
"Enggak dulu ya, Dek."
"Enggak usah, makasih."
"Enggak, makasih."
"Permisi dulu ya."
Leo menarik tanganku setelah melewati barisan penjual yang lebih banyak anak-anaknya. Kasihan sebenarnya masih kecil sudah berjualan. Menolaknya secara halus.
"Kenapa enggak kamu beli aja? Kasihan tau." tanyaku setelah kami sudah berhasil melewati kerumunan penjual.
"Kan tadi udah beli. Beli seperlunya aja. Kalau semuanya diborong malah mubazir. Kalau masalah kasihan, ngeliat semua anak-anak itu juga aku kasihan. Tapi kalau rasa kasihan aku malah buat mereka bisa mencari uang dengan menjual rasa kasihan bukannya aku malah membuat mereka lebih kasihan lagi nantinya?"
Mulai deh ngomongnya belibet bikin aku harus mencerna perkataannya baru deh ngerti. Dan saat aku mengerti jawabanku cuma "Iya juga sih." Antara menurut atau mengerti yang dipaksakan.
Puncak sehabis hujan dinginnya lebih dingin lagi. Udara yang terasa lembab. Juga jalanan yang basah bekas guyuran hujan tadi.
Beruntung sudah tidak hujan. Banyak pedagang macam adik kecil tadi yang berharap dagangannya laku di malam minggu ini.
Meskipun keuntungan yang didapat bagi sebagian orang tidak terlalu besar, namun bagi mereka bisa menyambung hidup. Bekerja untuk makan, menyambung hidup. Bukan bekerja untuk membiayai gaya hidup hedon.
Aku berhenti sejenak melihat pemandangan di bawah sana. Banyak lampu menerangi karena terlalu banyak villa dan bangunan yang dibangun disini.
"Sayang, lihat deh bulan diatas sana. Cahayanya teranggggg.... banget." aku menunjuk bulan purnama yang bersinar dengan indahnya.
Leo memelukku dari belakang membuat banyak pasang mata yang melihat kami dengan pandangan julid. "Boleh kan meluk istri dan calon anak saya?" pertanyaan Leo ditujukan kepada orang-orang yang menatapnya.
Salut sih dengan keberanian Leo. Berani mengatakan apa yang ingin Ia katakan. Bukan hanya memendam dalam hati saja.
Setelah satu persatu pandangan julid menghilang, Leo melanjutkan lagi berbicara denganku. "Kenapa bulan cahayanya terang banget?"
"Hmm... Ya karena lagi bulan purnama makanya bulannya gede terus cahayanya terang benderang."
Leo tersenyum mendengar jawabanku. Ini kayaknya aku salah jawab deh. Leo tuh kalau tersenyum pasti menertawakan jawabanku yang jauh dari kebenaran.
"Ih kenapa sih? Salah jawab ya aku?" tanyaku memastikan.
"Enggak. Siapa yang bilang kamu salah?"
"Itu senyum-senyum. Apa coba kalau bukan lagi ngetawain jawabanku yang salah?"
"Enggak dong. Aku kan bilang kalau kamu enggak salah. Jawaban kamu bener. Cuma agak berbeda dari jawabanku."
"Memang jawaban kamu apa?"
"Hmm... Kenapa bulan cahayanya indah karena awan hitam yang menutupinya sudah hilang. Mau itu bulan purnama maupun bulan sabit, semuanya indah dan bercahaya terang. Asalkan... tidak ada awan hitam yang menutupi,"
"Sama seperti hubungan kita. Mau pernikahan kita sebelumnya atau pernikahan kita saat ini, selama kita bisa menghadapi permasalahan yang datang, pasti kebahagiaan akan datang lagi pada kita."
Sekarang gantian aku yang tersenyum mendengar perkataan Leo. Benar juga sih. Bener banget malah.
"Aku mau kita belajar dari kegagalan rumah tangga kita sebelumnya. Aku punya salah sama kamu, begitupun sebaliknya. Kita berdua punya andil dalam retaknya rumah tangga kita yang berujung dengan perceraian."
"Betul. Aku setuju!"
"Iya dong. Harus setuju. Kita kan mau melangkah maju, enggak mau mundur ke belakang. Kita harus menyamakan persepsi. Karena kita sepakat kalau kita berdua salah, maka kita harus mencari akar permasalahan kita. Hmm... Kita mulai dari kamu ya. Apa yang enggak kamu suka dari aku saat kita berumah tangga dulu?"
Pertanyaan yang tidak perlu mikir lama. "Aku enggak suka kamu tuh terlalu cuek dan dingin sama aku."
"Di pernikahan sekarang gimana?"
Aku mencoba membandingkan Leo yang dulu dengan sekarang. Dulu mana mau Leo menyentuhku? Dingin dan acuh. Tapi sekarang amat jauh berbeda. Sebentar-bentar nempel terus. Hampir tiap malam ngajak ibadah.
"Sekarang udah enggak sih." jawabku jujur.
"Berarti aku ada perubahan ya?" aku mengangguk. "Oke, next. Aku yang enggak suka dari kamu adalah kamu tidak menjaga jarak dengan teman lawan jenis kamu."
__ADS_1
Pasti maksud Leo adalah Angga. Memang benar dulu saat kami berumah tangga, aku memang mau dideketin Angga karena punya tujuan tertentu. "Terus sekarang gimana?"
Aku mau tau bagaimana penilaian Leo terhadapku. Aku sadar sih masih belum bisa menjaga jarak. Karena aku mau berteman dengan siapa saja. Mau laki-laki maupun perempuan.
"Hmm... Udah lumayan lebih baik sih. Kecuali tadi masih aja nyapa Angga. Aku enggak suka itu." Leo memanyunkan bibirnya.
"Maaf... Itu spontan aja. Cuma mau menjaga silahturahmi. Tapi aku enggak deket sama Aldi, Kak Fahri dan anak cowok yang lain kok." aku berusaha mengelak.
"Iya. Kan aku bilang lumayan. Pertahankan ya. Lalu kamu apalagi yang enggak kamu suka sama aku?"
Kembali aku mikir apa yang tidak aku suka dari Leo. Kalau dulu Leo tempramental dan emosian. Kalau marah suka melempar barang. Aku juga takut membuat Leo marah lagi. Takut seperti dulu.
"Boleh jujur?" aku meminta ijin dulu. Karena aku tahu kalau kejujuranku mungkin akan membuat Leo sedikit tersinggung.
"Tentu dong Sayang. Justru tujuan kita ngobrol heart to heart kayak gini tuh untuk saling terbuka. Saling tau apa kekurangan dan kelebihan yang kita miliki. Jadi bisa buat introspeksi diri ke depannya." perkataan Leo amat bijak.
"Er... Aku enggak suka kalau kamu marah. Sifat tempramental kamu langsung keluar dan bisa membanting barang di sekitar kamu. Jujur aja, aku takut. Kamu kayak bukan diri kamu sendiri. Bukan Leo yang kukenal."
Aku memberanikan diri menoleh dan melihat bagaimana perubahan wajah Leo. Terlihat Leo sedang memandang ke depan dengan pandangan kosong.
"Kita ngobrol di teras masjid aja ya. Dingin lama-lama disini. Banyak yang liatin juga, aku malu." ajakku.
"Iya." aku dan Leo mencari teras yang agak sepi agar kami bisa leluasa mengobrol.
Rupanya masih ada sudut yang kosong di teras. Aku dan Leo duduk dan melanjutkan obrolan kami selanjutnya. "Maaf ya aku udah menakuti kamu. Enggak ada niat aku berbuat seperti itu. Sama seperti kamu, aku juga takut. Terlalu takut menyakiti kamu malah. Setelah kita bercerai aku banyak konsultasi dengan psikiater. Banyak belajar sabar menghadapi keluargaku. Sampai akhirnya aku bisa mengatur emosiku. Menggantinya dengan stok sabar lagi yang baru. Sekarang menurut kamu gimana? Udah ada perubahan enggak?"
Aku mengangguk dan tersenyum. Usaha. Usaha tak akan mengkhianati hasil. "Dan aku bangga sama kamu. You did it."
Leo juga ikut tersenyum. "Kita solat isya dulu yam Baru kita makan jagung bakar dan minum susu jahe biar hangat. Gimana?"
"Siap, Bos!"
"Ngobrolnya kita lanjut lagi nanti di hotel ya." aku mengangguk setuju.
Aku dan Leo pun berpisah. Aku menuju tempat wudhu wanita. Leo di tempat wudhu pria. Kami bertemu lagi saat solat berjamaah.
Leo mengulurkan tangannya dan menggandengku yang sudah memakai sandal. Kami lalu menuju warung yang menjual jagung bakar. Aku memesan jagung dengan saus diatasnya, begitu pula dengan Leo.
Pesanan susu jahenya datang lebih dulu dibanding jagung bakarnya. Terlihat asap mengepul menandakan airnya masih sangat panas.
Aku memegang sisi gelas untuk menghangatkan tanganku. Rasa hangat langsung menjalari tangaku yang dingin. Kuminum sedikit demi sedikit untuk menghangatkan tubuh.
Minuman dan makanan sederhana jika berada di tempat yang tepat maka akan terasa lebih nikmat. Begitu pun dengan susu jahe dan jagung bakar yang baru datang. Rasanya ajib. Nikmat banget.
Aku mengelap ujung bibir Leo yang belepotan sehabis memakan jagung dengan tissu yang selalu kubawa kemana-mana.
Pacaran dengan budget murah meriah ala kami. Tak perlu ke mall dan menghabiskan uang puluhan juta hanya demi membeli barang branded. Cukup makanan sederhana yang terasa nikmat ini.
Setelah merasa hangat dan kenyang, kami memutuskan untuk mencari hotel. Leo bilang kalau udara malam tak baik untuk ibu hamil. Aku menurut saja. Bagiku itu bentuk perhatian Leo padaku dan anak kami.
Ternyata Leo memesan hotel di daerah Cipanas. Hotel dengan view yang bagus. Sambil menenteng tas bawaanku, Leo menuntun tanganku menuju kamar kami.
"Wow ada kolam renang!" aku memekik senang seperti anak kecil saat melihat ada kolam renang di hotel.
"Di rumah Papa juga ada Sayang. Apa bedanya sama disini?" ujar Leo seraya mengusap kepalaku.
"Beda viewnya aja. Kalau di rumah Papa pemandangannya kan tembok. Kalau disini tuh pemandangan alam. Keren. Besok aku mau renang ah."
"Iya. Besok renang. Tapi kalau enggak kecapean ya." Leo memberikan tips pada karyawan hotel yang mengantar kami lalu kami pun masuk ke dalam
Kamarnya luas dengan satu ranjang besar di tengahnya. Kamar mandinya pun besar. Dengan bathup di dalamnya. Wah berasa honeymoon nih.
Aku sebenarnya mau honeymoon. Namun aku tahu diri. Leo sibuk mengurus perusahaan. Pekerjaannya amat banyak. Aku tak mau meminta sesuatu yang justru nanti malah memberatkan Leo.
Hal lain yang aku pertimbangkan adalah saat ini aku sedang hamil. Kalau honeymoon terus jalan-jalan ke luar negeri, bagaimana dengan kandunganku kelak? Takutnya aku kecapean dan bisa berakibat terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Pengalaman hamil Adam membuatku sadar kalau aku kuat namun keadaan rahimku belum tentu kuat dan anakku juga belum tentu kuat pastinya. Lebih baik menjaga daripada mengobati, karena kalau sudah kehilangan baru nanti merasa menyesal.
__ADS_1
Leo mengajakku untuk mencuci tangan dan mencuci muka terlebih dahulu sebelum tidur. Kami juga menyikat gigi bersama-sama. Kayak di drakor Full House.
"Ups, jangan tidur dulu." Leo melarangku yang bersiap tidur.
"Mau ngapain? Ibadah dulu?" untuk apa Leo melarangku tidur kalau bukan untuk ngajak ibadah?
"Enggak. Sekarang belum mau. Nanti saja kalau aku mau."
"Lalu mau apa? Begadang gitu?"
Leo mengangguk. "Karena kita akan begadang main..... jeng jeng jeng....."
Leo mengeluarkan mainan monopoli yang tadi Ia beli.
"Kita mau main monopoli malam-malam?" tanyaku tak percaya. Ngapain juga coba, hotel mahal-mahal kalau cuma dipakai buat main monopoli? Dipakai buat tidur lah. Aduh.... Leo ini gimana sih! Ini tempat tidur nyaman banget kalau nggak dimanfaatin buat apa? Rugi!
"Iya dong. Biar seru mainnya pakai taruhan. Em... Karena enggak ada bedak bayi, dan kalau pakai lipstik muka kamu takut sensitif gimana kalau taruhannya uang?"
Aku terbelalak tak percaya dengan ide gila Leo. Taruhan pakai uang? Aku mana punya uang coba? Ah masa sih pakai uang yang Leo kasih juga hanya untuk taruhan?
"Uang aku kan enggak banyak. Bisa jatuh miskin aku kalau kalah main monopoli sama kamu!"
"Ya nggak dong Sayang. Masa sih aku mau bikin istri aku sendiri jatuh miskin? Kita main yang kecil aja untuk taruhan. Misalnya Rp10.000, Rp20.000 dan Rp50.000 kayak gitu aja. Nanti uangnya kita pakai buat beli sesuatu yang diinginkan sama yang menang, gimana?"
Kalau cuma taruhannya paling besar Rp50.000 sih okelah. Aku bisa. Aku kan juga jago main monopoli.
"Oke. Aku mau. Ayo kita mulai!" kataku penuh semangat.
"Eits enggak semudah itu Darling. Kamu pilih dulu mau Kesempatan yang warna pink, atau Dana Umum yang warna hijau?"
"Buat apa?"
"Udah pilih aja. Mau yang mana?"
"Yang pink dong. Kesempatan." jawabku yakin.
"Oke. Rulesnya kita ubah. Kamu tulis perintah apa aja di kartu Kesempatan. Siapapun yang berhenti di kartu Kesempatan harus mengikuti perintah yang ada di kartu. Karena ada 16 jadi dibagi dua. 8 kartu isinya bagus-bagus, 8 kartu lagi isinya suka-suka kamu. Ngerti enggak?"
"Iya aku ngerti. Awas ya jangan ngintip!" aku menulis perintah di kartu Kesempatan yang kupunya.
"Oke. Udah." Leo lalu mengo cok kartu Dana Umum miliknya. Aku pun melakukan hal yang sama.
"Peraturan yang lain tetap sama ya." Leo membagikan uang untuk modal awal. Setelah suit dan Leo yang menang maka Ia yang jalan duluan.
Setelah melewati putaran pertama, transaksi pembelian rumah pun dilakukan. Leo yang pertama kali berhenti di tempat Dana Umum. Hmm... aku penasaran Leo dapet apa? Dan perintah seperti apa yang Ia buat?
"Oke. Aku bacain ya." ujar Leo sambil tersenyum. Kok perasaanku enggak enak ya?
"Dana Umum. Anda mendapatkan kartu bebas cium. Kapanpun Anda mau dicium tinggal tunjukkan kartu ini." senyum jahil terpasang lebar di wajah Leo. Apalagi saat mataku membulat mendengar perintah yang Ia buat.
"Ih! Perintah macam apa itu? Kok mesum gitu sih?" aku mengajukan protes. Ah kenapa aku bikinnya yang gampang tadi ya? Kayaknya semua ini sudah direncanakan deh sama Leo. Licik.
"May!" Leo menunjukkan kartu miliknya dan menunjuk bibirnya. Kode kalau aku harus menciumnya.
Aku menghela nafas dan menambah stok sabarku. "Huft.... Iya... iya..." aku pun mencium bibir Leo.
"Ayo main lagi!" ajak Leo dengan penuh semangat. Iyalah semangat. Kartu As udah dia pegang. Awas aja nanti!
Kembali dadu aku gulingkan. Dan aku mendapat Dana Umum. Deg-degan rasanya. Aku dapat apa ya? Hmm... Ada yang tau enggak ya?
****
Siapa yang waktu kecilnya suka main monopoli? Bahagialah generasi Milenium yang sering bermain monopoli dan tak mengenal Apa itu gadget.
Yuk kita mulai bermain monopoli lagi. Jangan kebanyakan main handphone. Kembali ke jaman dulu ya. Bisa bersosialisasi dan juga berkomunikasi sesama keluarga tentunya.
Dan satu lagi jangan lupa, vote dan like jangan sampai kendor ya... Makasih....
__ADS_1