
Ulah Bu Sri yang unpredictable alias tidak bisa diduga pun berlanjut. Sore di sabtu sore, jalanan macet. Pasar Minggu menuju Lenteng Agung memakan waktu sejam.
Semua dikarenakan adanya pembangunan jalan layang non toll sehingga ada penyempitan jalan. Belum lagi ulah pengendara yang seenaknya saja pindah jalur demi keuntungan sendiri yang malah akhirnya membuat macet makin panjang.
"Leo! Leo! Berhenti sebentar deh. Itu tuh berhenti sebelah kiri dulu!" tiba-tiba Ibu Sri menyuruh Leo menepikan mobilnya.
"Mau ngapain sih Bu? Jalan lagi macet nih! Susah aku ngambil kirinya!" protes Leo namun Ia tetap memenuhi keinginan Kanjeng Sri.
"Udah berhenti aja dulu. Sebentar kok!" Bu Sri nggak mau kalah, dan nggak ada yang bisa menang melawan Bu Sri. The Power of emak-emak gitu loh!
"Iya... Iya... Sabar!" Leo menyerah dan mengikuti keinginan Bu Sri.
Dengan diiringi oleh makian dan teriakan dari pengendara sepeda motor karena Leo tiba-tiba mengambil jalur kiri, yang berarti mengambil jalur sepeda motor, Leo tetap memenuhi keinginan Bu Sri yang menurutku ada-ada aja.
Seorang Mr. So yang amat ditakuti dan disegani di kantor dengan begitu mudah ditaklukan oleh Bu Sri. Menurut bak kerbau yang dicocok hidungnya. Aku hanya geleng-geleng kepala melihat situasi di depan mataku ini.
Dalam hatiku bertanya, apa yang akan dilakukan Bu Sri? You know lah ibu-ibu yang satu ini tuh bener-bener of the box. Mungkin, Deddy Corbuzier juga nggak akan pernah bisa membaca jalan pikirannya dia.
Umpatan dan makian Leo terima sambil mengelus dadanya.
"*Jangan ngambil jalur motor woy!"
"Bikin macet aja!"
"Minggir! Minggir!"
"Teeeettttt*!"
Leo memberhentikan mobilnya ke tempat yang dirasa pas untuk parkir. Setelah mobil berhenti dan Leo membukakan pintu mobil, Bu Sri langsung turun. Aku berbalik badan dan bertanya kepada Bu Jojo.
"Mau ngapain sih dia Bu?" aku menunjuk Bu Sri yang sedang berjalan diatas trotoar. Tampaknya tadi sudah kelewatan karena Leo agak susah mengambil jalur kiri di tengah kemacetan begini.
"Enggak tau saya May. Kayak kamu enggak tau aja kalau dia orangnya suka seenaknya sendiri. Tadi aja seenaknya kentut di mobil orang. Bilang dulu kek kan jadinya kita bisa nyiapin diri dan Leo bisa buka jendelanya. Ini udah di ujung baru bilang. Apes deh kita kena bom atom yang ada komposisi jengkolnya. Apes... Apes..." Bu Jojo merepet panjang lebar. Ternyata sahabat sejatinya sendiri tidak tau apa yang dipikirkan Bu Sri.
Karena asyik mengobrol dengan Bu Jojo, aku nggak perhatiin itu Ibu Sri udah ke mana. Kami menunggu di dalam mobil, enggak lama sih sekitar 5 menit sampai 10 menit lah. Lalu Bu Sri mengetuk pada jendela mobil Leo, meminta untuk dipersilahkan masuk ke dalam mobil. Leo membuka kunci dan Bu Sri masuk ke dalam.
"Habis ngapain Bu?" Leo yang pertama kali bertanya. Ternyata rasa penasaran Leo lebih besar daripada aku dan Bu Jojo. Sampai Ia tak membiarkan aku dan Bu Jojo bertanya terlebih dahulu, langsung Ia duluan yang bertanya.
"Nih pada nyobain satu-satu. Mumpung masih panas."
Tahu nggak Bu Sri memberikan kami apa?
Bakpao
Kami dibagikan bakpau satu persatu. Jadi, Bu Sri turun cuma buat beli bakpao? Tenang... Enggak boleh suudzon dulu. Pasti ada alasan lain selain bakpao. Aku masih berpikiran positif tentang Bu Sri.
Kami bertiga menatap ke arah Bu Sri, yang ditatap seperti kebingungan.
"Kalian kenapa?" tanya Bu Sri tanpa ada rasa bersalah sama sekali.
"Ehem." aku berdeham dulu sebentar untuk mengeringkan tenggorokanku sebelum bertanya yang lebih panjang lagi kepada Bu Sri. "Bu Sri, tadi Ibu turun mau ngapain?"
Bu Sri yang asik makan bakpao panasnya mengunyah saja tanpa ada rasa dosa. "Beli bakpao." jawab Bu Sri dengan polosnya.
Mendengar jawaban Bu Sri, aku melihat Leo sedang menghela nafas kesal. Sambil tangannya mengelus-elus dada dan menggeleng-gelengkan kepala tak percaya.
"Kamu beli bakpao doang Sri?" tanya Bu Jojo, Ia maulai terlihat kesal dengan ulah sahabatnya tersebut.
"Iya. Kalian masih mau lagi? Nanti saya beli lagi nih. Saya beli ngepas doang buat kalian sama buat anak saya di rumah."
Jawaban yang dilontarkan Bu Sri membuat Leo menghela nafas kesal lalu mulai menjalankan mobilnya lagi. Aku menepuk tangannya pelan. Memberikan stok sabar yang aku punya untuk Leo. Sepertinya Ia paham dan dia hanya mengangguk saja seraya ikut-ikutan bersabar melihat kelakuan sahabatku yang ajaib ini.
"Memangnya suami dan anaknya Bu Sri minta dibeliin bakpao?" aku masih positive thinking. Pasti ada alasan dibalik seseorang melakukan sesuatu. Pasti.
__ADS_1
Namun aku lupa, tak ada yang pasti di dunia ini. Tubuhku langsung merosot di kursi saat mendengar jawaban berikutnya yang keluar dari mulut Bu Sri yang sedang melepehkan kertas alas bakpao yang masuk ke mulutnya.
"Enggak minta beliin sih. Kemarin saya denger di Febsuker katanya kalau macet paling enak makan bakpao pinggir jalan. Karena penasaran yaudah saya coba." Bu Sri mengambil tissue dan membuang kertas yang menempel dan masuk ke mulutnya dengan tissue. "Nempel banget nih kertasnya. Kan sayang bakpaonya masih banyak pada nempel di kertas."
Aku, Leo dan Bu Jojo kompak menghela nafas kesal. Benar-benar tidak peka sama sekali.
Stok sabarku lama-lama bisa habis melihat kelakuan Bu Sri. Aku lalu berbalik badan dan melihat kemacetan di depanku. Lebih indah rasanya dibanding melihat ulah penumpang di belakangku.
Aku jadi merasa malu dengan Leo akan kelakukan sahabatku ini. Mau diomeli tapi kok jasanya banyak. Enggak diomeli cuma bikin makan hati aja.
Berbeda denganku yang kuat menahan sabar, Bu Jojo tidak. Ia yang akhirnya mengomeli sahabatnya tersebut.
"Lain kali, jangan kebanyakan percaya acara di TV. Belum tentu bener. Dan satu lagi, jangan nyuruh mobil lagi macet begini berhenti ke kiri. Kamu kan lihat tadi Leo diomelin abis-abisan sama pengendara motor? Lalu kamu cuma pengen beli bakpao doang? Ya ampun Sri Sri... di pasar malam juga ada. Beli di pasar malam!" omel Bu Jojo panjang lebar.
"Beda Jo. Beli di pasar malam sama beli saat macet." bukannya sadar malah cuek aja nih emak-emak yang satu ini.
"Bedanya apaan?" tanya Bu Jojo bingung. Pasti Ia tak tahu apa bedanya. Sama sepetiku.
"Beda sensasinya." jawaban Bu Sri sepertinya berhasil membuat Leo tertarik untuk lebih mengetahuinya lebih jauh. Buktinya aku lihat dia melirik dari kaca spion untuk tahu bagaimana perkembangan obrolan antara Duo Julid tersebut.
"Sensasi apanya? Makan bakpao aja pake ada sensasinya aja. Kayak selebritis aja kamu. baru main figuran doang udah sombong!"
"Terus sekarang ada sensasinya gitu Bu?" tanya Leo penasaran.
"Enggak he...he...he.... Sama aja rasanya. Kayak bakpao..." jawab Bu Sri malu-malu.
Leo terlihat menyunggingkan seulas senyum sebelum akhirnya menghela nafas. Kelakuan.... oh kelakuan....
"Ha....ha....ha.... Makanya jangan kebanyakan gaya kamu Sri!" omel Bu Jojo.
Akhirnya mobil Leo memasuki daerah rumah Duo Julid. Namun bukan Bu Sri namanya kalau tidak berulah lagi.
"Leo! Berhenti di depan!" ujarnya sambil menepuk kursi Leo dari belakang.
Leo mengurangi laju mobilnya seraya menepikan mobil di tempat yang Bu Sri minta. "Mau beli bakpao lagi?"
"Itu! Kamu lihat tuh!"
Kami semua pun mengikuti arah pandangan Bu Sri. Ada seorang ibu-ibu yang sedang duduk di pinggir taman dengan anaknya.
"Memangnya itu siapa?" tanyaku masih tak mengenali siapa orang yang Bu Sri maksud.
"Masa sih kamu enggak ngenalin May? Itu mantan pacar dan mantan calon mertua kamu!" jawab Bu Sri dengan senyum tersungging di wajahnya.
Mantan pacar? Mantan calon mertua? Siapa? Aku melirik ke arah Leo yang mengangkat kedua bahunya pertanda Ia juga tidak tahu.
Leo memarkirkan mobilnya di parkiran taman, sesuai request Bu Sri. Tanpa dikomando setelah mobil berhenti, Bu Sri langsung turun dari mobil dan menghampiri dua orang yang ditunjuknya tersebut.
Aku dan Leo mengikuti langkahnya. Setelah sebelumnya Bu Jojo yang mengikuti Bu Sri duluan.
Aku mendengar dari jauh Bu Sri menyapa 'temannya' tersebut.
"Hai orang kaya!"
Aku mengernyitkan keningku. Orang kaya?
"Siapa?" aku bertanya pada Leo. Namun saat laki-laki di sebelah ibu-ibu tersebut menengok aku baru tahu siapa yang dimaksud mantan pacarku oleh Bu Sri.
"Maya?" Angga yang menyapaku pertama kali.
"Angga?" aku agak kaget bertemu dengan Angga disini. Mau apa Ia sore-sore di taman?
Aku melirik ke arah Leo. Leo tak bisa menyembunyikan pandangan tidak suka saat melihat Angga.
__ADS_1
"Apa kabar May?" Angga tersenyum menyapaku, namun tidak dengan Mamanya yang menatapku penuh kebencian.
"Baik. Kamu gimana Ga?" aku berusaha bersikap ramah dan sopan. Ditanya kabar masa sih aku tidak nanya balik?
"Oh jadi ini cewek yang bikin kamu diem-diem pergi ngelamar lalu ujung-ujungnya gagal? Kayak kecakepan aja! Cih! Cuma janda aja sok banyak diperebutin!" lagi-lagi kata-kata yang Mamanya Angga ucapkan selalu menyakiti hatiku. Dalam hati aku amat bersyukur memiliki mama mertua seperti Mama Lena yang amat menyayangiku. Bagaimana jadinya hidupku kalau memiliki mertua seperti Mamanya Angga? Idiwww.. ogah lah ya...
"Ehem!" Leo berdehem untuk menunjukkan keberadaannya disana. "Maaf, yang anda sebut janda itu adalah istri saya. Enggak enak aja didengernya!" tegas dan jelas, seperti biasanya kalau Leo sudah menjadi Mr. So.
"Maaf ya May. Mama aku enggak bermaksud begitu." Angga mewakili Mamanya meminta maaf.
"Kamu ngapain minta maaf sama cewek yang sok kecakepan kayak gitu! Di pinggiran jalan banyak yang kayak gini! Tinggal tunjuk doang! Enggak tau diri, dilamar sama anak saya yang hebat begini kok berani nolak!" perkataan Mama Angga sangat tajam dan menusuk.
Saat dulu aku dihina aku sakit hati apalagi saat aku hamil begini yang sedang melow-melownya. Tanpa kusadari ada bulir air mata yang menetes tanpa bisa kucegah.
Leo menarikku ke dalam pelukannya. Sebelum Leo bicara, Bu Sri sudah bertindak duluan.
"Yeh situ oke? Kayak yang paling hebat aja! Maya enggak bodoh kali mau punya mertua macam situ! Saya jadi kasihan sama Angga, anaknya baik kok Mamanya kayak gitu! Jangan-jangan kamu dipungut sama Angga ya buat jadi Mamanya?"
Lah kenapa jadi Mamanya yang dipungut Angga? Biasanya kan Ibu yang mungut anak? Aduh jawaban absurd lagi! Bu Sri... Bu Sri....
"Heh orang susah! Jangan ikut-ikutan kalo orang kaya lagi ngomong deh! Enggak level tau enggak!" balas Mamanya Angga tak mau kalah.
"Yeh orang sok kaya! Saya emang susah tapi sikap saya kayak orang kaya! Emangnya situ ngaku orang kaya tapi kelakuannya kayak orang yang enggak berpendidikan! Jangan sembarangan ngatain orang janda! Sebentar lagi juga situ bakalan jadi janda!" keluar deh sumpah Bu Sri yang sakti mandraguna itu.
Kayaknya Bu Sri memang sengaja nih turun dari mobil untuk ngajak ribut Mamanya Angga. Dendam kesumat kayaknya, mau membalas Mamanya Angga.
Aku tak melerai, tak juga membantu Bu Sri. Hanya diam terpaku. Tangan Leo sejak tadi melindungiku. Tepatnya melindungi aku dan calon anaknya. Kalau sampai Bu Sri jontok-jontokkan sama Mamanya Angga, Ia sudah siap mengamankan keluarganya.
"Yeh siapa yang ngatain? Emang bener kok Maya tuh janda! Pake nyumpahin orang lagi! Orang susah tuh enggak mempan nyumpahin orang kaya!" masih saja Mamanya Angga berkata sombong.
Aku hanya geleng-geleng kepala. Namun Angga terlihat acuh dengan Mamanya dan sibuk memperhatikanku.
"Kamu kok kurusan May?" pertanyaan Angga membuat Bu Sri dan Mamanya diam sejenak. "Enggak bahagia nikah sama dia?" Angga menunjuk Leo dengan nada merendahkan.
Aku bisa melihat Leo yang mulai terpancing emosinya. Aku tersenyum dan menggandeng lengan Leo.
"Iya. Aku sibuk membahagiakan keluargaku. Jadi bawaannya kenyang terus. Padahal makan sudah banyak. Mungkin aku typikal orang yang kalau bahagia malah kurus kali ya. Bersyukur banget deh aku." senyumku membuat emosi Leo agak surut.
"Benar? Kamu enggak berbohong kan?" Angga kembali menyulut emosi Leo. Beneran deh kalau gini Angga mirip banget sama Mamanya.
"Bener dong. Malah kebahagiaan kami makin bertambah karena saat ini sudah ada adiknya Adam di perutku." aku mengatakannya penuh kebangggan.
Angga hanya diam. Sorot mata penuh kecewa terpancar dari wajahnya.
"Sudah ayo kita pulang! Enggak level ngomong sama mereka!" Mamanya Angga menggandeng tangan anaknya hendak pergi meninggalkan taman.
Namun bukan Leo namanya jika tidak ikut campur. Ia sudah menahan emosinya sejak tadi, akan mengesalkan kalau hanya dipendam saja.
"Em... Angga." panggilan Leo membuat langkah Angga dan Mamanya berhenti. Angga berbalik badan dan menatap Leo.
"Mata-mata kamu si Johan sudah saya serahkan ke polisi ya. Mm... Kalau memang Ia terbukti memanipulasi data yang menyebabkan Papaku di penjara, maaf... enggak ada kata damai. Siapapun orang dibelakangnya akan aku usut sampai tuntas dan kupastikan membayar kesalahannya. Tak terkecuali Papa kamu, orang yang selama ini membayar Johan!" perkataan Leo membuat wajah Angga pucat.
Mamanya Angga pun yang awalnya tak mengerti namun saat Leo mengatakan Papanya yang artinya suaminya sendiri, Ia tak bisa menutupi wajah khawatirnya. Dengan wajah yang mengeras kesal, Angga berbalik badan dan dengan cepat berjalan meninggalkan taman.
"Wah... Beneran calon janda nih!" teriak Bu Sri kencang.
******
Ayo vote...
Ayo like...
Ayo komen....
__ADS_1
Vote ya hari senin ini....
Yang banyak oke??