
"Maaf sebelumnya ya Na. Aku enggak bermaksud untuk menyakiti hati kamu. Aku enggak pernah memberikan kamu harapan sama sekali. Aku baik sama semua yang baik sama aku. Dan aku enggak suka kamu ngomong seperti itu sama Maya. Aku merasa kamu seperti sedang mengancam Maya. Dan aku enggak suka itu!" Leo serius dengan ucapannya. Sorot matanya terlihat emosi.
"Sudahlah, Leo. Aku enggak apa-apa kok." kupegang tangan Leo, mencoba meredamkan emosinya.
"Mau pamer kemesraan sekarang?" Ana kembali berkata dengan sinis padaku, padahal aku berusaha menyelamatkannya dari amukan Leo. Aku tahu banget bagaimana Leo kalau marah. Dan aku enggak mau itu.
"Aku enggak pamer, Na. Aku memang sudah berhubungan lama dengan Leo. Apa pernah selama ini aku pamer di depan kalian? Aku berpisah dengan Leo lebih dari 2 tahun lalu, tapi kami dipertemukan lagi di perusahaan ini. Apa salah kalau aku dan Leo balikkan lagi?" aku rasa saat ini aku enggak bisa hanya berdiam diri saja. Aku harus membalas Ana. Biar Ia tahu kalau apa yang Ia lakukan mengganggu dan menyakiti hati orang lain tentunya.
"Berarti kamu selama ini berbohong dong? Kamu pura-pura enggak kenal dengan Leo padahal kalian berpacaran sebelumnya? Pintar sekali kamu May. Dibalik sikap kamu yang terkesan bodoh namun ternyata kamu licik!" sekarang suasana semakin memanas. Bahkan Ana sampai berbicara agak kencang agar menarik perhatian publik.
Orang-orang mulai melihat ke tempat kami. Ribut di lingkungan kantor tuh sama aja makan buah simalakama. Bener salah, apalagi salah.
Jangan sampai pertengkaran kami sampai ketahuan dengan atasan dan HRD. Bisa runyam urusannya. Minimal surat teguran akan kami terima.
Belum lagi masalah dengan Pak Johan. Ia kan tadi mendeklarasikan kalau dalam satu ruangan tidak suka kalau ada yang menjalin hubungan. Bisa dipisahkan nanti aku dan Leo.
"Memangny kamu kalau ketemu mantan yang putusnya dengan cara menyakitkan akan senyam senyum gitu, Na? Aku mah ogah. Makanya dulu Maya pura-pura enggak kenal sama Leo. Sama kayak aku waktu awal ketemu Lidya. Pengalaman pernah ditolak sama Lidya membuat aku pura-pura enggak kenal sama Lidya. Malu lah. Apalagi Maya sama Leo yang putusnya sampai melibatkan orang banyak." Kakanda lagi-lagi berusaha membelaku, dibantu dengan Lidya yang mengangguk setuju dengan perkataan Richard.
"Diam kamu, Cat! Kamu pamer banget sih ditolak sama Lidya!" kata Ana dengan ketus.
"Lah kamu sendiri pamer Na. Ngaku dari tadi suka sama Leo sampai maksa kayak gitu? Setidaknya aku mengakui kekalahanku, bukan kamu yang terus menginginkan kemenangan tanpa memperdulikan perasaan orang lain." aku hanya bisa berdecak kagum mendengar penuturan Richard. Jawaban yang cerdas, seharusnya bisa membuat Ana sadar dari kesalahannya bukan malah makin ngegas saja omongannya.
"Aku baru bertarung, belum kalah. Selama janur kuning belum melengkung, aku masih punya peluang." jawab Ana penuh percaya diri.
"Memangnya Leo masih mau sama kamu setelah tau sikap kamu yang kayak gini? Aku aja ogah. Coba tanya sama Aldy yang sejak tadi diam saja. Aku tahu Aldy juga patah hati kayak kamu. Tapi aku lihat Aldy lebih berlapang dada. Bener enggak Dy?" Richard melempar pertanyaan pada Aldy yang sejak tadi hanya diam saja.
"Hah? Aku? Ya kalau Maya sama Leo memang sudah berpacaran, aku bisa apa? Aku enggak mau memaksakan perasaanku sama Maya. Aku memang kalah dari Leo lalu kenapa memangnya? Kan masih banyak wanita lain, mungkin aku bisa dapetin jodoh lebih baik dari Maya? Who knows?" meski awalnya gelagapan namun Aldy berhasil menjawab pertanyaan Richard dengan baik.
"Bagus! Ini baru namanya gentle. Laki-laki sejati!" pujian Richard mewakili diriku. Aku memberikan dua jempol ke Aldy yang dibalasnya dengan senyuman.
"Terserah kalian deh kalau mau sok ikhlas. Aku sih manusiawi. Kalau enggak bisa ikhlas kenapa harus maksa?" Ana lalu bangkit dari duduknya dan menaruh nampan bekas makannya dengan suara yang kencang.
Kami berlima hanya menggelengkan kepala melihat ulahnya yang kekanakkan. Tapi setidaknya tidak sampai HRD turun tanganlah.
"Selamat ya May! Semoga hubungan kalian langgeng. Walau agak sakit tapi aku senang kok melihat kamu bahagia." ucap Aldy dengan tulus.
"Ah... Aldy... Kamu memang baik banget. Kamu aja deh yang aku kenalin sama A-" aku langsung dicubit sama Richard.
"Katanya buat aku? Gimana sih? Semuanya aja kamu kenalin! Kalau cocok kan saingan aku jadi tambah banyak!" omel Richard.
__ADS_1
Aldy menatapku dan Richard bergantian dengan bingung. Leo yang memperhatikan interaksiku dan Richard hanya tersenyum dan sesekali menggelengkan kepalanya. Heran punya istri kayak aku kali.
"Kita balik ke ruangan yuk, May! Enggak enak karena tadi kita udah dateng mepet. Kalau kita sampai balik telat nanti diliatin lagi deh." aku mengikuti Leo membawa nampan makanan dan kembali ke ruangan. Seperti anak kucing yang mengikuti induknya.
Kami bekerja seperti biasa walaupun sepertinya mulai banyak rumor yang beredar di kantor. Sepulang kerja Leo mengajakku jalan-jalan terlebih dahulu. Ia mengajakku ke Mall Plaza Senayan.
Jujur saja, aku belum pernah ke mall ini. Ternyata Mallnya lumayan mewah tapi setelah masuk, wow.... banyak barang-barang branded yang biasa dipakai para selebritis dan selebgram selebgram untuk pamer di sosial media.
Setiap toko dibuat terkesan Lux sehingga untuk kalangan menengah ke bawah seperti aku akan berpikir dua kali untuk masuk ke dalamnya. Bukan apa-apa, sepertinya harga satu baju di sana bisa mencapai 10 juta. Aku jadi mikir dua kali untuk membelinya.
Aku tidak memungkiri, sebagai seorang perempuan melihat barang-barang yang mewah dan branded itu rasanya mataku jadi segar. Senang aja gitu ngelihatnya. Kalau misalnya sampai dibeliin sih aku senang, tapi kalau disuruh beli sendiri, kayaknya nggak deh. Masih banyak hal yang harus aku beli.
Sebelum berbelanja, Leo mengajakku untuk makan terlebih dahulu. Kebetulan ini sudah masuk waktu makan malam. Aku memang tidak terbiasa makan terlalu malam karena akan membuatku makin gendut.
"Kamu mau makan apa May?" tanya Leo.
"Hmm... apa ya? Aku belum pernah ke mall ini. Aku ikut aja deh kamu mau makan di mana. Bebas." Aku menyerahkan pilihan menu makanan kepada Leo.
Leo terlihat berpikir sejenak memutuskan akan makan di mana. "Di sini ada foodcourtnya di atas. Banyak makanan dari mulai ayam, sate ada juga, ada nasi padang terus ada Japanese food. Kamu maunya di mana? Apa kamu nggak mau di cafe? Atau kita bisa ke restoran Padang yang ada di bawah? itu enak kok!"
"Kayaknya foodcourt lebih membuat aku tertarik deh, karena aku bisa pilih sendiri mau makan apa di sana."
"Oke kalau itu mau kamum Ayo kita ke atas." Leo menggamit tanganku dan kami pun berjalan menaiki lift berpegangan tangan.
Memang dasar ya manusia apalagi perempuan, jalan di Mall apalagi pemandangannya barang-barang yang dipajang dengan tujuan menarik perhatian pengunjung, ini mata nggak bisa dikondisikan. Lihat kesini, lihat ke sana. Semuanya tuh kayak pengen dibeli gitu.
Kami melewati toko baju-baju yang biasa dipakai sama artis artis itu loh. Baju yang dari jauh aku bisa kelihatan kalau harganya itu only 529.000. Only alias hanya alias cuma, harga sepotong baju Rp500.000 itu lagi diskon. Apa kabar dengan baju-baju aku yang biasa beli di ITC? Gila, bisa habis gaji kerja aku cuma buat beli baju aja.
"Kenapa sih May? Dari tadi kamu aku lihat geleng-geleng kepala aja. Kamu pengen beli baju itu? Tapi nanti ya kita makan dulu aku udah lapar. Tadi itu Ana bener-bener merusak mood aku untuk makan. Lagi enak-enaknya makan eh digangguin sama dia."
"Bukan. Aku bukannya mau beli baju itu. Hanya kaget aja ngelihat harganya yang menurut aku tuh amazing banget gitu. Ya udah yuk kita makan dulu. Aku juga lapar nih."
Kami pun sampai di lantai 3 tempat foodcourt. Benar seperti yang dikatakan Leo, banyak makanan-makanan yang menggugah selera aku disini. Mulai dari Wingstop, Bakwan Malang Duta, Sate Khas Senayan, KFC, Hokben, Yoshinoya dan ada juga Sugakiya.
Belum lagi banyak cemilan di sana ada D'crepes, Cinnamon dan ada es krim juga. Aku tuh bener-bener ngiler saat lewat toko es krim. Sepertinya lezat deh.
Leo memilih makan di Hokben. Kalau aku kayaknya lebih tertarik makan Bakwan Malang Duta. Pertama, aku menunggu Leo memesan makanan di Hokben. Setelah itu kami lalu memesan makanan di bakwanh Malang. Aku pikir bakwan Malang harganya nggak beda jauh sama bakwan Malang yang biasa lewat di depan kontrakan. Tapi saat aku tahu sekali makan bisa lebih dari Rp50.000 hah? itu sih bisa 5 porsi makan bakwan Malang di depan kontrakan.
Leo dengan cepat langsung membayar pesananku. Sebelum aku lebih kaget lagi tentunya. Kami memilih tempat duduk yang nyaman untuk ngobrol berdua. Rupanya mall ini ramai. Hampir saja tempat duduk disini semuanya penuh.
__ADS_1
Leo menghabiskan makanannya tanpa banyak bicara. Sepertinya Ia beneran laper, karena tak tega aku membagi juga bakwan Malang milikku untuk Ia makan.
Harga itu nggak bisa bohong. Meskipun bakwan Malangnya lebih mahal, namun rasanya jauh lebih enak dibanding bakwan Malang yang biasa lewat depan kontrakanku. Dari kuahnya, bahkan baksonya itu berasa banget dagingnya. Pokoknya nggak nyesel deh. Ya bukan aku yang bayar sih he...he....he....
Selesai makan Leo mengeluarkan dompet miliknya dan terlihat memilih kartu di dalamnya. Ia lalu menyerahkan kartu itu kepadaku. Kartu berwarna hitam bertuliskan Platinum.
"Untuk sementara kamu pakai kartu ini dulu ya. Nanti aku buatin kartu yang khusus buat kamu. Aku belum sempat ke bank karena kan Pak Johan lagi ngasih kerjaan banyak banget."
"Kartu? Kartu untuk apa?" tanyaku bingung.
"Ya kartu untuk kamu pakai belanja dan jajan. Mau beli baju atau apa aja terserah kamu deh."
"Enggak usah. Kan aku masih ada kartu ATM punya yang aku sendiri. Nih kamu pegang aja." aku mengembalikan kartu yang Leo berikan.
"Sayang, aku wajib menafkahi kamu. Udah lupa ya kalau sekarang kamu tuh udah jadi istri aku? Aku harus menafkahi kamu mulai sekarang. Kartu ini nanti setiap bulan aku transfer buat biaya hidup kamu, buat keperluan rumah, buat hidup sehari-hari. Pokoknya kalau kamu mau nabung juga nggak apa-apa. Jadi mulai sekarang aku nafkahi kamu, aku transfer sini aja ya." Leo menyunggingkan seulas senyumnya.
Aku yang langsung deg-degan dan ada berdesir di dalam dadaku. Aku sekarang udah dinafkahi sama Leo. Pakai kartu lagi. Kalau dulu aku cuma dikasih uang harian.
Masih ingat aku dulu Ia biasa memberiku Rp50.000. Namun saat dia mulai pulang larut, Ia memberikan duit lebih banyak yang aku tabung di toples eh bukan deh tapi di kaleng bekas biskuit untuk biaya lahiran. Ah... mengingat hal itu aku jadi teringat masa-masa kami ngontrak dan hidup susah dulu.
"Kenapa May? Kok kamu diem aja? Masih kurang? Atau mau pegang kartu kredit aku? Nanti aku buatin juga atas nama kamu ya. Aku benar-benar belum sempat ngurus semuanya."
Dalam sekejap mataku memanas dan ada beberapa tetes air mata yang berhasil lolos dari pelupuk mataku.
"Loh kok kamu malah nangis? Aku salah ngomong ya? Aku minta maaf May. Aku nggak ada maksud... Kalau aku salah ngomong aku... Aduh aku bingung mau ngomong apa. Aku minta maaf ya sayang ya...." Leo panik melihat aku yang tiba-tiba langsung nangis.
"Kamu nggak salah kok Sayang. Aku cuma lagi teringat saat kita susah dulu. Aku suka sedih deh ngebayanginnya. Dulu kamu kerja keras buat aku terus uangnya kamu kasih ke aku. Padahal kita susah bareng ya, tapi kenapa kita begitu mudah untuk berpisah? Kalau mengingat itu aku jadi sangat menyesal deh."
Leo menghapus airmata yang ada di pipiku dengan sehelai tisu. "Justru kenangan masa lalu itu yang buat kita jadi balikan lagi May sekarang. Perasaan saling memiliki. Perasaan susah senang bersama. Itu yang bikin aku nggak mau melepas kamu May. Hanya kamu yang menerima aku saat aku susah, saat aku nggak punya apa-apa kamu yang ngedukung aku. Sekarang aku udah bisa ngebahagiain kamu. Tugas aku adalah membuat kamu lebih bahagia lagi."
"Ah... So sweet banget sih kamu?"
"Masa sih?"
"Iya. Ya udah aku terima kartunya yah. Nanti aku akan tabung buat masa depan kita." aku menerima kartu yang Leo berikan lalu memasukkannya ke dalam dompet.
"Enggak usah nabung. Itu urusanku. Kamu pakai aja untuk beli apapun yang kamu suka. Mau beli baju, sepatu, tas, perhiasan atau mau beli video porno juga boleh." Leo tersenyum jahil.
"Ih apaan sih! Memangnya aku suka nonton kayak gitu apa?" aku memukul pelan lengan Leo.
__ADS_1
"Ya sekarang kalau kamu suka juga boleh kok. Kan nanti kamu bisa praktekkin sama aku." ledek Leo.
"Ih mesum! Mesum! Mesum!" aku memukul-mukul lengan Leo. Sementara Leo masih tertawa terbahak-bahak karena berhasil menggodaku.