Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Seribu Alasan


__ADS_3

"Kamu ke kantin duluan ya. Aku mau ke bawah dulu. Kerjaan aku banyak yang belum selesai nih. Nanti kalau ada yang nanya aku ke mana bilang aja aku lagi sakit perut atau menerima telepon gitu aja ya." pesan Leo saat kami keluar ruangan.


"Kamu mau aku bantuin enggak?" aku kasihan dengan Leo. Karena Pak Johan menaruh curiga pada Leo sejak tadi Pak Johan terus-menerus mengawasi pekerjaan Leo.


Aku tidak tahu kenapa Pak Johan mencurigai Leo. Apa alasannya coba? Hasil pekerjaan dia bagus kok! Apakah karena email yang kemarin dikirimkan oleh Mr. So? Leo sih Terlalu ngambil keputusan dengan gegabah!


"Enggak usah. Aku bisa handle semuanya sendiri kok. Aku udah minta asistenku untuk bawain aku laptop ke bawah." Leo tersenyum padaku sebelum celingak-celinguk masuk ke dalam tangga darurat.


Aku lalu pergi ke kantin untuk makan siang. Setelah mengantri menu makanan, aku membawa nampan makananku untuk bergabung dengan anak-anak lainnya yang sudah duduk mengelilingi tempat nongkrong kami.


"Loh kok kamu sendirian aja, May? Leo mana?" tanya Ana salah satu fans berat Leo.


"Sakit perut." jawabku asal.


"Kasihan banget. Leo biasa minum obat apa ya kalau sakit perut? Biar nanti aku belikan di apotek sebelah." ini lagi fans Leo yang enggak mau kalah saing, Lidya.


"Enggak tau." jawabku singkat dan langsung menaruh nampan di samping Richard yang mukanya sebal karena Lidya perhatian dengan Leo dibanding dirinya.


"Hi Kakanda!" sapaku sambil tersenyum.


"Hi juga Adindaku. Gimana kerjaan kamu hari ini? Semalam kamu pulang jam berapa?" tanya Richard yang langsung sumringah begitu aku datang dan menyapanya.


"Kamu bukannya sudah pulang May? Kemarin aku pas lewat tempat kamu, kamu udah enggak ada di tempat." Ana yang menjawab pertanyaan yang bukan ditujukan untuknya.


"Iya. Kemarin aku dan Leo ada visit ke daerah Bekasi. Aku pulang jam 08.30 atau jam 09.00 aku lupa." Aku menjawab sekali untuk dua pertanyaan yang ditujukan padaku.


"Enak dong. Kapan ya aku bisa visit bareng sama Leo? Aku juga mau sekali-kali visit sama Leo." ujar Ana dengan nada manjanya yang sangat menyebalkan.


"Aku kerja Na, bukannya jalan-jalan. Di sana juga aku sama Leo capek banget ngecekkin outlet yang karena terlalu banyak pesanan dia tuh enggak menjaga kebersihannya." sahutku. Aku mulai menikmati makan siangku.


Menu hari ini adalah sayur sop, daging rendang, perkedel dan sambal. Buahnya pisang Sunpride. Aku buru-buru makan dan hendak membeli burger di restoran cepat saja di depan kantor untuk Leo.


"Leo mana sih? Kok belum datang juga?" tanya Ana yang sejak tadi celingukan mencari keberadaan Leo.


"Enggak tau, Na. Lagi puasa kali." alasan paling konyol yang aku kemukakan. Jelas-jelas tadi pagi Leo sarapan nasi ulam bareng denganku.


Malas dengan ulah Ana yang terus-menerus menanyakan keberadaan Leo aku pun menyelesaikan makanku secepatnya. Setelah pamit aku langsung ke restoran cepat saji di dekat kantor untuk membelikan Leo paket burger beserta kentang goreng.


Aku langsung kembali ke ruangan untuk memberikan paket nurger tersebut kepada Leo. Namun betapa kagetnya aku ternyata yang ada di ruangan bukannya Leo, melainkan Pak Johan.


"Loh Bapak tumben udah kembali ke ruangan?" aku berbasa-basi pada Pak Johan karena memang tak biasanya Ia ada di ruangan sebelum jam istirahat berakhir.


Aku melihat Pak Johan sepertinya habis dari mejanya Leo. Wah beneran nih, Pak Johan mencurigai apa yang Leo lakukan.


"Iya. Saya udah selesai makan tadi langsung aja balik ke ruangan." kata Pak Johan beralasan. "Itu kamu bawa apa May? Bukannya kamu habis makan di atas ya? Kok jajan lagi? Emangnya nggak kenyang?"


Pak Johan memandang paper bag yang aku bawa. Wajar saja Ia curiga, karena katering di kantin udah lengkap menunya dan kalaupun masih kurang bisa kok nambah lagi.


"Oh... Ini pesanan Leo, Pak. Leo bilang katanya dia sakit perut makanya nggak ikut makan di kantin." aku mengikuti pesan Leo dengan mengatakan kalau ada yang bertanya bilang saja Ia sedang sakit perut.


"Tapi kok saat saya ke kamar mandi tadi enggak ada Leo ya?" Pak Johan mengintrogasiku karena curiga dengan jawaban yang aku berikan.


Aduh aku mesti bilang apa lagi ya? Aku tuh enggak jago mengarang cerita dan berbohong sama orang lain. Gimana ya?


Pak Johan masih menatapku dengan pandangan yang mencuri. Untunglah di detik-detik yang amat krusial ini tiba-tiba Leo datang.


"Mana May pesananku? Laper nih!" tanya Leo yang baru saja datang. Leo lalu seperti baru menyadari keberadaan Pak Johan. Leo pun langsung menyapa Pak Johan dengan hormat.


"Eh ada Bapak. Siang Pak!" sapa Leo sambil menyunggingkan seulas senyum.

__ADS_1


"Siang. Kata Maya kamu sakit perut? Kok tadi saya enggak ketemu kamu di kamar mandi? Saya tadi juga ke kamar mandi tapi nggak ketemu kamu di dalamnya." tanya Pak Johan. Setidaknya aku bisa sedikit bernafas lega karena Pak Johan tak lagi mengintrogasiku.


"Saya nggak pakai kamar mandi di lantai ini Pak. Kalau jam istirahat suka penuh, ada juga yang ngambil wudhu di kamar mandi untuk shalat di ruangannya. Saya tadi ke lantai atas soalnya kalau di lantai atas kan karyawannya enggak begitu banyak jadi lebih leluasa Pak kalau di sana."


Rasanya aku mau mengacungkan kedua jempol tanganku mendengar jawaban yang Leo berikan. Sungguh masuk di akal.


Namun bukan Pak Johan namanya kalau semudah itu langsung menyerah. Alasan ke kamar mandi sudah dibantah oleh Leo sekarang Ia mencari celah yang lain.


"Kok lama ya kamu di kamar mandi? Sampai Maya sudah selesai makan di kantin dan membelikan makanan buat kamu, tapi kamu baru balik sekarang?"


"Itu dia Pak. Saya tuh sembelit, jadinya agak lama deh di kamar mandinya. Saya harus dengan suasana tenang baru deh saya bisa mules. Ini aja tadi sambil teleponan sama Papa saya." alasan Leo lagi-lagi masuk di akal.


Leo mengeluarkan handphone-nya dan menunjukkan kalau sejak tadi Ia menelpon Papanya. Tentunya Ia menelpon nomor pribadi papanya yang jarang diketahui oleh orang lain.


"Ya sudah kamu makan saja dulu nanti kamu lapar lagi." Pak Johan lalu kembali lagi ke tempatnya dan melanjutkan pekerjaannya.


Aku dan Leo juga kembali ke tempat duduk kami masing-masing. Aku memberikan paket Burger kepada Leo.


"Makasih ya May. Nanti aku ganti ya uang kamu."


Karena aku tahu Pak Johan masih memandang kami dengan curiga jadi aku iyakan saja perkataan Leo.


****


"Kita berhenti di situ dulu ya. Aku mau beli cemilan nih buat entar malam. Pasti Bu Jojo dan Bu Sri akan main ke kontrakan deh melanjutkan gosip yang tadi pagi sempat tertunda." aku menunjuk ke tukang martabak pinggir jalan.


"Oke, Madam." Leo pun memberhentikan motornya di depan tukang martabak tersebut.


Aku turun dari motor Leo hendak memesan martabak. "Pak, martabak manisnya satu isinya setengah keju dan setengah lagi coklat ya. Terus martabak telornya yang pakai telur bebek 4 Pak sama sekalian donatnya 10 biji."


"Siap Neng." jawab tukang martabak tersebut. Aku paling suka melihat tukang martabak sedang membuat martabak telur, karena itu walaupun sudah dipersilahkan duduk aku tetap saja berdiri.


"Iya. Sengaja aku beli yang banyak. Nanti kalau ada sisanya bisa mereka bawa pulang dan bagi-bagi buat keluarganya." jawabku sambil tersenyum.


"Wah... Madam memang paling baik ya. Best of the best."


"Ah bisa aja nih Oppa. Oppa mau ikutan ngegosip gak?"


Leo menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Aku nggak mau gangguin emak-emak kalau mau menggosip. Suka lupa waktu. Udah kalian aja ya. Kerjaanku tuh numpuk banyak banget."


"Oh iya ya. Berarti kamu makin sulit dong kerjain kerjaan kamu di kantor?"


"Ya seperti itulah. Aku tadi konsultasi sama Papa. Aku kan emang beneran telepon Papa tadi sambil ngecekin laporan di pantry bawah."


"Terus kata Papa kamu apa?" tanyaku penasaran.


"Papa memang sejak awal sudah mencurigai Pak Johan, karena beliau kepala audit. Ia pasti tahu arus perputaran uang perusahaan. Sebenarnya memang Pak Johan itu istilahnya ya pelaku paling kuat lah yang papa curigai dibandingkan beberapa orang yang lain. Makanya sekarang tuh Pak Johan jadi lebih waspada akan keselamatan dirinya sendiri."


"Terus kamu masih tetap akan ngerjain kerjaan kamu di kantor?"


"Mau di mana lagi May? Richard nggak mau megang perusahaan. Ternyata Ia suka dengan bidang marketing dan nggak mau ribet-ribet jadi pimpinan. Papa tuh memang pinter ya menempatkan seseorang. Ia tahu kalau Richard itu berbakat di bidang marketing."


"Nanti kalau ketahuan sama Pak Johan gimana?" aku menyuarakan pertanyaan yang sejak tadi aku terus khawatirkan.


"Ya udah biarin aja toh dia nggak akan bisa berbuat apa-apa. Mana berani Ia melawanku? aku punya kuasa untuk memecatnya May."


"Kalau bisa jangan sampai mengecat orang lain ya. Pak Johan pasti punya anak dan istri."


"Kalau memang Ia memikirkan anak dan istri, tentu Ia nggak akan memanipulasi keadaan seperti itu May. Papa tidak bisa lepas juga karena Ia punya bukti yang kuat. Ia memanipulasi keadaan seakan Papa tuh beneran menyuap rekan bisnisnya,"

__ADS_1


"Padahal rekan bisnisnya itu udah kenal Papa cukup lama. Dan Papa tuh bukan menyuap tapi gimana ya... hm... kayak ucapan terima kasih lah sama temen. Nah karena ulahnya Pak Johan jadi papa kalah dan harus dipenjara selama setahun."


Aku terlalu fokus mendengarkan cerita Leo sampai tidak tahu kalau martabak yang aku pesan sudah jadi. Leo lalu mengeluarkan uang dari dompetnya dan membayar semua pesananku.


"Loh kok jadi kamu yang bayar sih? Itu kan punya aku tahu." aku memasukkan kembali dompetku karena Leo bersikeras untuk membayarnya.


"Enggak apa-apa. Uang aku itu uang kamu juga." ujar Leo sambil menaruh martabak di gantungam motornya. Ah aku jadi ingat saat kami masih suami istri dulu. Jadi inget pernah dinafkahi sama Leo. Meskipun nggak banyak tapi aku senang karena aku tahu uang itu Leo peroleh dari hasil kerja kerasnya.


Aku naik ke motor Leo dan melanjutkan perjalanan kami. Perjalanan kami hanya tinggal sedikit lagi sampai ke rumah kontrakkanku tapi kami masih saja mengobrol. Hal yang dulu jarang kami lakukan saat menikah sehingga menimbulkan banyak kesalahpahaman.


"Lalu?"


"Ya kemungkinan Pak Johan bekerja sama dengan salah satu saingan Papa. Belum ada bukti tentang itu makanya aku masih belum berani membuka identitasku yang sebenarnya."


"Sampai kapan?" kami sudah sampai di depan rumahku. "Mau mampir?"


"Entahlah sampai kapan. Aku juga malas kalau karyawan lain memandangku dengan cara berbeda bukan lagi memandang Leo si Kacung Kampret lagi." Leo pun tersenyum. "Mampirnya nanti saja kalau sudah sah. Takut khilaf kayak dulu."


Aku turun dari motor dan menyerahkan helm yang kupakai ke Leo, barteran dengan Leo yang menyerahkan martabak padaku.


"Aku pulang dulu ya Madam Cantik!" ujar Leo seraya mencubit ujung hidungku dengan pelan.


"Iya, Oppa." kataku dengan wajah yang pasti sudah bersemu merah.


Leo lalu pergi meninggalkanku. Aku memandangi punggung Leo sampai hilang di belokan. Akankah Leo menjadi tulang punggungku lagi seperti dulu?


******


Duo Julid is in the house!


"Marjuki..... kacang taneh"


"Cakep!"


"Rejeki enggak kemane!"


Ha...ha...ha...ha... Aku dan Bu Jojo menertawakan ulah Bu Sri yang sempat-sempatnya membuat pantun sebelum makan martabak yang kuhidangkan.


"Udah ayo sikat!" tanpa harus menuruti komandoku Bu Sri dan Bu Jojo langsung melahap martabak di depannya.


"Kita lanjutin gosip tadi pagi Bu. Reaksi Mamanya Angga gimana saat foto suaminya viral di kampung kita?" tanyaku penasaran.


"Uuddaah paasstii mahhluu laah Maay." jawab Bu Sri dengan mulut yang penuh dengan martabak.


"Makan dulu yang di mulut baru ngomong, Bu. Keselek aja situ nanti!" omel Bu Jojo. Omelan sayang tentunya.


Aku menuangkan air putih untuk Bu Sri minum. "Nih minum dulu."


Sementara Bu Sri minum air putih, Bu Jojo menceritakan keadaan yang terjadi.


"Nah kata tetangga di sebelah rumah mereka, tadi pagi pas beritanya menyebar di berbagai group terjadi perang dingin di rumahnya Angga, May. Mereka dengar suara piring pecah, terus ada suara nangis Mamanya Angga dan berakhir dengan Papanya Angga yang diusir dari rumah pake kolor doang!" cerita Bu Jojo.


"Ah yang bener Bu? Maya jadi kasihan dengernya. Apa Maya salah ya udah nyebarin foto suaminya?" aku diliputi perasaaan bersalah dalam hatiku.


"Biarin aja May! Salah sendiri punya mulut seenaknya aja! Mentang-mentang kaya kok sombong! Harta tuh enggak dibawa mati. Emosi saya dengernya. Kalau saya ada di sebelah kamu udah saya bejek tuh mulutnta pas lagi ngehina-hina kamu May!" sahut Bu Sri dengan berapi-api.


"Lalu Angganya gimana?"


"Enggak tau. Kayaknya lagi keluar kota deh ngurusin bisnisnya. Nah kalau sama Angga saya juga kasihan. Angga enggak salah sih. Emak bapaknya aja yang rese jadinya kena imbasnya juga deh gara-gara nyerang kita duluan!" sahut Bu Jojo.

__ADS_1


Aduh... Angga gimana ya? Kasihan juga sih. Tapi gimana dong? Oppa udah instruksiin buat Duo Julid maju ke medan perang. Ya aku sih jadi penonton aja deh.


__ADS_2