
POV Leo
Jam 11 malam aku meninggalkan kontrakan Maya bersama Bu Sri, mengantarkannya sebentar ke rumahnya lalu balik pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah pemandangan yang langsung aku lihat adalah Papa yang sedang bermain PS. Heran, enggak ada bosan-bosannya main PS kan masih banyak hiburan lain.
Awalnya aku berniat langsung masuk ke kamar dan tidur, karena jujur seharian ini tuh berat banget. Capek seharian bolak-balik muter-muter Jakarta, rasanya pengen langsung ketemu kasur aja.
Namun bencana hanya tinggal rencana titik belum sempat menaiki tangga aku sudah dipanggil oleh Papa.
"Kamu baru pulang Leo?"
Panggilan Papa ibarat titah rajak yang nggak bisa aku bantah, harus diturut. Aku pun menghampiri papa dan duduk di kursi yang kosong.
"Iya, Pa. Richard mana?" Aku langsung tiduran di sofa yang panjang. Mengangkat kakiku dan melihat Papa sedang bermain GTA, salah satu game di PS.
"Di kamarnya. Katanya sih lagi buat web atau apa gitu. Biarlah, biar dia ada kesibukan," Papa lalu menyodorkan stik PS padaku. "Mau join?"
Aku menggeleng. "Enggak ah. Males. Aku kurang suka main games."
"Iya sukanya mainin hati perempuan ya?" ledek Papa.
"Ya enggaklah, Pa. Hati aku kan cuma buat Maya seorang." jawabku dengan yakin.
"Papa lihat kemarin kayaknya Ana naksir kamu tuh. Lumayan juga kok anaknya. Cantik dan sopan." ujar Papa yang mulai menatap layar TV 55 Inch yang khusus dibelinya untuk bermain games beserta sound system agar lebih mantap dan hidup katanya.
"Kalau anak sopan ngapain maksa ngajak laki-laki ke rumahnya saat enggak ada orang Pa?"
"Justru saking sopannya itu! Wahahahahaha...." celetuk sambil tertawa terbahak-bahak.
Aku ikut tertawa mendengar gurauan Papa.
"Memangnya Ana sampai gitu ke kamu?" tanya Papa.
"Iya. Tadi maksa Leo nganterin pulang. Eh di rumahnya enggak ada orang, maksa Leo buat nemenin katanya takut padahal mah modus! Terlalu agresif Pa jadi perempuan. Harus ada tarik ulurnya kayak Maya dong!"
"Ah itu mah memang kamu udah cinta mati sama Maya. Mau ditawarin artis cantik juga kamu enggak akan goyah! Sebenarnya sifat kamu sama loh kayak Papa. Kalau udah cinta sama satu orang enggak bisa berpaling ke lain hati."
"Jangan sama-samain ah Pa. Beda kita. Pengen banget disamain tuh? Ya kan... ya kan...?" ledekku sambil tertawa ngakak.
Papa mengambil bantal sofa dan melemparkannya ke arahku. "Emang anak songong nih! Bapak sendiri digituin! Kamu tuh beneran enggak ada takutnya sama Papa ya?"
Perkataan Papa memang menyeramkan tapi karena sekarang aku udah sangat mengenal Papa jadi aku tahu mana yang serius dan mana yang bercanda.
Mama selalu menganggap Papa menyeramkan mungkin karena belum benar-benar mengenal Papa yang sesungguhnya. Papa terlalu menyembunyikan jati diri yang sebenarnya. Dan dihadapanku sekarang adalah Papa yang sesungguhnya. Teman ngobrol yang asyik.
Sedang asyik menertawai Papa tiba-tiba Richard datang. "Ini ada apaan kok ketawa-tawa aku enggak diajak?"
"Udah jangan bawel sini temenin Papa main PS." Papa menyerahkan stik PS dan mengganti game yang Ia mainkan menjadi game bola.
Richard yang masih bingung melihat Papa yang selama ini terkesan killer saat ini sedang tertawa terbahak-bahak bersama Leo hanya menurut saja dan mengambil stik PS yang Papa berikan lalu duduk tepat di samping Papa.
"Kalian lagi ngomongin apaan sih? Kedengeran banget tau ketawanya sampai ke atas!" tanya Richard masih penasaran dengan apa yang terjadi.
Aku maklum dengan kebingungan yang Richard rasakan. Selama ini Papa terkesan sebagai orang tua yang arogan dan tak jarang suka main tangan. Memang semenjak Papa di penjara Ia banyak berubah dirinya. Sepertinya Ia benar-benar berintrospeksi dan menyadari segala kesalahannya selama ini.
Berhubung aku yang paling dekat dengan Papa, karena hampir setiap hari bolak-balik ke penjara jadi aku sedikit banyak paham bagaimana Papa itu sebenarnya butuh dukungan orang-orang terdekat untuk memperbaiki kesalahannya.
Mama yang enggak bisa bersabar mendampingi Papa malah pergi dan Richard yang selama ini papa pikir sangat dekat dengannya nyatanya justru malah meninggalkannya juga.
__ADS_1
Tinggallah aku seorang yang saat itu nggak ada siapa-siapa lagi untuk menghabiskan hari-hariku yang suram setelah bercerai. Kami yang sama-sama berstatus duda dalam waktu bersamaan saling bertukar pikiran dan akhirnya bisa sedekat ini.
Richard mungkin belum siap melihat perubahan Papa. Ia masih memandang papa itu seperti sebuah tembok kokoh yang yang sebenarnya dalamnya itu rapuh.
Aku mencoba menarik Richard untuk ikut bergabung bersama kehangatan yang sudah ku bangun bersama Papa. Kami berusaha memperbaiki keluarga kami yang hancur dan mungkin kehancuran keluarga kami adalah suatu hikmah tersembunyi yang Tuhan ciptakan. Kalau nggak hancur, Papa mungkin nggak pernah sadar akan artinya kehilangan orang yang dicintainya.
Dan melihat Richard yang sekarang asyik bermain PS dengan seru seperti membuat kami kembali ke masa-masa kecil dulu, saat Papa belum berambisi untuk menguasai harta Kakek Kusumadewa.
Aku masih memperhatikan duo bapak dan anak yang mukanya tuh amat mirip bagaikan pinang yang dibelah dua. Aku jadi inget tadi Maya agak kebingungan dimana Ia pernah melihat Richard?Maya beberapa kali bilang kalau Ia tuh keukeuh belum lama melihat Richard di suatu tempat.
Ya iyalah dia belum lama ngelihat Richard, kan Dia belum lama juga makan siang bareng sama Papa di kantin. Muka Papa itu mirip banget sama Richard waktu masih muda. Makanya Papa amat membanggakan Richard, berbeda denganku.
Mukaku itu ibarat kata adalah cerminan kakek kusumadewa. Papa mungkin agak sebal denganku karena dipikirnya aku tuh adalah reinkarnasi Kakek Kusumadewa.
Yang membuat Papa yakin kalau aku adalah anaknya adalah tatapan mataku yang sama persis seperti tatapan mata Papa saat melihat sesuatu. Sikapku yang hanya bisa menyukai satu orang dan tak mudah berpaling ke hati juga sangat mirip dengan Papa.
Mama hanya mewariskan kulit yang bersih kepadaku serta tatapan mata Richard yang amat mirip dengannya. Mungkin gen Mama kurang kuat dibanding Papa jadi kami berdua lebih mirip dengan Papa dan Kakek Kusumadewa dibanding dengan Mama.
Sesi pertama permainan dimenangkan oleh Papa tentunya. Selama ini kan Papa udah banyak latihan bermain PS sedangkan Richard udah lama tidak berhubungan dengan dunia luar karena beberapa kali harus direhabilitasi.
"Gila, Papa hebat juga ya? Wah aku harus sering latihan nih biar bisa ngalahin kehebatan Papa!" ujar Richard yang tidak terima kalau Ia dikalahkan oleh Papa.
"Kayak bisa aja ngalahin Papa? Level Papa tuh udah expert tau. Udah hampir profesional!" kata Papa berbangga diri.
"Bohong, Cat. Biasanya Papa cuma main The Sims tau. Bisa kali kalau kamu rajin latihan mah ngalahin Papa!" kataku mengompori.
"Ya kalau mau latihan jangan di TV kesayangan Papa. Latihan aja di kamar kamu. Nanti Papa kasih uangnya beli sana PS yang baru." mulai deh Papa pelit, masa enggak boleh main di TV yang gede?
"Iya bener ya. Tapi kan Richard mau belajar kerja Pa di kantor. Kapan belajar PSnya ya?" tanya Richard sambil garuk-garuk kepala.
"Kamu mau kerja di kantor? Beneran?" tanya Papa masih tak percaya dengan keinginan anaknya tersebut.
Bruk!!
Aku melemparkan bantal yang tadi Papa lemparkan kepadaku ke muka Richard. "Awas ya ngedeketin Maya!"
"Yeh takut ya? Takut diambil ya? Ha...ha....ha...." Richard tertawa melihat keposesifanku.
"Tunggu... Tunggu! Kok kamu bisa kenal Maya? Dan kok kamu tau kalau Maya kerja di kantor?" tanya Papa bingung.
"Emangnya Papa enggak tau kalau tadi Leo udah berani ngajak Maya kesini?" tanya Richard.
Papa menggelengkan kepalanya. "Leo belum cerita."
"Tadi mereka pacaran Pa disini. Enggak tau deh ngapain aja berduaan dari tadi. Waktu Richard nanya sama Bibi katanya mereka lama di dalam kamarnya Leo. Ngapain lagi coba kalau bukan ehem-ehem?"
Aku bangun dan mengambil bantal yang tadi kupakai saat tiduran lalu melempar lagi ke arah Richard. Sayangnya Ia berhasil menghindar.
"Udah... Udah! Papa mau nanya Leo dulu. Bener tadi Maya kesini? Ngapain? Lalu kamu beneran di kamar berduaan sama Maya? Enggak kapok sama pengalaman dulu?" Papa mem-pause gamenya dan meletakkan stik PS diatas meja. Richard juga melakukan hal yang sama. Sekarang Duo Pinang yang dibelah dua itu sedang menatapku.
"Tadi Leo memang ngajak Maya kesini, Pa. Leo sama anak-anak janjian mau nongkrong. Paginya pas Leo lagi ke makam Adam ketemu sama Maya yaudah Leo ajakin aja Maya bareng sekalian. Leo ngajak Maya kesini sekalian ganti baju, tapi karena Maya takut sendirian di bawah jadi ikut Richard ke dalam kamar deh. Enggak ngapa-ngapain kok cuma ngobrol aja." er... ciuman termasuk enggak ngapa-ngapain kan?
"Tunggu! Adam itu siapa ya?" tanya Richard bingung.
"Adam anaknya Leo dan Maya yang udah meninggal." jawab Papa, kini Papa fokus berbicara padaku lagi. "Beneran kan kamu enggak ngapa-ngapain?"
"Beneranlah, Pa. Masa sih Leo enggak belajar dari pengalaman? Leo enggak mau kayak dulu lagi, Pa."
"Anaknya Leo meninggal? Keponakan aku meninggal? Kapan?" tanya Richard yang masih penasaran dan belum mendapatkan jawaban.
__ADS_1
"Waktu di kandungan. Udah jangan kebanyakan nanya. Panjang ceritanya!" omel Papa.
"Ya ceritain lah. Richard kan punya banyak waktu sekarang." masih aja memaksa ada yang menceritakan padanya.
"Lalu pendapat Maya apa setelah kesini?" tanya Papa lagi mengacuhkan pertanyaan Richard.
"Agak kaget sih pas tau Leo tinggal disini. Maya dan Leo kan memang belum terlalu saling mengenal sebenarnya. Leo pernah ke rumah Maya tapi Maya kan sama sekali enggak tau bagaimana kehidupan Leo. Kami ngobrol-ngobrol dan melihat-lihat isi rumah aja. Eh Richard tiba-tiba dateng dan bikin Maya enggak betah deh. Udah itu aja sih ceritanya."
Papa masih memandangku penuh selidik. Setelah Ia memastikan kalau aku jujur Ia tidak bertanya lagi. Kini perhatiannya teralih pada Richard.
"Kamu beneran mau kerja di kantor?"
"Bener, Pa. Biar bisa deket sama Maya!"
Aku langsung memelototi Richard lagi.
"Jangan gila! Maya itu mantan adik ipar kamu!" kali ini Papa yang mengomeli Richard.
"Loh memangnya kenapa? Enggak ada larangan kan mantan kakak ipar deketin mantan adik ipar?" tanya Richard lagi membuatku makin kesal dibuatnya.
"Pa!" aku meminta dukungan Papa. Sekali-kali aku mau jadi anak yang merengek sama orang tuanya saat kesayanganku mau diambil orang.
"Jangan macam-macam deh Cat. Kita fokus ke masalah kantor. Kamu beneran mau kerja gak?" tanya Papa lagi memastikan.
"Mau dong Pa! Richard bosan di rumah terus. Biar Richard bisa belajar tentang perusahaan."
Papa terlihat sedang memikirkan sesuatu. "Baiklah mulai senin kamu bisa masuk kerja."
"Yang bener? Richard jadi apa Pa disana? CEO? Direktur? atau Manager?" tanya Richard dengan mata berbinar-binar.
"Bukan ketiga-tiganya. Kamu akan jadi marketing saja!" jawab Papa.
"Hah? Marketing? Yang nawar-nawarin barang gitu? Keluar-keluar kantor panas-panasan gitu? Enggak mau ah!" tolak Richard.
Aku menahan tawaku mendengar Richard hanya menjabat sebagai marketing saja. Aku pikir Papa akan menempatkannya di posisi teratas, ternyata tidak. Masih untung aku ditempatkan di bagian audit.
"Kalau kamu enggak mau yaudah di rumah saja main PS temenin Papa!" jawab Papa tegas. Kini Papa menyendarkan tubuhnya ke sofa dan melipat kedua tangannya di dada. Sikap tidak bisa dibantah.
"Leo aja di bagian audit, Pa. Masa sih Richard d marketing sih?" masih saja Richard merengek. "Richard mau barengan sama Maya juga, Pa."
"Maya tuh diterima karena memang hasil test dan interviewnya bagus. Bukan pakai jalur khusus kayak kamu. Pokoknya kamu di bagian marketing! Kalau enggak mau yaudah terserah!" ini baru sikap Papa yang sesungguhnya. Tegas.
"Iya.... Iya... Yang penting Richard kerja. Daripada di rumah melulu, kalau keluar rumah juga diintilin sama bodyguard Papa. Huh!"
Papa memang menugaskan ada yang mengawasi Richard agar tidak kumpul dengan teman-temannya yang sudah menjerumuskan Richard ke dalam narkoba. Kemanapun Richard pergi pasti ada yang mengawasi. Kalau Richard ke ke kantor kan akan sibuk kerja dibanding nongkrong enggak jelas malah bawa petaka nantinya.
"Bagus. Dan ingat satu hal! Jangan pernah membuka identitas kamu sebagai anak papa dengan siapapun, termasuk sama Maya!" pesan Papa.
"Memangnya kenapa?" tanya Richard bingung.
"Karena Leo yang sekarang memimpin perusahaan. Leo sebagai mata-mata Papa di perusahaan tidak boleh sampai ketahuan jatidirinya. Kamu boleh mengaku kalau kalian adik kakak tapi jangan pernah mengatakan kalau kamu anak Papa, mengerti?"
"Iya ngerti. Tapi kenapa Leo yang mimpin perusahaan bukannya aku?" Richard mulai mempertanyakan statusku di perusahaan.
"Kalau kamu yang mau mimpin ambil aja Cat. Enakkan juga aku jadi kacung kampret enggak pusing sama masalah di kantor." jawabku santai. Aku memang tidak serakah dengan jabatan. Kalau Richard mau ambil ya sudah.
Richard terlihat mempertimbangkan sesuatu. "Yaudah aku jadi marketing aja. Kamu aja yang pimpin. Aku masih mau belajar dulu."
"Nah gitu dong. Papa kan seneng liatnya." senyum Papa mengembang melihat keluarganya yang akur.
__ADS_1