
Semenjak Mama Lena hamil, otomatis Mama menjadi tuan putri melebihiku yang juga sedang hamil. Tenang, aku tidak iri kok.
Usia Mama Lena yang tak muda lagi, serta kehamilan yang beresiko membuat Mama Lena menjadi prioritas utama di rumah. Papa Dibyo melebihi Leo kalau masalah protect Mama.
Mama tidak dibiarkan melakukan hal-hal yang membuatnya kelelahan. Papa bahkan menyewa perawat pribadi untuk mendampingi Mama sehari-harinya.
Aku jadi teringat bagaimana hebohnya Bapak dan Ibu saat mengetahui kalau Mama Lena hamil. Papa Dibyo sengaja memberitahu kedua besannya karena setelah Mama hamil otomatis posisi Mama Lena sebagai panitia acara resepsi pernikahanku dicabut.
"APA? LENA HAMIL?!" Bapak dan Ibu kompak kagetnya. Kompak juga bertanyanya.
"Iya." jawab Papa Dibyo malu-malu.
Papa Dibyo sengaja melakukan panggilan Video Call. Agar lebih enak ngomongnya.
"Bohong nih! Pasti kamu lagi apa namanya kalau anak sekarang bilang, ngepereng?" Bapak masih menyangkal kenyataan yang Papa beritahu.
"Ngeprank Bem. Bukan ngepereng. Enggak... Ini enggak kok. Lena beneran hamil. Barengan sama Maya nanti paling beda beberapa minggu aja." Papa Dibyo mengambil print USG milik Mama Lena dan menunjukkannya pada Bapak dengan penuh kebanggan.
"Masa sih? Gila ya kamu Dib. Udah mau punya cucu malah nambah anak lagi! Enggak mau kalah saing banget sih sama Leo dan Maya!" Bapak menggelengkan kepalanya.
"Ya namanya aku tuh masih jadi laki-laki perkasa, Bem. 2 tahun enggak di refill ya sekalinya aku tembakkin langsung jadi bibit unggul. Gimana... Hebat kan aku?" Papa Dibyo malah dengan pedenya membanggakan diri di depan Bapak. Membuat kami yang mendengarnya menunduk malu.
"Huh pamer melulu! Sengaja kan telepon mau pamer? Sok atuh nanti aku sama Esih mau buat juga adek buat Maya!" ledek Bapak.
Mendengar jawaban Bapak membuatku langsung berteriak sekencang mungkin. "JANGAN PAK!"
Sontak semuanya menatap ke arahku. Papa Dibyo juga mengarahkan kameranya dan menyorotku yang tiba-tiba berdiri sambil berteriak mengagetkan semua orang.
"Pak, jangan kasih Maya adek lagi. Please.... Jangan ya Pak. Kasihan sama Maya... Please...." aku mengatupkan kedua tanganku. Memohon agak Bapak tidak merealisasikan ide gilanya tersebut.
"Wakakakaka... Kamu takut juga ternyata May mau punya adek. Gak apa-apa May. Biar samaan kayak aku. Punya adek kecil di usia bisa punya anak sendiri ha...ha...ha..." aku memelototi Kakanda yang terlihat puas sekali menertawaiku.
"Pak jangan dengerin Richard ya Pak. Please... Maya jadi anak bungsunya Bapak aja ya. Please..." aku memohon kembali pada Bapak.
"Oalah segitu takutnya kamu mau punya adek May. Dulu waktu kecil kamu minta punya adek sampai bikin sendiri pakai adonan terigu pake telor. Sekarang kenapa takut begitu toh?" tanya Bapak.
"Ya beda itu mah. Sekarang Maya udah gede. Udah mau punya anak juga. Pokoknya Maya enggak mau ya Pak punya adek lagi!" ancamku.
"Iya... iya.... Kalau inget ha...ha...ha..." ih si Bapak malah meledekku. Rese banget. Membuat yang lainnya ikutan tertawa jadinya.
"Sudah... Sudah. Jangan dibikin stress Mayanya. Maya lagi hamil. Harus tenang pikirannya. Kamu jahil banget Bem!" Mama Lena sang penyelamat datang membantu.
"Iya... Iya... Kalian nelepon mau pamer doang nih? Enggak kan?" tanya Bapak.
"Kamu aja yang ngomong. Aku enggak enak." Mama Lena menyuruh Papa yang mewakilinya berbicara.
"Iya Sayang apa sih yang enggak buat kamu." gombalan receh Papa lagi-lagi membuatku, Leo dan Richard menunduk malu. Papa yang gombal kok malah kami yang malu?
"Ehem." Papa berdehem sebentar. Mengatur suaranya agar tidak serak. "Jadi gini, Bem. Lena Sayang kan awalnya panitia resepsi pernikahan Maya dan Leo. Berhubung Lena lagi hamil muda dan terlalu beresiko jika kecapekan, maka aku menyuruh Lena untuk mundur dari kepanitiaan tersebut. Kita serahkan pada WO dan kamu selaku yang empunya acara. Gimana?"
"Oalah... Enggak usah dipikirin masalah resepsi mah. Saya tuh banyak temannya Yo disini. Kalian santai saja. Lebih baik Lena banyak istirahat. Jaga kondisi kesehatan." belum selesai Bapak bicara telepon sudah diambil Ibu.
Kini wajah Ibu yang disorot kamera. Full. Bapak enggak dikasih sama sekali. "Lena enggak usah mikirin resepsi ya. Kemarin kan sudah kesini buat fitting baju. Pokoknya terima beres aja. Wo nya juga keren banget. Kesininya sehari sebelum acara saja. Semua udah pasti beres deh."
Aku menahan tawa melihat sikap Ibu dan Bapak yang sok banget berpengalaman padahal baru sekali doang melangsungkan hajatan. Yakni saat Kak Anton menikah. Lagaknya kayak WO profesional saja.
"Tolong di handle ya Sih. Aku beneran harus istirahat sama dokter. Kalau aku bisa pasti aku turun tangan sendiri deh." pinta Mama Lena.
"Iya Len. Kayak sama siapa aja. Udah kamu istirahat saja ya."
__ADS_1
*****
Aku menatap undangan mewah yang ada di tanganku. Hanya tersisa beberapa buah sebagai kenang-kenangan. Sisanya sudah dibagikan dua minggu sebelum acara.
Teman-teman di kantor sangat antusias ingin segera menghadiri pesta resepsi pernikahanku dan Leo. Tak perlu memikirkan kendaraan, karena Papa Dibyo menyediakan bus pariwisata untuk mengangkut karyawan yang diundang ke tempat resepsi.
Tidak semua karyawan diundang. Hanya kenalanku, Leo dan Papa tentunya. Itu saja sudah banyak apalagi mengundang seluruh karyawan?
Tak lupa aku mengundang kedua sahabatku Duo Julid dan Adel kesayanganku tentunya. Aku tidak mengirim undangan untuk Angga. Selain menjaga perasaannya juga aku rasa tak perlu mengundang mantan ke pesta pernikahan kita.
Banyak berita yang viral, mengundang mantan ke acara resepsi malah membuat suasana gaduh. Ada mantan yang memeluk mempelai lama tanpa memikirkan pasangannya yang duduk di kursi pelaminan sambil makan hati.
Ada juga mantan yang nyumbang ikut menyanyi eh malah jadi menuai simpati. Dibilang kasihanlah. Padahal lebih kasihan yang di pelaminan.
Terakhir kali bertemu Angga sudah bikin konflik panas. Lebih baik jangan menghubungi Angga lagi. Biarlah semua sudah selesai.
"Udah siap belum?" tanya Leo yang menyambutku sambil membukakan pintu mobil Mercy miliknya yang baru.
Ya, mobilnya akhirnya tiba bersama dengan mobil milikku. Menambah deretan mobil dalam rumah Papa Dibyo.
"Udah. Papa sama Mama udah jalan?" aku celingukan mencari keberadaan mobil Papa.
"Udah. Sama supir tadi. Hanya Richard aja yang belum. Katanya mau berangkat nanti pulang kantor. Masih ada kerjaan katanya."
Aku masuk ke dalam mobil. Leo seperti biasa memakaikan seat belt untukku. Sebelumnya Leo mengelus perutku pelan seraya bicara dengan bayi yang ada di dalam perutku.
"Kita mau ke rumah Eyang ya Sayang. Jangan rewel. Jangan mual dan mabok. Kamu harus kuat. Jangan bikin Mama sakit ya." Leo pun mencium perutku dengan lembut.
"Iya Papa ganteng. Ayo kita jalan!" aku yang menjawab Leo dengan suara yang dibuat seperti anak kecil.
Leo mencubit ujung hidungku. "Gemaassshhh deh. Jadi pengen ngajak tidur bareng."
Aku menepuk pelan lengan Leo. "Hush! Kita udah ketinggalan nih! Ayo cepetan jalan."
"Jangan konyol deh! Ayo kita jalan. Aku kan mau pakai Henna dulu di tangan. Belum lagi ritual lain. Semakin cepat kita sampai, semakin bagus. Iya kan?"
"Iya... Iya... "
Perjalanan kami terbilang lancar. Sebelum sholat Jumat kami sudah sampai di rumah Bapak. Pemandangan berbeda langsung terlihat manakala mobil Leo memasuki perkebunan Bapak.
Halaman rumah Bapak yang luas sudah disulap menjadi area resepsi. Tenda berukuran besar dengan dekorasi yang indah sudah terpasang.
"Wow... Kalau tendanya aja sebesar ini, tamunya sebanyak apa ya? Bisa pegel nih kita salaman satu persatu." keluhku.
Leo tersenyum seraya mengacak rambutku. "Cuma sekali, Sayang. Nikmatin aja ya. Selesai acara nanti aku pijitin deh!"
"Terima kasih... Kayaknya aku lebih milih langsung tidur deh daripada dipijitin kamu yang ujung-ujungnya punya maksud lain he...he...he..."
"Tuh sama suami sendiri enggak percayaan. Beneran. Aku enggak niat yang lain kok. Udah yuk masuk. Udah ditungguin yang lain."
Aku tak langsung masuk ke dalam rumah. Masih terkagum-kagum dengan dekorasi yang ada. Agak di kejauhan ada layar besar berwarna putih. Pasti untuk layar tancep di malam hari.
Sebuah panggung besar yang masih kosong belum terisi sound system sudah dipasang. Terlihat mewah untuk ukuran hajatan di kampung.
"May! Masuk dulu! Nanti baru lihat-lihat lagi!" aku menoleh dan mendapati Ibu yang sedang memanggil namaku.
Aku menyunggingkan seulas senyum dan berjalan menghambur ke pelukan Ibuku tersayang. "Maya kangen." kataku seraya memeluk Ibu dengan erat.
Wangi khas Ibu yang sudah lama tak kurasa. Wangi yang membuatku nyaman dan merasa hangat.
__ADS_1
"Oalah kalau kangen pulang dong! Ini jarang pulang. Baby utun gimana? Sehat? Mabok enggak?" Ibu melepaskan pelukanku dan mengusap-usap lembut perutku yang masih rata.
"Alhamdulillah enggak mabok. Makan juga apa aja doyan enggak pilih-pilih."
"Wah bagus dong cucu Eyang. Sayang ya sama Mamanya." Ibu seperti sedang berbicara dengan bayi dalam perutku.
Leo datang menghampiri dan salim dengan Ibu. "Sehat Bu?" tanya Leo.
"Sehat alhamdulillah. Ayo kalian masuk dulu. Ada wajik dan uli yang masih hangat. Maya enggak boleh pakai tape ya takut panas. Ibu juga buatin teh poci buat kalian. Enak diminum di cuaca dingin kayak gini." dan Ibu pun menyebutkan aneka makanan yang dibuatnya sambil mengajak kami masuk ke dalam rumah.
Terlihat Bapak sedang mengobrol akrab dengan Mama dan Papa Dibyo. Aku dan Leo langsung bersalaman dan memeluk Bapak. Kangen.
"Aku mau punya cucu dong Yo. Memang kamu saja yang mau punya anak lagi!" ledek Bapak.
"Cucu kamu ya cucuku juga lah Bem. Inget ya, jangan sampai cucu kita ada pitaknya kayak kamu!" ledek balik Papa Dibyo.
"Wah main fisik nih! Iya deh yang masih tokcer mah beda. Kira-kira aku masih tokcer kayak kamu juga enggak ya Yo?" Bapak tertawa-tawa dengan leluconnya sendiri tapi tawa Bapak langsung menghilang begitu Bapak mendapat kilatan sorot mata dari Ibu yang sedang menyajikan teh poci dan makanan kampung padaku dan Leo.
"Bohong, Bu. Becanda. Ya kali aja Maya mau punya adek lagi gitu kayak Leo. Bapak bersedia mewujudkannya he...he...he..." masih berani Bapak meledek Ibu ternyata.
"Jangan macem-macem deh Pak. Enggak usah ikut-ikutan tren punya anak lagi. Sekarang aja Bapak suka encok! Jangan memaksakan diri!" sindir Ibu yang mendapat gelak tawa dari Papa Dibyo.
"Yah... Mulai encok dia. Beneran calon kakek sejati kamu Bem. Makanya rajin olahraga malam kayak aku dan Lena. Sehat terus jadinya ha...ha...ha..." Papa Dibyo puas sekali meledek Bapak.
Aku melirik ke arah Leo yang terlihat malu dengan ulah Papanya. "Minum dulu Sayang. Kamu mau tape uli enggak? Kalau mau aku juga mau coba-" belum selesai aku bicara Ibu sudah menyela.
"Kamu enggak boleh May! Ini makan kue pisang dan wajik saja! Atau makan ulinya saja jangan pakai tape!" omel Ibu.
"Iya... Iya...." aku memberikan tape uli pada Leo, sedangkan aku lebih memilih makan kue pisang dan wajik saja.
"Kalian enggak masak-masak sendiri kan?" tanya Mama Lena.
"Masak dong Len. Aku enggak cocok sama kateringnya. Enakkan masakan kampung. Katering buat gubukkan saja. Lagian ngundang orang kampung sini bakalan bingung kalau menunya bebek nanking dan sapo tahu." jawab Ibu sambil memotong-motong kue lapis wangi daun jeruk kesukaan Papa Dibyo dan menghidangkannya untuk Papa.
"Masih inget aja kamu sama kue kesukaanku Sih." Papa Dibyo mengambil sepotong kue lapis dan memakannya. "Hmm... Enak banget. Jeruk nipisnya berasa banget. Pasti buatan kamu ya Sih?"
"Iya dong. Kamu kan pilih-pilih kalau kue. Tapi kalau kue lapis buatanku bisa habis satu loyang sendiri saking sukanya." kata Ibu penuh bangga.
"Masaknya dimana Sih? Kalian masak apa aja? Aku mau lihat dong!" Mama Lena penasaran dengan menu makanan untuk resepsi besok.
"Masak di belakang. Niatnya sih bikin karedok, sambal kentang ati, ikan mas pesmol kuning, sayur sop kimlo, kentang mustofa sama sambal goreng. Oh iya ada semur jengkol juga. Favorit kalau disini, tiap kondangan yang dicari semur jengkol."
Aku menelan ludah mendengar menu masakan yang Ibu sebut. Ada karedok. Aku tiba-tiba mau makan karedok.
"Bu, Maya mau karedok Bu. Ada sekarang?" semua mata langsung tertuju padaku.
"Sekarang sih belum ada. Bikinnya mendadak takut basi May. Tunggu, kamu ngidam karedok? Langsung Ibu buatkan! Tunggu sebentar." tanpa menunggu persetujuanku Ibu pergi ke belakang rumah.
"Oh jadi begini rasanya ngidam...." aku berkata pada diriku sendiri.
"Kamu mau apa lagi Sayang? Biar aku pesan sama Ibu sekalian." tanya Leo.
"Kamu enggak nanya Mama, Leo? Mama mau semur jengkol! Mau sekarang juga Leo." Mama Lena menyahut tanpa ditanya.
"Beneran mau semur jengkol Ma?" tanya Leo ragu.
"Iyalah. Bener. Cepat ambilin!" perintah Mama.
"Ma, nanti baby utunnya bau jengkol, ngidam yang lain aja ya." Papa Dibyo mencoba membujuk Mama, namun Mama yang terbiasa ngidamnya dituruti malah ngambek.
__ADS_1
"Pokoknya mau semur jengkol! Enggak mau tau!" Mama Lena merajuk manja.
Leo dan Papa Dibyo menghela nafas. Kalah dengan kesaktian Mama Lena. Iyalah, pasal satu wanita selalu benar. Pasal dua, kalau wanita salah kembali ke pasal satu. Ingat itu!