
Aku melahap nasi dengan dua buah ayam fried chicken lengkap dengan kentang goreng. Menu super banyak untuk mengganjal isi tangkiku yang kosong melompong.
Enggak ada kan orang ngomongin rujuk sambil makan ayam dan makannya kayak orang kelaperan?
Nyatanya ada. Dan aku orangnya.
Saat Leo bertanya mau makan apa aku langsung menyebutkan nasi, ayam 2, kentang dan fanta float.
Leo yang terbiasa dengan porsi makanku biasa saja melihatku makan dengan lahap. Justru malah buat Leo makin laper kalau liat aku makan juga.
Tetep ya Leo mengelap hidungku yang keringetan kalau makan. Aku memilih satu ayam spicy dan satu lagi yang original.
"Pelan-pelan May makannya. Laper banget sih!" Leo mulai makan lagi setelah mengelap hidungku.
"Laper banget. Habis naik-naik ke atas rak cuma buat nyari jejak tikus, belum lagi meriksa kolong rak. Huft.... Biasanya udah nonton berita nih di rumah!"
"Yaudah jadinya kalau kita rujuk lagi kamu maunya di rumah aja?"
Aku langsung menggelengkan kepalaku. "Aku masih mau kerja. Masih mau ketemu banyak orang. Masih mau bergaul dan menikmati nyari uang sendiri. Bolehkan?"
Leo tersenyum. "Boleh. Asal jangan main mata aja ya nanti!"
"Iya tenang aja Bos!"
"Lalu kapan aku harus ke rumah kamu nih untuk minta restu sama Bapak kamu? Dulu kita diusir, kalau sekarang aku bisa keluar hidup-hidup enggak ya dari rumah kamu?" mata Leo menerawang jauh. Banyak yang Ia pikirkan.
"Enggak tau. Aku males mikirinnya. Kita kayak gini aja dulu. Pelan-pelan minta restunya. Mulai dari Kak Rian dulu yang gampang lalu Ibu. Mereka berdua sekutu aku soalnya. Kalau Kak Anton nanti saja bareng sama Bapak." kataku sambil mengunyah tulang kering di dada ayam yang menjadi kesukaanku.
"Aku cuci tangan dulu." Leo lalu meninggalkanku yang masih saja menikmati banyak makanan di depanku. Tak mau buru-buru cuci tangan, masih mau ngemil.
"Udah?" tanyaku begitu Leo datang. Tangannya pasti sudah dikeringkan, seperti kebiasaannya.
"Udah. Kamu mau cuci tangan dulu?"
Aku menggelengkan kepalaku. "Masih mau ngemil."
Lagi-lagi Leo tersenyum. "Cuma kamu ya yang enggak pernah jaim makan banyak di depan cowok. Cewek lain mana bisa begini? Alesannya lagi diet lah, enggak biasa makan malam lah, sampe alasan enggak makan junk food."
"Iyalah. Ngapain jaim? Kalau cowok bener-bener mencintai cewek dengan tulus pasti akan menerima cewek tersebut apa adanya." jawabku sambil mengunyah kentang goreng.
"Berarti aku cinta dong sama kamu?"
"Iyalah. Coba aja berani enggak cinta sama aku! Ntar aku pites!"
"Hahaha... Bisa-bisanya ya kita becanda dan ketawa seperti ini. Padahal rintangan di depan mata loh. Cobaan kita masih panjang dan terjal tentunya." Leo mulai tersenyum sinis. Meratapi nasib cinta kami kelak.
"Ya terus mau gimana? Mau buat aku bunting lagi kayak dulu gitu?"
"Emangnya kamu mau?" Leo memainkan sebelah alisnya.
"Ogah!"
"Ha...ha...ha... Makanya jangan mancing orang!"
"Siapa yang mancing yey... ge er! Aku cuci tangan dulu." aku lalu meninggalkan Leo menuju washtafel dan mencuci tanganku.
Saat aku kembali ke tempat duduk kami Leo terlihat sedang melamun. Pasti banyak yang Ia pikirkan. Kelihatannya saja Ia baik-baik dan tenang padahal aku tahu kalau hatinya gundah dan pikirannya pasti mumet.
"Udah nggak usah dipikirin. Dijalanin aja. Kalau kita niatnya baik, Tuhan pasti akan merestui." kataku sambil menepuk pelan bahu Leo.
"Justru aku tuh mau langsung beraksi aja. Jadi nggak kebanyakan pikiran. Aku kan pengen tahu reaksi Bapak kamu itu seperti apa. Ibaratnya, kalau mau nonjokin aku ya udah biar kelar gitu yang penting masalahnya selesai. Ini kalau nunggu kayak gini sih aku malah makin deg-degan."
"Ya sabar. Kamu nggak ingat, waktu dulu kita dengan gagah berani meminta restu sama Bapak? Kita justru malah diusir kan? Harusnya waktu itu kita pelan-pelan, mungkin agak lama tapi bisa berjalan mulus. Iya kan?"
Aku bukan berusaha sok bijak. Cuma aku belajar dari pengalaman masa lalu. Dan kemarin Kak Rian sempat mewanti-wanti aku agar jangan gagah dalam bertindak.
"Kak Rian bilang menghadapi Bapak itu perlu strategi. Perlu pikiran yang tenang dan terbuka. Enggak bisa langsung ditembak begitu aja, datang ke rumah ujug-ujug minta nikah. Yang ada malah makin emosi Bapak nanti."
"Jadi aku ke Kak Rian dulu nih?"
"Iyalah." jawabku dengan yakin tanpa dipikir dahulu.
__ADS_1
"Pasti Kak Rian akan marah nih sama aku. Aduh kalau mukaku sampai bonyok harus beralasan apa ya sama Pak Johan? Mana aku masih belum bisa nih membongkar identitas aku sekarang. Pelaku yang Papa cari masih belum ketemu."
"Yaudah sih santai aja. Kamu tuh jangan terlalu tertekan kayak gitu kenapa sih! Kita hadapi bersama. Aku juga akan selalu ada di sisi kamu. Jangan sampai stres ya!" aku menepuk pelan tangan Leo yang terletak di atas meja memberinya sedikit kekuatan.
"Baiklah. Selama kamu masih ada di sisi aku, aku akan hadapi semuanya. Aku nggak akan menyerah untuk mempersatukan cinta kita lagi. Dan, perjuangan untuk menyataukan cinta kita tuh susah, jadi aku nggak akan pernah merusak rumah tangga kita lagi nantinya."
Aku tersenyum mendengar janji Leo. Semoga janji bukan hanya sekedar janji dan Ia akan menepati semua perkataannya.
Aku pun berharap perceraian kami yang kemarin adalah perceraian yang terakhir. Takkan ada yang bisa memisahkan cinta kami lagi.
"Pulang yuk! Udah malam nih. Besok kan harus masuk kerja lagi."
"Ayo." Leo mengulurkan tangannya dan langsung aku sambut dengan menggenggam erat tangannya seraya mengayun-ayunkan tangan kami yang saling berpegangan erat. Mata kami saling bertaut dengan wajah saling tersenyum.
Namun senyum di wajahku mendadak hilang ketika dari kejauhan aku melihat seseorang yang aku kenal.
Aku yakin kalau aku tidak salah melihatnya. Wajah itu akan selalu aku ingat selamanya.
Laki-laki dengan setelan jas yang terlihat mahal itu sedang berdiri di depan counter parfum yang lumayan terkenal.
"Tunggu sebentar!" aku menarik tangan Leo berjalan mendekati laki-laki tersebut. Rasa penasaranku semakin memuncak, aku yakin kalau aku tidak akan salah lihat.
"Siapa sih?" tanya Leo penasaran.
Aku tidak menjawab pertanyaan Leo. Aku masih mengamati laki-laki tersebut.
Laki-laki dengan rambut yang sebagian sudah memutih itu sedang tersenyum eh bukan tersenyum lagi deh melainkan tertawa lebar seraya matanya menatap penuh menggoda ke wanita yang berdiri di depannya.
Wanita di depannya sedang mencoba beberapa parfum sambil mengulurkan tangannya yang sudah disemprot parfum ke pria tua itu.
Tidak ada yang menduga kalau Ia adalah tipikal laki-laki yang yang berbeda di luar rumah. Di rumah mungkin kelihatan berwibawa dan di hormati. Namun ternyata, saat di luar rumah tak lebih dari sekadar om-om yang mencari kesenangan dari anak berusia ABG.
Ya, laki-laki tersebut adalah papanya Angga. Laki-laki yang amat dibanggakan oleh Mamanya Angga yang culas tersebut.
Kalau dilihat dari sikapnya yang centil saat menyalamiku kayaknya aku nggak terlalu kaget deh. Tapi kalau mendengar cerita dari Mamanya Angga yang amat membanggakan suaminya dengan begitu hebatnya, aku masih nggak percaya.
"Papanya Angga." Aku melihat raut muka Leo berubah. Ah Maya bodoh! Kenapa nyebut nama Angga lagi sih!
Aku mengeluarkan handphoneku dan membidik gambar Papanya Angga yang sedang merangkul gadis ABG di sampingnya.
"Terus kamu mau ngapain?" tanya Leo yang kini wajahnya sudah tidak semarah tadi.
Aku membuka aplikasi Whats App dan mengirimkan gambar tersebut ke Bu sri dan Bu Jojo dengan judul 'Hot Gossip'.
"Kamu ngirimin gambar tadi ke Bu Sri dan Bu Jojo? Hati-hati May! Itu bisa jadi pelanggaran. Kamu bisa dituntut loh!" omel Leo.
"Udah tenang aja. Aku nggak takut kok. Aku harus ngasih pelajaran sama Mamanya Angga yang udah seenaknya aja ngomong kayak begitu tentang Adam." Aku memasukkan handphoneku ke dalam tas lalu menggandeng tangan Leo. Kami lalu berjalan menuju parkiran motor.
"Memang Mamanya Angga ngomong apa tentang Adam? Pasti bukan hal yang baik karena kamu sampai nekat berbuat seperti itu!" tebak Leo.
"Iyalah!"
"Bilang apa?" tanya Leo masih penasaran.
Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan kesal. Setiap mengingat perkataan Mamanya Angg membuatku semakin kesal dan kesal saja.
"Katanya aku beruntung Adam meninggal jadi aku bisa kuliah lagi dan melanjutkan hidupku. Gimana enggak kesel coba aku digituin?"
"Punya hak apa dia ngomong kayak gitu? Aku enggak terima anakku meninggal kok harus disyukuri? Sini Hp kamu!"
Aku agak bingung Leo mau berbuat apa tapi aku berikan saja padanya. Leo seperti mengetik sesuatu setelah selesai lalu mengembalikannya padaku. "Nih."
Aku memegang Hp dan langsung mencari tau apa yang Leo lakukan. Ternyata Leo mengirimkan pesan ke Bu Sri seperti ini :
...Sebarin aja Bu fotonya ke group ibu-ibu aerobik, arisan, pokoknya sebarin. Kalau ibu kena masalah hukum biar saya yang urus. Leo. ...
"Hah? Gila ya kamu! Tadi aku kamu omelin sekarang malah kamu nyuruh Bu Sri buat nyebarin tuh foto, gimana sih?" kataku sambil geleng-geleng kepala.
"Biarin aja. Enggak tau dia siapa Papanya Adam. Udah ayo pulang, udah malam."
Aku masih enggak habis pikir dengan jalan pikiran Leo. Biarlah! Akhirnya rasa kesalku bisa tersalurkan.
__ADS_1
Aku melihat jam di tangan kiriku. Menunjukkan pukul 9 malam. Jalanan sudah mulai sepi. Perjalanan kami masih jauh.
"Mau pakai jaket aku? Kamu cuma pake blazer aja takut kedinginan?!" kata Leo sambil memakaikanku helm.
"Enggak usah. Nanti kamu yang masuk angin kalau enggak pakai jaket. Aku kan di belakang jadi enggak terlalu dingin." tolakku.
Leo naik ke atas motor, aku pun mengikuti. Ia menyalakan mesin motornya.
"Yaudah kalau enggak mau pakai jaket. Tapi harus kayak gini ya sepanjang jalan." Leo menarik tanganku agar aku memeluk tubuhnya.
Aku hanya bisa pasrah, eh bukan pasrah deh melainkan sukarela he...he...he...
Beneran ya udah lama banget enggak meluk Leo dan sekarang bisa meluk Leo tuh rasanya nyaamaaaaaaannnn banget.
Aku bahkan harus menjaga mataku agar tetap terjaga saking nyamannya bawaannya mau meremin mata terus. Aku harus tahan, kalau aku ketiduran bisa seger mataku nanti di rumah.
Perjalanan pulang lebih cepat, mungkin karena jalanan lebih lengang. Jalan Raya Kalimalang yang biasanya crowded juga sudah mulai kosong.
Leo tancap gas agar kami cepat sampai rumah. Kasihan pasti Ia juga capek ditambah perjalanan kami lumayan jauh.
Akhirnya kami sampai di rumah kontrakkanku. Leo mengantarku sampai depan pintu.
Ia menungguku membuka pintu lalu pamit pulang setelah mengusap lembut pucuk kepalaku.
"Aku pulang ya." pamit Leo.
"Iya. Hati-hati di jalan." kataku sambil melambaikan tangan. Memperhatikannya sampai Ia sudah tak terlihat lagi.
Huft... Kalau kami masih suami istri pasti Leo enggak usah capek bolak balik. Kasihan sudah malam. Mau nguyuh nginep nanti bisa digrebek. Ah sudahlah lebih baik aku masuk ke dalam. Baru saja hendak masuk ke dalam eh ada yang menyapaku.
"Udah pulang May? Itu siapa? Pacar baru?" tanya Pak Somat tetanggaku yang matanya suka jelalatan kalau aku lewat.
"Eh, iya Pak. Itu calon suami aku. Saya masuk dulu ya Pak." aku langsung masuk ke dalam tanpa menunggu jawaban Pak Somat.
Walaupun aku seorang janda tapi aku sebisa mungkin menjaga kehormatanku sebagai seorang wanita. Aku sadar menyandang status janda pasti akan membuat posisiku tidak nyaman.
Banyak istri-istri di luar sana akan khawatir jika ada janda cantik yang tinggal di sekeliling mereka. Termasuk istrinya Pak Somat tadi. Beberapa kali aku menangkap pandangan tidak suka yang dialamatkan padaku.
Jadi janda itu enggak salah. Yang salah adalah laki-laki yang suka kecentilan ngegodain janda dengan berharap kalau si janda mau dijadiin istri kedua.
Kalau tidak ke kantor sebisa mungkin aku mengurung diri di dalam rumah. Sesekali keluar kalau menyapu teras dan mengepelnya. Sisanya ya di rumah aja.
Tujuannya apa lagi selain menghindari fitnah. Hanya Bu Sri dan Bu Jojo saja yang suka mengunjungiku.
Aku baru saja selesai mandi. Baru menaruh handuk basah bekas kupakai di jemuran yang kebetulan ada di belakang rumah.
Aku mengambil Hp dan mulai membaca pesan masuk.
Kak Rian : Bagaimana Leo? Cepat suruh dia ketemu kakak!
Serem banget satpam aku yang satu itu.
Ibu : Jangan lupa makan ya May. Inget jangan sampai kejadian dulu terulang lagi. Harus bisa jaga diri ya.
Aku tersenyum membaca pesan Ibu. Pasti tentang Leo deh.
Sebuah notif pesan masuk berbunyi.
Leo : Mama Adam Sayang, Papa Adam udah sampai rumah ya. Istirahat yang nyenyak besok pagi Papa Adam jemput di depan rumah ya. Love you.
Aku senyum-senyum sendiri membaca pesan Leo. Ya ampun padahal dulu pacaran enggak begini loh!
****
Hi Semua....
Gimana puasanya lancar?
Kita jangan kebanyakan adegan ehem ehem ya takut gangguin kalian yang lagi puasa.
Sekali lagi selamat menjalankan ibadah puasa 😁
__ADS_1