuk memasukkan baju yang akan kubawa beserta perlengkapan lainnya.
Leo yang melihat kasur langsung merebahkan tubuhnya. Terlihat sekali kalau Ia sangat lelah. Kasihan sih sebenarnya.
"Panas banget sih, May?" Leo lalu membuka kemejanya dan tiduran dengan tanpa atasan.
"Iya kan baru masuk. Jadi AC nya belum terasa. Pakai kipas angin aja di ruang tamu depan." aku sibuk merapihkan baju-baju milikku dan tak menghiraukan Leo.
Leo berjalan menuju ruang tamu hendak mengambil kipas angin namun suara ketukan di pintu membuatnya membatalkan niatnya mengambil kipas angin, malah berjalan menuju pintu.
Leo membuka pintu dan mendapati Bu Sri dan Bu Jojo yang terlihat kaget dan menutup mulutnya.
"Astaghfirullah! Kalian ngapain?" Bu Sri dan Bu Jojo memekik kaget langsung mendorong Leo masuk ke dalam rumah.
"Enggak ngapa-ngapain, Bu. Emangnya ada apa?" tanya Leo bingung.
"Kamu nih ya! Enggak ada kapok-kapoknya! Jangan kumpul kebo kayak gini dong di lingkungan kita. Nanti kita yang kena sialnya! Rumah saya kan masuk dalam 40 rumah di dekat rumah kontrakkan Maya!" Ibu Jojo nyerocos panjang lebar.
Aku keluar kamar dan mencari tahu ada keributan apa sih sejak tadi. Rame banget.
"Kenapa sih Bu? Rame banget!"
"Ih nih anak santai banget lagi! Lagi ngapain kamu?" semprot Bu Sri.
"Lagi rapihin baju." jawabku jujur.
"Habis ngapain?" tanya Bu Sri lagi.
"Habis nurunin ko-" belum selesai aku bicara sudah dipotong oleh Bu Jojo.
Aku dan Leo saling pandang. Leo mengangkat bahunya, isyarat tidak mengerti maksud Duo Julid apa. Aku apalagi. Leo yang pinter aja enggak ngerti apalagi aku yang oon?
"Pokoknya kalian jangan macem-macem di lingkungan ini! Disini tuh ketat! Mau kalian diarak keliling kampung enggak pakai baju?!" ancam Bu Sri.
"Kenapa kita berdua harus diarak Bu? Memang kita salah apa?" tanyaku bingung.
"Ya ampun May! Lagi situasi begini tuh pinteran dikit kenapa! Ini lagi Leo, udah tau Maya agak oon malah diiyain aja. Harusnya kamu yang bisa mencegah semuanya terjadi!" omel Bu Jojo.
Aku mengatur nafasku. Udah biasa sih dibilang oon. Tapi mereka datang langsung marah-marah yang bikin aku bingung.
"Jujur Bu, Maya enggak ngerti maksud Ibu berdua apa. Maya sama Leo salah apa?" aku mencoba menguraikan benang kusut yang akan semakin kusut kalau tidak dirapihkan.
"Tuh!" Bu Jojo menunjuk ke arah Leo yang sedang bertelanjang dada sambil melipat kedua tangannya di dada. "Ngapain Dia disini? Lalu ngapain telanjang dada gitu? Mau kalian digrebek sama warga kampung karena berbuat tidak senonoh? Mana tadi kamu bilang habis nurunin kon- ah saya enggak bisa nerusinnya. Isin (malu)."
Leo sepertinya paham duluan maksud Bu Jojo dan Bu Sri apa. "Kamu jelasin ke mereka ya Sayang. Aku ngantuk. Mau tidur sebentar. ACnya udah dingin kayaknya enggak jadi pakai kipas angin deh." Leo menyunggingkan seulas senyum sambil geleng-geleng kepala dan masuk ke dalam kamar.
"Ih Dia malah masuk ke dalam." tunjuk Bu Sri ke arah Leo.
"Biarin aja. Ada kita berdua mah aman." Bu Jojo menepuk dadanya bak super hero.
Sekarang aku yang tersenyum. Aku mengerti asal salah paham ini. "Duduk dulu, Bu."
Aku lalu ke dapur dan mengambil dua buah minuman dingin dan kue yang tadi Ibu bawakan. Kue jajanan pasar yang Papa Dibyo amat sukai bahkan minta dibungkusin buat dibawa pulang.
"Minum dan cobain cemilannya dulu. Maya mau ambil ko...per. Koper bu. Otaknya jangan travelling kemana-mana ya." aku lalu menyeret koper dan merapihkan baju yang tadi aku taruh secara asal karena kedatangan dua perusuh ini.
"Aku sama Leo enggak ngapa-ngapain, Bu. Jangan mikir jelek dulu. Leo ngantuk dan mau tidur di kamarku tapi karena ACnya belum dingin jadi Leo buka bajunya. Leo baru saja mau ngambil kipas angin di ruang tamu saat Ibu berdua datang dan mikir yang enggak-enggak." kataku sambil melipat baju dan memasukkannya ke dalam koper.
__ADS_1
"Ya tetap saja walau kalian enggak ngapa-ngapain kalau berduaan di dalam rumah kan bikin orang curiga. Mengundang setan. Kalian dulu kan nikah karena enggak kuat nahan godaan setan. Kita cuma takut kalian kebablasan lagi kayak dulu." Bu Sri mengambil kue lapis dan memakannya, tak lupa membuka kemasan minuman dingin yang kuhidangkan lalu meminumnya.
"Iya. Maya tau kok kalau kalian sayang sama Maya. Tapi kalaupun Maya melakukan hal kayak gitu juga enggak dosa Bu. Emang kenapa? Dapet pahala malah."
"Ih kamu belajar ilmu agama dari mana sih? Ngaco deh! Kalian udah bukan suami istri lagi. Sudah cerai. Pegangan tangan aja dosa apalagi berbuat yang macam-macam?" Mama Jojo mulai ceramah.
"Kata siapa? Orang Maya dan Leo udah rujuk kok. Kita berdua sekarang udah jadi suami istri lagi, Bu."
"Jangan bohong kamu May?!" Bu Sri bahkan menghentikan makannya dan menatapku dengan serius.
"Beneran. Masa Maya bohong. Nih buktinya." aku menunjukkan cincin berlian di jari manisku yang bertengger dengan indahnya.
"Cuma karena dikasih cincin aja kamu luluh? Rujuk enggak bisa segampang itu May. Apalagi kalian udah cerai 2 tahun lebih. Harus ada akad nikah lagi biar lebih afdol." ceramah Bu Jojo.
Lagi-lagi aku menghela nafas dalam. Pantas saja Leo meninggalkanku untuk menjelaskan kepada mereka berdua. Ternyata pegal juga ya. Huft... Aku iri sama Leo yang sedang beristirahat dengan tenang di dalam sana.
"Maya udah nikah tadi Bu sama Leo. Bapak sendiri yang jadi wali nikahnya. Kalau Ibu enggak percaya nih lihat aja. Ada video akad nikahnya juga sama foto-foto di rumah Maya." Aku menyerahkan handphone yang berisi dokumentasi video dan foto yang tadi Mama Lena kirimkan. Untunglah aku menyimpannya. Buat jaga-jaga dari orang-orang yang usil dan pengen tahu kayak dua ibu-ibu ini.
Bu Sri dan Bu Jojo berebut untuk melihat isi handphoneku. Mereka Langsung terbelalak kaget karena tak menyangka kalau apa yang aku katakan itu benar. Lagian ngapain juga aku bohong?
"Kamu beneran udah nikah lagi May sama Leo?" tanya Bu Sri untuk memastikan lagi karena Ia sepertinya tidak percaya dengan apa yang Ia lihat. "Bukan settingan gitu kayak artis-artis?"
Aku tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala mendengar perkataan Bu Sri. "Memangnya aku seterkenal apa sih Bu sampai harus bikin settingan kayak gitu? Enggaklah!"
"Terus kenapa mendadak nikahnya? Jangan-jangan kamu bunting lagi ya kayak dulu?" Bu Jojo langsung berpikir negatif.
Bu Sri pun terjebak dengan pikiran negatif. Ibaratnya tuh Bu Jojo yang lempar bola, nah Bu Sri yang nge-goll-in ke gawang nya. Langsung dong buat Sri nanya ke aku. "Kamu beneran bunting lagi May? Enggak kapok-kapok juga sama kejadian yang dulu? Kok nggak belajar dari pengalaman yang dulu sih May? Saya kan udah nasehatin kamu panjang lebar Maya.... Kenapa susah banget sih buat memberi nasehat saya?"
Rasanya aku mau nangis deh. Susah banget ngasih penjelasan sama nih dua ibu-ibu. Dari dalam kamar aku mendengar suara cekikikan Leo yang menertawakan posisi aku yang terjebak seperti ini.
"Sayang.... Bantuin aku dong! Kamu bisa-nya cuma ngetawain aja! Help me please..." aku berteriak memanggil bala bantuan.
Leo lalu keluar kamar sambil memakai kaos milikku yang agak kebesaran. Mungkin enggak enak kalau keluar kamar sambil bertelanjang dada didepan ibu-ibu ini. Takut ibu-ibu ini khilaf melihat dada bidang Leo dan perutnya yang six pack.
"Maya enggak hamil, Bu. Niatnya kalau ibu-ibu tadi enggak datang udah saya hamilin. Jadi gagal deh rencana saya." dengan santainya Leo bicara sambil menyalakan kipas angin. Masih kegerahan rupanya dia.
"Hush! Kamu malah nambah-nambahin keruwetan aja! Bukannya bantuin!" aku menyubit pelan pinggang Leo yang masih tertawa-tawa.
"Heh malah mesra-mesraan lagi! Kalau Maya enggak bunting kenapa kalian nikahnya dadakan?" Bu Sri masih penasaran. Ia bahkan tidak menyentuh lagi makanan dan minuman yang kuhidangkan, padahal biasanya sambil makan sambil ngobrol.
"Tadi Papa sama Mama datang buat minta Maya ke Bapaknya Maya agar dikasih rujuk lagi sama aku, eh ternyata Papa dan Bapak Ibunya Maya temenan dari SMA. Ada Angga juga kok yang mau ngelamar Maya hari ini, tapi Bapak lebih memilih aku jadi menantunya-" belum selesai Leo menjelaskan sudah dipotong sama Bu Jojo.
"Hah? Angga juga mau ngelamar Maya? Kesana sama siapa dia?" enggak ada interupsi dulu langsung aja nyerobot.
Sekarang Leo yang menghela nafas berat. Aku gantian ngetawain dia. "Susah kan ngejelasin sama ibu-ibu ini?"
"Susah banget. Ngomong belum selesai udah dipotong... Hiks... Dengerin dulu atuh Ibu-ibu! Saya belum selesai cerita." Leo mulai tak sabaran.
"Iya....Iya... Kita dengerin deh." kata Bu Sri dan Bu Jojo kompak.
"Tadi Angga duluan sama Papanya yang datang lalu Leo dan aku datang belakangan. Bapak awalnya mau nerima lamaran Angga tapi Bapak ngajuin pertanyaan yang sama ke Angga dan Leo. Jawaban Leo ternyata lebih disukai Bapak. Lalu dateng deh Papanya Leo. Dan akhirnya kit dinikahin darurat daripada jadi fitnah." akhirnya aku bisa jelasin panjang lebar tanpa dijeda.
"Oh..." jawab Bu Sri dan Bu Jojo kompak.
"Cuma 'Oh' doang nih?" sindirku.
"Oooooohhhhh begitu toh ceritanya...." jawab Duo Julid kompak.
"Iya. Sekarang Ibu-Ibu yang terhormat tolong kasih tau Pak RT dan warga sini ya kalau Maya udah sold out. Udah laku. Bukan janda lagi. Dan satu lagi... " Leo menatap jahil ke arah Ibu-ibu. "Saya mau kelonan dulu sama Maya. Babay..."
****
__ADS_1
Sst! Yang minta Up terus jangan berisik! Ada yang lagi kelonan. Kalo ngasih vote boleh tapi jangan berisik ya 🤣🤣🤣