Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Media Sosial-1


__ADS_3

Rumah kontrakkanku langsung terasa sepi saat Duo Julid pulang ke rumahnya masing-masing. Saat bersama mereka aku bisa tertawa lepas dan melupakan sejenak permasalahan hidupku.


Aku merapihkan piring kotor bekas makan es krim. Tempat bekas es krim aku cuci bersih dan akan aku gunakan untuk menaruh cabe merah lalu disimpan di kulkas agar lebih awet dan tidak cepat busuk.


Pekerjaanku selesai aku kembali enggak ada kerjaan sampai menunggu Leo pulang kerja. Sekarang Leo sudah lebih cepat pulangnya tidak seperti dulu.


Leo bilang sekarang manajemen restaurannya sudah lebih baik. Waktu awal-awal kerja semuanya masih berantakan karena itu Ia kerja lebih dari 10 jam sehari karena kerjaannya bercampur dengan bagian lain.


Kulirik jam di dinding, sudah jam 8, sebentar lagi Leo pulang. Kuhangatkan lauk yang sudah kumasak dan kubuatkan susu milo kesukaannya.


Sambil menunggu aku lagi-lagi menonton hiburan satu-satunya yakni TV. Aku skip hiburan dangdut yang di TV Ikan Goreng, bosan, lebih lama durasi juri berkomentar dibanding saat pesertanya nyanyi.


Aku mengganti-ganti channel siaran di TV dan akhirnya memilih saluran berita. Aku lebih suka siaran berita, selain lebih tau tentang apa yang terjadi di luar sana juga bisa menambah ilmu pengetahuanku.


Walau aku berhenti kuliah aku enggak mau berhenti belajar dan menimba ilmu. Mungkin karena aku belum jadi emak-emak rempong yang teriak-teriakan kalau ngomelin anaknya kali ya jadi aku masih punya banyak waktu untuk belajar.


Seperti perkiraanku, Leo tak lama pulang. Suara motornya dari jauh sudah bisa kutebak. Apa karena aku sebenarnya selalu menanti kedatangannya ya?


Aku bangun dari dudukku dan membukakan pintu untuk Leo. Senyum manis kusunggingkan menyambut kedatangan laki-laki yang sudah menghidupiku dengan hasil kerja kerasnya.


Aku bahkan sudah lupa kalau tadi pagi kami masih bertengkar. Memang ya es krim membuat suasana hatiku makin baik.


Leo balas tersenyum. Ia juga senang disambut dengan senyuman, dibanding saat pergi kerja tadi yang diantar dengan wajah cemberut.


"Aku bawain kamu ayam goreng lagi nih!" Leo mengangkat kantong plastik bertuliskan nama restoran tempatnya bekerja.


"Asyik makan ayam!" kayaku penuh antusias. Aku menerima kantong plastik yang Leo berikan lalu menbawanya ke dalam rumah.


Leo hanya geleng-geleng kepala melihat ulahku. Ia tersenyum senang manakala melihatku bahagia.


Leo ikut masuk ke dalam rumah setelah memasukkan motornya ke ruang tamu.


"Mau minum milo dulu atau mandi dulu?" tanyaku.


"Minum milo dulu aja. Masih keringetan tadi di jalan macet soalnya." jawab Leo.


Aku memberikan milo yang sudah kubuat ke Leo. Ia menerimanya dan langsung meminumnya.


"Mau makan sekarang?" tanyaku lagi.


Leo menggeleng. "Nanti dulu. Habisin susu dulu."


Aku mengangguk saja mengikuti keputusannya.


"Tadi pagi itu Ibu-Ibu yang kamu ceritakan itu? Bu Jojo dan Bu Sri?" tanya Leo.


"Iya. Yang tinggi Bu Jojo dan yang agak pendek Bu sri." jelasku.


"Kayaknya mereka memang tukang gosip deh. Waktu belum kenal aja mereka ngeliatin aku kayak gimana gitu. Sekarang sih udah enggak. Mungkin karena mereka kenal sama kamu ya May jadi udah baik lagi sekarang." Leo meminum lagi susu Milo yang tadi aku buatkan. Mungkin masih agak panas karena tadi aku menyeduhnya dengan air panas yang baru banget mendidih.


"Emang tukang gosip kok. Tapi mereka baik sebenernya sama aku. Don't judge a book by the cover, banyak pengalaman yang aku nggak tahu dan mereka dengan sukarela membagi ilmunya sama aku. Kalau masalah gosip mah udah aku bilangin dan mereka bisa kok dibilangin sedikit demi sedikit. Itu cuma masalah kebiasaan mereka aja kok, mungkin karena mereka nggak ada kerjaan jadi ibu rumah tangga jadi ya udah daripada bengong mereka ngobrol dan ujung-ujungnya ngegosipin orang." lagi-lagi aku membela Duo Julid itu tapi mungkin aku punya rasa solidaritas yang tinggi sama teman.


"Aku tidak mempermasalahkan kamu berteman dengan mereka. Asal kamu jangan ikut-ikutan aja ya. Biar bagaimanapun, ngomongin orang itu nggak ada baiknya." nasehat Leo.


"Iya." kataku menurut perintah suamiku.


Leo lalu mengacak-acak rambutku. Hal yang udah lama banget nggak dilakuin lakuin. Leo pun tersenyum. "Aku mandi dulu ya."


Aku hanya bisa mengangguk. Dalam hatiku aku tersenyum senang. Hal yang sepele sih, cuma diacak-acak aja rambutnya. Tapi karena sudah lama tidak dilakukan jadi kesannya tuh begitu mendalam.

__ADS_1


Aku yakin sikap Leo yang berubah itu pasti ada alasannya. Leo yang aku kenal bukanlah Leo yang dingin dan cuek. Leo tuh orangnya hangat dan penyayang.


Aku akan menunggu sampai Leo kembali menjadi Leo yang dulu. Aku bersyukur hari ini tuh bener-bener hari yang indah. Bisa ngobrol dengan Kak Rian, bisa dapat es krim gratis, bisa bagi-bagi es krim ke ibu-ibu dan yang terpenting aku mulai merasakan lagi kehangatan dari Leo yang sempat menghilang.


Aku mengelus-ngelus perutku sambil tersenyum. "Kamu pasti senang juga kan sayang? Mama tahu, kalau mama senang kamu juga senang. Karena itu, Mama akan mulai membahagiakan diri mama untuk kamu. Karena mama maunya memberi kebahagiaan untuk kamu."


Tak lama Leo pun keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah dan seperti biasa dengan handuk Hello Kitty yang terlilit dipinggangnya. Wangi tubuhnya setelah mandi tercium amat segar di hidungku.


"Kenapa liatin aja?" ayo membuyarkan lamunanku. Ternyata Ia sadar loh diliatin terus sama aku.


"Kamu wangi banget. Aku suka wangi kamu kalau habis mandi. Dan kamu kelihatan lebih segar." jawabku dengan jujur.


Lagi-lagi Leo tersenyum. "Ah kamu bisa aja. Kita kan sama pakai sabun dan samponya. Masa sih beda wanginya? Kalau kamu mandi juga wanginya sama kayak aku. Kamu lebay ah."


Aku memanyunkan bibirku sebal. Masa aku dibilang lebay. Aku kan beneran Jujur.


"Nggak tahu ah. Mungkin karena bawaan bayi kali ya. Indra penciuman aku jadi lebih sensitif. Apa-apa yang berbau kamu pasti terasa beda. Mungkin anak dalam perut aku tuh sayang banget sama kamu Leo." kataku sambil mengusap lembut perutku.


Kemudian hal yang tidak aku suka pun terjadi. Padahal aku udah nyerempet-nyerempet bawa anak dalam kandungan aku untuk memancing reaksi Leo. Aku berharap seperti di sinetron-sinetron atau novel-novel kalau ayah si bayi akan datang, mengusap perutku bahkan menciumnya.


Kenyataannya tidak demikian. Leo langsung mengubah topik pembicaraan. Setiap aku membahas tentang bayi kami, pasti Ia akan menghindar. Contohnya saat ini.


"Aku pakai baju dulu ya. Oh iya, aku laper nih. Aku mau langsung makan abis pakai baju ya." Leo langsung menuju lemari baju dan mengambil celana pendek serta kaos lalu memakainya.


Aku hanya bisa mengelus dada. Kalau aku bantah atau melawan, aku yakin kami akan bertengkar seperti kemarin. Dan aku nggak mau merusak hari bahagiaku dengan pertengkaran.


Tanpa banyak kata aku mempersiapkan makan malam untuk Leo. Aku tiba-tiba merasa kenyang dan kuputuskan untuk tidak ikut serta makan bersamanya.


"Loh kamu nggak ikut makan?" tanya Leo ketika melihat aku mengambil salah satu buku kuliah ku dan mulai mempelajarinya lagi.


"Enggak usah. Aku masih kenyang." lebih tepatnya Aku kenyang setelah aku melihat ulah kamu.


Aku menggelengkan kepalaku. "Enggak kok, kenapa harus marah? Memangnya kamu salah apa?"


"Yaudah kalau kamu nggak marah. Baguslah." Leo lalu melanjutkan makannya.


Leo menyalakan televisi untuk lebih mencairkan suasana. Nggak enak juga makan di tengah sikap kami yang saling diam-diaman.


Sementara Leo makan dengan tenang sambil sesekali tertawa melihat acara komedi di TV, Aku tidak konsentrasi belajar. Kubuka tutup buku yang akhirnya nggak ada satupun yang masuk ke otakku.


"Dasar laki-laki nggak pernah peka!" rutuk ku dalam hati.


Akhirnya aku tutup buku yang aku baca. Percuma. Lebih baik aku main handphone saja.


Aku lalu beranjak dari dudukku dan menuju ke atas tempat tidur. Ku ambil handphone di atas nakas dan mulai membuka media sosial.


Pada halaman pertama dari media sosial keluar update-an status dari salah seorang dari Duo Julid. Siapa lagi kalau bukan ibu Sri?


Dalam fotonya Ibu Sri sedang memegang kotak es krim yang kami makan tadi sore. Tertulis caption di bawahnya: 'ngemil syantik'.


Aku tak kuasa menahan tawa melihat Ia tersenyum lebar dan captionnya yang amat lucu bak seorang Princess. Enggak sia-sia kami saling follow di medsos. Lumayan menghibur juga ya ternyata.


Melihat ku tertawa, Leo sempat menengok ke arahku. Kedua alisnya bertautan seperti mencurigai sesuatu.


"Kenapa kamu ketawa-ketawa sendiri?" tanya Leo menyelidik.


"Nggak ada apa-apa kok." jawabku tanpa menjelaskan lebih rinci kenapa aku bisa tertawa lebar seperti itu.


"Itu ketawanya seneng banget. Biasanya kalau ngelihat handphone dan buka medsos kamu suka sedih. Tapi ini malah tertawa. Apa yang buat kamu tertawa sampai kayak gitu?" tanya Leo penasaran.

__ADS_1


Leo sudah selesai makan. Ia langsung mencuci piring yang Ia pakai dan menaruhnya di rak. Sebenarnya Leo termasuk kategori laki-laki yang rajin bantuin istrinya. Cuma kalau Dia benar-benar capek baru Ia menyerahkannya padaku.


Aku membantunya merapikan lauk dan memasukkannya ke dalam lemari makan. Saat aku sedang memasukkan lauk, ternyata Leo yang sudah selesai mencuci piring mengambil handphone-ku dan membukanya.


"Ini yang bikin kamu tertawa? Cuma ngeliat orang makan es krim aja kamu udah senang kayak gitu?" tanya Leo sambil menunjukkan status Ibu Sri.


"Iya. Memangnya kenapa? Mungkin selera humor aku receh. Bagi aku, bahagia itu nggak selalu hal yang mahal. Cuma ngeliat teman aku bahagia aja aku udah seneng." kataku dengan tulus.


Tak kusangka ternyata Leo malah tersenyum. Aku pikir aku akan dapat omelan lagi. "Semoga kamu bahagia ya hidup sama aku dengan keadaan kayak gini."


Leo menepuk sisi tempat tidur yang kosong dan menyuruhku duduk disampingnya. Walau hanya dalam bahasa isyarat, aku tahu apa yang dia maksud.


Aku mendekati Leo dan duduk disampingnya. Leo menepuk lagi pahanya. Pertanda Ia mau aku tiduran di pangkuannya.


Aku menaruh kepalaku di pangkuan Leo. Leo lalu mengusap lembut rambutku.


"Saat ini yang bisa aku katakan hanya maaf. Jangan terlalu berpikir buruk tentang aku dan apa yang aku lakukan. Kalau kamu berada di posisi aku, kamu mungkin akan melakukan apa yang aku lakukan." kata Leo dengan suaranya yang lembut dan menenangkan.


"Maksud kamu apa?" aku memang nggak ngerti apa maksudnya Leo. Kalau ada Duo Julid pasti aku dikatain oon lagi deh.


"Udahlah enggak penting. Jaga kesehatan ya, makan yang bener. Aku nggak mau kamu sampai sakit. Percayalah, aku sayang kalian berdua."


Bukan emas permata yang diberikan. Bukan juga kemewahan yang dijanjikan. Cuma kata sayang yang tulus yang Leo ucapkan itu sudah membuat hatiku merasa hangat.


Tanpa kusadari ada setetes air mata yang berhasil lolos dari pelupuk mataku. Campuran antara air mata bahagia dengan air mata haru.


Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Aku hanya bisa mengangguk mengamini perkataan yang Leo ucapkan.


"Sudah larut malam. Ayo kita tidur. Aku ngantuk nih. Badanku pada sakit semua." keluh Leo.


Dan sesi romantis pun bubar. Aku mengangkat kepalaku dan menyadarkannya di atas bantal. Leo menutup hari ini dengan mematikan lampu dan tak lama kemudian suara dengkuran halusnya pun terdengar.


*****


"Kamu mau masak apa May?" tanya Bu Sri saat kami sedang belanja di Mbak Sari Tukang Sayut.


"Hmm... Enggak tau Bu. Khasanah memasak Maya masih dikit. Jadi paling Maya masaknya itu-itu aja." jawabku jujur sambil melihat-lihat ikan yang terlihat segar itu.


"Memang Si Mokon- maksudnya Leo enggak pernah protes kamu masaknya enggak ganti-ganti apa?" tanya Bu Sri kepo akut seperti biasanya.


"Sejauh ini sih enggak ya Bu. Mungkin Leo sadar kalau Maya enggak jago masak. Leo, Bu. Bukan Mokondo!" omelku.


"Ih Maya ngomongnya jorok. Siapa yang ngajarin tuh? Pasti Ibu-Ibu super pengalaman kayak Bu Sri dan Bu Jojo deh." celetuk Mbak Sari saat mendengar perkataanku.


"Jorok apaan sih Mbak Sari? Kan itu artinya Modal Konci Doang. Memangnya jorok dimana?" tanyaku dengan polosnya.


"Ealah... Nih anak masih polos Buibu. Kalian ngajarin istilah netijen yang Dia enggak ngerti. Sini saya kasih tau artinya." Mbak Sari lalu membisikkan sesuatu ke telingaku.


Mulutku langsung terbuka mendengar arti sebenarnya dari Mokondo tersebut. Aku langsung berteriak : "Ibu Sri! Bu Jojo! Leo tuh enggak modal kon-"


Bu Sri membekap mulutku agar aku tidak melanjutkan kata-kataku selanjutnya. Di sisi lain Mbak Sari dan Bu Jojo tertawa terbahak-bahak melihat ulahku.


Setelah aku lebih tenang Bu Sri melepaskan tangannya. "Santai cuy... santai... " kata Bu Sri sok gaul.


"Cay...cuy....cay...cuy.... Awas ya panggil Leo Mokondo lagi!" omelku.


"Cie... Dia marah! Tumben belain lakinya." celetuk Bu Jojo.


"Iyalah. Kan aku sayang sama Leo." kataku dengan bangganya.

__ADS_1


"Udah makan tempe aja kamu, May. Masih kecil udah ngomong sayang. Prett ah." celetuk Bu Sri yang langsung disambut dengan tawa semuanya.


__ADS_2