
"Ini satenya enggak ada tusukannya May?" tanya Bu Sri sambil mengangkat wadah steak dan mencari dimana tusukan sate yang Ia maksud.
Aku hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan guru besarku tersebut.
"Bu, itu steak namanya. Bukan sate. Beda." kataku menjelaskan.
"Ah sama aja May. Dibakar juga. Sama aja kayak sate sapi." Ia mengangkat steaknya dan langsunh menggigitnya dengan giginya.
"Bu, makannya pake pisau dan garpu atuh. Jangan main geragot aja!" aku mengambilkan satu set pisau dan garpu yang disediakan dari restoran dan memberikannya pada Bu Sri. "Nih. Dipotong kecil-kecil dulu baru makan."
Aku menyuapi Bu Sri steak yang sudah kupotong kecil, melumurinya sedikit dengan sausnya dan memberikannya pada Bu Sri.
"Hmm... Enak May. Dagingnya empuk. Padahal kalau saya masak rendang aja bisa lebih dari dua jam dagingnya enggak empuk-empuk juga. Malah bisa bikin gigi patah kalau pakai daging kerbau." Bu Sri mengambil garpu dan pisau yang aku pegang dan makan steaknya sendiri.
"Ya beda Bu dagingnya. Ini import. Yang sapinya aja harus dipijit dulu supaya dagingnya lebih empuk. Nanti bawain buat Bu Jojo ya, Bu." aku menaruh steak buat Bu Jojo di samping Bu Sri.
"Kok bisa ya May steak bikin kenyang begini? Padahal enggak pake nasi cuma kentang seupret gini doang sama sayuran tapi saya kenyang loh. Makan rendang aja saya pake nasi baru nampol." ujar Bu Sri yang sudah hampir menghabiskan steak miliknya.
"Iya kan yang Ibu makan dagingnya aja bisa 250 gram Bu. Banyak itu. Makanya cepet kenyang. Bu Jojo sakit apaan sih Bu?"
"Meriang. Kemarin pas aerobic kena gerimis dikit eh langsung deh meriang. Baru kena gerimis aja udah begitu apalagi kena salju dia!" ledek Bu Sri.
"Kasihan bener. Kita jenguk apa enggak nih?"
"Enggak usah May. Paling abis kerokan juga udah sehat dia."
"Yaudah kalau kayak gitu. Bu, Maya hari sabtu besok mau diajak ke rumah Leo."
"Kamu mau ke rumah Leo? Akhirnya kamu dikenalkan juga May sama keluargnya Leo. Saya boleh ikut enggak? Mau dong ikut main ke rumah gedongan." mata Bu Sri berbinar-binar membayangkan akan ke rumah Leo.
Namun aku langsung membuyarkan lamunan indah Bu Sri. Bisa gawat kalau emak-emak bocor macam Bu Sri diajak saat perkenalan pertamaku ke rumah Leo.
Bisa dibayangkan Papanya Leo yang seleranya agak tinggi itu akan memandangku dengan sebelah mata. Semua rencana indah yang kususun dengan Leo pasti akan berantakan.
"Jangan dulu ya Bu Sri cantik. Nanti saja. Maya aja belum tau nanti disana kayak gimana? Ibu bantuin Maya buat persiapannya aja gimana?" aku teringat pesan Leo untuk membawakan cemilan jajanan pasar untuk Papanya.
"Persiapan apaan?" tanya Bu Sri yang kini sedanh ngemil kacang goreng yang Ibu bekalkan untuk cemilanku di kantor.
"Maya mau bawain jajanan pasar buat Papanya Leo. Disini ada yang suka buatin jajanan pasar enggak sih Bu? Yang rasanya enak pastinya."
Bu Sri terlihat berpikir sejenak. "Jajanan pasar yang enak ya.... hmm... Kalau Kue **** gimana?"
"Kue ****?" tanyaku bingung. Kue apalagi ini.
"Iya. Si Mpok Jum yang di RT 11 jago tuh buat Kue Pe pe. Kalau kamu enggak kenal namanya kue lapis. Yang bikinnya dikukus sambil dituang selembar demi selembar."
"Oh itu Maya mah tau. Enak emangnya Kue Pe pe buatan Mpok Jum?"
"Enak May. Wangi daun jeruknya berasa banget kan dia nanem pohon jeruk depan rumahnya. Tinggal metik doang. Rasa manisnya asli pakai gula bukan pake pemanis buatan. Terus ya orangnya telaten jadi motid Kue Pepenya bagus warna warni. Kalo ada yang mau hantaran buat ngelamar biasanya pesan di Mpok Jum tuh." jagi bener Bu Sri promosinya kayak S3 Marketing aja.
"Kayaknya enak Bu. Mau dong! Pesenin ya Bu. Nanti Maya kasih uangnya."
"Siap. Nanti saya pesen langsung sama Mpok Jum. Dijamin keluarga Leo suka deh. Sekalian pesen yang lain enggak?"
"Memang ada apa aja?"
"Yang enak sih ya Kue Pe pe sama Kue Talam. Kue talamnya yang pandan, soalnya Mpok Jum juga nanem pandan di depan rumahnya jadi pandannya asli."
"Itu depan rumahnya Mpok Jum ada lahan pertanian ya? Semuanya ditanem. Kalau pesen nastar, nanasnya juga ditanem depan rumah Bu?" ledekku sambil tertawa cekikikan.
"Ya enggaklah. Mpok Jum rajin bercocok tanam. Yang ditanam tuh daun pandan, pohon jeruk, daun suji sama daun sirih. Itung-itung menghemat biaya karena dia kalau bikin kue enggak pakai pewarna buatan. Asli."
__ADS_1
"Yaudah pesenin sekalian Bu kue talamnya. 50 biji aja. Jangan kebanyakan juga."
"Siap, May."
Urusan jajanan pasar sudah diserahkan pada ahlinya. Tinggal menunggu hari sabtu tiba. Rasanya tak sabar mau bertemu calon mertua eh maksudnya mantan mertua.
Leo setiap hari selalu langsung pulang setelah mengantarkanku ke kontrakkan. Leo beralasan sekarang jam kerjanya berubah. Biasanya pagi karena Pak Johan terus memperhatikannya jadi Ia rubah menjadi sore hari.
Untuk menyiasati kecurigaan Pak Johan, Leo mengirimkan email dengan di setting dulu jamnya, agar terkesan Ia mengerjakan saat jam kantor.
Lama kelamaan Pak Johan mulai tidak mencurigainya lagi. Pak Johan beres, selanjutnya Papanya Leo.
Sabtu pagi Bu Sri sudah mengantarkan pesananku. Ia bilang dikasih lebihan sama Mpok Jum karena bantu melariskan dagangannya. Bu Sri membagi sedikit padaku.
Ternyata benar apa yang Bu Sri katakan. Rasanya enak. Asli tanpa pemanis dan pewarna buatan. Mirip dengan yang di rumah Ibu. Ah jadi kangen Ibu.
Aku pun telepon Ibu. Aku meminta doa Ibu karena hari ini aku akan bertemu keluarga Leo. Ibu bilang kalau doa darinya selalu terucap untuk kebahagiaanku.
Rupanya Kak Rian sudah menceritakan semuanya sama Ibu. Kalau Kak Rian setuju, Ibu sih setuju saja. Mereka kan memang kayak anak kembar.
Doa dari Ibu sudah tinggal menunggu kesatria ber-Aerox datang. Aku mengenakan blouse tangan panjang dan celana bahan. Agak mirip busana kerja sih, karena aku ingin terlihat sopan saja saat bertemu keluarga Leo.
Richard sejak tadi sudah beberapa kali mengirimiku pesan menanyakan kapan aku akan datang. Ia tak sabar mau ngadain barbequean denganku.
Inilah asyiknya punya calon kakak ipar yang ternyata asyik. Andai dulu kami sudah saling mengenal maka aku mungkin bisa membuat hubungan Leo dan keluarganya makin erat.
Terdengar suara ketukan di pintu rumah. Aku berjalan mendekat dan kulihat Leo sudah datang. Ia memakai kaos warna merah dengan celana jeans.
"Eh Oppa ganteng udah dateng. Masuk dulu. Oh iya, mana motor kamu? Kok enggak kedengeran suaranya?" aku celingukan mencari keberadaan motor milik Leo.
"Aku bawa mobil Richard. Dia yang nyuruh. Udah enggak sabar mau menyambut kamu di rumah. Tapi aku mau ke toilet dulu ya May. Dari tadi kebelet pipis."
Leo lalu masuk ke dalam toilet. Aku merapihkan apa yang mau aku bawa. Kue-kue kumasukkan dalam paper bag agar terlihat lebih bagus.
Sambil menunggu Leo aku merapihkan tempat tidurku sedikit dan mematikan TV. Tak lama Leo keluar kamar mandi.
"Udah siap?" tanya Leo.
"Udah. Tapi aku takut nih." biar bagaimanapun aku kan akan bertemu dengan Dibyo Kusumadewa. Bertemu sebagai bos saja aku deg-degan apalagi sebagai calon menantu?
Leo memegang tanganku yang terasa dingin. Lalu menarikku ke pelukannya. Ah rasanya tentram dan damai berada di pelukan Leo.
Perlahan kecemasanku menghilang. Berganti dengan degupan jantungku yang semakin kencang saja. Sepertinya Leo juga merasakan hal yang sama karena aku juga mendengar detak jantungnya yang tak kalah kencang dibanding degupan jantungku.
"Ada aku. Kamu enggak usah khawatir ya. Kita hadepin semuanya bersama-sama. Dan.... hmm... sebaiknya kita segera berangkat sebelum aku khilaf lagi kayak dulu." kata Leo dengan malu-malu.
Tuh kan Leo juga sama kayak aku. Tenang... Kami harus menahan diri. Enggak boleh terulang lagi kesalahan yang dulu.
"Iya. Aku rasa kita harus berangkat sekarang." kataku tak bisa menyembunyikan kegugupanku saat ini.
Baru saja melangkah eh Leo menarik tanganku dan bibirnya mencium lembut bibirku. Ia langsung melepaskan ciumannya. Hanya beberapa detik. Ciuman yang super kilat namun mampu membuat debaran jantungku berdetak makin kencang.
"Buat DP." ujar Leo sambil tersenyum. "Ayo." Leo kini menarik tanganku yang masih diam terpaku.
Ya ampun... Itu cuma ciuman kilat, kami bahkan pernah melakukan yang lebih dari itu tapi entah mengapa ciuman ini justru membuat jantung mau keluar dari tempatnya?
Aku dan Leo berangkat dengan hati berbunga-bunga. Tanpa terasa kami sampai di rumah Leo.
Melihat rumah mewah bercat putih itu langsung membuat rasa grogi datang lagi dan kembali menguasaiku. Aku akan bertemu langsung dengan seorang Dibyo Kusumadewa yang terkenal itu sebagai calon menantunya.
Leo memarkirkan mobilnya di tempat biasa Richard parkir. Aku turun dari mobil dan menatap ke sekeliling rumah Leo.
__ADS_1
Bukan pertama kalinya aku kesini namun tetap saja aku masih tak percaya kalau Leo-ku adalah seorang Kusumadewa. Rumah ini terlalu mewah dan besar. Cocok kalau punya anak banyak.
Aku tiba-tiba berkhayal ada banyak anak-anak disini. Berlarian dan tertawa-tawa. Pintu gerbang dikunci agar tak ada yang kabur ke jalanan. Aku dan Leo hanya mengawasi anak-anak kami sambil saling suap-suapan makanan. Ah... Indah sekali khayalanku ini.
"May! Ayo masuk! Malah melamun disini." perkataan Leo membuyarkan lamunan indahku.
"Oh iya." Aku pun mengikuti Leo masuk ke dalam rumahnya.
"Adinda!" teriak Richard yang sedang menuruni tangga dengan cara yang tak biasa. Ia bermain prosotan di pegangan tangga bak anak kecil.
Aku hanya geleng-geleng kepala melihat ulahnya. "Awas jatuh Kakanda!" kataku memperingatkan.
"Dia mah udah biasa kayak gitu May. Udah beberapa kali Papa renov tuh pegangan gara-gara ulahnya dia. Liat aja kelakuannya kayak cheetah." ujar Leo sambil menggelengkan kepalanya.
"Kamu main lagi kesini. Kakanda seneng deh. Kita ke kolam renang yuk. Udah disiapin tempat barbequenya nanti di dekat kolam renang." Richard hendak menarik tanganku namun Leo malah memukul tangannya pelan.
"Bawain dulu nih barang bawaan Maya. Papa mana?" Leo menyerahkan kue yang kubawa langsung ke tangan Richard tanpa meminta persetujuan Richard terlebih dahulu.
"Bawa apaan sih kamu sampai banyak begini?" Richard membuka plastik pembungkus dan mencium kue yang harum daun jeruk. "Mmm... Kayaknya enak nih. Kamu tau aja aku suka Kue Lapis, May."
"Bukan buat kamu! Buat Papa. Ditanya juga dari tadi, Papa mana?" tanya Leo sambil celingukan mencaro keberadaan Papanya.
"Masih di kamarnya. Tadi habis main PS terus lagi ngumpetin PS kesayangannya di kamar. Takut ketahuan Mama. Malu katanya kalau sampai ketahuan." Richard membawa kue dariku dan menaruhnya di meja makan.
"Aku panggil Papa dulu ya." Leo lalu ke kamar Papanya sementara aku menunggu sambil ditemani Richard.
"Mama kamu mana?" tanyaku pada mantan Kakak iparku tersebut.
"Belum datang. Telat kayaknya. Tadi sih bilang habis arisan baru kesini." jawab Richard santao. "Enggak usah tegang begitu. Papa sama Mama sekarang baik kok, enggak semenyeramkan dulu. Leo ada andil didalamnya dalam merubah sikap kami yang sudah keterlaluan terhadapnya. Ke belakang yuk. Kita duduk di gazebo."
Aku menurut saja apa kata Richard. Di belakang sudah lengkap perlengkapan barbeque. Ada makanan dan minuman juga. Padahal yang barbeque hanya 5 orang saja tapi persiapannya kayak ada satu RT aja yang hadir.
Richard menepuk tempat duduk kosong di Gazebo tepat di sampingnya. "Sini Duduk!"
Aku berjalan mendekati Richard dan duduk disampingnya. Kolam renangnya seperti habis dibersihkan, warnanya masih sangat jernih.
"Gimana sama Lidya? Ada kemajuan apa nggak?" tanyaku memulai topik pembicaraan baru.
"Masih seperti dulu. Aku cuma dianggap sebelah mata aja sama Lidya. Orang yang disukai Lidya itu adalah Leo, bukan aku. Aku kayaknya enggak ada kesempatan deh sama Lidya." Richard langsung berubah menjadi sosok yang serius. Tak ada lagi tawa canda dalam ucapannya.
Aku melihat kesedihan dalam sorot mata Richard. Meskipun Ia menyembunyikan lewat tawanya, aku tahu betapa Ia sedang patah hati saat ini. Richard amat mencintai Lidiya. Hanya Lidya seorang. Namun sepertinya Lidya tidak pernah meliriknya.
"Kamu nggak mau kenal sama cewek lain dulu? Siapa tahu kamu bisa suka sama cewek lain dan akhirnya merupakan Lidya gitu? Apa mau aku kenalin sama temen aku? Namanya Adel, mau enggak?" lagi-lagi aku mempromosikan Adel.
"Enggak usah. Kamu belum tahu ya kalau laki-laki di keluarga Kusumadewa itu punya kutukan. Sekali menyukai perempuan maka Ia akan terus menyukainya seumur hidup. Sama seperti papa yang tetap mencintai Mama, dan Leo yang tetap mencintai kamu. Aku juga merasakan hal yang sama karena di hati aku cuma ada Lidya seorang."
"Masa sih? Aku nggak percaya. Kamu nya kecentilan gitu tapi ngakunya cuma cinta sama Lidya. Nyebelin tau gak."
"Ini tuh namanya poker face May. Jangan sampai kelihatan sama Lidya kalau aku suka sama dia."
"Yah beraninya main kode-kodean. Cewek itu kadang nggak peka makanya langsung ngomong. Kalau perlu langsung lamar. Jangan ngamar ya tapi langsung lamar!" ledekku sambil tertawa-tawa.
"Lagi bahas apa nih? Seru banget kayaknya."
Deg... Dibyo Kusumadewa muncul!
****
Ayo mana nih votenya kok enggak muncul-muncul lagi??? 😁😁😁
note: Kue pe pe adalah salah satu kue khas betawi, nama lain adalah kue lapis. maaf kalau kena sensor 🙏
__ADS_1