Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Keputusan Mr. So


__ADS_3

Sambil menunggu kedatangan manajer HRD ke ruangan, Leo mengangkat telepon di mejanya dan menghubungi seseorang.


"Pak, ini Leo. Tolong bawakan dua minuman dingin dan bawa ke ruangan audit sekarang ya!" perintah Leo kepada orang yang di ujung telepon sana.


Leo lalu duduk di atas mejanya dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Menatap dengan tajam ke arah Ana yang sedang menangis di lantai.


Aku sendiri tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Mau bekerja kok rasanya keadaan tidak memungkinkan. Apa yang harus aku kerjakan juga? Pak Johan dibawa ke kantor polisi dan Kak Fahri sedang memanggil Manager HRD.


Aku melirik ke arah Kak Anggi yang sejak tadi hanya duduk diam memperhatikan keadaan sekitar. Sama sepertiku, Kak Anggi juga tak tahu apa yang harus dilakukan.


Tak lama kemudian Kak Fahri dan Manajer HRD yakni Ibu Yeni datang. Ibu Yeni melihat Leo duduk di atas meja sambil melipat tangan di dada agak mengernyitkan keningnya. Tapi kemudian Kak Fahri membisikkan sesuatu ke telinga Ibu Yeni sehingga Ibu Yeni memasang wajah biasa saja.


"Hmm... Bapak memanggil saya?" tanya Bu Yen dengan penuh hormat. Sudah aku duga pasti yang Kak Fahri bisikkan adalah memberitahu bahwa Leo ada Mr. So.


Demi menjaga kesopanan, Leo pun turun dari meja dan duduk di kursi belakang mejanya.


"Iya, benar. Saya memang manggil Ibu. Saya mau Ibu mengurus tentang pemecatan Pak Johan dan juga mutasi untuk Ana," Leo menunjuk ke arah Ana yang menangis di lantai tanpa ada yang mengindahkannya sama sekali.


"Saya mau Ana dipindahkan ke cabang kita yang ada di Karawang. Tanpa ada fasilitas mess dan antar jemput. Berhubung Ana masih terikat kontrak dengan perusahaan kita, maka jika Ana mengajukan surat permohonan untuk resign, maka Ia harus membayar pinalty sebesar 30x gajinya." perintah Leo dengan tegas.


"Tapi Pak-"


"Apa yang Ibu perlukan? Email pemberitahuan resmi dari saya? Akan langsung saya buatkan."


Tak menunggu jawaban dari Ibu Yeni, Leo menyalakan komputernya dan mengirim email kepada Ibu Yeni.


Sebuah notifikasi di Hpnya berbunyi. Email perusahaan memang terhubung dengan Hp miliknya, jadi saat ada email masuk maka Ia akan bisa mengeceknya langsung dari Hp yang Ia pegang.


Mata Bu Yeni membulat melihat siapa pengirim email tersebut. Meski sudah diberitahu oleh Kak Fahri tetap saja melihat ada email masuk dari Mr. So pasti membuatnya kaget.


"Mr. So?" agak tergagap Bu Yeni menyebutkan nama pengirim email.


"Masih ada lagi yang Ibu perlukan?" tanya Leo.


"Tidak, Pak. Sudah cukup. Saya akan memproses permintaan Bapak." Bu Yeni mengiyakan permintaan yang Leo minta. Ana kini yang menatap ketakutan.


Semua karyawan di Kusumadewa Group paling takut jika dipindahkan ke cabang Karawang. Bukan hanya karena letaknya yang jauh dari Jakarta, melainkan pekerjaannya juga lebih berat.


Di Karawang letak pabrik yang memproduksi bahan untuk perusahaan milik Kusumadewa Group. Permintaan barang yang tinggi membuat pabrik di Karawang over produksi.


Lembur sudah menjadi makanan utama di sana. Jangan bicara gaji, Kusumadewa Group selalu membayar sesuai dengan jam kerja. Masalahnya adalah pekerjaannya yang sangat banyak lalu atasannya yang terkenal killer.


Lalu kenapa Ana begitu takut dipindahkan ke Karawang? Jawabannya karena pekerjaan disana yang tidak mengenal waktu. Dan Ana yang di mutasi hanya menjadi buruh yang bekerja di pabrik. Bukan karyawan kantoran lagi.


"Ada lagi yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Bu Yeni sebelum keluar ruangan.


"Hmm... Berhubung Johan sudah dipecat, maka saya akan mengangkat Fahri sebagai Kepala Audit. Lalu karena saya harus menduduki posisi yang selama ini saya sembunyikan, maka bagian Audit akan kosong. Kamu pilih 2 orang lagi untuk dipindahkan ke bagian audit!"


"Baik, Pak. Saya undur diri dulu." Bu Yeni membawa Ana turut serta mengikutinya.


Ruangan audit pun sunyi senyap. Hanya ada kami berempat disini setelah kejadian menegangkan tadi.


🎶Idih papa genit


suka ciumin mama🎶


Ringtone menyebalkan ini berbunyi lagi dari Hpku. Aku menatap sebal ke arah Leo yang seenaknya saja mengganti Ringtone Hpku dari lagu milik BTS Dynamite menjadi lagu anak-anak ini.


Yang ditatap akhirnya menyunggingkan senyum, setelah sejak tadi terus marah-marah.


"Siapa yang telepon?" tanya Leo.


"Papa." aku mengangkat telepon Papa dan memberitahu agar Leo datang ke tempat Papa.


"Aku ke ruangan Papa dulu ya. Nanti kalau minumnya datang kamu minum aja dulu." Leo pun meninggalkan ruangan.


Kaka Fahri dan Kak Anggi langsung menghampiri tempatku tanpa dikomando.


"May eh Ibu Maya... eh aduh manggilnya apa ya sekarang?" Kak Anggi menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal tersebut.


"Manggil Maya aja Kak. Kayak biasa." jawabku menghilangkan rasa bingung dalam diri Kak Anggi.


"Eh iya, May. Itu beneran Leo adalah anaknya Pak Dibyo?" Kak Anggi sepertinya masih tidak percaya dengan status Leo.

__ADS_1


"Bener Kak. Leo anak kedua. Anak pertamanya Richard anak marketing yang suka kesini."


"Hah? Richard anak marketing yang gayanya tengil itu? Yang kayak MMJK?" Kak Anggi melotot kaget mendengar informasi yang kuberikan.


"MMJK? Apaan itu Kak?" istilah apalagi ini. Ada-ada aja.


"MMJK tuh Mas-Mas Jamet Kecentilan. Kerjaannya cuma tebar pesona disana-sini aja. Baru modal mobil Jazz aja lagaknya udah sok kaya. Ups.. Jangan dibilangin sama orangnya ya May."


Aku tertawa mendengar perkataan Kak Anggi. Kalau Richard tau bisa ngamuk dia. Apalagi pas dibilang modal mobil Jazz doang. Enggak tau aja Kak Anggi kalau koleksi mobil mewah Richard banyak.


Eh tapi kalau tentang MMJK si Jamet kecentilan sih memang bener kataku he...he...he...


"Justru Richard itu jauh lebih pintar dibanding Leo Kak. Richard itu pemenang banyak medali sains tingkat nasional." aku berusaha menjelaskan tentang siapa Richard kepada yang lain. Bagaimanapun memang bener Richard itu hebat dan pintar, mereka saja yang tidak tahu siapa dirinya yang sebenarnya.


"Yang bener May? Kenapa bukan Richard aja yang memimpin perusahaan? Ini kenapa malah jadi Leo yang memimpin?" Kak Fahri tak bisa menahan rasa ingin tahunya. Ikut bertanya padaku.


"Pintar dan bijak itu nggak bisa dijadiin satu Kak. Mungkin Richard pintar dalam hal pelajaran, namun Leo itu pintar mengambil keputusan. Jatuhnya tuh Leo Itu bijak karena itu perusahaan bisa maju pas di tangan dia."


"Kamu beneran udah nikah May sama Leo? Udah cerai juga? Terus baru rujuk? Pantas saja kalian awal-awal kelihatan bermusuhan!" tanya Kak Anggi.


"Benar Kak. Ya sudah jalan kami kayak gitu, harus menikah kemudian cerai dan balik lagi menikah."


"Wah kalau gitu aku juga jadi bingung nih harus manggil kamu apa May? Walaupun kamu junior aku di kantor, tapi status kamu sebagai istrinya Mr So jauh diatas aku."


"Panggil Maya aja Kak. Kayak biasanya. Santai aja sama aku."


"May, lalu bagian kita gimana nih? Eh kamu habis ini mau resign juga ya dan milih jadi istri Bos?" tanya Kak Fahri.


"Aku sih masih mau kerja, Kak. Biar aku bisa makin berkembang. Tapi nanti terserah Leo aja sih. Aku sebagai istri nurut aja. Mengenai bagian Audit, aku enggak tau mau diapakan sama Leo. Masalah kerjaan jarang Leo diskusiin sama aku."


"Leo eh maksudnya Pak Leo kapan kerja jadi Mr. So nya May? Sehari-hari Ia sibuk di kantor .ana sempat double job gitu? Aku jadi salut sama kehebatan dia memimpin perusahaan ini." puji Kak Fahri tulus.


"Leo pulang kerja masih kerja lagi, Kak. Capek banget sih aku ngeliatnya. Kadang sampai larut malam masih kerja. Kasihan. Tapi mau gimana lagi? Kalau di kantor juga diem-diem ngerjain kerjaan kantor. Makanya Leo suka tiba-tiba ke kamar mandi kan? Padahal Ia lagi tanda tangan banyak berkas di ruangan rahasianya."


"Yang bener May? Wah dia pura-pura lugu dan anak baru disini padahal kerjaannya skala besar ya. Hebat euy. Makin salut aku sama Leo." lagi-lagi Kak Fahri memuji Leo dengan tulus.


"Lalu aku dan Fahri nasibnya gimana May? Kita berdua kan pacaran. Apa salah satu diantara kita akan disuruh resign?" terlihat kekhawatiran di wajah Kak Anggi.


"Aku enggak tau apa keputusan Leo, Kak. Lihat nanti saja. Kalau aku bisa pasti akan aku bantu deh." janjiku.


Suara ketukan di pintu membubarkan obrolan kami. Tak lama masuklah OB yang biasa melayani Papa Dibyo membawakan dua buah minuman dingin dan cemilan untukku sesuai perintah Leo tadi.


"Terima kasih, Pak." kataku sebelum OB kepercayaan Leo pergi.


"Ternyata yang tau kalau Mr. So adalah Leo adalah OB. Kita satu kantor kena tipu ya. Memang Leo hebat. Identitasnya aja enggak ada yang bisa tau." Kak Anggi mengakui kehebatan Leo.


"Iyalah. Suamiku gitu." kataku dengan bangga.


"Cie.... cie...." ledek Kak Anggi.


"Ini kenapa enggak ada yang kerja dan malah ngobrol ya?" kedatangan Leo yang tiba-tiba mengagetkan kami semua, terutama Kak Anggi dan Kak Fahri.


"Eh...ada Le eh Pak Leo. Maaf Pak. Kita balik kerja dulu." Kak Anggi dan Kak Fahri balik gerak ke tempatnya masing-masing.


Leo duduk di kursinya dan minum minuman dingin yang sudah disediakan. "Sayang, aku bakalan bolak-balik. Kamu disini aja ya jangan kemana-mana."


"Iya. Memangnya aku mau kemana? Aku harus ngerjain apa nih? Kak Anggi dan Kak Fahri juga sejak tadi bingung mau ngerjain apa. Kita tuh kayak kehilangan arah tau enggak." Kak Anggi menatapku heran. Berani sekali aku mengomeli Leo seperti itu.


"Fahri!"


"Iya, Pak!" sahut Kak Fahri.


"Sekarang kamu yang jadi Kepala Audit. Lakukan seperti biasa. Jika kamu punya ide atau masukkan bisa sampaikan ke saya. Atur anak buah kamu dengan baik. Saya akan menambah dua anak buah kamu lagi disini. Menggantikan saya dan Johan tentunya."


"Kamu memangnya mau kemana Sayang? Enggak disini lagi?" aku menyela perkataan Leo.


Leo tak marah perkataannya kusela. Ia malah tersenyum. "Ya kembali ke ruanganku yang seharusnya lah. Nanti akan banyak tamu yang minta bertemu denganku. Kalau disini kalian enggak akan bebas ngobrol."


"Yaaahhhh...." keluhku. Membayangkan kerja terpisah dari Leo sudah menurunkan semangatku.


"Posesif banget sih! Aku enggak kemana-mana Sayang. Kamu kan bisa main ke ruanganku. Sudah ya jangan manja dulu. Aku perlu bicara dengan Fahri."


"Fahri!"

__ADS_1


"Iya, Pak."


"Kamu atur bagian Audit. Maya tetap bekerja disini sampai Ia memutuskan sendiri akan jadi ibu rumah tangga nantinya. Saya sudah menugaskan dua orang laki-laki untuk membantu pekerjaan kamu. Salah satunya adalah Aldi anak admin-"


"Aldi? Aldi pindah kesini?" aku tak bisa menyembunyikan kebahagiaanku bisa kerja bareng Aldi, sampai memotong pembicaraan Leo tanpa sengaja.


Kalau tadi Leo tersenyum, kini saat kupotong pembicaraannya wajahnya nampak sebal. "Enggak usah kegirangan kayak gitu! Kamu tetap harus jaga jarak sama Aldi!"


"Iya... Iya..." kataku sambil memanyunkan bibirku.


"Jangan cemberut gitu dong!" protes Leo.


"Iya. Nih senyum nih...." kali ini aku menyunggingkan senyum lebar.


"Nah itu baru cantik. Tuh kan sampai lupa mau ngomong apa. Kamu jangan motong percakapanku dulu ya!"


"Iya." Kak Anggi menahan tawanya melihat interaksiku dan Leo.


"Fahri, nanti tolong Maya jangan terlalu dekat dengan lawan jenis dan yang terpenting jangan disuruh ke lapangan. Dua orang staf cowok yang saya tugasin fungsinya untuk turun langsung ke lapangan, mengerti?"


"Iya, Pak."


🎶 Idih papa genit


suka ciumin mama🎶


Lagi-lagi ringtone menyebalkan itu berbunyi lagi. "Ini gara-gara kamu! Nyebelin banget tau ringtonenya!" gerutuku sambil mengangkat telepon yang ternyata dari Mama.


"Mama bilang apa?" tanya Leo setelah aku menutup telepon.


"Mama mau ajak aku ke Majestik untuk beli bahan nanti siang."


"Yaudah tapi jangan kecapean. Oh iya, tadi pagi kamu udah ngetest belum?"


"He...he...he.... Lupa. Besok pagi aja ya."


Leo menghela nafas dan mengatur kesabarannya menghadapiku. "Yaudah. Pokoknya sampai hasilnya keluar kamu harus tetap berhati-hati."


"Iya. Siap, Bos."


****


Mama Lena memang beda. Kehadirannya di kantor membuat siapapun yang melihat menunduk hormat.


Siapa yang tidak mengenal Lena? Istri kesayangan Dibyo yang tak pernah diduakan, tidak seperti istri pengusaha lain yang memiliki banhak selir. Lena tetap jadi satu-satunya istri Dibyo Kusumadewa.


Mama Lena berjalan dengan anggun, dibelakangnya aku mengikuti langkahnya memasuki mobil Alphard yang sudah menunggu di lobby.


Aku duduk di samping Mama. Mobil Mama amat wangi dan bersih tentunya. Beda dengan mobil Jazz Richard yang banyak sampah dimana-mana. Malas sekali Kakanda membersihkannya.


Kami lalu membeli bahan untuk seragaman di pesta pernikahanku nanti. Untuk baju pengantinku, Mama sudah mendatangkan designer ke rumah dan mengukur tubuhku. Nanti tinggal fitting baju saja. Modelnya sudah aku pilih sebelumnya.


"Ma, aku mau beli kebab dulu!"


Mama menungguku membeli kebab AB yang terkenal tersebut. Aku membeli juga untuk take away.


"Udah?"


"Belum, Ma. Aku juga mau beli kue lekker sama kue cubit." aku berjalan keluar diikuti Mama membeli kue kesukaanku.


"Semuanya mau kamu makan May?" tanya Mama heran melihat nafsu makanku yang banyak.


"Iya. Semuanya enak, Ma."


"Enggak salah? Kamu beli lekker sampai berapa banyak?"


"200 ribu, Ma. Nanti buat bagi Leo dan Richard juga teman di ruangan."


"Ck...ck...ck.... Sudah. Ayo kita balik ke kantor kamu. Kalau kelamaan nanti Mama diomelin!"


Baru saja hendak pulang sebuah suara terdengar memanggil namaku.


"Maya!"

__ADS_1


Aku menengok dan kulihat kesayanganku sedang melambaikan tangannya. "Adel?"


__ADS_2