Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Bukan Malam Pertama


__ADS_3

"Tunggu sebentar!" Bu Sri menahan kakinya agar pintu tidak ditutup sama Leo.


"Tunggu apa lagi sih Bu?" tanya Leo tak sabaran. Aku hanya menertawakan ulah Leo dan Duo Julid. Yang satu udah enggak sabaran mau melancarakan aksinya dan yang satu lagi merasa kalau bahan informasi yang didapat masih kurang cukup.


"Mana foto dan video nikahan kalian? Saya jelasin sama Pak RT dan warganya gimana?" permintaan yang masuk akal sih dari Bu Sri.


"Nanti saya kirim." Leo hendak mendorong Bu Sri namun kali ini Bu Jojo yang menahannya.


"Itu kuenya boleh dibawa pulang apa enggak?" Bu Jojo menunjuk kue yang tadi kuhidangkan.


Leo menghela nafasnya, menahan sabar. "Kasih May!" Leo lalu pergi ke kamar dan tak lama Ia kembali lagi.


"Ada lagi gak?"


"Nanti kalau ditanya kenapa bukan kalian yang lapor langsung, kita berdua bilang apa dong?" mata Bu Sri terlihat bingung. Pasti sulit mencari alasan.


Leo lalu mengeluarkan uang empat lembar seratus ribuan. "Nih, buat ke Mc D main perosotan. Nanti Ibu pikirin ya alesan apa. Kalau masih gangguin saya tarik lagi nih duit buat main perosotannya?"


Aku tergelak mendengar bujuk rayu Leo. Benar-benar ya berpikir cepat. Aku mana kepikiran mengusir orang dengan memberi uang untuk main perosotan?


"Jangan!" Bu Sri langsung sigap mengambil uang di tangan Leo namun Leo lebih cepat lagi. Ia menjauhkan dari jangkauan Bu Sri. "Kita berdua janji deh enggak bakalan gangguin lagi."


Tawaku makin tak bisa terbendung lagi. Bu Sri mengeluarkan puppy eyes yang membuat Leo lemah.


"Yaudah nih bagi dua. Jangan gangguin lagi loh! Janji!" ancam Leo.


"Iya, janji!" jawab Bu Sri dan Bu Jojo yang kompak sambil menerima uang pemberian Leo.


"Kita pulang dulu ya May! Selamat bersenang-senang!" pamit Bu Jojo.


"Inget, May! Udah lama enggak dipake harus dipanasin dulu biar enggak rusak. Jangan langsung gaspoll ya?!" nasehat Bu Sri.


"Siap, Bu." kataku sambil menyunggingkan senyum dengan lebar.


Setelah mereka pergi aku masih mendengar mereka ngomong "Tuh kan Si Oon kalo masalah begitu langsung nyambung!"


Leo tertawa sambil geleng-geleng kepala melihat ulah dua sahabatku itu. "Kita jadi pulang ke rumah Papa atau disini aja nih?"


"Terserah kamu. Aku mah ikut aja." aku menaruh koper yang sudah ditutup rapat di ruang tamu.


"Kamu enggak punya baju ganti kan buat aku?"


Aku menggeleng. "Kamu kan tau aku sukanya pakai baju yang press body. Cuma yang kamu pakai aja yang agak gede."


"Yaudah kita ke rumah Papa aja. Aku mau mandi sekalian ganti baju. Udah siap semua kan?"


"Udah. Aku kunci pintu dulu ya." Leo lalu membawa koperku keluar rumah dan menungguku di luar.


Sesampainya di rumah Papa Dibyo suasana sudah sepi. Papa dan Richard sepertinya kelelahan dan langsung tertidur.


"Aku lapar, May." Leo memegang perutnya.


"Udah malam masih mau makan?" kulirik jam di dinding sudah menunjukkan pukul 1 malam.


Leo mengangguk dengan matanya yang menyiratkan minta dikasihani.


"Yaudah aku buatkan mie instan aja ya. Ada dimana mienya?" Leo menunjukkan tempat menyimpan mie dan panci.


"Aku mandi dulu ya. Lengket banget seharian keringetan."


"Iya."


Mie kesukaan Leo adalah mie Korea bermerk Shin Ramy*n. Aku juga suka nih. Dimasak pakai telur dan cabe rawit gila. Lebih enak ditambahkan saus gochujang. Dijamin mantul!


Ternyata aku juga lapar. Jadi kuputuskan membuat dua mie dalam satu panci kecil. Mirip kayak di drama Korea.


Mie matang dan siap dihidangkan. Leo ternyata sudah selesai mandi. Ia masih mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil.


"Kamu bikin banyak banget, May!" Leo mengambil mie dan menaruhnya dalam mangkok dengan sumpit yang sudah kusediakan.


"Buat aku juga dong sekalian. Aku kan mau juga. " aku beda lagi cara makannya. Aku mengambil mie dan menaruhnya di tutup panci. Persis seperti di drama Korea.


"Hmm.... Enaknya makan makanan istri." puji Leo.

__ADS_1


Tiba-tiba aku teringat salah satu adegan dalam drama Korea. "Ra-myeon mok-go gal-lae?" tanyaku sambil tersipu malu.


"Ih kamu ngomong apa sih May? Ramyunnya enak ya artinya."


Aku senyum-senyum sendiri, jadi begini ya rasanya menertawakan orang?


"Ra-ha-si-a." kataku penuh teka teki. "Udah belum? Aku juga mau mandi nih!"


"Yaudah kamu mandi aja. Nanti biar aku yang cuci piringnya."


"Beneran?"


"Beneran Sayang. Udah sana mandi. Koper kamu udah aku taro di kamar. Belum sempat aku bereskan sih. Tau kan dimana kaman aku?"


"Tau. Yaudah aku ke kamar duluan ya." sebenarnya aku agak takut tinggal di rumah besar seperti ini. Namun sejak tadi perutku sakit. Karena itu aku pamit untuk pergi ke kamar mandi duluan.


Kamar Richard sepi dan hanya lampu tidur saja yang menyala. Sepertinya Ia sangat lelah. Kasihan. Pasti Ia super sibuk menyiapkan segala printilan hari pernikahan dadakanku.


Aku membuka pintu kamar Leo. Tak ada yang berubah dari kamarnya. Tetap Leo banget. Simple.


Aku menyiapkan baju yang akan kupakai tidur nanti. Aku enggak pernah tidur dengan piyama seksi selama menjanda. Dulu waktu menikah dengan Leo aku suka pakai baju tidur tanpa lengan untuk memancing-mancingnya. Tapi sejak bercerai baju tidurku hanya baju motif kartun. Enggak ada seksi-seksinya sama sekali.


Kalau saja aku tahu hari ini akan menikah dengan Leo, pasti aku akan menyempatkan diri untuk membeli baju tidur seksi dan akan menggoda keimanan Leo. Namun sayangnya kami nikah dadakan jadi ya pakai seadanya saja deh.


Aku masuk ke dalam kamar mandi Leo. Ada bathup dan shower di dalamnya. Ternyata memang dekor kamar saja yang simple namun kamar mandinya lumayan mewah kok.


Melihat bathup rasanya aku mau langsung berendam dengan banyak sabun. Biar wangi dari ujung kaki sampai ubun-ubun.


Aku memilih sabun mandi yang biasa Leo gunakan. Kucium aromanya, hmm... lumayan enak kok. Kutuangkan ke dalam bathup dan kunyalakan air hangat.


Jam 1 malam lewat loh ini dan aku masih mandi. Karena itu air hangat pilihan yang baik untuk melancarkan sirkulasi darah.


Aku membuka seluruh pakaianku sampai tak ada sehelai benang pun yang tersisa. Aku merasakan nikmatnya berendam di bathup. Rasanya lelah hari ini luntur juga.


Aku tak mendengar kalau Leo sudah masuk ke dalam kamar karena tiba-tiba Leo sudah berdiri di dalam kamar mandi.


"Ah kalau tau kamu akan berendam, lebih baik aku ikut join aja enggak usah mandi tadi deh."


"Udah malam Sayang, kamu ngapain berendam terus? Nanti sakit. Udah cepetan yuk tidur. Aku juga ngantuk nih."


"Iya aku udah selesai nih." aku hendak bangun dan membilas diriku di shower tapi aku mengurungkannya saat aku melihat Leo yang melihatku seperti hendak menerkamku.


"Hmm... Tadinya aku mau langsung tidur karena sudah malam. Tapi... tahi lalat kamu yang sexy itu bikin aku mengurungkannya."


Aku masih belum paham maksud Leo, tapi saat Ia membuka kaosnya wah akuu ngerti nih maksudnya apa.


"Kamu mau a-" aku tak dibiarkan meneruskan perkataanku. Leo langsung maju dan menciumku dengan penuh nafsu. Ia lalu melakukan tugasnya sebagai seorang suami.


Antara siap dan tidak. Semua tak seperti yang kubayangkan. Malam pertama kami dilakukan di bathup.


Tak kami perdulikan sudah jam berapa ini. Hanya ada kerinduan yang sudah tertahan selama 2 tahun lebih.


Rasanya melakukan hubungan saat semua halal adalah rasa tenang dan lebih menghayati. Aku bahkan tidak seperti seorang istri yang sedang berkewajiban melayani seorang suami. Aku melakukannya dengan penuh keikhlasan dan kerinduan tentunya.


Setelah melakukan penyatuan diri, kami langsung membersihkan diri dibawah shower. Leo memanjakanku dengan mengeringkan seluruh tubuhku dan menggendongku ke dalam kamar.


Aku sudah memakai piyama tidurku dan saat ini sedang tertidur lelap di pelukan Leo. Tidur penuh kehangatan dan kenyamanan yang sudah lama kurindukan.


Tidurku begitu pulas. Rasa lelah dan pelukan nyaman Leo seakan melindungiku. Tak kuhiraukan alarm Hp yang terus berbunyi.


Aku bagaikan dewi kasmaran yang melupakan hal-hal duniawi dan hanya menikmati pelukan Leo yang amat nyaman itu.


Namun ketika tubuhku kembali dibuat menegang dengan sentuhan-sentuhan lembut yang kudapatkan, aku tak bisa lagi menghiraukannya.


"Lagi?" tanyaku.


Yang kutanya tak menjawab dengan kata-kata karena kini Ia sudah membenamkan dirinya lagi denganku dan melakukan penyatuan diri. Ketika akhirnya Leo sudah melakukan pelepasan aku mulai tersadar dari dunia indahku.


"Sudah jam berapa Sayang?" aku berusaha menggapai Hp milikku yang entah ada dimana.


"Hmm... Jam 7." jawab Leo santai.


"Hah? Jam 7? Aduh kita telat dong?!" Aku langsung duduk tegap menatap Leo yang sedang terbaring kelelahan di sebelahku.

__ADS_1


"Kamu mau libur aja? Nanti aku bilangin sama yang lain."


"Maunya sih gitu. Kamu gimana? Kalau kita berdua enggak masuk bisa jadi bahan gosip."


Leo mengusap wajahnya. Entah mengapa saat Leo melakukan hal tersebut membuatnya terlihat makin maskulin.


"Yaudah ayo kita mandi lalu berangkat. Masih keburu kok kalau naik motor." Leo beranjak menuju kamar mandi namun kembali berhenti saat aku tak mengikuti langkahnya. "Loh enggak mau mandi?"


"Mau. Tapi beneran hanya mandi ya? Enggak ngapa-ngapain?!"


Leo kembali tersenyum. Ia benar-benar santai berdiri dan berjalan tanpa sehelai benang pun di tubuhnya.


"Dulu katanya suka mancing-mancing aku tapi enggak berhasil. Nah sekarang aku yang akan gempur kamu terus sampai KO."


"Ih masih sempet-sempetnya bercanda! Udah siang nih!"


"Yaudah makanya karena udah siang ayo kita mandi lalu berangkat ke kantor. Aku enggak bakalan ngapa-ngapain kamu kok. Ya kalau khilaf mau gimana lagi? 2 tahun lebih enggak dikeluarin takut karatan."


Aku bangun dan memunguti pakaian kami yang berantakan entah kemana lalu mengikuti Leo ke dalam kamar mandi.


Setelah mandi dan bersiap-siap, kami pun turun dan mendapati Papa Dibyo sedang sarapan di ruang makan sendirian sambil membaca koran. Aku pikir pengusaha sukses seperti Papa Dibyo akan membaca beritanya dari Hp eh ternyata masih pakai cara manual toh. Memang sih enakkan baca langsung dari koran.


"Pagi, Pa." sapaku sambil menyunggingkan seulas senyum.


"Hi! Pagi pengantin baru! Segar banget nih kayaknya. Tapi mata ngantuknya enggak bisa bohong. Pasti Leo enggak kasih kamu istirahat ya?" Papa Dibyo menutup koran yang dibacanya dan menaruhnya di meja makan.


"Papa tau aja." jawabku sambil tersipu malu.


"Ayo kalian sarapan dulu!"


Aku melihat jam di pergelangan tanganku. "Udah siang, Pa. Enggak sempat."


"Yaudah bawa bekal aja. Nanti makan di ruangan. Jangan sampai perutnya kosong. Itu bibi udah Papa suruh sediakan tupperware kosong jadi kamu bisa bawa bekal ke kantor. Buatkan untuk suami kamu juga." Papa Dibyo menunjuk dua buah tupperware yang terletak diatas meja makan. Aku menurut dan menyiapkan sarapan sambil menunggu Leo turun.


"Pagi, Pa!" sapa Leo yang sudah rapi dengan kemeja kerjanya yang tertutup jaket.


"Sini dulu, Le. Papa mau ngomong." Papa Dibyo memanggil Leo agar mendekat.


"Kenapa, Pa?" Leo melirikku yang membuat roti bakar dengan selai cokelat dan menaruhnya di tupperware.


"Papa akan kembali ke kantor. Nanti siang Papa mulai bekerja lagi." kata Papa.


Ini maksudnya Papa Dibyo akan mengambilalih perusahaan lagi? Lalu Leo gimana? Leo kayaknya santai saja tidak sekhawatir aku.


"Yaudah. Jadi aku enggak usah ngurusin berkas dan setujui sebagai Mr. So lagi kan?" tanya Leo dengan santainya.


"Enak aja! Papa tuh cuma lagi bikin alibi aja. Kemarin kan Si Kuya udah tau kalau kamu anak Papa. Pasti mata-mata yang Ia kirim akan semakin mencurigai kamu. Jadi untuk sementara Papa ambil alih dulu. Kamu cepat cari bukti siapa kaki tangannya biar Papa bisa nyantai lagi di rumah!"


"Iya. Susah tau, Pa. Kerjaan di audit banyak. Belum lagi laporan yang harus aku Acc sebagai Mr. So. Aku enggak bisa terlalu memantau pergerakannya. Tapi kalau Papa handle perusahaan kayaknya aku bisa sedikit bergerak bebas deh."


"Ok. Papa handle. Tapi planning bisnis tetap kamu yang buat. Papa enggak mau kebanyakan mikir lagi!"


"Siap! Ayo Sayang kita berangkat!"


Aku salim dengan Papa dan mengukuti suamiku yang berjalan ke garasi dan mengeluarkan motor kesayangannya. Mobil Honda Jazz milik Richard sudah tidak ada di garasi, artinya si Kadal Buntung sudah berangkat tadi pagi agar tidak telat.


"Ayo cepetan! Udah siang nih!"


"Iya." aku naik motor dan langsung memeluk Leo.


"Ini dipake dulu helmnya Sayang. Jangan langsung nemplok aja."


Aku turun lagi dari motor dan membiarkan Leo memakaikanku helm. "Cantik bener sih istriku. Nanti malam kita lanjutin lagi ya."


Aku memukul pelan bahu Leo dan naik lagi ke atas motor. "Lets go!" Aku mengeratkan pelukanku. Leo mengejar waktu dengan ngebut.


Ini hari pertamaku sebagai pengantin baru. Kebut-kebutan di motor. Bagaimana denganmu?


*****


Kalau enggak kuat bacanya pas buka ya. Mohon maaf bulan puasa jangan terlalu mesum ya. Nanti aku yang dosa juga nih bikin otak kalian travelling he..he..


Ayo jangan lupa like, vote dan komen ya. Maacjh 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2