
Aku tak pernah menduga kalau apa yang dibisikkan oleh Leo ternyata benar-benar Ia realisasikan. Aku berpikir kalau Leo hanya mengajak bercanda aku saja, tapi bukan Leo namanya kalau tidak pernah serius dengan perkataan yang Ia ucapkan.
Leo lalu menghampiri Papa Dibyo dan membisikkan sesuatu di telinga Papanya tersebut. Papa Dibyo yang awalnya hanya tersenyum-senyum sambil mengobrol dengan Bapak tiba-tiba seperti kaget dengan apa yang Leo katakan.
"Kamu serius?" tanya Papa Dibyo.
Leo mengangguk yakin. Papa Dibyo lalu menatap ke arahku seraya berkata dengan bahasa isyarat. "Kamu mau May?"
Mau apa ya? Aku nggak ngerti apa yang Papa Dibyo omongin. Ah... daripada salah menjawab bilang aja iya. Akhirnya aku mengangguk dan mengatakan iya.
"Yaudah Papa bilang sekarang ya." kata Papa.
Leo lalu berdiri dan duduk kembali di sampingku. Aku baru mau nanya sama Leo apa yang Ia bisikin sampai Papanya menanyakan padaku. Namun sebelum aku sempat mengutarakan pertanyaan yang ada dalam pikiranku Papa Dibyo keburu ngomong dengan bapak.
"Bem, sepertinya rencana kita untuk menjadi besanan bisa dipercepat lagi nih." Bapak Dibyo mulai mengutarakan maksud dan tujuannya.
"Maksudnya apa Yo?" tanya Bapak.
Suasana di ruangan kembali hening. Semua fokus dengan apa yang dibicarakan antara Papa Dibyo dengan Bapak. Ini pasti sesuatu yang penting. Semua yang tadinya asyik mengobrol atau sibuk ngemil makanan ini menunggu dengan tenang apa yang kedua orang tua itu bicarakan.
"Ini loh Leo, minta proses rujuknya dengan Maya dilakukan secepat mungkin." jawab Papa Dibyo.
"Ya kalau memang mau dipercepat, ya sudah. Toh mereka sudah pernah menikah. Jadi mau kapan? Seminggu atau sebulan lagi?" tanya Bapak.
"Hari ini. Bisa nggak?" tanya Papa Dibyo lagi.
Uhuk...Uhuk... Bapak langsung terbatuk-batuk mendengar jawaban Papa Dibyo. Begitu pun denganku. Ternyata tadi Papa Dibyo bertanya padaku mau di nikahin kapan eh aku kayak orang bodoh langsung bilang mau.
Malu... Malu.... Aku malu....
"Kalian nih ya apa-apa main kilat aja." gerutu Bapak.
"Bukan begitu Bem. Nih anak-anak kita pernah ngelakuin kesalahan. Di Jakarta enggak ada yang ngawasin. Nanti mereka ngelakuin kesalahan kayak dulu lagi kita juga yang dosa. Biarin aja mereka mau beribadah. Kita sebagai orang tua harusnya mendukung saja." Papa Dibyo menceramahi Bapak.
Dan....
Bapak nurut loh!
"Saya telepon penghulu dulu. Siapa tau ready. Kalian siapin aja maharnya." Bapak langsung ke kamar mengambil Hp dan menelepon penghulu kenalannya.
Dan aku...
Cuma bengong kayak sapi ompong...
Kenapa jadi pada gesrek gini ya?
Nikah kok buru-buru banget ya? Terus aku gimana dong?
Seakan mengerti apa yang kupikirkan, Ibu menghampiriku.
"May, di lemari kamu masih ada kebaya bekas wisuda kan? Ibu inget dulu kamu minta bikin kebaya yang pakai payet dan harganya lumayan mahal itu. Pakai kebaya itu aja ya. Nanti kamu make up aja sendiri yang biasa aja. Gimana? Niat baik itu harus disegerakan. Ibu sih setuju saja dengan rencana ini. Ibu juga tenang kamu di jakarta nanti terbebas dari fitnah."
Ini yang aku butuhkan. Dukungan dan support. Bukan cuma mau nikah sekarang langsung aja terlaksana. Aku hanya menunggu jawaban Bapak baru masuk ke kamar untuk siap-siap.
Aku melihat keluarga Buntungers sedang berunding. Tampak Leo yang mengernyitkan keningnya saat mendengar penjelasan Mama Lena. Pasti rencana ngaco lagi deh yang Mama Lena cetuskan.
Akhirnya Leo manggut-manggut, sepertinya setuju atau menyerah. Entahlah. Mama Lena lalu sibuk dengan Hp miliknya. Lalu menelepon kesana kemari.
Tak lama Bapak keluar dari kamar dan memberitahukan hasil pembicaraannya di telepon. "Pak penghulu bisa, tapi dua jam lagi." Bapak lalu menghela nafasnya. "Ini beneran mau nikahan 2 jam lagi?"
"Bener Bembi." jawab Papa Dibyo dan Mama Lena kompak.
__ADS_1
"Terus saya mesti siap-siap apa dong?" Bapak garuk-garuk kepala karena bingung.
Papa Dibyo lalu menghampiri Bapak. "Siapin aja bacaan buat akad nikah. Kamu ganti kemeja atau jas yang rapi buat akad nikah. Istri kamu masak banyak kan?"
"Iya. Kayak buat orang sekampung."
"Bagus. Soalnya kelemahan rencana aku dan Lena adalah masalah katering. Enggak ada yang ready dalam 2 jam. Kalo di Jakarta masih mungkin, tpi disini agak susah. Sisanya aku yang handle." Papa Dibyo menepuk bahu Bapak.
"Tapi masa nikahan Maya cuma kayak gini aja sih? Aku kan mau resepsiin. Mau bikin layar tancep sama dangdutan. Mau ngundang warga sekecamatan. Mau pasang tenda. Aku kan hajatan sekali doang pas anak perempuan. Anakku yang lain kan laki-laki." Bapak meluapkan kesedihannya.
Papa Dibyo menepuk lagi bahu Bapak. "Nanti bisa diatur. Ini kan untuk menghindari fitnah saja. Rencananya aku yang mau pestain, tapi kalau kamu maunya kamu yang pesta aku enggak masalah. Kita bikin pesta disini."
"Aku masih enggak nyangka kalau kita akan besanan. Siapa yang menyangka, kita sudah puluhan tahun enggak ketemu, sekalinya ketemu malah besanan. Kalau saja aku tahu Leo anak kamu, sejak Ia minta ijin untuk menikahi Maya dulu pasti enggak akan aku usir. Kamu benar, kita juga ada andil dalam perpisahan mereka. Kalau kita mendukung mereka sejak awal mungkin kita sudah punya cucu dan mereka akan makin bahagia." Bapak menunduk sambil menghapus air mata yang berhasil lolos dari pelupuk matanya.
"Karena itu, kita dikasih kesempatan lagi buat memperbaiki kesalahan kita. Niat baik mereka harus kita dukung. Pasti akan dimudahkan kalau memang sudah jalannya. Kita siap-siap yuk. Aku dan keluargaku juga sedang bersiap menyiapkan mahar dan yang lainnya." Papa Dibyo menepuk bahu Bapak sekali lagi sebelum kembali ke keluarga Buntungers untuk kembali menyusun rencana.
Aku lalu ditarik Ibu untuk pergi ke kamar. Untunglah Kak Anne, istrinya Kak Anton datang membantu. Sejak tadi Kak Anton pergi ke rumah keluarga Kak Anne. Ada kondangan di sana.
Begitu sampai di rumah Kak Anton heran karena melihat ada banyak orang di rumahnya. Kak Anton sempat emosi saat melihat Leo, tapi Bapak yang meredamnya. Bapak meyakinkan Kak Anton kalau Ia sudah merestui pernikahanku.
Tak ada yang bisa Kak Anton lakukan selain ikut setuju dengan semua keputusan Bapak. Kak Anne yang punya kesadaran sendiri untuk membantu keriwehan kami.
Ia membantu merias wajahku dengan kemampuan make upnya yang Ia peroleh dari hasil nonton Youtube. Ternyata peralatan make up miliknya lumayan lengkap.
Aku melihat pouch yang Ia bawa dari rumahnya. Rumah Kak Anton di belakang rumah Bapak jadi gampang bagi Kak Anne untuk mengambil perlengkapan make up miliknya.
Ada foundation merk Maybelin*, lipstik stay mate Maybelin*, Pensil alis merk Viv* yang super legend, Blouse on merk Madam Gi*, Mascara merk Maybelin*, Highlight merk Focallur* dan tentunya BB Cream merk Ward*h yang membuat wajah cantik tanpa cela.
Aku memperhatikannya memakaikanku make up. Rupanya Ia lumayan berbakat. Dengan peralatan seadanya Ia mampu membuatku tampak pangling.
"May, rambut kamu aku sanggul kayak SPG kosmetik di Supermarket ya? Aku cuma bisa bikin kayak gitu." tanya Kak Anne.
"Iya, Kak. Kakak atur aja. Aku percaya sama Kakak." aku jarang mengobrol dengan Kak Anne. Malas. Aku pikir orangnya jutek jadi aku hanya bicara sekedarnya saja. Tidak pernah ngobrol panjang lebar.
"Justru itu Kak. Aku rasa Kakak punya potensi di bidang ini. Coba deh Kakak ikut kursus MUA alias Make Up Artist. Minta ijin sama Kak Anton nanti dikasih ijin deh. Agak mahal sih biayanya, nanti aku patungan deh walau enggak banyak sih." aku mencoba mendorong Kak Anne untuk mengembangkan potensi yang Ia miliki.
"Apa Kakak kamu akan ijinkan ya May? Kakak ragu." Kak Anne mulai memakaikan rambutku alat buat sanggul. Seperti yang ada di TV Shopping itu loh tapi versi KW, alias beli di pasar. Tapi lumayan juga hasilnya.
Benar-benar pernikahan yang amat sederhana dengan MUA dadakan pula. Biarlah yang penting sah dan menghindari fitnah.
"Coba aja bicarakan sama Kak Anton dulu, Kak. Kalau enggak diijinin nanti aku bantu ngomong sama Kakak. Siapa tahu Kak Anne bisa buka salon rias pengantin di kampung ini?"
Kak Anne sepertinya mempertimbangkan perkataanku. "Iya. Kakak akan bicara sama Kakak kamu nanti. Nah, sudah selesai deh. Cantik banget kamu, May. Pantas saja hari ini ada dua orang yang mau melamar kamu. Gadis desa tapi rejeki kota. Pasti kamu baik ya May makanya banyak yang cinta mati sama kamu." puji Kak Anne.
"Kakak bisa aja." aku melihat penampilanku di cermin. Cantik. Benar yang Kak Anne katakan.
Aku mengenakan kebaya saat aku wisuda dulu. Kebaya yang belinya di boutik langganan Mamanya Angga. Kalau tau Mamanya kayak gitu enggak bakalan aku beli disana.
Tapi harga tidak pernah bohong. Walau harus merengek pada Ibu untuk membelikannya ternyata kebaya ini memang bagus dikenakan. Bentuknya simple namun hiasan payet dan swarowski membuatnya terlihat anggun dan mewah. Cocok dengan selera Mamanya Angga yang sombong itu.
Hari ini aku beneran menikah. Bukan nikah di KUA dengan Kak Rian sebagai walinya. Kali ini Bapak yang akan menikahkan aku secara langsung.
Apakah begini rasanya menikah? Mataku mulai memanas. Kenapa jalan yang aku tempuh hanya untuk menikah dengan Leo begitu panjang. Tidak seperi kebanyakan orang yang kalau sudah tekdung duluan akan dinikahkan orang tuanya.
Aku sampai mengalami rumah tangga yang miris dan bercerai lalu kehilangan anak baru bisa merasakan pernikahan yang sebenarnya.
Tapi aku tidak menyesali semuanya. Ini sudah jalan hidupku. Dengan kejadian ini aku dan Leo semakin sadar artinya memiliki. Semakin sadar kalau cinta kami semakin besar dan dalam. Dan kami memang ditakdirkan bersama, mau menghindar dan pergi sejauh apapun tetap saja kami dipersatukan kembali.
"May, ayo keluar. Pak penghulunya susah hadir." Ibu masuk ke dalam kamar dan menatapku takjub. "Kamu cantik sekali, May. Walau pernikahan sederhana namun Anne berhasil mendandani kamu sampai terlihat sangat pangling."
"Ah Ibu bisa saja." Kak Anne tersipu malu. Loh malah Kak Anne yang kegeeran.
__ADS_1
"Sudah kamu jangan nangis dulu. Nanti make upnya luntur. Ayo kita ke depan sekarang." Ibu lalu menggamit tanganku dan menuntunku ke bawah. Kamarku di lantai atas jadi aku harus menuruni tangga.
Seperti dalam kisah Cinderella, aku berjalan menuruni tangga dengan diikuti banyak pasang mata. Aku berusaha menutupi grogiku dengan tersenyum.
Terlihat semua yang hadir seakan terpesona dengan penampilanku hari ini. Richard bahkan sampai membuka mulutnya tanpa Ia sadari.
Lalu bagaimana dengan Leo? Leo tak berkedip melihatku yang sudah berdandan cantik namun sederhana ini.
Aku lalu duduk di samping Leo. Rupanya ruangan ini sudah disulap menjadi tempat akad nikah. Meja tempat Bapak bermain catur di saung dijadikan tempat akad nikah. Diatasnya sudah ada mas kawin berupa cincin pernikahan.Darimana mereka mendapatkan cincin ini dalam waktu singkat?
Apakah membeli dengan menggunakan helikopter atau jet pribadi seperti di novel-novel kebanyakan? Tentu saja tidak. Aku yakin. Tapi nanti aku tanya sama Leo deh biar lebih pasti.
Leo sudah rapi dengan mengenakan setelah jas yang terlihat agak ngatung di tangannya. Pasti punya Papa Dibyo deh. Kelihatan mahal soalnya.
Leo tersenyum ke arahku. Aku membalas senyumannya. Leo lalu membisikkan sesuatu di telingaku. "Kamu cantik, May. Akhirnya kita nikah juga."
Aku balas membisikkan sesuatu di telinga Leo. "Kamu juga ganteng. Walau jas nya kependekkan."
Leo tersenyum. Ia balas membisikkanku lagi. "Minjem punya Papa. Habis di laundry ada di mobilnya. Lumayanlah agak rapihan dikit."
"Oh ternyata begitu. Lalu itu cincin dapat dari mana?" bisikku lagi.
"Itu memang aku sudah beli sebelumnya. Niatnya aku mau kasih ke kamu hari ini eh malah jadi mas kawin. Nanti aku belikan lagi ya perhiasan lain buat tambahan mas kawinnya." bisik Leo.
"Iya. Yang banyak dan mahal ya. Aku mau pamer di depan Mamanya Angga." aku dan Leo pun tertawa cekikikan.
"Woy terus aja bisik-bisikkan. Kita cuma jadi penonton aja nih! Jadi nikah enggak sih?" protes Richard yang tiba-tiba sudah ada di belakang kami. Enggak tau kapan datangnya nih anak ngagettin aja!
"Jadi lah. Susah payah dapetin restu. Masa enggak jadi sih?" balas Leo.
"Yaudah ayo mulai!" Richard lalu memberi kode Pak Penghulu. "Tarik Pak! Semongko!"
Mama Lena lalu menjewer ulah anak sulungnya tersebut. "Maaf, Pak. Anak saya yang ini agak gesrek. Silahkan Pak dilanjutkan."
Aku hanya bisa menahan tawa melihat ulah Kakanda yang akan menjadi kakak iparku kelak. Entah bagaimana hidupku kelak bersama keluarga Buntungers? Membayangkannya saja sulit.
Akad nikah pun dimulai. Bapak dan Leo saling berjabat tangan. Wajah Bapak terlihat amat tegang. Tak beda jauh dengan Leo yang juga agak sedikit grogi.
"Saya nikahkan anak saya Maya Aprilia Putri binti Bambang Cahyodiputro dengan Leonardo Prakoso Kusumadewa bin Dibyo Kusumadewa dengan mas kawin cincin berlian dan tanah seluas 1 hektar dibayar tunai!"
Hah? Tanah 1 hektar? Tanah siapa yang dibeli? Kok cepet sih dapetin tuh tanah dalam waktu 2 jam?
"Saya terima nikahnya Maya Aprilia Putri binti Bambang Cahyodiputro dengan mas kawin tersebut tunai!"
"Sah?" tanya Pak Penghulu.
"Sah!" jawab semua yang hadir.
****
Pagi!!
Udah nikah nih. Pokoknya aku minta maharnya vote aja dari kalian ya. Hmm... minta 1000 vote boleh? Boleeeeeehhhh....
Yang mau jahit baju kebaya sabar ya. Ini baru akad nikah. Nanti resepsinya di tanah 1 hektar itu ya!
Yang belum tau caranya ngevote aku kasih tau ya
pilih vote ya.
__ADS_1
Oke?
Maacih semuanya 😘😘😘🙂