
Wajah Leo menyiratkan kebahagiaan yang teramat besar. Bahkan matanya pun berkaca-kaca saking terharunya.
Rasanya aku mau berlari ke pelukan Leo. Mau merayakan kebahagiaan hari ini. Merayakan restu yang akhirnya kami dapatkan. Tapi menjaga nama baik Bapak aku urung melakukannya dan hanya bisa tersenyum bahagia.
Berbeda denganku yang berbahagia, wajah Angga tampak mengeras. Seakan tak terima dengan kekalahannya.
Sebelas dua belas dengan Angga, Papanya pun langsung mengajukan protes.
"Apa kamu menerima lamaran Leo karena hubungan pertemanan kamu dengan Dibyo?" tanya Papanya Angga setelah pertanyaannya yang pertama tak dijawab oleh Bapak.
Sepertinya Bapak merasa harus menjawab kenapa Ia lebih memilih Leo dibanding Angga.
"Maaf kalau keputusan yang saya buat tidak bisa memuaskan semua pihak. Saya tahu apapun keputusan yang saya buat akan menyakiti salah satu diantara kedua keluarga ini,"
Bapak mengedarkan pandangannya dan tersenyum ke arahku yang sedang tersenyum bahagia karena tak jadi menikah dengan Angga.
"Bisa kalian lihat? Wajah putri saya satu-satunya saat ini tersenyum bahagia. Semoga keputusan saya tepat dengan merestui pilihannya."
"Bukankah Maya pernah disakiti Leo? Bagaimana kalau Leo menyakiti Maya lagi?!" sindir Papanya Angga.
"Bapak Broto tau kenapa saya memilih Leo dibanding Angga? Karena jawaban yang Angga berikan membuat saya takut. Saya bertanya sebelum Dibyo datang jadi ini keputusan saya tanpa memandang siapa Dibyo." balas Bapak.
"Apa yang salah dengan jawaban Angga? Dia memiliki keyakinan kok kalau Ia bisa diterima lamarannya. Berarti Ia yakin kalau dirinya lebih segala-galanya dibanding Leo?!" Papanya Angga tampak mulai emosi. Mungkin ini saatnya Richard pasang kuda-kuda jika sampai terjadi baku hantam.
"Itulah yang membuat saya menolak lamarannya." jawab Bapak tegas.
Sontak semua mata menatap Bapak. Semua penasaran dengan alasan Bapak.
"Jawaban Angga kalau Ia akan membahagiakan Maya yang membuatnya salah. Artinya Angga akan melakukan apapun agar Maya bahagia. Iya kalau memang Maya bahagia, kalau hanya sekedar obsesi Angga untuk menunjukkan pada semua orang kalau Ia bisa memberi kesan kalau Maya bahagia padahal sebenarnya hanya topeng atas semua ambisinya bagaimana? Anak saya bukan benda, namun buah hati saya yang paling berharga,"
"Jawaban Leo berbeda dengan jawaban Angga. Leo mengatakan kalau memang Maya lebih bahagia bersama Angga maka Ia akan merelakan Maya. Artinya adalah Ia tidak akan memaksakan kehendaknya hanya agar Maya bahagia. Ia menghargai pendapat Maya. Walaupun terkesan pasrah namun sebenarnya Leo sangat sayang dan mengutamakan kebahagiaan Maya,"
Aku mengerti maksud Bapak. Ia ternyata mau tahu siapa yang benar-benar menyayangi anaknya. Bukti kalau kasih sayang orang tua sepanjang masa.
"Dalam rumah tangga yang terpenting adalah sikap saling menghargai. Itu yang susah dilakukan. Ego masing-masing membuat rumah tangga retak bahkan seperti yang Leo dan Maya alami, harus berpisah. Namun melihat Leo yang masih memperjuangkan cintanya membuat saya tambah yakin kalau Maya adalah wanita yang dicintai Leo dengan kewarasan. Bukan sikap posesif yang malah membuat Maya merasa sesak,"
"Jadi jelas kan sekarang kalau saya menerima Leo bukan karena Leo adalah anak sahabat saya Dibyo. Tapi murni karena Leo memang saya percayai untuk membahagiakan Maya." Bapak menutup perkataannya yang panjang lebar namun amat membuat aku bangga.
"Baiklah kalau itu keputusan Bapak. Kami pamit pulang dulu!" Papa Angga lalu menarik tangan Angga agar mengikutinya.
"Tapi Pa-" Angga agak keberatan dengan keputusan sepihak Papanya.
"Pulang!" satu kata yang Papanya ucapkan langsung membuat Angga menurut dan tak mampu melawan lagi.
Lemah sekali. Terlalu penurut. Enggak ada larangan sih jadi anak penurut malah bagus. Tapi ada hal-hal yang kalau sudah dewasa harus kita putuskan sendiri tanpa campur tangan orang tua.
Suasana berubah sunyi saat Angga dan Papanya pulang. Seakan menunggu sampai lampu merah berubah menjadi lampu hijau. Setelah suara mobil Mercy milik Papanya Angga menjauh barulah Papa Dibyo yang bersuara pertama kali.
"Terima kasih Bem kamu sudah mau menerima lamaran Leo." kata Papa Dibyo dengan sungguh-sungguh.
"Aku menerima Leo karena Maya juga yang memilihnya. Tapi permasalahan antara Maya dan Leo di masa lalu belum selesai. Jika mereka melanjutkan berumah tangga lagi, akan menjadi batu yang akan mengganjal rumah tangga mereka kelak." jawab Bapak.
"Menurutku masalah mereka sudah selesai. Saat mereka sudah memutuskan untuk rujuk kembali berarti mereka sudah tau permasalahan terbesar dimana." jawab Papa Dibyo dengan serius. Hilang sudah wajah jahil dan cengengesan saat Ia sudah berbicara seperti ini.
"Apa Leo akan meninggalkan Maya lagi seperti dulu?" kali ini Bapak menatap tajam ke arah Leo.
Saat Leo hendak menjawab, Papa Dibyo sudah mengambil alih terlebih dahulu.
"Leo tidak pernah meninggalkan Maya, Bem. Kegagalan rumah tangga anak-anak kita ada andil kita didalamnya. Saat mereka melakukan kesalahan sehingga Maya hamil, kita berdua yang mengusir mereka karena dianggap sudah membuat aib. Mereka anak yang bertanggung jawab. Bisa saja mereka menggugurkan kandungan dan melanjutkan kehidupan mereka lagi. Tapi mereka mempertahankan anak tersebut dan menikah lalu berumah tangga mulai dari nol,"
"Jujur aku salut pada Leo yang bertanggung jawab pada Maya sampai kerja double job hanya agar Maya hidup nyaman di rumah tak perlu membantunya dengan bekerja sambilan."
__ADS_1
Aku mengernyitkan keningku. Leo bekerja double job? Kok aku baru tau. Aku akan menanyakannya nanti. Aku pikir waktu itu Ia hanya sering lembur saja untuk mendapatkan uang lebih.
"Saat aku dilaporkan ke KPK oleh suruhan Si Kuya yang hampir saja jadi besan kamu, Leo yang mengurusku. Ia bolak balik ke kantor pengacara, mengumpulkan bukti dan mengunjungiku untuk membawakanku makanan setiap hari. Belum lagi Lena menggugat ceraiku,"
Mama Lena terlihat menunduk. Aku tahu Ia menyesali perbuatannya.
"Leo juga yang mengurusinya. Lalu Richard yang terjerumus ke dalam obat-obatan terlarang sampai kecanduan dan harus rehab. Leo juga yang mengurusnya. Bukan Leo tidak mau memperjuangkan cintanya pada Maya. Ia hanya terlalu sibuk mengurus keluarganya yang tidak tau diri seperti kami."
Bapak sepertinya baru mengetahui fakta ini. "Kamu beneran sampai masuk penjara Yo?" Bapak bukan orang yang suka menonton berita. Bapak sibuk di ladang dan menjual hasil kebunnya. Wajar kalau Ia tidak update dengan berita selama ini.
"Iya. Aku dijebak. Rumit pokoknya. Broto menjebakku karena Ia kalah tender. Ia membuat seolah-olah aku menyuap dan melakukan KKN. Sulitnya mengelak karena semua bukti yang dibuat Broto menjurus padaku. Tapi akhirnya pengacaraku berhasil membuktikan kalau aku tidak bersalah dan aku hanya mendekam di penjara selama setahun, itu juga karena kasusku sudah wara wiri di TV nasional makanya aku di penjara, kalau silent sih udah bebas aku. Janganlah terlalu keras pada Leo. Sudah cukup aku yang bersikap keras selama ini padanya. Restuilah mereka berdua agar mereka bahagia." Papa Dibyo menepuk bahu Bapak.
"Aku bukan terlalu keras. Aku hanya mau jika mereka saling mencintai maka mereka akan saling menjaga rumah tangga mereka. Tak semudah itu menghancurkannya. Karena cobaan dalam pernikahan kan banyak, mampukah kita menghadapinya? Mereka sudah pernah gagal, jangan sampai gagal lagi untuk kedua kalinya." nasehat Bapak.
"Pak, mungkin perkataan saya di mata Bapak hanya seperti angin lalu. Saya tidak berani berjanji tidak akan menyakiti Maya. Namun saya berjanji akan membahagiakannya. Sehingga saat saya khilaf dan tak sengaja menyakitinya maka Maya akan merasa rasa sakit yang dirasakannya tak sebanding dengan kebahagiaan yang saya berikan. Sebagai manusia, saya mungkin akan menyakiti Maya ke depannya, baik disengaja ataupun tidak. Saya cuma bisa menjanjikan kebahagiaan untuk Maya diantara semua kekurangan yang saya miliki." Leo berkata sungguh-sungguh.
Tapi sayang....
Aku enggak ngerti maksudnya apa. Kata-katanya tingkat tinggi. Intinya Leo akan membahagiakanku deh pokoknya.
"Justru kalau kamu hanya menjanjikan kebahagiaan dan tak akan menyakiti Maya sama sekali saya tidak akan percaya. Karena manusia tempatnya salah dan lupa. Benar yang kamu bilang, kadang tanpa sengaja kita akan menyakiti orang yang kita cintai. Saya suka pola pikir kamu!" puji Bapak sambil menyunggingkan senyumnya.
Akhirnya... Bapak tersenyum juga pada Leo. Aku bisa bernafas lega sekarang. Ternyat benar, jika kita punya niat baik, dilakukan dengan cara yang baik maka kebaikan pula yang akan kita dapat.
"Udah ah ngomong yang berat-beratnya. Jadi kapan nih kita nikahkan lagi anak-anak kita?" Mama Lena pun nyeletuk karena tidak sabar dan pusing dengan pembicaraan tingkat tinggi Leo dan Bapak.
Kayaknya aku harus sungkem nih sama Mama Lena. Ternyata Mama Lena sama enggak ngertinya kayak aku. Satu server kita he...he...he... server oon maksudnya...
"Sabar dong Len, nikmatin dulu hidangan yang sudah Esih siapkan. Kamu tau enggak, aku gimana enggak curiga coba? Esih pesan kue enggak tanggung-tanggung. Kayak mau kedatangan orang satu kampung. Belum lagi kunci mobil aku diumpetin agar enggak kemana-mana. Positif banget orangnya." pamer Bapak.
"Posesif Om. Bukan positif. Kalau positif mah Maya mau punya adek lagi!" Richard yang sejak tadi sedang asyik menikmati kacang rebus tiba-tiba nyeletuk. Rupanya Ia bosan hanya dianggap patung dipojokan.
"Hush! Maya punya adek lagi enak aja kamu ngomong! Kamu tuh yang bakalan punya adik lagi. Mama Papa kamu kan mau rujuk! Siap-siap aja kamu punya adek lagi!" ledek Bapak balik.
"Udah makan kacang aja yang banyak. Kan kamu juga sering dikacangin sama orang." Leo menyerahkan piring berisi kacang rebus. Richard ternyata sudah menghabiskan 1 piring kacang rebus dengan nikmatnya.
"Enak aja!" elak Richard namun tetap menerima piring berisi kacang rebus yang Leo berikan. Lumayan. Kacangnya biga alias biji tiga. Sekali kupas dapet banyak. Maklum, kacang tinggal ambil di kebun mah enak.
"Oh iya hampir lupa! Mana bawaan yang Mama belikan untuk Bembi?" Mama menepuk jidatnya, teringat buah tangan yang Ia bawakan.
"Bawa apaan lagi sih Len? Ini aja parsel kue yang kamu bawa gede banget! Bikin parcel dari Broto Hadikusuma terlihat kerdil." puji Bapak.
"Sebentar ya Bem." Mama lalu menepuk bahu Richard yang asyik makan kacang tanpa henti. "Kamu makan kacang aja nih! Nanti jerawatan bawel minta ke salon lah. Minta ke dokter kulitlah. Udah jangan banyak-banyak makannya."
"Mama gangguin aku aja. Kenapa sih?" Richard menaruh piring yang tinggal setengahnya berisi kacang di lantai.
"Ambilin hadiah yang Mama bawa sana!" Mama menepuk bahu Richard. Nih anak kan pinter di akademis namun agak lama kalau disuruh.
"Hadiah apaan?" masih aja Richard makan kacang. Jadi inget Siamang di kebun binatang yang doyan banget makan kacang. Ups.... Dia kan bukan siamang tapi si kadal he...he...he....
"Hadiah yang tadi ditaruh di depan!" geram Mama Lena.
"Iya Ma... Selow!" Richard bangun lalu pergi ke depan.
Aku menyikut lengan Leo, mau tau bocoran apa hadiah yang dibawa Mama Lena duluan sebelum Richard datang.
"Mama bawa apaan sih?" bisikku.
"Liat aja nanti." bisik Leo balik.
"Ih pelit banget." aku memanyunkan bibirku. Sebal. Tinggal jawab doang masih aja misterius.
__ADS_1
"Pst May!" bisik Leo lagi di telingaku.
"Apaan?" aku tak membisikkan lagi di telinga Leo. Masih sebal.
"I Love you." bisik Leo di telingaku.
"Ih kamu apaan sih?" Senyum di wajahku langsung mengembang. Aku pun membisikkan sesuatu di telinga Leo. "I love you to, Baby."
Wajah Leo langsung bersemu merah.
"Cie yang baru dikasih restu.... Langsung bahagia banget ya?" ledek Papa Dibyo.
Ups ternyata Papa Dibyo memperhatikan apa yang kami lakukan sejak tadi.
"Biarin sih Pa. Sejak tadi tegang nih takut enggak direstuin. Sekarang sudah lega jadi bisa senyum dikit." jawab Leo yang mendapat sambutan senyum dari semua yang ada di ruangan.
"Bisa aja kamu!"
"Richard mana sih? Lama banget datengnya?" Mama Lena sudah celingukan mencari keberadaan anaknya yang tak kunjung datang.
"Sabar Ma. Kan Richard harus hati-hati bawanya. Kosongin tempat dulu Ma di tengah. Biar semuanya bisa lihat hasil buah tangan Mama." Richard pun masuk dan membawa...
Sepeda?
Enggak salah?
Sepeda lipat?
Bawaan lamaran macam apa ini?
Ternyata tak cuma aku. Bapak dan Ibu juga mengernyitkan keningnya heran. Bapak hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat ulah Mama Lena yang selalu out of the box. Lain dari yang lain.
"Kamu bawa sepeda Len? Untuk apa?" tanya Bapak bingung.
"Ya hadiah buat kamu." jawab Mama Lena.
"Disini mah banyak sepeda Len." jawab Bapak.
"Tapi bukan sepeda Brompton kan?" tanya Mama Lena.
"Sepeda Berotot? Sepeda apa itu Len?" pertanyaan Bapak membuat Mama Lena tertawa terbahak-bahak.
"Kamu masih lucu ya Bembi. Khas kamu banget. Brompton bukan Berotot, Bem." kata Mama Lena.
Aku lalu mengambil Hp dan browsing. Lalu kulihat harga dan gambar sepeda seperti yang ada di depan mataku. "Hah? 83 juta?"
"Apa May?" tanya Bapak yang mendengar kekagetanku.
"Itu sepedanya harganya 83 juta, Pak." aku menjelaskan keterkejutanku.
"Hah? Yang ampun Len. Sepeda begini doang lebih mahal dariapada harga traktor? Ini teh bisa dipake buat apaan? Ada mesinnya jadi bisa ngebut?" kenorakan Bapak sama sepertiku. Norak yang haqiqi.
"Ya enggak Bem. Buat sepedahan saja. Lalu nanti kamu update status deh. Keliatan keren kamu nanti!" jawab Mama Lena dengan santainya.
Aku dan Bapak hanya bisa geleng-geleng kepala. Orang kampung kayak kami mana ngerti sih tentang sepeda kayak gitu. Memang ya orang kaya mah beda.
Leo lalu membisikkan sesuatu ke telingaku. "Apa kita minta dinikahin sekarang?"
Hah? Apa? Apa? Nikah sekarang? Mauuuu...
****
__ADS_1
🙏🙏 Maaf banget kemarin aku sibuk sekali dan lelah banget buat nulis. Hari ini aku Up. Jangan lupa siapkan amunisi buat besok vote ya. Hmmm.... Aku mau 1000 vote boleh? 😁. Jangan lupa like, vote dan follow IG ku : Mizzly_
Maacih 😘😘😘