
Bekerja di Kusumadewa Group berarti harus tahu siapa pimpinannya. Saat training awal sudah diberitahu oleh bagian personalia kalau pemilik Kusumadewa Group adalah anak dari Bapak Kusumadewa yakni di Dibyo Kusumadewa.
Kusumadewa Group adalah perusahaan yang memiliki berbagai jenis usaha mulai dari restoran, industri makanan, produk rumah tangga dan masih ada beberapa lagi yang aku sendiri enggak tahu karena banyak perusahaan-perusahaan yang bergabung dalam Kusumadewa Group termasuk perusahaan kelapa sawit yang terkenal, aku sendiri lupa namanya apa.
Berdasarkan informasi yang aku ketahui, semenjak Bapak Dibyo Kusumadewa ditangkap dan harus mendekam di penjara selama 1 tahun kepemimpinan Kusumadewa Grup diambil alih oleh orang kepercayaannya yang bernama Mr. So.
Tidak ada yang benar-benar pernah melihat siapa Mr. So. Dari yang aku ketahui berdasarkan bisik-bisik di kantor, Mr. So kalau meeting selalu menutupi wajahnya atau berbalik badan jadi tidak ada yang tahu sebenarnya siapa itu Mr. So.
Yang membuat para karyawan yakin adalah semenjak dipegang oleh Mr. So, Perusahaan Kusumadewa Group semakin maju dan berkembang. Hal ini membuktikan kalau Mr. So layak dan memang seorang pimpinan yang ditunjuk oleh Bapak Dibyo sendiri.
Semua orang tahu bagaimana sepak terjang Bapak Dibyo Kusumadewa yang terkenal itu. Terlepas dari kasusnya dalam hal suap menyuap, Ia adalah seorang pengusaha hebat yang berhasil membuat Kusumadewa dari perusahaan kecil menjadi sebuah grup perusahaan yang besar dan salah satu yang terbaik di Indonesia.
Bapak Dibyo tentu tidak akan sembarangan untuk memilih pengganti dirinya. Saat terpilih Mr. So tak ada yang meragukan kemampuan orang kepercayaannya tersebut.
Keberadaan Mr. So cukup membuat para karyawan awalnya curiga dan bertanya-tanya siapakah sebenarnya Mr. So itu?
Namun lama-kelamaan para karyawan mulai malas berteka-teki. Mereka yakin kalau Mr. So itu berada disekitar mereka namun sedang menyamar jadi mereka tidak tahu siapa sebenarnya pemimpin mereka tersebut.
Rasa penasaran para karyawan lama-kelamaan berubah menjadi suatu sikap pasrah karena tidak ada yang pernah tahu di mana Mr. So berada. Lalu bagaimana cara mereka berhubungan dengan Mr. So tersebut?
Pak Johan sempat memberitahu para bawahannya kalau ingin meminta persetujuan dari Mr. So caranya cukup dengan menyerahkan berkas di ruang khusus yang sudah disediakan. Nanti berkas yang sudah diperiksa oleh Mr. So dan ditandatangani akan ada di tempat khusus.
Agak ribet memang. Biasanya Mr. So membalas dengan email, apakah menyetujui atau tidak. Namun jika memerlukan tanda tangan harus menunggu terlebih dahulu karena banyaknya berkas yang harus diperiksa oleh Mr. So.
Sosok Mr. So yang misterius membuat para gadis sering membicarakannya dan amat penasaran mengenai fisiknya. Pernah ada rumor, kalau Mr. So adalah kepala bagian marketing. Namun ternyata hal itu dibantah melihat kepala bagian marketing hasil kerjanya tidak sebagus Mr. So jadi berarti rumor tersebut langsung kandas.
Lama-kelamaan para karyawan mulai malas menebak-nebak siapa sebenarnya Mr. So tersebut. Mereka pasrah saja toh pimpinan mereka bukan pimpinan yang akan merugikan perusahaan, malah membuat perusahaan mereka semakin maju dan berkembang.
Para karyawan lebih suka perusahaan dipimpin oleh Mr. So karena lebih memanusiakan manusia. Mr. So membuat beberapa peraturan yang membuat karyawan semakin dihargai sebagai salah satu aset perusahaan.
Dan hari ini aku benar-benar tergelak. Tawaku tak bisa kutahan mendengar perkataan yang diucapkan Richard barusan.
Leo adalah Mr. So?
Leo?
Mantan suamiku?
Mantan suamiku seorang pemimpin Kusumadewa Group?
Si Ksatria Aerox adalah Mr. So?
Gimana aku enggak tertawa ngakak coba?
Tapi sepertinya hanya aku saja yang menganggap lucu. Baik Richard dan Leo tidak ada yang tertawa. Memang sih, Leo tadi sedikit menyunggingkan seulas senyum ke arah Richard. Tapi lebih ke arah senyum mengejek Richard bukan senyum karena tertawa dengan lelucon Richard.
"Leo, itu mantan istri kamu memang biasanya se-oon itu ya?" tanya Richard bingung.
Leo hanya menahan tawa, mau menjawab tapi urung karena melihatku sudah melotot ke arahnya.
"Apaan sih pakai oon-oon segala? Aku tuh pintar tahu. Kamunya aja yang kalau bikin lelucon nggak kira-kira!" omelku pada Richard.
"Lucu kan? Makanya aku cinta banget sama dia." ujar Leo. Sempat-sempatnya ya Leo ngegombal disaat seperti ini.
"Yaudah, Aku akan buktiin deh sama kamu." Richard mengambil sebuah kertas kosong lalu menyerahkannya pada Leo. "Coba tanda tangan di sini Leo, biar mantan istri kamu yang ternyata oon itu bisa percaya sama ucapanku."
"Ngatain terus deh! Awas aja aku enggak teraktir kalau aku gajian!" aku mengancam Richard yang sudah dua kali mengataiku oon.
Sambil mengu lum senyum, Leo menandatangani kertas yang Leo berikan. Richard mengambilnya dan menyerahkan di mejaku.
Tanda tangan yang diberikan oleh Richard berikan memang sangat mirip sih dengan tanda tangan milik Mr. So tersebut.
"Siapapun bisa palsuin kan?" aku masih saja tidak percaya perkataan Richard.
__ADS_1
Leo mulai tidak kuat menahan tawanya. Ia akhirnya tertawa namun setengah ditahan. Apalagi melihat ekspresi Richard yang sejak tadi hanya geleng-geleng kepala sampai akhirnya mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
Leo yang sudah selesai makan nasi uduk lalu membuang pembungkus nasi ke tempat sampah.
"Biar aku saja. Kamu liatin depan. Jangan sampai ada yang dengar." Leo menyuruh Richard yang langsung sigap melihat situasi di depan ruangan, celingak celinguk lalu menutup pintu agar tak ada yang mendengar percakapan kami.
Leo lalu mengetikkan sesuatu di komputernya. "Coba buka email kamu!"
Aku mengernyitkan keningku. Tanpa banyak bertanya aku mengikuti perintah Leo. Aku membuka email dan sangat kaget karena aku beneran menerima email dari Mr.So@kusumadewagroup.co.id
Email ini resmi dan beneran milik Mr. So. Masih tidak percaya aku membuka email tersebut dan tak percaya dengan isi emailnya.
...Maya, I love you ...
Singkat, jelas dan padat. Aku bahkan harus menutup mulutku yang sejak tadi terbuka karena tidak percaya.
Aku langsung menatap Leo tak percaya. "Ini beneran? Kamu beneran si Mr. So yang terkenal itu?"
Sekarang Richard yang gantian tertawa terbahak-bahak menertawakan kebodohanku tersebut.
"Huahahahahaha.... Hahahaha..." Richard bahkan sampai memegangi perutnya yang mungkin sakit karena kebanyakan tertawa.
Aku tak pedulikan Richard. Leo yang penting sekarang.
Aku bolak-balik melihat Leo dari atas ke bawah, lalu dari bawah ke atas. Masih enggak percaya kalau Leo adalah Mr. So.
Leo mengu lum senyum lalu mengetikkan sesuatu di komputernya. Tak lama sebuah notifikasi masuk di emailku.
......Ta hi lalat di atas dada kanan kamu yang paling sexy, May. ......
Wajahku langsung memerah dibuatnya. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku.
"Aaaaahhh... rese kalian berdua!" teriakku sambil tetap menutup wajahku.
Dan apa barusan email yang Leo kirim? Kenapa sih Leo masih mengingat kalau aku punya ta hi lalat di atas dada kananku? Aku benar-benar malu dibuatnya!
"Sudah...sudah! Jangan ketawa lagi, Cat. Kasihan cintaku ini." Leo berjalan mendekat dan memelukku erat.
"Aku balik ke ruangan dulu ya. Sakit perut kebanyakan ketawa." aku mendengar suara pintu ditutup pertanda Richard sudah meninggalkan ruanganku. Aku tak melihatnya karena sibuk menyembunyikan wajahku di perut Leo yang datar tersebut.
Ia mengusap rambutku seraya menenangkanku. "Udah jangan malu lagi. Kamu sekarang udah tau siapa aku. Tolong tetap rahasiakan ya. Ada tugas yang Papa suruh untuk aku lakukan, dan hanya dengan menyembunyikan jati diriku baru aku bisa melaksanakannya."
"Kenapa sih enggak bilang dari pertama? Aku kan kayak orang bodoh di depan Richard?!" kataku sambil memukul pelan perut Leo yang sejak dulu kutahu sudah sixpack.
"Jangankan kamu, di mata Richard aku pun terlihat bodoh. Udah jangan malu lagi. Aku enggak bisa lama-lama meluk kamu nanti ada yang datang."
Sebenarnya aku masih tidak rela melepaskan pelukan Leo namun aku harus melakukannya. Aku harus sadar diri kalau ini di kantor, bukan di kostanku dulu. Loh kok kostan?
Leo kembali ke kursinya setelah aku lebih tenang dan sudah melepaskan pelukanku tentunya.
"Sejak kapan kamu menjadi Mr. So?" aku mulai menumpahkan rasa penasaranku.
"Sejak Papa ditahan. Mr. So diambil dari nama belakangku Leo Prako-so."
Ooh.. Masuk akal sih.
"Lalu Pak Dibyo yang ikut makan siang di kantin itu Papa kamu?" aku baru ingat kalau Pak Dibyo pernah ikut makan bareng di kantin bersamaku dan yang lainnya.
Leo mengangguk. "Papa memang sengaja mau ketemu kamu langsung."
Aku menepuk keningku. "Pantas saja aku seperti pernah melihat Richard sebelumnya. Ternyata wajah Richard beneran mirip banget sama Papa kamu ya? Ah betapa bodohnya aku!"
"Sst! Jangan bilang gitu. Bagiku kamu lucu dan menggemaskan."
__ADS_1
Tuh kan digombalin lagi sama Leo. Aku jadi malu dibuatnya.
"Tapi-" belum sempat aku bertanya Leo sudah menghentikan perkataanku.
"Kita ngomongin nanti. Pokoknya jangan kasih tau siapapun. Oke?"
"Iya."
Ternyata Leo melihat kalau Kak Anggi sudah datang dari jendela ruangan. Karena itu Ia melarangku bicara lagi.
"Pagi, May... Leo!" sapa Kak Anggi dengan suara riang.
"Pagi, Kak." jawab aku dan Leo kompak.
"Kalian udah tau belum kalau kita akan kerjasama dengan salah satu restoran Korea yang lumayan terkenal? Namanya Samchi?" tanya Kak Anggi sambil menaruh tasnya di atas meja lalu mendudukkan dirinya di kursi kerjanya.
Leo melirik ke arahku dan memberi kode kalau aku harus berakting dan berpura-pura tidak tahu padahal informasi itu udah dikasih tahu Richard tadi pas pertama kali Ia datang.
"Yang benar, Ka? Samchi kan lumayan besar juga restorannya? Cabangnya juga dimana-mana." aktingku lumayan bagus juga karena Leo mengacungkan sebuah jempol di bawah meja sebagai bentuk pujian padaku.
"Iya. Yang kerja sama sih baru bagian marketing dan produk saja. Kita hanya bertugas untuk memeriksa dokumennya nanti. Untuk sementara, karyawan dari Samchi akan bekerja 1 lantai dengan kita." kata Kak Anggi menjelaskan.
"Banyak karyawannya Ka?" tanya Leo berpura-pura ikut dalam percakapan dan terkesan ingin tahu padahal sebenarnya Leo pasti sudah tahu dan sudah menyetujuinya.
"Hanya beberapa aja sih. Paling hanya ownernya aja. Samchi pemiliknya kayak sahabatan gitu. Hebat sih mereka masih muda sudah sukses, bahkan perusahaan kita mau bekerja sama dengan mereka." puji Ka Anggi.
Aku jadi penasaran deh dengan orang-orang dari Samchi. Seperti apa mereka? Kok aku iri ya melihat anak-anak muda yang bisa sukses mendirikan suatu usaha. Pasti sangat kompak dan solid, dan pinter tentunya. Kapan ya aku bisa memajukan pertanian Bapak?
Walaupun Bapak sudah membebaskan diriku dari meneruskan perusahaannya, namun sebagai anak yang ingin berbakti dengan orang tua aku ingin membesarkan perusahaan Bapak dan membuat Papa bangga dengan kemampuanku.
****
Seperti biasa saat jam istirahat pasti Leo pamit duluan dan kembali ke ruangan. Biasanya aku masih ngobrol dulu dengan yang lain sebelum akhirnya menyusul Leo ke ruangan. Namun kali ini aku tidak melakukan hal tersebut.
Aku juga mengikuti langkah Leo yang kembali ke dalam ruangan dengan alasan banyak pekerjaan. Untungnya hari ini Richard tidak bergabung dengan kami di kantin kalau tidak Ia pasti akan meledekku habis-habisan.
"Loh? Kamu ngapain balik ke ruangan jam segini? Biasanya kamu masih sempet nongki-nongki dulu sama yang lain!"
"Aku masih penasaran tentang kamu. Bagaimana kamu bekerja sampai bisa memegang perusahaan."
"Tapi aku nggak bisa meladeni kamu dulu ya. Waktu aku sempit aoalnya. Ada beberapa berkas yang harus aku tandatangani."
"Iya. Aku janji enggak akan mengganggu kamu kok."
Leo tersenyum lalu mengacak-acak rambutku. Aku mengikuti langkah Leo yang masuk ke dalam tangga darurat. Terlihat Ia menuruni tangga dan masuk ke dalam pantry di lantai bawah.
Di bawah adalah salah satu anak perusahaan Kusumadewa Group. Tidak banyak orang yang bekerja di lantai bawah, hanya beberapa saja dan tidak ada yang mencurigai Leo yang langsung menuju pantry.
Leo terlihat celingukan dan mengambil berkas dari laci pantry dan mulai memeriksanya. Aku hanya memperhatikan saja Leo bekerja.
Leo memeriksa dan langsung menandatangani berkas lalu menaruhnya ditempat semula. Ia lalu mengajakku naik tangga darurat lagi ke lantai atas.
Sebelumnya Leo mengambil dua minuman dingin dan memberikanntya padaku. Bukannya naik ke atas dan kembali ke ruangan Ia malah duduk di tangga darurat dan membuka minuman dingin yang tadi Ia ambil di pantry.
"Sini duduk! Tangga darurat kalau siang sepi, nggak ada yang berani merokok di sini karena di sini juga dipasangi sensor untuk asap. Duduklah!"
Aku lagi duduk di samping Leo dan mengikuti Leo membuka minuman yang tadi aku pegang.
"Aku udah memegang perusahaan ini selama lebih dari 2 tahun. Lebih tepatnya saat Papa ditahan dan Richard juga tertangkap karena narkoba. Awalnya aku nggak bisa memegang perusahaan sebesar ini, tapi aku terus belajar dari Papa. Ini alasanku kenapa aku tidak sempat untuk ke rumah kamu di kampung dan menunggu sampai ketemu kamu. Waktu aku terbatas, aku juga harus mengurusi perusahaan yang pasti banyak orang senang melihat perusahaan ini hancur."
*****
Hi Semua! Makan siang up lagi gak nih? Kalau aku sempat aku nulis lagi ya. Tetap dukung novel ini ya. Maacih 🥰🥰🥰
__ADS_1