Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Mencoba Saling Mengenal-2


__ADS_3

"Udah ayo jangan kebanyakan bengong!" ujar Leo seraya menarik tanganku untuk masuk ke dalam rumahnya.


Aku mengikuti saja apa yang Leo perintahkan, seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Rasanya aku masih belum tersadar dari mimpiku.


Ya, semua ini seperti mimpi rasanya. Terlalu tidak nyata. Gimana aku bisa percaya coba?


Leo yang biasanya mengendarai motor Vixion dan berpenampilan sederhana ternyata anak orang tajir, bukan tajir lagi melainkan tajir mam pus.


Siapa yang akan percaya coba, Leo yang dulu saat menikah denganku cuma karyawan harian dengan gaji 70 ribu perhari ternyata tinggal di komplek perumahan semewah ini. Gokil gak tuh?


Mataku masih memandang ke sekeliling rumah dengan halaman yang sangat luas tersebut. Taman depan rumahnya tertata dengan rapi, pasti ada tukang kebun yang mengurusnya.


Di dalam bagasi mobilnya berjejer mobil-mobil mewah dan ada motor Vixion jadulnya yang nyempil diantara mobil-mobil mewah tersebut. Agak merusak pemandangan sih. Itu ada motot sport kenapa enggak pernah Leo pakai ya?


Sebelum masuk ke dalam rumah ada jembatan kecil yang dibawahnya terdapat kolam ikan. Bukan ikan mas seperti di kampungku, tapi ikan Koi. Ikan mahal loh!


Ikan koi-nya gendut-gendut pertanda terawat dengan baik. Dan ada patung kecil berbentuk wanita yang memegang kendi sambil mengeluarkan air. Gemericik air menambah keasrian rumah ini.


Leo masih saja menggandeng tanganku memasuki area rumah. Ia tahu aku pasti masih syok mendapati kenyataan kalau mantan suamiku ternyata adalah anak chaebol kalau istilah di drakor yang kutonton alias anak keluarga kaya raya.


Aku jadi malu sendiri, anak keluarga kaya dulu hanya kuberi uang jajan 20 ribu sehari dan dikasih makan tempe. Ah.... betapa malunya aku.


"Kamu mau nunggu di ruang tamu atau di kamarku?" tanya Leo.


Kami sudah berhenti di ruang tamu. Rumahnya mewah tapi kok tidak ada kehangatan di dalamnya. Berbeda dengan rumahku di kampung, setiap sisinya selalu ada cinta Ibu, terasa hangat dan ngangenin.


Ruang tamu bergaya mewah ini terdapat sofa berbentuk huruf L. Sofa yang kalau di toko furniture harga mencapai puluhan bahkan ratusan juta. Kalau sampai dicakar kucing bisa nangis aku... hiks.....


Beberapa guci mewah juga ada di setiap sudutnya. Beserta beberapa tongkat golf yang harga satuannya saja udah mehong.


Aku mencari foto keluarga yang biasanya ada di setiap rumah mewah, namun ternyata tidak ada. Hanya ada beberapa lukisan terkenal, salah satunya karya Bapak Basuki Abdullah terpajang di dindingnya.


"Enggak ada foto keluarga kamu di ruang tamu?" aku bukannya menjawab pertanyaan Leo malah balik bertanya.


"Tadinya ada. Tuh di dinding yang kosong itu. Segede gaban. Tapi dirusakin sama Richard karena emosi pas Papa ketangkep. Tadinya guci juga banyak. Habis dipecah-pecahin sama dia. Pas mecahin lagi sakaw kali tuh anak, enggak mikir kalau harganya mahal." gerutu Leo panjang lebar.


"Enggak ada lagi gitu foto keluarganya?" selidikku masih penasaran.


"Enggak ada. Susah waktu kumpul barengnya. Waktu itu aja pas foto pipi Mama agak bengkak karena habis digampar Papa."


Aku bergidik ngeri. Kehidupan macam apa ini, mainnya gampar-gamparan hiyyy....


"Itu dulu. Papa sekarang udah enggak kayak gitu lagi. Papa udah ikhlas ngelepasin Mama yang balikkan sama mantan pacarnya dulu. Tuh kamu lihat di meja TV. Setumpuk kaset PS jadi teman Papa sehari-hari. Tuanya kesepian. Makanya aku disuruh tinggal disini lagi. Jadi kamu mau nunggu disini apa di kamarku aja?" Leo kembali mengulangi pertanyaannya.


"Di kamar kamu aja deh. Kok hawanya enggak enak ya di ruang tamu segede gini sendirian?"


Leo tersenyum. "Enggak mau jauh-jauh dari aku ya?"


"Iyuuuuhhh... Jangan kegeeran! Udah deh cepetan!" aku mendorong tubuh Leo pelan.


"Ih dorong-dorong! Kayak tau aja kamar aku dimana? Udah enggak sabar ya pengen ngamar bareng lagi sama aku?" ledek Leo yang rasanya pengen langsung aku jitak ubun-ubunnya!


"Aku pulang nih!" kalimat ancaman yang langsung membuat Leo takluk.


"Iya... iya... Ampun Nyai. Ayo kita ngamar eh maksudnya ke kamarku he...he...he..."


Aku mengikuti Leo menaiki anak tangga ke lantai 2. Ternyata letak kamar Leo menghadap ke halaman depan. Jadi Leo bisa melihat siapa saja yang datang ke rumahnya dari jendela besar di kamarnya.

__ADS_1


Kamar Leo berdesign minimalis dengan warna hitam dan putih yang dominan. Sebuah kasur yang terlihat sangat nyaman ada di tengah kamar. Kamar dengan ukuran yang besar jika dibandingkan dengan rumah kontrakkanku.


Sebuah lemari pakaian mungil menarik perhatianku. Rasanya kurang pas ada di kamar ini. Biasanya lemari pakaiannya kan besar dengan banyak koleksi baju dan jam tangan mewah di dalamnya.


Leo berjalan menuju lemari yang terlihat mungil tersebut. Aku memperhatikan Leo mengambil sebuah kaus dan celana jeans dari dalamnya. Benar-benar hanya lemari baju yang tertata rapi. Tidak ada koleksi jam mewah seperti yang di cerita novel sebelah.


"Kenapa bingung gitu?" tanya Leo yang menangkap perubahan wajahku.


"Aneh aja." jawabku terus terang.


"Aneh karena lemari baju aku kecil dan enggak sesuai sama kamar yang besar ini?" tebakkan Leo benar adanya.


Aku mengangguk membenarkan tebakan Leo. Bukannya menjawab eh Leo malah mengambil bajunya dan masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaian.


Aku menunggu Leo sambil melihat-lihat koleksinya. Ada sederet komik yang tertata rapi di lemari bukunya. Aku membaca judulnya dan mengenali beberapa koleksi yang Ia suka yakni Detektif Conan dan Death Note. Komik yang juga aku suka.


Laptop kesayangannya yang dulu Ia bawa saat menikah denganku juga masih ada di meja belajarnya. Dulu memang terkesan mewah, namun kini laptop tersebut terkesan sudah ketinggalan jaman akibat kemajuan teknologi. Kenapa Leo tidak menggantinya dengan yang baru ya?


Tidak ada piala penghargaan yang terpajang di kamarnya. Mungkin Leo tidak terlalu cerdas makanya Ia tidak pernah dapat piala. Sama sepertiku sih... Aku kan julukannya Si Oon he...he...he...


Aku lalu mendudukkan diriku diatas tempat tidurnya. Harum aroma maskulin Leo yang sangat kuhapal langsung tercium. Aku membayangkan saat dulu aku tertidur di pelukannya dengan nyaman. Hush! Sadar May! Sadar!


Aku menggelengkan kepalaku, mengusir pikiran-pikiran tentang masa lalu yang terkadang masih suka singgah dalam pikiranku.


Mataku lalu terpaku pada sebuah bingkai foto. Jelas aku mengenali, karena aku-lah yang ada dalam bingkai foto tersebut.


Aku mengambil bingkai foto tersebut dan menelusuri wajah bahagiaku dan Leo yang terekam kamera. Foto ini diambil saat aku dan Leo sedang melakukan study tour ke salah satu perusahaan.


Aku dan Leo baru saja jadian. Saat study tour kami baru 2 hari jadian. Masih malu-malu. Leo mengajakku berfoto berdua saja di salah satu spot foto yang bagus. Adel yang memfoto kami.


Tak lama kudengar Leo membuka pintu kamar mandi. Aku menaruh bingkai foto kembali diatas nakas.


"Iyalah. Malah aku cetak dan perbesar. Momen langka soalnya." Leo lalu berjalan melewatiku menuju pintu.


"Bi, minuman sama cemilannya bawa aja ke kamar saya ya." teriak Leo ke Bibi di lantai bawah.


Leo menunggu Bibi datang dan membawa nampan berisi minuman dan cemilan lalu menaruhnya diatas nakas.


"Minum dulu, May. Masih lama ketemuannya. Biarin aja Aldi sama Ana dateng duluan." Leo mengambil sebuah minuman kemasan dan memberikannya padaku.


"Makasih." jawabku seraya menerima minuman yang Leo berikan.


"Tadi kamu nanya kenapa lemari baju aku kecil banget ya?" tanya Leo dan aku mengangguk menjawabnya.


Leo mendudukkan dirinya diatas tempat tidur, tepat di sampingku.


"Karena aku bukan anak yang dianggap di keluarga ini." jawaban yang terdengar miris dan berkecil hati.


"Kamu jangan berpikir kayak gitu. Belum tentu orang tua kamu berpikir seperti itu." kataku berusaha bijak.


"Ikut aku yuk!" tanpa meminta persetujuanku Leo menarik tanganku dan mengajakku ke kamar yang terletak di sisi lain seberang kamarnya. Hanya dipisahkan oleh teras saja yang bisa melihat langsung ke balkon.


Leo membuka pintu dan aku mengikutinya masuk ke dalam kamar yang aku tak tahu siapa pemiliknya.


"Ini kamar Richard. Berbeda jauh kan dengan kamarku?"


Aku mengedarkan pandangan mataku menyelusuri kamar yang benar-benar seperti cerita di drama korea. Jauh lebih luas dari kamar Leo.

__ADS_1


Lemari baju dan koleksi jam tangan mewahnya tertata dengan rapi meskipun banyak koleksinya yang kosong karena menurut Leo sudah dijual Richard untuk membeli narkoba.


Di sudut kamar ada lemari kaca berisikan sekumpulan piala. Beragam piala mulai dari kejuaran sains nasional maupun olahraga dan musik. Benar-benar berbeda jauh dengan kamar Leo.


Koleksi di kamar ini juga mahal-mahal. Pantas saja Leo berkecil hati. Orang tuanya terlalu timpang dalam memperlakukannya.


"See? Aku beneran kayak anak yang enggak dianggep kan?" Aku hanya bisa mengangguk lemah. Aku kasihan dengan Leo. "Balik ke kamarku aja yuk, disini hawanya lebih enggak enak lagi!"


Kami kembali ke kamar Leo dan duduk di tempat tidurnya yang nyaman. Aku mengambil minuman dan mulai meminumnya, begitu pun dengan Leo.


"Sejak lahir aku dan Richard memang sudah berbeda. Richard yang cerdas selalu membuat kedua orang tuaku bangga. Amat berbeda denganku yang memiliki kepintaran yang standar,"


"Berbagai kejuaraan berhasil Richard menangkan. Sedangkan aku? Paling pintar cuma rangking 3. Itu pun tak pernah dianggap oleh kedua orang tuaku,"


Tanpa aku sadari aku menepuk pelan punggung tangan Leo. Berusaha memberikan sedikit dukungan atas kelamnya masa lalunya.


"Hampir semua yang Richard lakukan selalu membanggakan. Dan Hampir semua yang aku lakukan selalu tak pernah ada artinya. Tapi lihatlah sekarang, anak yang amat dibanggakan justru harus menjalani rehabilitasi, beberapa kali malah,"


"Kadang aku merasa bersyukur menjadi anak yang tidak diperhatikan, dengan begitu aku belajar untuk menghargai apa yang menjadi milikku. Karena aku tahu, enggak semudah itu aku bisa mendapatkan apa yang aku mau,"


Leo menggenggam tanganku. Ia lalu tersenyum. "Salah satunya saat aku kenal kamu, May. Karena itu tak rela melepas kamu."


Deg... Jantungku kembali berdegup kencang. Aku menarik tanganku dari genggaman Leo. Takut Leo menyadari kalau tanganku sudah terasa dingin.


"Mungkin kamu heran kenapa kamarku kok enggak mencerminkan kamar anak orang kaya. Karena aku tidak seperti Richard yang setiap minta apapun langsung dipenuhi. Uang jajanku dibatasi, jadi kalau aku mau membeli sesuatu aku harus menabung."


Oh jadi ini alasan Leo amat menyayangi laptop miliknya. Karena Ia harus menabung untuk membelinya. Pantas saja dulu Leo marah saat aku mau menjual laptop miliknya.


"Dan sekarang... seperti yang kamu lihat. Rumahku sepi. Lebih sepi daripada kuburan tempat Angga bersemayam. Aku tadinya masih mau tinggal di kontrakan kita yang lama, cuma keadaan Papa yang benar-benar rapuh setelah ditinggal Mama membuatku harus kembali lagi ke rumah ini. Rumah yang menyimpan sejuta luka."


"Lalu keadaan Papa kamu sekarang gimana? Selain yang kamu cerita tadi kalau Ia masih main PS untuk menghabiskan waktunya." tanyaku.


"Ya kadang Papa masih megang perusahaan sih sesekali. Tapi Ia lebih banyak di rumah bermain game, dan sekarang Ia banyak ngobrol denganku. Kami banyak menghabiskan waktu untuk bertukar pikiran dan ternyata Papa nggak seburuk yang aku pikir. Mungkin karena Ia juga sudah berubah dari Papa yang killer menjadi Papa yang kesepian."


"Kasihan ya." kataku iba.


"Iya kalau kamu melihatnya sekarang. Kalau dulu kamu enggak akan mau kasihan sama Papa. Enggak inget dulu waktu aku mau nikahin kamu terus diusir? Muka aku babak belur dihajar Papa."


"Inget lah. Mana mungkin aku lupa. Sampai bonyok gitu muka ganteng kamu." aku tak menyadari ucapan yang keluar dari mulutku sampai Leo meledekku kemudian.


"Hmm... Gantengnya? Sekarang masih ganteng gak?" tanya Leo menggodaku.


"Ih apaan sih!" aku tersipu malu. Dasar Maya! Seneng banget sih keceplosan!


Leo lalu tertawa terbahak-bahak. "Kamu kalau malu-malu begitu makin kelihatan cantik loh, May!"


"Tau ah! Lanjutin lagi tentang Papa kamu!" aku harus mengalihkan percakapan yang membuatku makin blushing.


Tawa Leo lalu menghilang dari wajahnya, berganti dengan wajah yang amat serius. "Lalu aku mulai takut kalau diriku menjadi seperti Papa yang kejam. Kamu pernah tanya kan sama aku, kenapa saat kita menikah dulu aku begitu dingin sama kamu? Karena aku takut May. Aku takut kontak fisik sama kamu. Karena, yang aku tahu cinta yang diberikan oleh Papa ke Mama lebih banyak berupa kekerasan fisik."


Aku seakan tidak percaya dengan alasan yang Leo berikan. Jadi, bukan karena Leo tak lagi menyukaiku karena aku saat itu sedang hamil? Atau keraguan lain yang sempat terlintas di kepalaku. Jawabannya karena Leo takut seperti Papanya?


"Aku sering May melihat Mama dipukuli sama Papa. Aku takut dan trauma kalau aku akan melakukan hal seperti itu sama kamu. Tapi ternyata pada akhirnya aku justru melakukan hal yang sama dan membuat Adam pergi dari sisi kita."


Leo tertunduk sedih. Begitupun aku. Kenapa aku dulu segampang itu menyimpulkan sesuatu? Kalau saja.... tapi waktu nggak akan bisa kembali lagi. Aku pun sama tapi Leo, menyesali sikapku yang seperti anak kecil.


****

__ADS_1


Hai semua! Hari Senin nih, ayo mulai vote lagi yang banyak supaya novel ini masuk ke 10 besar. Mana nih yang dari kemarin minta crazy up...crazy up... crazy up....? ayo dong vote dan buktikan kalau kalian bisa bikin novel ini masuk 10 besar! masih mau kan crazy up? ayo vote yang banyak ya... Jangan lupa follow IG aku Mizzly_ ya... Maacih 😘😘😘😘


__ADS_2